Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Cantik Tapi Tidak Mirip


__ADS_3

Sama seperti hari-hari biasanya, wanita berambut pendek sebahu itu selalu bergelung dengan peralatan dapur setiap pagi.


Setelah meletakkan dua piring berisi sosis dan telur mata sapi di meja makan, Shasa kembali ke dapur mengambil secangkir kopi untuk dirinya sendiri dan segelas susu hangat untuk putrinya.


Selesai menyiapkan sarapan pagi, Shasa melepaskan apron yang dikenakannya lalu meninggalkan dapur. Langkahnya berjalan naik ke lantai atas, menuju kamar Allin dan berniat membangunkan gadis kecilnya.


Namun saat membuka pintu kamar Allin, putrinya itu ternyata telah siap mengenakan seragam sekolah.


Shasa tidak terkejut melihatnya, muncul senyum tipis dibibirnya ketika melihat kebiasaan putrinya yang tidak pernah mau merepotkan dirinya. Padahal hal itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang Ibu untuk merawat anaknya.


Gadis itu tengah menyisir rambutnya didepan sebuah cermin yang tergantung diatas meja rias kecil. Bibirnya tak henti mengoceh karena rambutnya yang agak susah untuk disisir.


Shasa menggelengkan kepalanya kemudian mendekati putrinya, mengambil alih sisir dari tangan Allin lalu menyisir rambut Allin perlahan.


"Mah, Allin cantik nggak?" tanya Allin melihat Mamanya dari pantulan cermin.


"Tentu, Allin cantik mirip sama Mama" jawab Shasa sembari menguncir kuda rambut putrinya.

__ADS_1


"Allin cantik tapi nggak mirip sama Mama, lihat deh wajah Allin aja ngga sama kaya wajahnya Mama"


Wanita berambut pendek itu seketika terdiam mendengar kalimat yang diucapkan oleh putrinya.


Dari pantulan cermin didepannya, wanita itu bisa melihat dengan jelas wajah Allin memang berbeda dengan wajahnya. Hanya bentuk matanya saja yang sama persis dengan bentuk mata miliknya.


"Ayo turun"


Shasa mengajak putrinya turun setelah mengambil tas milik Allin untuk dibawakan kebawah. Raut mukanya menjadi sedikit muram setelah pertanyaan yang diajukan oleh Allin.


Gadis kecil itu kebingungan melihat raut wajah Mamanya yang tiba-tiba berubah menjadi muram. Apakah ada yang salah dengan pertanyaannya tadi.


"Mama marah ya, maafin Allin ya Mah"


Gadis itu menundukkan kepalanya, raut wajahnya semakin merasa bersalah ketika Mamanya tidak kunjung menerima permintaan maafnya.


Tidak tega melihat wajah bersalah putrinya, Shasa mensejajarkan tingginya sama dengan Allin kemudian memegang tangan mungil milik Allin.

__ADS_1


"Memangnya Allin punya salah sama Mama?"


Gadis itu cepat-cepat menganggukkan kepalanya. Shasa memeluk Allin lalu menggendongnya dan mendudukkannya di kursi meja makan.


"Engga tuh Allin nggak punya salah apa-apa sama Mama" Bocah itu seketika mengangkat kepalanya.


"Beneran Mah?"


Shasa menganggukkan kepalanya, raut wajah bocah itu berubah menjadi senang. Saat Allin tersenyum menampilkan gigi putihnya yang berjejer rapi, sekilas wajahnya mengingatkan Shasa pada seseorang dari masa lalunya.


Beberapa menit kemudian tepat disaat Allin selesai meminum susu hangatnya, terdengar klakson dua kali didepan rumahnya. Shasa segera memberikan tas kecil yang dibawanya tadi kepada Allin. Kemudian mengantar Allin sampai ke halaman rumah untuk melihat putri semata wayangnya menaiki bus sekolah.


Setelah bus sekolah itu menghilang dari pandangannya, Shasa masuk kedalam kamarnya. Selang beberapa menit kemudian Shasa telah mengganti pakaiannya dengan dress selutut tanpa lengan berwarna tosca. Tidak lupa dengan tas mungil berwarna hitam digenggamnya.


Wanita itu kemudian mengambil kunci mobil yang berada didalam laci nakas. Menuruni tangga dan masuk kedalam garasi disamping rumahnya.


Mobil hitam yang Shasa kendarai melaju cepat meninggalkan kompleks perumahan sederhana tempat tinggalnya.

__ADS_1


***


Jangan lupa dukunganya terus ya, biar thor semakin semangat dan rajin update novel ini 🥰


__ADS_2