Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Spaghetti alle vongole


__ADS_3

Saat Raihan sudah keluar dari kamar mandi dan lengkap dengan pakaiannya, gantian Shasa yang masuk kedalam membawa pakaian ganti spesialnya.


Setelah selesai menjalankan ritual mandinya, Shasa mulai memakai satu persatu pakaiannya termasuk holster paha tadi beserta dua pistol dan beberapa pisau.


Waktunya sangat pas sekali, saat keluar dari kamar mandi seorang waiters menghantarkan makanan dan minuman yang dipesan oleh Raihan tadi.


Setelah Shasa dan Raihan menghabiskan sarapan, mereka berencana untuk berjalan-jalan di sekitar hotel tempat mereka menginap.


"Sayang, kamu kepengen punya anak berapa?" tanya Raihan sembari mengeratkan genggaman tangannya, takut kalau Shasa hilang dalam kerumunan massa.


"Sesuai kehendak- Nya" jawab Shasa enteng, entahlah menjadi ibu pasti rasanya akan aneh dan tentunya juga sangat berbahaya bagi anaknya nanti. Seorang anak dari Mafia Queen, anak itu akan sangat berharga dan istimewa bagi Shasa.


Shasa tersenyum membayangkan anaknya akan menggantikan posisinya. Jika anaknya laki-laki akan menjadi Mafia King dan jika anaknya perempuan pasti akan menjadi sepertinya.


Tetapi bagaimana dengan Raihan? apakah pria itu mau menjadikan dirinya sebagai ibu dari anak-anaknya, jika mengetahui kalau dirinya adalah seorang Mafia Queen.


Langkah Shasa mulai melambat, ekor matanya melirik kearah pria yang memakai kacamata hitam tak jauh darinya.


"Raihan hpku ketinggalan Aku ambil sebentar ya?" ijin Shasa melepaskan genggaman tangannya, kemudian berbalik dan berjalan cepat mengikuti orang tadi.


Saat orang itu tidak menyadari keberadaan Shasa, dengan cepat Shasa menggandeng tangannya dan menyeret ketempat sepi yang tentunya bebas dari kamera CCTV.


"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk mengikutiku?" tanya Shasa dalam bahasa asing, pria itu terlihat ketakutan namun masih membungkam mulutnya.


"Katakan atau kau terima akibatnya!" ancam Shasa sekali lagi.


"Aku tidak bermaksud melukaimu, seorang wanita membayar ku untuk membuntutimu"


"Siapa?"


"Aku benar-benar tidak tahu, tolong maafkan Aku"


Shasa melepaskan genggaman tangannya, membiarkan pria itu pergi meninggalkannya dengan tergesa-gesa. Jemari lentik Shasa mengepal, menampilkan ruas jarinya yang memutih.


Tiba-tiba seseorang menggenggam kepalan tangannya, Shas mendongak melihat orang yang berani menggenggam tangannya.


"Raihan?"


"Iya"


"Sejak kapan kamu disini?" tanya Shasa ketar-ketir menunggu jawaban dari Raihan, pria itu tersenyum kemudian menjawab.


"Sejak tadi"


Shasa terdiam, jika Raihan sejak tadi mengikutinya berarti Raihan tahu semua yang ia bicarakan dengan pria tadi.


Ekspresi wajah Raihan nampak biasa-biasa saja, berbeda dengan Shasa yang sudah seperti seorang maling yang tertangkap basah sedang mencuri.


"Aku tahu, kamu wanita yang hebat, wanita yang bisa menjaga dirinya sendiri, tapi disini ada Aku yang bisa kamu andalkan" ucap Raihan menggenggam kedua tangan Shasa kemudian menciumnya.


"Aku akan menyelidiki siapa boss dari pria tadi, jadi tenang saja, kita nikmati Honeymoon ini sebaik mungkin"


Shasa tersenyum kemudian mengangguk senang. Lihatlah bagaimana caranya seorang Ustadz menenangkan hati istrinya, Shasa sangat beruntung karena bisa berada di posisi ini.


Matahari mulai naik, menyinari bumi dengan sinar hangatnya. Shasa dan Raihan selalu tersenyum sepanjang jalan, mereka membahas hal-hal yang sebenarnya tidak ada gunanya, tetapi hal itulah yang membuat hubungan mereka tetap terjaga dengan baik.

__ADS_1


"Raihan, Raihan, lihatlah sepertinya makanan itu enak" Shasa menarik-narik lengan Shasa sembari menyeret pria itu untuk berjalan lebih cepat.


Raihan terkekeh melihat istrinya berubah menjadi kekanak-kanakan, tapi tetap saja Raihan menuruti ajakan Shasa untuk makan di restoran khas kota yang di pijaknya sekarang.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan Shasa dan juga Raihan datang. Dua Spaghetti alle vongole beserta minuman dan hidangan penutup.


