Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
A-aku t-tidak


__ADS_3

Ditempat lain seorang pria mengendarai mobil mewahnya dengan Kecepatan diatas rata-rata melaju kencang membelah jalanan di tepi kota yang biasa dilewatinya.


Jalanan tepi kota yang memang selalu sepi akan kendaraan itu membuat Evan semakin bebas memacu mobilnya dengan kecepatan menyamai pembalap.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Shasa"


Peluh Evan semakin banyak membasahi wajahnya, setelah telponnya diputus secara sepihak dari Shasa membuat dirinya khawatir bukan main. Jikalau Raihan sedikit saja berani menyakiti Shasa, ia tak akan segan-segan membunuh Raihan si brengs*k itu.


***


Beberapa saat tak ada jawaban dari pria dihadapannya, Shasa berbalik untuk segera pergi dari hadapan Raihan agar emosinya tidak lagi tersulut. Tetapi hentakan keras yang menarik lengannya membuat Shasa berbalik hingga menubruk dada bidang nan keras itu.


"Sha, ganti bajumu atau kau mau aku yang menggantikannya hm?"


Ucapan Raihan barusan membuat Shasa bergidik, suara yang menggoda dan tatapan mata yang seakan siap untuk menelanjanginya.


Shasa berusaha mendorong tubuh kekar Raihan, tetapi lengan Raihan yang berada di pinggangnya membuatnya kesulitan untuk mendorong pria dihadapannya ini.


"Lepasin Gue!"


Raut wajah Shasa yang semula gelisah kini berganti menjadi datar dan tak berekspresi, ia juga tidak lagi berusaha mendorong tubuh Raihan.


Kedua tangannya yang semula berada di dada Raihan sekarang diam disamping tubuhnya, dagunya ia angkat agak tinggi untuk mensejajarkan tingginya dengan Raihan.


Wajah kemenangan terpampang jelas di wajah Raihan, ia puas karena bisa membuat Shasa menjadi diam dan tidak lagi memberontak.


Oke, mungkin Shasa hanya perlu sedikit di intimidasi baru bisa menurut.


Lain hal dengan Shasa, diam bukan berarti menyerah tetapi diam menunjukkan kalau dirinya memberi kesempatan pada Raihan untuk tidak lagi mengintimidasi nya lagi.


"Lepasin Gue, atau?"


"Atau ka__,"


BUGH!


Sebuah bogem mentah mendarat tepat di pipi kiri Raihan, napas Shasa naik turun menandakan amarahnya yang sudah tak terkendali lagi.

__ADS_1


"Perset*n dengan semuanya! minggir!"


Teriakan Shasa cukup keras hingga Raihan sadar akan hal barusan yang Shasa lakukan padanya.


Tidak semudah itu lepas dari dekapannya, Raihan semakin mempererat pinggang Shasa hingga tak ada jarak diantara mereka. Sementara tangan kanan Shasa yang tadinya digunakan untuk memukul Raihan kini kembali terkepal kuat hingga menampilkan buku jarinya yang memutih.


Sreet!


Meleset! Sebelum kepalan tangan Shasa kembali mendarat diwajahnya, Raihan lebih dahulu menghentikan kepalan tangan Shasa yang berada tepat didepan wajahnya. Shasa menggertak kesal, pukulannya berhasil ditangkis oleh Raihan.


"Kau, memukulku?" tanya Raihan dengan wajah tak percaya, baru kali ini ia dipukul oleh seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Shasa terdiam, oh astaga apa yang ia lakukan barusan?


"A-aku aku t-tida— akh!"


Belum sempat Shasa menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya didorong keras oleh Raihan hingga terpojok di sudut kamar. Sekarang ia benar-benar tidak bisa bergerak, dibelakangnya sudah mentok tembok sedangkan dihadapannya ada Raihan dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.


"Sepertinya, kamu harus membayar rasa perih di pipiku dengan rasa perih yang belum pernah kau rasakan, bagaimana?"


"A-apa yang k-kau lakukan?"


Terselip nada ketakutan disetiap kata yang terucap dari bibir Shasa, bibirnya bergetar karena takut kalau Raihan melakukan hal yang tak diinginkannya.


