
Sesampainya di lobi hotel, tiba-tiba Evan berhenti melangkah, pria itu ragu. Apakah akan tetap melangkah maju atau berputar dan berjalan kebelakang untuk menemui Carrie.
Shasa tau ada sesuatu yang tidak beres dengan Evan. Terlihat jelas betapa kacaunya Evan saat ini, Wajah penuh dengan keringat, pandangan mata yang kosong dan konsentrasinya pecah saat diajak berbicara.
"Kenapa Van, Lo sakit?" tanya mendekati Evan yang masih berada dibelakang, segurat rasa khawatir muncul pada wajah Shasa.
Diam-diam Evan melirik Shasa yang sedang mengkhawatirkannya. Pria itu tersenyum senang kemudian menarik Shasa kedalam pelukannya.
"Ya ga mungkin lah, kan Gue harus jagain istri Gue disini"
"Lah emangnya Lo udah nikah?" tanya Shasa mendongak ke atas menatap wajah Evan yang menyunggingkan senyum.
"Udah lah"
"Sama siapa!"
Tampak kentara sekali wajah Shasa seperti tidak rela ada wanita lain mendampingi Evan. Bahkan hanya lelucon sekalipun Shasa seperti sangat-sangat tidak rela.
"Sama kamu" jawab Evan asal sembari tergelak karena wajah Shasa yang berubah menjadi datar.
"Gila Lo, dasar jomblo!" Shasa mendorong tubuh Evan karena merasa risih dilihat oleh orang yang berada disekitar lobi hotel.
"Eh bentar-bentar, hp Gue ketinggalan di Rumah Tante Carrie deh kayaknya" Ucap Evan sembari merogoh kedua kantung celananya.
Shasa hanya diam memperhatikan tangan kanan Evan yang sedang merogoh kantung celananya.
"Gue ambil bentar ya, sana tidur!" titah Evan disertai kecupannya yang mendarat di dahi Shasa.
"Hati-hati"
"Baiklah, ingat jangan kemana-mana!"
Shasa hanya mengangguk mengiyakan kemudian berbalik badan dan melangkah menuju lift, tanpa Evan sadari Shasa kembali menoleh kebelakang lalu tersenyum miring.
***
Disinilah sekarang Evan berdiri didepan sebuah pintu yang beberapa menit lalu ia masuki.
Saat pintu terbuka nampak seorang wanita paruh baya tersenyum senang kemudian mempersilakan Evan masuk kedalam. Setelah Evan masuk kedalam apartemennya, wanita itu menutup pintunya tapi tidak sepenuhnya. Wanita itu membiarkan pintunya sedikit terbuka.
"Selamat datang kembali" ucap Carrie tersenyum hangat kemudian ikut duduk berhadapan dengan Evan.
"Dari apa yang Tante dengar, bukankah putra bungsu Lorena dan Alex itu seorang pemberani, kenapa wajahmu pucat begini?"
"Bagaimana Tante tahu kalau Aku putra bungsu Lorena dan Alex?"
Carrie tertawa kemudian menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan pertanyaan yang barusan Evan lontarkan.
__ADS_1
"Astaga... apakah kau tidak pernah bercermin? lihatlah wajah mu mirip sekali dengan Lorena"
Evan yang mendengar jawaban Carrie hanya memutar bola matanya jengah. Jawaban Carrie memang benar, wajahnya sekilas sangat mirip dengan Lorena tapi dalam versi pria.
"Bagaimana keadaan kakakmu itu?"
"Dia baik-baik saja"
Suasana mulai mencair tidak seperti beberapa menit lalu. Evan juga sudah merasa nyaman bisa mengobrol santai dengan sahabat lama Ibunya.
"Apakah sifatnya juga masih sama?" Lagi-lagi Carrie menanyakan tentang orang yang selama ini Evan benci. Tapi mau tidak mau Evan juga mengatakan yang sejujurnya kepada Carrie.
"Tidak, sifatnya yang sadis dan kejam dulu sudah berganti dan berubah menjadi seperti Ayah, menjadi pria yang sangat alim dan taat kepada agama. Berbanding terbalik dengan saya yang seperti ini"
"Tentu saja! kau adalah putra Lorena, semua bakat mu saat ini mungkin adalah gen keturunan dari Lorena"
Evan terkekeh pelan, Apa yang diucapkan oleh Carrie memang benar. Dirinya sangat mirip dengan Ibunya, sedangkan saudara yang tiga tahun lebih tua darinya itu mirip dengan Ayahnya. Seseorang yang alim dan taat kepada agama, lebih tepatnya menjadi seorang ustadz.
Bahkan Evan sempat tidak percaya karena dulu kakaknya itu sangat kejam dan sadis melebihi dirinya. Tapi saat kematian ibunya, Kakaknya berubah menjadi seperti Ayah. Sempat juga dirinya diajak untuk menjadi alim dan taat pada agama, tapi waktu itu ia menolak karena tak tega meninggalkan Shasa sendirian terjebak pada dunia gelap.
"Oh iya, Tante sampai lupa menanyakan siapa nama kakakmu, siapa namanya?"
"Namanya R__,"
DUGHH!
kalimat Evan terhenti sontak kepalanya menoleh belakang, kearah dimana pintu yang sedikit terbuka kini semakin terbuka lebar.
"Biarkan Shasa tahu segalanya" ucap Carrie tersenyum hangat lalu menyuruh Evan untuk mengejar Shasa yang tadi sempat menguping.
