
Senyum dan kebahagiaan Evan perlahan menghilang ketika mobilnya memasuki pelataran rumah mewah tempatnya bernaung. Bagi sebagian orang, pulang ke rumah setelah bekerja seharian adalah surga dunia, sayangnya itu tak berlaku untuknya.
Seharusnya tempat inilah yang menjadi tempat terakhir rasa lelahnya berlabuh. Namun baginya rumah adalah tempat paling menyiksa dalam hidupnya dan hal itu bermula ketika ia menikahi perempuan yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan seperti biasanya. Sangat-sangat menjengkelkan.
Belum juga ia keluar dari mobil, Misha terlihat sudah komat-kamit sembari berkacak pinggang. Tatapannya menelisik seolah sedang mencurigainya. Lihat saja, sebentar lagi wanita itu akan mengoceh panjang lebar tanpa memikirkannya yang seharian lelah bekerja.
"Sayang! kamu darimana aja sih? aku kelaparan tau nungguin kamu. Kamu malah enggak pulang-pulang!"
Benar bukan tebakannya, Evan sudah sangat hafal kelakuan Misha yang kurang ajar.
Evan menutup pintu mobilnya dengan keras, suaranya tak main-main. Ia berharap Misha segera menutup mulutnya dan menyingkir dari pandangannya. Namun wanita itu tidak pernah mengerti, malah semakin mengeraskan suara ocehannya dan rasa protesnya yang tak berguna.
Sebelum meninggalkan mobilnya terparkir didepan rumah, dilihatnya sekilas pintu mobilnya yang ia korbankan barusan. Sayang sekali, padahal ia baru membelinya dua bulan yang lalu. Andai saja mobil itu berkualitas buruk, mungkin sekarang sudah hancur berkeping-keping.
Evan mencoba menguatkan hatinya, mencoba untuk tetap sabar dan tidak melakukan hal gila yang mengakibatkan Misha terluka.
Daripada meladeni ocehan Misha yang menyudutkannya, Evan melanjutkan langkahnya ke dapur. Setelah menaruh kantung kresek berisi makanan yang dibelinya tadi, ia tidak langsung menyantapnya.
Raganya sudah cukup lelah dengan pekerjaannya dan ia tak ingin ditambahi dengan mendengarkan ocehan Misha. Ia harus sesegera mungkin mendinginkan kepalanya yang hampir meletus atau bahkan sudah meletus.
"Evan! dengarkan aku bicara, Evaaaaan!"
BRAKK!
"Gila saja jika aku mendengarkanmu"
Evan mengunci kamarnya dari dalam, Misha tak akan bisa membukanya. Wanita itu terlalu bodoh dengan menyimpan kunci cadangan palsu. Karena kunci pintu yang asli hanya dipegang oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
Evan segara membersihkan dirinya, keringat yang telah lengket ditubuhnya serta ocehan misha membuatnya ingin segera pergi dari sini secepatnya.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Evan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Donna pasti sudah menunggunya untuk bergantian menjaga Raihan. Mengingat tentang Raihan membuat darahnya memanas, pria itu selalu saja merepotkannya.
Baru saja ia membuka pintu kamarnya, entah datang dari mana, tiba-tiba Misha memeluknya dari belakang. Menjijikkan sekali wanita ini, pikirnya. Hanya kurang dari sedetik Misha bisa mengubah ekspresi wajahnya dari marah menjadi hangat dan manja.
"Hmmm, harum sekali sayangku"
Bulu kuduk Evan sampai merinding mendengar kalimat yang diucapkan Misha. Evan buru-buru menepisnya, berjalan cepat meninggalkan Misha yang merengek memintanya untuk berhenti.
"Mau kemanaa ihh sayang? sini aja sama aku" pinta Misha sembari menarik-narik lengan Evan yang berjalan cepat, seolah sedang dikejar zombie.
"Minggir! Misha lepas!"
"Sayangg"
Evan sudah berniat untuk membentaknya namun Misha malah terduduk memegang kedua kakinya. Wanita itu merengek sembari menangis, memohon agar Evan menemaninya makan malam.
Evan yang tidak ingin melihat lebih lanjut akting Misha yang buruk, mengiyakan begitu saja. Lagipula ia juga harus mengisi perutnya agar memiliki tenaga dan siap menghadapi kebosanan yang luar biasa nanti.