Mungkin karena rok span yang dikenakan Shasa terlalu pas dengan bentuk tubuhnya, rok dengan model dibawah lutut itu sama sekali tidak merosot kebawah.


Hanya saja bagian belakang terasa terbuka lebar karena resleting yang pada dasarnya memang sudah ditarik hingga kebawah.


Tangan kanan Shasa mencoba untuk menyingkirkan tangan Raihan dari bagian belakang tubuhnya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Tangan Raihan semakin naik hingga masuk kedalam kemeja press body yang ia kenakan.


Sentuhan lembut dari tangan Raihan yang mengenai punggung polosnya menyebabkan gelenyar aneh pada tubuhnya.


Shasa tersentak ketika pengait bra nya sudah tidak lagi terkait, jangan tanya siapa orang yang melepaskannya. Raihan, tatapan mata pria itu tidak lagi sama seperti biasanya. Seakan sedang kehausan ditengah gurun pasir, jakun yang naik turun membuat Shasa menelan ludahnya kasar.


"Kau harus membayarnya sekarang!" ucap Raihan dengan suara beratnya, suara yang sama dengan suara yang tadi malam Shasa dengar.


"Ap__,"

__ADS_1


"Shasa! cepat keluar Nak, ada Evan di luar"


Teriakan dari nenek dijadikan Shasa sebagai kesempatan untuk keluar dari situasi ini, didorongnya tubuh Raihan lalu menarik resletingnya dengan cepat.


Tak perduli dengan kemeja belakangnya yang keluar dan juga bra yang tidak terkait, Shasa melangkah dengan cepat untuk segera menemui Evan di depan sesuai perintah nenek tadi.


"Argghh"


Kacau, Raihan menarik rambutnya kebelakang dengan segala emosi yang memuncak. Sekali lagi dirinya kehilangan kendali, entah apa yang akan ia ucapkan kepada Shasa nanti.


Meminta maaf lagi? atau mendiami Shasa saja?


Sungguh dirinya hanya tak ingin pria lain melihat bentukan tubuh istrinya yang dibalut dengan pakaian serba ketat itu.


Niat awalnya hanya menyuruh Shasa berganti baju yang longgar tetapi istrinya itu malah menonjoknya, jadilah ia kehilangan kendali dan membuat Shasa ketakutan lagi.


"Hai?" Sapa Shasa kepada Evan yang saat ini tengah berdiri tegak di depan pintu rumah.


Pria dihadapannya ini terlihat agak berantakan. Rambut kacau bak terkena angin topan, pakaian amburadul seperti tak pernah dicuci dan napasnya yang naik turun seperti di kejar penagih hutang.


"Kau baik-baik saja?"


Evan langsung memeluk sahabatnya itu, tanpa menghiraukan tatapan tajam dari pria yang sedang berdiri di tengah ruangan.


Tunggu dulu? rasanya ada yang aneh dengan pelukannya, sesuatu yang terasa lebih menonjol. Shasa juga membalas pelukan Evan lebih erat lagi, ia tak sadar dengan wajah Evan yang saat ini tak karuan membayangkan hal lain tentang salah satu bagian tubuhnya.


"Gue antar ke kantor yah?" tanya Evan langsung disetujui oleh Shasa, mereka masih berpelukan tidak perduli dengan Raihan yang matanya sudah mengkilat merah dan kepalan tangan yang terlihat sangat keras.


"Shasa bia__,"


Shasa langsung menepis tangan Raihan ketika tangan itu menyentuh pundaknya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Shasa langsung menyeret Evan masuk kedalam Mobil.


Evan menurut langsung masuk dan menancap gas, meninggalkan pekarangan rumah Raihan dengan seribu pertanyaan diotaknya.


"Argghh!!" Lagi-lagi Raihan menggeram kesal, emosinya sudah tidak terkendali. Ia sangat ingin menghilangkan Evan dari dunia ini, namun ia tidak bisa melakukannya.


Ada hal yang membuatnya tidak bisa melukai Evan sedikitpun dan hal itu berlaku untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2