Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Senyum Terakhir


__ADS_3

Sinar matahari perlahan masuk kedalam rumah kosong melalui celah-celah atap yang berlubang. Suara kicauan burung saling sahut menyahut menciptakan alunan merdu membuat seorang perempuan yang terikat di kursi besi itu terbangun dari tidurnya.


Perempuan itu berulangkali mencoba mengedipkan matanya namun hal itu malah membuat kelopak matanya menjadi sakit. Mulutnya juga terasa seperti sedang dilakban, sedangkan seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.


Secara tidak sengaja jari-jarinya menyentuh simpul tali yang kuat tepat berada dipergelangan tangannya. Kini ia sadar dirinya sedang disekap oleh pria besar semalam.


Samar-samar terdengar pembicaraan orang lain tak jauh dari tempatnya disekap. Seperti suara seorang wanita yang sedang membentak kesal pada rekannya. Wanita itu mungkin salah satu komplotan pria besar yang menyekapnya.


Shasa berusaha menggapai tali yang mengikat pergelangan tangannya namun hal itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Kedua tangannya yang ditekuk kebelakang sandaran kursi membuatnya sangat kesulitan.


Disaat suara langakah kaki mulai terdengar mendekat ke arahnya, Shasa mulai gugup. Ia menggoyangkan kursi yang melekat pada badannya, berharap bisa melonggarkan tali yang mengikat pada kakinya.


Tak tak tak


Suara high heels itu terdengar semakin dekat, hingga sesaat suaranya terhenti. Tak lama setelah suara pintu terbuka, ketukan high heels itu kembali terdengar.


"Selamat pagi cantik"


Wanita yang memakai high heels itu menundukkan kepalanya, mengamati wajah perempuan yang sedang disekapnya.


Setelah puas melihat sebagian wajah Shasa, wanita yang memakai pakaian minim semalam itu kembali menegakkan kepalanya. Lalu memutari kursi besi dengan sesekali mempermainkan rambut panjang milik Shasa.

__ADS_1


"Siapa sangka Mafia Queen juga bisa disekap oleh orang biasa sepertiku"


Wanita itu terkekeh pelan lalu menyentuh dagu Shasa menggunakan telunjuk tangannya yang lentik. Kukunya yang panjang melukai kulit wajah Shasa.


"Perempuan yang selama ini memiliki julukan Mafia Queen ternyata hanya perempuan lemah dan bodoh"


Mendengar dirinya direndahkan langsung oleh wanita asing di sampingnya, Shasa hanya bisa diam. Terlalu banyak bergerak akan membuat posisinya semakin tidak aman.


Shasa merasa suara wanita itu sangat familiar di telinganya. Nada suara yang sombong dan angkuh membuatnya mengenali salah satu wanita yang pernah ditemuinya dulu, Donna.


Saat tangan lentik itu hampir mengenai dagu Shasa untuk kedua kalinya, Shasa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


PLAKK!!


"Dasar jal*ng murahan!"


Selesai menyalurkan kekesalannya dengan tamparan keras dan makian kepada Shasa, wanita itu keluar begitu saja dari rumah kumuh itu.


Selang beberapa menit kemudian setelah kepergian wanita itu. Suara langkah kaki besar terdengar mendekat kedalam rumah kosong itu. Bukan hanya satu orang yang mendekat, melainkan beberapa orang dengan salah satunya membawa cambuk.


***

__ADS_1


Mata sayu itu perlahan terbuka, nafasnya berantakan dengan peluh membasahi dahinya. Perutnya kelaparan dan rasa sakit luar biasa yang menjulur keseluruh bagian tubuhnya. Angin malam yang dingin membuat keadaannya semakin memburuk.


Ujung jari-jarinya mulai membiru hampir tidak bisa digerakkan lagi. Luka-luka yang diperoleh dari Raihan sebelumnya belum sepenuhnya pulih, namun pria-pria bajing*n itu membuat lukanya semakin parah bahkan bertambah banyak.


Mereka semua pengecut karena tidak membiarkannya melihat wajah bajing*n mereka. Dalam keadaan mata tertutup, mulut yang dilakban dan tubuh yang disekap pada kursi besi. Para bajing*n itu menyiksanya, memukuli tubuhnya dan tidak segan-segan meludahi wajahnya.


Malam semakin larut telinganya samar-samar mendengar suara seorang pria yang sangat ia kenal. Pria yang membunuh kedua orangtuanya, Shasa berpikir mungkin itu hanya halusinasinya. Tubuh letihnya benar-benar membuatnya memikirkan segala hal.


Hingga terdengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat. Pintu rumah itu terbuka, beberapa orang masuk kedalam.


Shasa sadar bahwa suara-suara kali ini bukan semata halusinasinya.


Saat ikatan berwarna hitam itu terlepas dari kepalanya. Seorang pria berdiri ditengah-tengah pintu menodongkan pistol tepat ke arahnya. Shasa menajamkan matanya, wajah pria itu tidak terlihat jelas. Pencahayaan yang minim membuatnya kesulitan melihat pria itu.


Pria itu berjalan mendekat kearahnya, lampu remang-remang yang berada tepat di atas pria itu membuat seluruh wajahnya terlihat dengan jelas.


DOARR!


Pelatuk dilepaskan, suara khas tembakan terdengar sangat keras ditempat kotor dan kumuh itu.


Pada detik yang sama saat pelatuk dilepaskan, darah segar mengucur membasahi kaos warna putih yang Shasa kenakan. Peluru itu kini bersarang diperutnya.

__ADS_1


Sebelum matanya benar-benar terpejam, Shasa menyunggingkan senyumnya kepada pria itu. Pria itu juga membalas dengan senyuman manis yang Shasa lihat setiap hari. Pria itu, pria yang tak lain adalah Raihan. Pria yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya.


__ADS_2