Shasa tersenyum melihat Spaghetti alle vongole miliknya, Spaghetti bertaburan kerang itu nampak sangat lezat dimata Shasa.


"Aaa......" Raihan menyodorkan gulungan Spaghetti bercampur kerang diujung garpu.


Shasa dengan senang hati membuka mulutnya, menerima suapan dari Raihan. Rasa manis alami dari kerang menambahkan cita rasa Spaghetti nya.


Setelah menghabiskan makan siang bersama, Shasa dan Raihan kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari hal-hal unik yang ada dikota ini.


Tak lama kemudian handphone Raihan bergetar menandakan bahwa waktu Sholat Dhuhur telah tiba. Raihan mengajak Shasa untuk kembali ke hotel karena disekitar sini jarang ada tempat ibadah untuk umat Islam.


***


"Bagus yah, pemandangan nya dari sini" ucap Shasa sembari menyesap teh hangatnya.


Raihan mengangguk mengiyakan kalimat yang barusan diucapkan oleh Shasa, setelah mereka menunaikan Sholat Dhuhur kemudian bersantai sampai Ashar dan sekarang mereka sedang menyaksikan pemandangan kota dari balkon sebelas, tempat kamar mereka berada.


Waktu menunjukkan pukul lima sore, Shasa ingin sekali menelpon Evan dan menanyakan apakah keadaan baik-baik saja atau tidak. Menangani berbagai musuh itu tidaklah mudah, Shasa khawatir jika Evan kenapa-kenapa saat bertanding melawan musuh-musuh mereka.


"Kamu ingin kemana setelah ini?" tanya Raihan membuyarkan lamunan Shasa.


"Terserah" jawab Shasa sekenanya, saat ini suasana hatinya tidak terlalu baik. Terserahlah nanti Raihan mau membawanya kemana, asalkan nanti ada kesempatan untuk menelpon Evan dan menanyakan kabarnya.


Ternyata dugaan Shasa salah, setelah Sholat Isya berjamaah Raihan tidak mengajaknya pergi kemanapun. Melainkan dinner di balkon dengan ditemani hembusan angin segar.


Shasa tersenyum mendapatkan kejutan romantis seperti ini, sepanjang hidupnya tidak pernah ada yang namanya romantis. Hidupnya dulu dipenuhi dengan aksi menegangkan dan membahayakan, yang membuat adrenalin nya naik dan itulah yang dinamakan hidup menurut Shasa dahulu.


"Grazie" ucap Raihan ramah sembari memberikan tips kepada waiters yang membereskan sisa dinner romantis.


Acara mereka dilanjutkan dengan menonton TV dengan bahasa setempat yang tentunya Raihan dan Shasa mengerti.


Mereka nampak sangat serasi, memberikan pendapat tentang apa yang mereka tonton kemudian tertawa pada akhirnya, karena sadar telah membahas hal yang tidak terlalu penting.


***


Dua jam berlalu...


Detak jantung Shasa terasa seperti drum yang dimainkan oleh para suporter bola, berdetak kencang dan tidak beraturan.


Apakah dirinya terkena penyakit membahayakan atau karena memikirkan kalau malam ini adalah malam dimana Raihan akan mendapatkan dirinya seutuhnya.


Shasa gelisah, mondar-mandir tidak jelas menunggu Raihan yang sedang mandi. Jelas setelah ini gantian dirinya yang akan mandi dan mencopot holster beserta senjata yang sejak tadi pagi melekat manis pada pahanya.


Tidak mungkin kan, saat Raihan membuka dressnya malah menampilkan pisau dan pistol nya didalam holster paha yang ia pakai.


Pintu kamar mandi terbuka, Raihan keluar hanya menggunakan handuk sedang yang dililitkan pada pinggangnya. Saat Raihan menyugar rambutnya yang basah kebelakang, Shasa menelan ludah. Gerakan Raihan barusan seolah berubah menjadi gerakan slow motion dimata Shasa.


Dada bidang kekar, buliran air dari rambut menetes membasahi dada putih yang berbentuk sixpack, walaupun tidak terlalu terlihat. Shasa meneguk ludahnya pelan, menutup matanya sejenak lalu bersikap seperti biasanya.


Raihan berjalan semakin dekat dan dekat, hingga akhirnya sampai tepat didepan Shasa yang tengah duduk di pinggiran ranjang.

__ADS_1


"Kamu tidak usah mandi yah" ucap Raihan menyelipkan rambut Shasa yang berantakan.


Shasa mendongak matanya menatap netra Raihan dalam kemudian menggeleng.


"Masa kamu mandi, Aku enggak?" protes Shasa memajukan bibirnya. Raihan tersenyum tak ingin menyia-nyiakan momen ini.


