
"Van, beneran Lo mau makan disini?" tanya Shasa mendongak menatap wajah Evan yang duduk disebelahnya.
Saat ini mereka berdua sedang berada didepan sebuah restoran mahal yang penuh dengan berbagai macam kalangan.
Bukannya Shasa mengejek Evan tidak punya uang. Tapi Shasa berkata seperti itu karena, saat ini bisa dilihat dengan jelas pakaian yang melekat pada tubuhnya dan tubuh Evan sangat tidak pantas untuk dikenakan.
Kemeja Evan kusut tak berbentuk dan rambutnya juga sudah acak-acakan tak bermodel. Sedangkan Shasa sendiri juga merasa tidak nyaman karena tubuhnya lengket dengan keringat sejak tadi pagi.
"Makan di hotel aja yah" pinta Shasa menarik tangan Evan untuk memutar mobil dan pulang terlebih dahulu. Tapi Evan sama sekali tidak bergerak, pria itu tampak sedang melamun.
"Baiklah, terserah kau saja"
***
Tok tok tok
"Shasa, Lo ganti baju atau ganti kulit! lama banget" teriak Evan kesal karena Shasa terlalu lama membuatnya menunggu di depan pintu. Bukannya menyuruhnya masuk, Shasa malah mengatakan, 'Evan ih gaboleh gitu'
"Lo mau Gue cekik? Lo pikir Gue ular bisa ganti kulit!"
"Ya maka__,"
Mulut Evan langsung terdiam ketika pintu terbuka, matanya tidak berkedip melihat seorang wanita yang saat ini berada di depannya.
"Evan!! ayoo" ucap Shasa kesal sembari melambaikan tangannya tepat di depan wajah Evan yang tak kunjung berkedip.
"Lo cantik banget Sha" jelas Evan sembari menyugar rambutnya kebelakang. Tatapan matanya masih fokus pada wajah Shasa.
"Oh ya?"
"Iya beneran, Lo pake susuk apa sih emangnya?"
Plak!
"Kurang ajar Lo! Gue kan emang cantik"
Evan terbahak lalu menggandeng tangan Shasa, mengajak wanita kesayangannya itu makan malam. Setibanya di depan restoran yang tadi dikunjungi, Evan mempersilahkan Shasa untuk duduk kemudian disusul dirinya.
Mungkin ini bukan kali pertamanya mereka berdua makan malam, tetapi rasanya ada yang berbeda, rasa yang tidak bisa dijelaskan.
Jika perasaan itu adalah cinta sepertinya tidak mungkin, karena Shasa hanya mencintai Raihan. Begitupula dengan Evan, pria itu menyayangi Shasa layaknya saudara sendiri.
__ADS_1
***
Setelah makan malam selesai, Evan memutuskan untuk mengajak Shasa berjalan-jalan. Shasa tidak mempermasalahkannya, lagipula ini adalah kesempatan yang bagus untuk menjernihkan pikiran.
Suasana malam yang cerah sepasang sahabat itu berjalan dibawah terangnya cahaya rembulan. Shasa dan Evan terlihat sangat bahagia, terbukti dengan sepanjang jalan mereka terus-menerus tersenyum bahkan tertawa lepas.
"Ga tau, tapi intinya cowok itu sampai ngompol, pake tegang lagi"
"Enak dong!"
Shasa dan Evan kembali tertawa, mereka saling membahas hal-hal lucu yang terjadi pekan ini.
Evan bercerita bahwa dirinya kemarin tak sengaja membuat pria muda ketakutan sampai mengompol. Sedangkan Shasa bercerita tentang dirinya yang terpeleset di kamar mandi karena busa sabun yang lupa tidak ia siram.
Terlalu fokus bercerita, mereka sampai tidak sadar sudah berjalan lebih dari tiga ratus meter.
"Sha Lo sadar gak sih?" tanya Evan sembari mengehentikan langkahnya.
"Apa?" tanya Shasa masih tetap berjalan kedepan, sedangkan Evan sudah berhenti dan berdiri tegak sekitar dua langkah dibelakang Shasa.
"Kaki Lo gak capek?" pancing Evan untuk menyadarkan Shasa bahwa mereka berjalan terlalu jauh dari parkiran restoran tadi.
Shasa berhenti sejenak, memutar tubuhnya menghadap Evan lalu melebarkan kedua tangannya.
Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Evan menganga menatap Shasa dengan satu alis terangkat.
"Shasa Lo waras nggak?" tanya Evan dengan nada jijik disertai tangannya yang langsung menyeret Shasa cepat. Menggeret sahabatnya dengan ekspresi malu sekaligus menahan tawa.
Lama keduanya saling terdiam tiba-tiba mata Shasa melebar, melihat sesuatu yang besar berputar.