Berhadapan dengan si kulkas Raihan lebih baik daripada menghadapi Misha yang terlalu banyak drama.
Sebenarnya dalam lubuk hatinya ia juga tidak ingin melewatkan makanan yang sudah dibelinya susah payah sepulang kerja dengan keadaan lelah. Setidaknya ia harus memakanya agar tidak terlabeli dengan 'membelikan makan misha' ia sama sekali tidak sudi.
Benar saja, setelah Evan mengiyakannya, raut wajah Misha berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi Misha yang seperti biasanya. Menjengkelkan sekali. Wanita itu berjalan mendahuluinya setelah meliriknya sekilas dengan tatapan menghina seolah berkata "Kau kalah Evan"
Setelah makan malam selesai misha tidak juga membiarkannya pergi. Padahal sudah setengah jam Evan membiarkan Donna menunggu di rumah sakit, Donna saat ini pasti sedang menggerutu karena dirinya tak kunjung datang.
__ADS_1
"Hentikan ocehanmu Misha! kau tak ingin jadi gelandangan bukan?"
Pada detik itu juga Misha terdiam, wanita itu sangat takut jika diancam dengan kata-kata Miskin, gelandangan dan kata lainnya yang berhubungan dengan hal berbau harta.
***
Evan mematung tepat didepan ruangan rawat inap nomor 208, 209, dan 210. Sial, mengapa tiba-tiba ia menjadi hilang ingatan. Dimana tiga diantara ruangan ini yang merupakan ruangan milik raihan. Rasanya terlalu malas jika harus kembali ke lantai dasar dan menanyakan dimana ruangan Raihan dirawat.
Dirinya juga sudah menelpon Donna berulang kali namun tidak terhubung. Ah sial sekali, mengapa Donna tidak bisa dihubungi sama sekali. Kemana perginya wanita itu. Evan meraup wajahnya kasar, semua ini tak akan terjadi jika Misha merengek dan bersikeras untuk ikut dengannya. Wanita sialan! umpatnya.
Tak apa ia tidak akan menyerah semudah itu, kali ini dirinya harus mencoba keberuntungannya. Evan melangkahkan kakinya asal tanpa memikirkan resikonya jika salah masuk ruangan.
Langkah kakinya berhenti tepat didepan ruangan bernomor 208 kemudian menatapnya sebentar. Tangan kanannya sudah memegang handle pintu, dilihatnya sekali lagi nomor 208 tepat didepannya.
Ah tidak apa-apa jika ini bukan ruangan Raihan, ia hanya tinggal mengucapkan permintaan maaf dan kembali menutup pintunya, pikir Evan sembari memutar handle pintu.
Disaat pintu ruangan 208 itu terbuka sepenuhnya, mata Evan langsung tertuju kepada anak kecil yang tengah duduk diatas brankar. Gadis kecil itu terlihat terkejut ketika dirinya membuka pintu dan muncul hanya setengah badan.
Evan tersenyum memamerkan rentetan giginya yang putih. Astaga mengagetkan sekali, ternyata salah ruangan, gumam Evan pelan.
Hampir saja ucapan maaf terlontar dari mulutnya, namun otaknya secara cepat mengingatkannya dengan gadis kecil direstoran kemarin malam. Evan mengurungkan niatnya, pintu yang semula hanya dibuka setengah ia buka sepenuhnya dan masuk satu langkah ke dalam.
Entah mengapa ia malah menjadi penasaran dengan sosok gadis kecil yang terlihat tidak asing dalam benaknya. Dengan kepercayaan diri yang tinggi Evan menutup pintunya kemudian tersenyum seramah mungkin kepada gadis kecil didepannya.
Bertemu dengan gadis kecil ini termasuk keberuntungan yang mungkin tidak akan ia dapatkan di lain hari. Meskipun waktunya tidak pas karena gadis kecil ini sedang sakit.
Evan menyapa gadis didepannya dengan melambaikan tangannya. Sungguh ia penasaran setengah mati dengan bocah yang wajahnya mirip sekali dengan wajah saudaranya. Apakah ini anak Raihan sungguhan? jika tidak mengapa wajah anak ini sangat mirip.
__ADS_1
Oh astaga, daripada pertanyaannya semakin membuat kepalanya menjadi pusing, mengapa ia tidak langsung menananyakannya kepada gadis kecil didepannya ini. Awas saja Raihan jika bocah ini anakmu sungguhan, ucap Evan dalam hatinya.