
"Kau yakin Allin bisa bertemu dengan Papa kandungnya?"
"Tentu, kalau emang gak ketemu seenggaknya kita udah nyoba"
Carol manggut-manggut mendengarkan jawaban dari Alan. Ada benarnya memang, tapi jika Tuhan menghendaki apapun pasti akan terjadi.
Setidaknya ia dan Alan sudah berusaha mencoba untuk mempertemukan dua orang itu, meskipun Mama dari anak itu pasti tidak akan menyetujuinya jika putrinya bertemu dengan Papa kandungnya.
"Lagipula pria itu sekarang berada di kota yang akan Shasa tinggali nanti, besar kemungkinan Allin bisa bisa bertemu dengan Papanya" ucap Alan yakin dengan rencana yang telah dibuatnya bersama Carol.
"Oh ya, kau yakin Shasa akan tinggal di kota itu? Bisa saja Shasa tinggal di kota lain" tanya Carol dengan wajah seolah meremehkan suaminya.
"Tentu saja" jawab Alan sembari memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya rencana yang sebagian besar direncanakannya sendiri diremehkan oleh Carol.
"Memangnya kau tahu darimana Shasa akan tinggal di kota itu?" tanya Carol sekali lagi.
"Kau hilang ingatan atau bagaimana? hal semudah itu tentu saja bisa Aku lakukan" jawab Alan kesal pada Carol.
Entahlah bagaimana bisa dirinya yang mempunyai otak cemerlang mencintai Carol dengan otak yang pas-pasan. Jika saja Carol bukan orang yang dicintainya mungkin ia akan mencekik lehernya hingga kehabisan napas.
***
"Mama?"
__ADS_1
"Iya sayang sebentar"
Gadis kecil itu menjilati es krim rasa cokelat sembari melihat Mamanya yang mondar-mandir didepannya. Mungkin sudah tiga kali ia memanggil Mamanya dan jawabannya selalu sama.
Allin tidak tahu bagaimana gusarnya Shasa setelah menerima tawaran dari Alan. Disatu sisi ia tidak tega melihat pria itu memohon kepadanya dan disisi lainnya ia tidak bisa jika harus kembali ke negaranya dulu.
Ada sedikit rasa penyesalan dalam hatinya karena menerima tawaran dari Alan. Muncul keinginan untuk membatalkan tawaran itu, namun ia tidak bisa begitu saja membatalkannya.
Setengah bayarannya sudah Alan berikan kepadanya, jikalau ia membatalkannya hal itu akan merusak reputasi baik yang sudah ia jaga selama bertahun-tahun.
"Allin pengen liburan ngga?" tanya Shasa menghentikan langkahnya lalu duduk disamping putrinya.
Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Allin saat ditanya oleh Mamanya. Gadis berumur enam tahun itu menganggukkan kepalanya berkali-kali saking senangnya.
***
Sementara itu dibelahan bumi lainnya.
Disuatu tempat tidak dihiraukannya dentuman musik yang begitu keras ditambah suara bising dari orang-orang yang memenuhi tempat itu.
Seorang pria duduk di depan meja bar dengan penampilan kacau sedang meneguk sebuah gelas berisi Tequila untuk kesekian kalinya. Disebelah pria itu terdapat wanita-wanita seksi menemaninya bergelung dengan maksiat dunia.
Semakin banyak Tequila yang meluncur melewati tenggorokan pria itu sebanyak itu pula kesadarannya perlahan mulai menghilang.
__ADS_1
"Hai sayang, kenapa kau tega meninggalkanku hidup sendirian di dunia yang kejam ini"
Dibawah kesadarannya pria itu menarik salah satu wanita seksi yang berdiri disampingnya. Memaksa wanita itu untuk duduk dipahanya, namun belum sampai wanita seksi itu duduk tiba-tiba.
BUGH!! BUGHH! BUGH!
Seorang pria yang baru saja datang menyerang pria mabuk itu. Wajah pria itu memerah menandakan amarah yang tidak bisa dikendalikan.
"Menjauh kalian!" Pria yang baru datang itu menggertak wanita-wanita seksi yang mengelilingi kakaknya yang tengah tak sadarkan diri akibat pukulannya.
Wanita-wanita itu pergi begitu saja setelah mendapatkan gertakan dari orang asing itu. Mereka sedikit kesal karena targetnya malam ini lepas begitu saja.
"Dasar pengecut!"
***
Keesokkan paginya disaat matahari perlahan menampakkan dirinya. Sinar hangat menerpa seorang pria yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Pria itu memegangi kepalanya yang terasa begitu berat, hingga seorang pelayan menghampirinya dan memberikan segelas air putih dan obat pereda sakit kepala.
"Evan dimana Bi?" Pria itu menanyakan keberadaan adiknya yang telah menyeretnya pulang begitu saja dari Bar. Bahkan Adiknya itu tidak segan-segan memukulinya hingga tidak sadarkan diri.
"Maaf Tuan, Tuan Evan setelah menghantarkan Anda pulang Tuan Evan langsung pergi begitu saja" Sesudah menjawab pertanyaan dari Tuannya, pelayan itu pamit untuk kembali ke dapur.
__ADS_1
"Evan sialan!" Gertak pria itu mengepalkan tangannya kuat.