
Terdengar pintu kembali dibuka, kali ini bukanlah seorang wanita tua. Melainkan seorang pria yang telah menemani hari-harinya sejak kecil.
"Sha?"
Suara yang benar-benar membuat hatinya luluh, namun itu dulu. Kini suara itu hanyalah suara atas kebohongan belaka.
Shasa tersenyum namun tidak memperlihatkan senyum kecewanya itu kepada sahabatnya. Sahabat sekaligus adik iparnya.
Sampai Evan duduk disampingnya, Shasa masih tidak kunjung mengucapkan sepatah kata.
Lihatlah betapa lucunya dirinya saat dibohongi Evan selama bertahun-tahun. Bahkan pria yang paling dipercayanya itu membantu mencari pembunuh, yang mana adalah kakak kandungnya sendiri.
"Maaf, Aku bisa jelas__,"
Plak!
Bukan, kali ini pipi Evan ditampar Shasa bukan karena leluconnya yang keterlaluan. Melainkan sebuah tamparan biasa yang mengartikan beribu rasa kecewa dan terkhianati.
Evan terdiam, tamparan dari Shasa memang sama seperti tamparan keras biasanya. Tapi entah kenapa tamparan dari wanita kesayangannya kali ini terasa sangat menyakitkan, bahkan hatinya ikut merasakan sakit yang luar biasa.
"Aku tahu Aku salah tapi__,"
"Keluar!"
Bukan itu bukan suara Shasa, melainkan suara dari pria yang saat ini berdiri tegak di tengah-tengah pintu.
"Apa yang kau lakukan di kamarku!"
Lagi-lagi suara pria yang telah membunuh kedua orangtuanya itu terdengar lantang kepada sang adik.
"Shasa adalah sahabatku, Aku berhak berbicara dengannya!"
"Sahabat? apakah Shasa menganggap mu sebagai sahabatnya?"
Shasa menutup matanya kuat, ia berdoa semoga adu mulut antara adik kakak itu tak berlanjut di kamar ini.
"Raihan! Diam! tidak puas kau merantai kaki Shasa?"
"Tapi Nek__,"
__ADS_1
"Keluaaaar!!"
Sungguh ini kali pertama Shasa mendengar Nenek marah dengan suara lantang yang memekakkan telinga.
Begitu dua orang pria itu keluar, kini tinggallah Nenek yang berdiri di depan pintu sembari mengucapkan.
"Maaf Nak, Nenek tidak bisa melepaskan rantai di kaki mu"
Kalimat itu adalah kalimat terakhir yang Shasa dengar sampai menjelang tengah malam tidak ada lagi orang yang mengusiknya.
Sungguh kali ini perut Shasa benar-benar kelaparan. Bayangkan dalam sehari ia hanya makan satu kali, itupun hanya roti dengan olesan selai cokelat.
"Sha?"
Shasa terdiam, ia tahu siapa orang yang masuk kedalam kamar.
"Maaf, Aku lupa kalau kamu nggak makan dari tadi pagi"
Raihan menaruh nampan yang dibawanya diatas nakas. Nampan itu berisi makanan untuk makan malam beserta segelas air putih.
"Lepaskan rantai di kakiku!" ucap Shasa pelan sembari memainkan sehelai rambut yang menjuntai ke wajahnya. Tatapan matanya tajam masih sama seperti sebelumnya.
"Tidak, jika Aku melepaskan rantai itu maka Aku akan kehilanganmu"
"Buka mulutmu sayang, bukankah kamu lapar?"
Tentu Shasa lapar, sangat kelaparan malahan. Tenggorokannya juga sangat haus, sebelumnya dikamar itu disediakan air diatas nakas tapi entah sejak kapan air itu menghilang.
"Ayolah sayang, bukannya seorang pemimpin Mafia juga membutuhkan makanan?"
"Diam!"
"Ayolah, kita sama-sama seorang pemimpin Mafia. Bukankah kita pasangan yang serasi?Tapi Sayang sekali Aku sudah tidak pernah membunuh orang lagi, Aku sudah bertaubat sayang"
Raihan mengehentikan kalimatnya kemudian kembali berbicara yang menurutnya bisa membuat Shasa membuka mulut.
"Kamu tau kenapa Aku bunuh orang tua kamu? karena mereka layak mendapatkannya__,"
Plak!
__ADS_1
"Kau menampar pipiku?" tanya Raihan tidak percaya sembari memegang pipi kanannya yang terkena tamparan Shasa.
"Karena pecundang seperti kau pantas mendapatkannya__"
Praak!
Piring berisi makan malam Shasa terbanting begitu saja dari tangan Raihan.
"Dasar Jal*ng!"
PLAK!
Shasa terdiam merasakan sudut bibirnya berdarah.
"Dan kau juga pantas mendapatkan tamparan itu, J-A-L-*-N-G"
"Dasar biadab! pria pecundang! brengs*k! Bejat!"
Shasa berteriak sekeras mungkin, ia sudah berdiri ingin menyerang Raihan. Tapi tidak bisa karena kakinya terikat dengan rantai. Sedangkan Raihan berjalan mundur menghindari amukan Shasa.
"Wow wow wow, sebegitu burukkah Aku dimata mu? kukira selama ini Aku baik"
Raihan menghentikan kalimatnya, sesaat kemudian bibirnya tersenyum manis.
"Bagaimana kalau Aku benar-benar melakukan seperti yang baru saja kau katakan?"
Langkah Shasa perlahan mundur disaat Raihan mulai melangkahkan kakinya maju kearahnya.
Raihan mengangkat bahunya seolah tidak ingin berbuat apa-apa. Namun naluri Shasa sebagai wanita mengatakan bahwa pria didepannya ini sedang bermain akting.
Kaki Shasa mentok sampai ranjang, sedangkan Raihan semakin maju.
"Apa yang kau lakukan brengs*k!"
"Membuktikan bahwa Aku benar-benar pria brengs*k"
Shasa sudah bersiap berancang-ancang untuk melawan Raihan. Namun sedetik kemudian kedua pergelangan tangannya dicekal Raihan hingga tubuhnya jatuh keatas ranjang.
"Lepas brengs*k!" Shasa berontak menendang-nendang Raihan dengan kakinya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu diam, dan rasakan betapa brengs*k nya Aku"
Raihan tersenyum mengejek melihat Shasa yang berantakan dibawah kungkungannya dengan air mata yang tak kunjung berhenti.