"Evan, lihat disana ada bianglala naik yuk!"
"Gak mau ah, bianglala itu buat anak kecil! malu-maluin deh!" ucap Evan menolak ajakan Shasa naik bianglala yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Engga Van itu tuh buat orang dewasa, beneran! ayok cepet please demi Gue" pinta Shasa memohon dengan menunjukkan wajah memelas disertai puppy eyes nya.
"Baiklah baik, tapi ingat jangan bertingkah seolah tak pernah naik bianglala!" tutur Evan mengalah lalu mengikuti Shasa dari belakang, membiarkan Shasa menunjukkan jalannya.
***
Dua orang itu saling terdiam menikmati betapa indahnya langit malam. Ditambah Bintang-bintang bertaburan, malam yang semakin larut membuat suasana semakin hening.
__ADS_1
Tidak banyak orang yang naik bianglala, beberapa remaja dan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Tapi sayangnya Shasa disini bukan bersama dengan Raihan dan bukan juga sedang dimabuk cinta. Akan tetapi dirinya disini bersama pria yang menurutnya sangat penting dalam kehidupannya.
Shasa dan Evan duduk bersebelahan dengan kedua tangan yang tertekuk menahan beban kepala. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut masing-masing.
Dilihat dari ekspresi wajah Evan, pria itu seolah ingin mengucapkan sesuatu tapi masih terdapat keraguan.
"Sha" ucap Evan pelan sembari menoleh ke arah Shasa.
"Apa?" tanya Shasa juga menoleh menghadap Evan. Sejenak mereka berdua saling bertatap muka, mengamati ekspresi wajah satu sama lain. Hingga akhirnya Evan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kalau Lo nggak nikah sama Raihan, Lo mau nikah sama Gue nggak?" tanya Evan pelan dengan pandangan lurus kedepan. Shasa terdiam lalu memalingkan wajahnya.
"Evan Lo apaan sih!"
"Kan cuma seandainya, atau Gue nunggu sampai Lo jadi janda ya?" ucap Evan serius namun diakhir kalimatnya pria itu terkekeh.
"Gila parah! emang Lo beneran mau nikahin Gue kalau Gue jadi janda?" tanya Shasa balik sembari menatap Evan dengan tatapan mengejek.
"Ya maulah kenapa enggak?" jawab Evan santai. Tangan kanannya yang semula diam kini mulai bergerak dan merangkul pundak Shasa.
"Sekalipun Gue udah punya anak?"
Evan langsung terdiam, kalimat yang Shasa ucapkan barusan seolah menusuk jantungnya. Membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.
Entah bagaimana bisa, tapi secara tidak sadar wajah mereka semakin mendekat. Mereka seolah terhipnotis oleh manik mata masing-masing.
Tiba-tiba bianglala yang mereka naiki berhenti tepat berada paling atas, disusul lampu disekitaran yang ikut padam.
Shasa memalingkan wajahnya lalu menggeser posisi duduknya, begitupun dengan Evan yang langsung tersadar dan menarik tangan kanannya.
Kurang sedikit lagi hal itu pasti akan terjadi. Andai jika bianglala tidak berhenti, Shasa tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Mengingat pria disampingnya ini adalah sahabatnya sendiri.
Mereka berdua saling terdiam mendengarkan instruksi agar tetap tenang dari operator dibawah sana. Suasana hangat beberapa menit yang lalu kini berubah menjadi dingin dan mencekam. Seakan mereka sadar kalau apa yang terjadi beberapa menit lalu itu sebuah kesalahan dan tak seharusnya terjadi.
"Lo takut ya?" ucap Evan menghilangkan keheningan. Wajah canggungnya sudah berubah menjadi seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ya nggak mungkin lah, kalau Gue mau Gue bisa lompat sekarang juga!" timpal Shasa sembari terkekeh. Evan memang sangat pandai membuat suasana menjadi menghangat.
Shasa menghilangkan jarak dengan duduk sangat dekat dengan Evan, bahkan bisa dibilang menempel. Keadaan lah yang memaksanya untuk melakukannya, tubuhnya kedinginan apalagi hanya memakai dress tanpa jaket ataupun syal.
Lima belas menit berlalu, lampu tak juga menyala. Beberapa orang sudah mengeluh dan mengumpat karena lelah dan juga takut berada diketinggian.
__ADS_1
Saat Evan menatap kearah Shasa, wanita itu sudah terlelap dengan kepala yang menyender di bahunya. Ditatapnya wajah cantik wanita disampingnya, wajahnya terlihat sangat kelelahan.
Evan menarik kepala Shasa pelan kemudian menjadikan pahanya sebagai bantal. Pria itu tersenyum manis lalu menunduk dan mengecup kening Shasa penuh arti.