Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Khawatir


__ADS_3

BRAK! BRAK! BRAK!


Pintu kayu berwarna coklat itu akhirnya terbuka. Tangan Donna bergetar, detak jantungnya berdetak tak karuan melihat pemandangan di depannya. Bau amis darah menyeruak keseluruh ruangan setelah pintu kamar mandi di depannya dibuka dengan paksa.


"Astaga! apakah dia sudah mati?"


Donna dan Kendra masih berdiri tercengang diluar pintu. Mereka seolah tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.


"Tidak!"


Kesadaran Donna telah kembali, walaupun didalam benaknya masih tidak percaya melihat Raihan berlumuran darah dengan sebotol bir ditangannya.


"Cepat angkat dia! aku akan membawanya ke rumah sakit!"


Melihat Kendra yang masih berdiri diluar pintu, Donna kembali berteriak kencang memohon kepada Kendra untuk mengangkat tubuh Raihan yang tergeletak tak sadarkan diri.


***


"Mah!"


Shasa menoleh ketika Allin memanggilnya. Gadis itu masih memegang tangannya erat.


"Kenapa Allin?"


"Kalau Mama ga sibuk, kita jalan-jalan kaya gini lagi ya Ma"


Anggukan kepala dari Shasa hampir saja membuat gadis enam tahun itu melompat kegirangan.


"Memangnya Allin suka ya kalau jalan-jalan sama Mama?"


Tanpa menjawab pertanyaan Mamanya, Allin langsung memeluk tubuh langsing Shasa. Bibirnya yang mungil tersenyum lebar kemudian mengangguk berkali-kali.

__ADS_1


"Baiklah sekarang saatnya pulang. Lain kali kita jalan-jalan lagi seperti ini"


Shasa memakaikan sabuk pengaman untuk Allin kemudian memakai sabuknya sendiri. Dilihatnya sejenak sang putri yang sedang tersenyum menatap kearah luar. Senyumnya yang begitu manis bisa membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum.


Setelah merasa puas melihat pancaran kebahagiaan dari wajah putrinya. Shasa menyalakan mesin mobilnya kemudian perlahan keluar dari area parkiran.


Baru saja mobil Shasa masuk ke jalan raya. Tiba-tiba Pajero berwarna putih datang dengan kecepatan tinggi dari arah belakang. Tak sempat menghindar, Pajero berwarna putih itu menyerempet bagian belakang mobil miliknya.


Hampir saja umpatan keluar dari mulut Shasa, namun diurungkan karena ada Allin yang duduk disampingnya. Shasa melepaskan sabuk pengamannya kemudian turun dari mobilnya dengan raut wajah yang memerah.


Bukannya meminta maaf atau setidaknya merasa bersalah. Pajero putih itu malah melarikan diri, meninggalkan mobil belakangnya yang tergores cukup parah ditambah dengan penyok dibeberapa bagian.


Sialan!


Dari tempatnya berdiri masih bisa ia lihat Pajero itu semakin menambah laju kecepatannya.


***


Wanita berambut pendek itu menoleh setengah terkejut ketika namanya dipanggil. Tak jauh dari tempatnya duduk, seorang pria bersama wanita memakai setelan hitam mendekat ke arahnya dengan raut wajah yang terlihat datar.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


Meskipun nada suaranya terdengar seperti biasa-biasa saja, namun dibalik suara itu terdapat rasa cemas yang luar biasa. Mengetahui kakak satu-satunya masuk kedalam rumah sakit, rasa khawatirnya muncul begitu saja.


"Sepertinya Raihan mencoba untuk bunuh diri"


Dahi Evan berkerut ketika pria yang duduk disamping Donna menjawab pertanyaannya. Sangatlah tidak mungkin Raihan mencoba untuk bunuh diri. Pria itu terluka pasti karena musuhnya. Bisa saja saat Raihan mabuk musuh pria itu langsung menyerangnya dan membuat kejadian seolah-olah seperti bunuh diri.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"


Misha akhirnya membuka suaranya setelah berbagai macam tebakan hinggap di kepalanya. Rasa keingintahuannya begitu besar, mengapa kakak iparnya mencoba bunuh diri dan mengapa Evan terlihat tidak percaya dengan pernyataan yang diungkapkan oleh pria disamping Donna.

__ADS_1


"Misha kau tidak usah ikut campur. Seharusnya aku tidak membawamu kemari"


Dengan langkah yang lesu Evan duduk disamping Kendra, membiarkan Misha berdiri dengan wajah yang penuh pertanyaan.


***


Shasa mengunci pintu rumahnya kemudian kembali duduk di sofa dengan segelas coklat hangat ditangannya. Layar televisi didepannya menayangkan film laga yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.


Satu jam berlalu...


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan Shasa masih duduk diam menikmati film yang alur ceritanya ia hafal diluar kepala. Meskipun tahu bagaimana akhir dari film itu Shasa masih tetap antusias dengan aksi-aksi yang menurutnya sangat keren.


Setelah film laga yang ditontonnya telah usai, Shasa bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah dapur membawa gelas yang isinya sudah kandas setengah jam lalu. Shasa kembali mematikan televisi kemudian naik ke lantai atas tepat dimana kamarnya berada.


Tangan Shasa terhenti ketika hampir membuka pintu kamarnya. Pintu cokelat disamping kamarnya menarik perhatiannya. Shasa mengurungkan niatnya untuk langsung tidur, wanita itu lebih memilih untuk melihat putri semata wayangnya.


Pintu kayu berwarna cokelat itu terbuka setelah Shasa mendorongnya dari arah luar. Baru satu langkah masuk kedalam raut wajah Shasa langsung berubah. Dengan langkah yang gontai Shasa menutup jendala kamar milik Allin yang dibiarkan terbuka.


Bagaimana Allin bisa seceroboh ini. Tidak menutup kaca jendelanya dan membiarkan angin malam yang dingin masuk kedalam.


Dilihatnya lekat wajah cantik milik putrinya, wajah yang setiap saat mengingatkannya pada masa lalunya. Shasa duduk disamping tubuh putrinya yang tertidur pulas, beberapakali putrinya itu menggeliat tak tenang.


Raut wajah Shasa menjadi gelisah ketika melihat gelagat tidur Allin yang tidak seperti biasa.


"Astaga!"


Shasa memekik ketika punggung tangannya mengenai dahi Allin. Rasa kantuk yang menghampirinya beberapa saat lalu hilang begitu saja setelah melihat kondisi Allin. Putrinya itu terlihat menggigil dengan suhu tubuh yang panas.


"Allin bangun nak, bangun sebentar minum dulu"


Berulangkali Shasa mencoba membangunkan Allin untuk minum air mineral namun putrinya itu masih terlelap dengan bibir yang bergumam tidak jelas.

__ADS_1


__ADS_2