
Tak terasa pernikahan Shasa dan Raihan sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Pernikahan yang awalnya hanya ingin mencoba-coba saja, tetapi malah berlanjut selama tiga bulan lamanya.
Jangan berpikiran kalau Raihan pernah melakukan sesuatu yang membuat Shasa mendesah. Pria itu sangat sabar sampai-sampai rela tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami-istri.
Sedangkan Nenek terus-menerus memaksanya untuk segara memiliki anak, bagaimana bisa seorang janin tumbuh dirahim Shasa, jika pembuatannya saja tidak pernah dilakukan.
"Ayolah, masa kalian nggak mau kasih Nenek cicit, satu saja ya"
"Mungkin saja Allah belum percaya sama kami, Nenek sabar ya, yang penting kesehatan Nenek dijaga"
Selalu saja begitu, Raihan memijat pangkal hidungnya. Lelah juga memberi harapan palsu kepada Nenek, andai Shasa mau diajak kerjasama untuk membuat anak, pasti keinginan Nenek akan lebih mudah terkabulkan.
"Raihaaan!"
Teriakan nyaring yang berasal dari kamar itu membuat Raihan tersadar dan segera bangkit dari duduknya.
"Ada apa?"
Raihan berdiri di ambang pintu sembari menatap wanita yang sedang sibuk membongkar sesuatu di dalam lemari.
"Kamu lihat tas warna merah Aku nggak?"
"Ini?"
Tangan Raihan menjinjing sling bag berwarna merah yang ditemukannya dibawah sofa dekat pintu. Shasa menyambar Sling bag merah itu dengan senyum manisnya yang mengembang.
Bukankah waktu dapat merubah apapun, termasuk sifat dan hati seseorang?
Sama seperti batu yang lama-kelamaan terkikis karena tetesan air, hati Shasa yang awalnya sekeras batu kini mulai melunak berkat kehadiran Raihan dalam hidupnya. Walaupun Shasa tidak sekejam dulu, tetapi tetap saja sifat itu melekat kuat dalam dirinya.
Jangan lupakan kalau Shasa itu seorang Mafia Queen, berkat kewaspadaannya yang tinggi, sampai sekarang masih menyembunyikan identitas aslinya pada Raihan.
Entah bodoh atau terlalu lugu, Raihan nampak tak curiga sama sekali ketika menemukan senjata tajam didalam lemari ataupun koper yang dibawanya dulu.
"Nanti malam kamu sibuk nggak?"
Raihan mendekati Shasa yang sedang mengelap Sling bag nya tadi, wanita itu terlihat sangat fokus hingga tidak mendengar apa yang diucapkannya.
"Shasa?"
"Nggak emangnya kenapa?" Shasa menutup matanya sejenak lalu menghadap kearah Raihan yang berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
Rasa bersalah itu lagi-lagi hinggap di hati kecil Shasa, ia takut kalau Raihan meminta hak nya sebagai seorang suami, Bagaimanapun juga ia masih belum siap dengan semuanya.
"Ada deh" Raihan terkekeh pelan sembari berjalan keluar kamar. Shasa menatap punggung lebar itu, punggung yang terlihat kokoh dan kuat, andai ia bisa memeluk punggung itu dari belakang.
***
"Mau kemana sih? Raihan jawab, kita mau kemana?"
Sumpah demi apapun saat ini Shasa sedang ingin mencincang Raihan. Pria itu malah tersenyum ketika ditanya akan pergi kemana. Sebenarnya Shasa sangat gugup ketika mobil yang dinaikinya ini berjalan menuju ke Markasnya, ia takut kalau identitas aslinya terbongkar.
Mobil Raihan berhenti tepat di depan sebuah pohon besar ditepi jalan raya yang lumayan sepi. Raihan keluar duluan lalu membukakan pintu untuk Shasa, diam-diam wanita itu tersenyum senang. Shasa merasa seperti seorang ratu yang dimanjakan oleh rajanya.
Entah dapat bisikan dari mana, tiba-tiba tangan Shasa melingkar dipinggang Raihan dengan sendirinya. Begitupula dengan Raihan yang merengkuh pinggang Shasa erat seolah tak ingin wanitanya hilang.
"Mau kemana sih?"
"Sssssst!" Shasa menggeliat geli ketika napas Raihan menggelitiki telinga dan tengkuknya.