Cup!


Mata Shasa membelalak karena terkejut ulah Raihan yang mencium bibirnya tanpa aba-aba. Pelan sekali Raihan mendorong tubuh Shasa untuk berbaring, Shasa hanya menurut mengiyakan semua keinginan Raihan.


Raihan menindih tubuh Shasa, ditatapnya mata cantik milik istrinya kemudian turun kehidung kecil namun mancung. Hingga akhirnya berakhir pada bibir merekah milik Shasa yang menggoda.


Sedangkan Shasa tersenyum melihat wajah Raihan yang terlihat sangat tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini.


Hampir, hampir saja bibir mereka bertemu tetapi suatu hal mengehentikan Raihan.


Drrrrrrrrt Drrrrrrrrt


Raihan memutar bola matanya jengah kemudian kembali menatap wajah Shasa, wanita itu hanya mengangkat kedua alisnya berisyarat untuk mengangkat telpon terlebih dahulu. Raihan mengangguk lalu mengambil handphone miliknya dari atas meja dan mengangkatnya di balkon.


Shasa hanya duduk diam memperhatikan Raihan mengoceh dengan lawan bicaranya. Pria itu awalnya nampak terkejut kemudian panik dan mematikan sambungan telepon secara sepihak.


"Ada apa?" tanya Shasa saat Raihan panik lalu membongkar kopernya untuk mencari ganti baju.


"Tidak ada apa-apa, Aku akan keluar sebentar, jaga dirimu baik-baik dan jangan keluar dari kamar!" Titah Raihan sembari mengenakan pakaian gantinya dengan tergesa-gesa.


"Aku mencintaimu" Pamit Raihan sebelum pintu kamar benar-benar tertutup.


"Aku juga mencintaimu" Balas Shasa pelan kemudian berjalan kearah balkon.


Dua jam berlalu, waktu menunjukkan pukul sebelas malam tetapi Raihan belum juga kembali. Shasa yang lelah menunggu di balkon memutuskan untuk mencari Raihan. Shasa sudah menelpon pria itu berkali-kali tetapi hasilnya nihil, tidak ada jawaban sama sekali.


Shasa mengambil cardigan dari kopernya kemudian ia pakai, hawa dingin disini cukup untuk membuat es batu manusia. Shasa melangkah keluar menunggu lift terbuka dan akan mencari Raihan di lantai dasar.


Saat lift terbuka didalamnya ada tiga orang wanita paruh baya, dan satu pria. Shasa masuk dengan sopan kemudian menunggu giliran untuk turun ke lantai dasar. Beberapa menit kemudian menyisakan seorang wanita paruh baya tadi yang ingin menuju ke lantai dua.


"Ciao, buonanotte, sei solo? o insieme ad altri tuoi amici?" tanya wanita itu ramah dengan logat yang sangat kental.


"Oh ciao, sono qui con mio marito" jawab Shasa ramah, Wanita itu bertanya apakah Shasa sendirian atau bersama dengan temannya. Shasa menjawab dengan jujur kalau dirinya disini bersama dengan Raihan, suaminya.


Mereka berdua berbincang kecil hingga harus berpisah karena sudah sampai di lantai dua, sedangkan Shasa akan mencari Raihan di lantai dasar.


"Dai, prendi un caffè in camera mia per un momento" Ajak wanita itu mengundang Shasa untuk minum kopi dikamarnya. Shasa awalnya menolak tetapi karena dirinya juga sedang merasa bosan, akhirnya Shasa mengiyakan permintaan wanita itu.


Dua puluh menit berlalu, ternyata setelah berbincang-bincang wanita itu adalah seorang istri yang ditinggal suaminya bekerja diluar kota. Shasa juga bercerita bahwa dirinya beruntung karena bisa menikah dengan pria seperti Raihan.


"Arrivederci" Shasa melambaikan tangannya dan mengucapkan sampai jumpa pada wanita itu, berharap bisa bertemu suatu hari nanti.


Saat Shasa melewati salah satu kamar yang pintunya terbuka, Shasa tidak sengaja mendengar seseorang menggunakan bahasa yang digunakannya sehari-hari.


Karena penasaran Shasa mendekati kamar yang pintunya setengah terbuka itu, pelan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara.


Shasa mengintip kedalam mencoba untuk melihat siapa yang ada didalam.


Tepat disaat itu dengan mata kepalanya sendiri, Shasa melihat seorang pria menindih tubuh wanita.

__ADS_1


Jantungnya terasa seperti sedang berlarian didalam rongga dada, nafasnya memburu, dahinya muncul beribu kerutan, dan matanya meneteskan air mata. Akan tetapi bibirnya tersenyum.


Shasa membalikkan badannya kemudian tertawa pelan, menertawakan dirinya yang bodoh.


__ADS_2