Tanpa basa-basi Evan langsung berdiri lalu berlari mengejar wanita yang mungkin saat ini sudah mendengar semua pembicaraannya bersama dengan Carrie. Sungguh Evan tak mengerti dengan apa yang wanita paruh baya itu rencanakan, saat ini dirinya masih belum siap untuk membongkar segalanya.
"Keluarga yang sangat rumit, untung Lorena adalah sahabatku" gumam Carrie sembari menutup pintunya.
***
Sedangkan disisi lain Shasa sangat syok mendengar semua kebenaran yang Evan sembunyikan darinya. Jika Mamanya adalah sahabat Lorena dan Evan adalah anak bungsu Lorena, maka Evan sebenarnya memiliki seorang kakak yang pernah ingin dijodohkan dengannya.
"Kenapa?" gumam Shasa masih tak percaya dengan semuanya. Jika Evan mempunyai kakak, mengapa ia tidak pernah tahu. Lalu kenapa Evan juga menyembunyikannya darinya?
"Shasa!"
Shasa terdiam ketika tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Evan yang sudah mengetahui keberadaannya. Nafas pria itu tidak beraturan bahkan keringatnya sampai menetes ke pundaknya.
"Dengar! apa yang Lo dengar tadi__,"
"Stop! Gue gak mau tau apa yang barusan terjadi!"
__ADS_1
Tangan Shasa mendorong kuat tubuh Evan hingga pria itu mundur beberapa langkah. Saat Shasa berbalik badan dan menatap wajah Evan, betapa terkejutnya Shasa saat mengetahui keadaan sahabatnya sangat kacau, berantakan dan sangat menyedihkan.
Apa yang dilihatnya saat ini bukanlah seperti Evan yang ia kenal. Sosok Evan yang berwibawa dan Cool tidak lagi ada, yang ada hanyalah seorang pria yang nampak menyedihkan dan memiliki berbagai masalah dalam hidupnya.
Melihat kondisi Evan membuat Shasa menjadi tidak tega dan akhirnya menyerah. Shasa memilih untuk mendekat kearah Evan lalu merengkuh sahabatnya itu kedalam pelukannya.
Masih dengan napas yang memburu, Shasa mengelus rambut Evan, sedangkan pria itu menyenderkan kepalanya di pundak Shasa.
"Aku bisa menjelaskan semuanya" ucap Evan pelan mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman, yah walaupun apa yang diucapkannya tadi memang benar adanya.
"Tapi__,"
"Shasa kumohon, kau tidak percaya pada sahabat mu sendiri?" pinta Evan sembari melepaskan diri lalu memegang kedua bahu Shasa.
"Tapi Gue lapar, Evan!"
"Apa!"
Evan melongo tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Seharusnya Shasa marah lalu menamparnya, tapi apa ini kenapa Shasa malah bersikap seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Shasa yang ditatap Evan hanya mengangkat bahunya, seolah tidak tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Gue sumpahin Lo nikah sama Gue!" umpat Evan marah lalu berbalik badan dan meninggalkan Shasa sendirian.
"Evaaaan! Gue sumpahin juga Lo nikah sama cewe rese kayak Gue! Dasar jomblo gila!" balas Shasa tak kalah kencang, kemudian berlari mengejar Evan yang berada jauh didepan.
Dinding-dinding koridor lah yang menjadi saksi bisu, betapa indahnya persahabatan yang tulus dan penuh perjuangan itu. Persahabatan lawan jenis yang dimulai sejak kecil yang sampai sekarang masih baik-baik saja.
Bukankah pepatah mengatakan bahwa tidak akan ada persahabatan antara lawan jenis tanpa melibatkan perasaan. Lalu apa sekarang? Shasa sudah menjadi istri orang lain, tetapi persahabatannya masih tetap utuh bersama Evan.
***
Wajah Evan yang kacau dan menyedihkan itu perlahan berganti dengan senyuman manis. Demi apapun Evan sangat beruntung bisa menjadi sahabat Shasa. Tapi pria yang menikah dengan Shasa, pria itu pasti akan lebih beruntung lagi.
"Van, Lo pikir Gue ga tau kalau tadi Lo cuma bohong hp Lo ketinggalan" ucap Shasa mensejajarkan langkahnya dengan langkah Evan yang lebar.
"Ya dan Lo nguping semua pembicaraan Gue sama Tante Carrie"
Shasa sudah menduganya dari awal kalau alasan handphone tertinggal hanyalah alibi untuk dapat bertemu dengan Carrie. Shasa ingat saat Evan merogoh kantung kanannya, disaat itu terlihat jelas bahwa hp milik Evan berada di kantung celananya.
Diam-diam Shasa mengikuti Evan dari belakang, lalu tak sengaja mendengar semua pembicaraannya dengan Carrie.
"Lalu kenapa Lo bohongin Gue selama ini?" tanya Shasa yang langsung mendapatkan pelototan dari Evan.
"Kita bicarakan setelah makan malam" jawab Evan tenang kemudian masuk kedalam Lift disusul dengan Shasa.
Setelah pintu lift tertutup, tanpa sepengetahuan Shasa maupun Evan. Ada orang lain yang bersembunyi dibalik pot tanaman hias yang ukurannya besar.
__ADS_1
Orang itu diam-diam ikut membuntuti Shasa dari belakang dan akhirnya tidak sengaja mendengar semuanya, termasuk pembicaraan Evan dan Carrie.
"Luar biasa" gumam orang itu kemudian tersenyum miring.