"Woaah"
Sungguh pemandangan yang ada didepannya saat ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Cahaya rembulan yang terang menggantikan cahaya dari lampu disekitarnya, gemerlap bintang yang bertaburan di langit nampak seperti meses yang ditaburkan secara acak diatas donat.
Sedangkan dibawah sana terlihat gemerlap cahaya dari gedung-gedung pencakar langit dan kendaraan yang melintas seperti cacing.
Raihan menelan ludahnya kasar, ia sudah biasa tidur seranjang dengan Shasa tetapi malam ini terasa sangat panas untuknya. Raihan mengusap wajahnya pelan, tidak mungkin kan menelanjangi Shasa di atas ketinggian seperti ini.
"Sha..." Suara berat dan seksi itu mengejutkan Shasa dari lamunan indahnya.
"Iyah?"
"Kita.. pulang ya, jangan lama-lama disini"
"Kan baru sampai, masa pulang lagi" ucap Shasa cemberut, bibirnya mengerucut tanda dirinya sedang tak senang. Lagi-lagi Raihan menelan ludahnya kasar lalu menutup matanya sejenak.
"Please"
"Hmmm" Shasa memutar bola matanya jengah lalu terpaksa mengiyakan permintaan Raihan untuk kembali pulang.
Setengah jam kemudian Shasa dan Raihan sampai dirumah dengan selamat, jam pada handphone Shasa menunjukkan pukul sepuluh malam. Ternyata lama juga perjalanan dari puncak, atau mungkin dirinya yang terlalu menikmati kebersamaannya dengan pria disampingnya ini.
***
__ADS_1
"Hoaaam"
Setelah berganti baju tidur dan mencuci mukanya, Shasa naik keatas ranjang dengan mata yang terasa sangat berat. Bahkan Shasa tidak memperhatikan pria yang saat ini sedang duduk di sofa.
Raihan semenjak tadi memperhatikan apapun yang istrinya lakukan, dari masuk kamar mandi sampai naik keatas ranjang.
Shasa merasakan ada gerakan disamping tempat tidurnya, mungkin Raihan yang sedang berbaring. Walaupun tidur seranjang dengan Raihan, Shasa membatasi tengah-tengah ranjang dengan sebuah guling yang lumayan besar.
"Sha...Shasa"
"Hmmmm"
Raihan menatap mata Shasa yang telah tertutup sempurna, lalu turun ke bibir Shasa. Sudah berulangkali ia menahan diri untuk tidak melihat bibir itu, tetapi matanya tidak bisa ia kendalikan.
"Akhh" Shasa terpekik kaget saat tubuhnya ditindih oleh Raihan, tangannya ingin mendorong tubuh kekar Raihan tetapi rasanya seperti tidak ada tenaga untuk melawan.
"Kamu tahukan yang seharusnya kita lakukan dimalam pernikahan kita dulu"
Berat dan seksi, itulah yang sekarang sedang Shasa rasakan disetiap kalimat yang keluar dari bibir Raihan.
"Ya..ya a-aku tahu itu" entahlah hilang kemana keberanian Shasa, suaranya nampak takut dan gugup.
"Tapi a-aku mpppffssh"
Raihan membungkam bibir Shasa dengan bibirnya, sudah cukup tiga bulan dirinya menahan semua hasratnya untuk tidak menyentuh Shasa.
Ciuman diantara mereka semakin panas, Shasa membuka bibir bawahnya hal itu tidak disia-siakan oleh Raihan. Sedangkan tangannya sudah menggerayangi entah kemana saja.
"Emmhhh"
Lenguhan dari bibir basah Shasa lolos begitu saja saat tangan Raihan menyentuh hal-hal yang tidak pernah disentuh oleh siapapun.
"Rai...han, emmhh" Shasa menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara laknat yang bisa saja membangun orang lain dirumah ini.
"Yah, Sayang" Napas Raihan naik turun, bibirnya menelusuri leher putih milik Shasa yang sangat menggoda baginya.
"Rai...Aakh, aku, aku"
TOK TOK TOK!!
"Raihaaaan! ini kenapa televisinya tidak bisa menyala?" Gedoran pintu yang tidak juga berhenti membuat Raihan menggeram kesal.
__ADS_1
"Aaaaaarggh!"
Shasa menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, matanya menatap kasihan kepada Raihan yang tengah duduk di pinggiran ranjang.