Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Ruang Rawat Inap 208


__ADS_3

"Ck kukira kau sudah mati"


Evan berdecak sembari menutup pintu kemudian kembali duduk di sofa yang semalam ditempatinya tidur. Raut wajahnya terlihat lelah dengan kantung mata yang menghitam. Pekerjaannya yang bertumpuk-tumpuk semakin diperparah dengan aksi bunuh diri Raihan yang gagal.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Keheningan yang tercipta beberapa saat itu harus hancur ketika Raihan mengucapkan kalimat yang membuat Evan mengepalkan tangannya. Emosinya yang sudah berada diubun-ubun harus ditahannya. Mengingat kakaknya saat ini sedang tidak bisa diajak duel.


Evan memejamkan matanya kemudian menarik nafas dalam-dalam. Setelah yakin bisa mengontrol emosinya degan baik, Evan beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah brankar Raihan.


"Jika kau ingin segera lenyap dari dunia, tak usah repot-repot untuk membunuh dirimu sendiri. Kau hanya perlu memanggilku dan aku dengan senang hati akan membantumu untuk mati"


***


Tok tok tok


Shasa mengerjapkan matanya ketika mendengar ketukan dari arah pintu. Shasa menggeliat sebentar kemudian merenggangkan tubuhnya. Belum selesai rohnya terkumpul sempurna. Seorang perempuan memakai seragam serba putih masuk dengan senyum yang tampak sangat ramah. Shasa hanya sedikit menarik sudut bibirnya.


Disaat Shasa berniat untuk berdiri dan mempersilahkan suster mengecek keadaan Allin tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan.

__ADS_1


"Oh astaga!"


Suster yang terkejut melihat Shasa terjatuh langsung membantu wanita malang didepannya untuk berdiri.


"Maaf sus merepotkan"


Terdapat senyum yang dipaksakan ketika Shasa menerima uluran tangan dari suster. Shasa memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menjalar ketika kakinya dipaksakan untuk berdiri.


Sial.


Shasa kembali mendudukkan tubuhnya. Kakinya tidak bisa digunakan untuk berdiri lebih lama lagi. Tidurnya yang tidak nyenyak ditambah dengan kakinya yang kesemutan membuatnya meringis kesakitan.


Sudah lima menit suster tadi selesai memeriksa keadaan Allin namun kakinya masih saja kesemutan. Mungkinkah kesemutannya ini disebabkan oleh para arwah semut yang telah diinjaknya dan sekarang balas dendam. Shasa menggelengkan kepalanya pelan, otaknya saat ini masih berada dalam mode low.


"Mama"


Hampir saja Shasa meneteskan air matanya jika Allin tidak memanggil namanya. Ia menjadi sangat lemah jika sudah berurusan dengan putrinya.


"Selamat pagi sayangnya Mama"

__ADS_1


Shasa menyelipkan rambut Allin yang terurai kemudian mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Mama belum mandi ya?"


Pertanyaan macam apa ini, baru saja gadis kecil didepannya ini bangun dan tiba-tiba menanyakan hal yang seharusnya tidak ditanyakan.


"Loh kenapa?"


"Mama bau"


Astaga, anak siapa ini berani-beraninya mengataiku bau.


Allin yang melihat Shasa memelototinya hanya tertawa kecil. Begitupula Shasa yang ikut tersenyum melihat putrinya yang sedang sakit bisa tertawa tanpa beban. Rasa khawatirnya menjadi sedikit berkurang berkat ejekan yang Allin lontarkan padanya.


"Kalau gitu Mama mandi bentar ya. Allin balik bobo lagi, habis itu sarapan" ucap Shasa melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit.


Allin menganggukan kepalanya dan membiarkan Shasa masuk kedalam kamar mandi yang berada dipojok ruangan.


Jangan tanya mengapa ruang rawat bernomor 208 ini terdapat kamar mandi didalamnya. Mana mungkin Shasa membiarkan Allin berada di kamar inap yang biasanya satu kamar terdapat lebih dari dua orang. Putri semata wayangnya ini harus mendapatkan pelayanan yang baik agar lekas sembuh.

__ADS_1


Tepat saat Shasa keluar dari kamar mandi, seorang suster masuk mendorong troli makanan. Setelah meletakkan sarapan untuk Allin, suster itu pamit dan diiyakan oleh Shasa dengan anggukan kepala.


Shasa berjalan kearah brankar Allin dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Walaupun masih memakai pakaian yang dikenakannya semalam, kaos berwarna putih dan celana santai berwarna hitam. Karena semalam terlalu panik Shasa tidak berfikiran untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Shasa hanya menggunakan jaket untuk melindunginya dari dinginnya udara malam.


__ADS_2