Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Tersenyum Getir


__ADS_3

Seorang pria yang tengah sibuk dengan tumpukan berkas dihadapannya menoleh kearah pintu ketika seorang wanita berpakaian mewah masuk kedalam ruangan kerjanya.


Wanita itu menenteng beberapa paperbag ditangan kirinya, sedangkan kanan tangannya mengapit sebuah tas mungil berwarna hitam seharga puluhan juta.


Pria yang tengah fokus dengan pekerjaannya itu menghembuskan nafasnya jengkel saat wanita yang berstatus sebagai istrinya mulai memasang wajah sok cantik lalu duduk dikursi yang berada tepat dihadapannya.


"Sayang kau tahu__,"


"Jangan panggil Aku 'sayang'!"


Pria itu menutup berkas yang dibacanya lalu meletakkan bolpoin ditangannya. Jangan sampai pekerjaannya menjadi berantakan karena wanita mengesalkan didepannya saat ini.


Cukup dengan kehidupannya saja yang berantakan, perusahaan yang sudah dititipkan kepadanya ini jangan sampai ikut berantakan hanya karena masalah pribadi.


"Evan kau tahu, tadi Aku bertemu dengan wanita rendahan yang menabrakku sampai terjatuh"


Wanita itu menjatuhkan paperbag kelantai begitu saja, lalu melipat kedua tangannya diatas dada. Jangan lupakan raut wajahnya yang diubah menjadi seimut mungkin.


"Lalu?"


Evan merasa mual setiap kali wanita yang sudah dua tahun bersamanya itu mencoba merayunya dengan wajah penuh kemunafikan.


"Wanita rendahan itu sama sekali tidak menolongku, Aku bahkan ditampar"


"Misha! berulangkali sudah kukatakan, jangan mengada-ada!"


Wanita bernama Misha itu terdiam lalu memalingkan wajahnya kerarah lain. Raut wajahnya kembali berubah menjadi datar, namun terdapat kekecewaan yang mendalam.


"Kau membela wanita yang sudah menabrakku sampai terjatuh?"


"Semua hal yang kau ucapkan tidak lebih dari bualan semata! kau tidak punya rasa malu setiap hari datang ke kantorku dengan cerita-cerita palsumu itu?"

__ADS_1


Evan memijat pelipisnya yang terasa sakit, kepalanya yang pusing semakin pusing karena mendengar bualan dari Misha. Wanita itu tidak henti-hentinya menceritakan hal-hal tidak penting kepadanya, apalagi semua yang diceritakan tidak lebih dari kebohongan.


Perusahaan raksasa milik mendiang sahabatnya kini ia pegang. Selama enam tahun terakhir semuanya berjalan dengan lancar, namun semenjak satu tahun yang lalu perusahaan raksasa milik Shasa mengalami penurunan.


Belum lagi perusahan orang tuanya yang Raihan kelola tiap hari makin memburuk. Saudaranya itu perlahan berubah seperti sedia kala, mabuk-mabukan dan perlahan mulai melepas tanggung jawab yang sudah Ayahnya percayakan.


Sudah beberapa kali dirinya menyeret Raihan pulang dari kelab malam demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Bisa saja saudaranya itu menghamili wanita jala*g disana dan mengira bahwa wanita jala*g itu Shasa.


Meskipun rasa benci kepada Raihan semakin membesar setelah saudaranya itu membunuh wanita yang dicintainya. Pria itu tetap menjadi saudara kandungnya, anak pertama dari Ayahnya. Ia harus menjaga perusahan keluarga dari berita buruk yang akan datang karena ulah Raihan.


Jujur tidak akan persahabatan antara wanita dan pria tanpa ada perasaan salah satu diantara mereka. Dan Evan lah yang jatuh hati kepada Shasa semenjak wanita itu mengobati luka-lukanya sewaktu kecil.


Perasaannya hancur berkeping-keping ketika Shasa menikah dengan pecund*ng yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Usahanya menjauhkan Shasa dari Raihan sia-sia karena Neneknya yang selalu membicarakan tentang takdir dua orang itu.


Takdir yang sebenarnya sebuah malapetaka, wanita yang sampai sekarang masih dicintainya itu tewas karena suaminya sendiri.


Evan kembali mengalihkan pandangannya kearah Misha. Wanita yang terlihat anggun dan menawan itu hanya memakai sebuah topeng, wanita yang aslinya penuh dengan kebohongan.


Apalagi wanita itu sering menghamburkan uangnya hanya untuk berfoya-foya. Uang yang seharusnya disumbangkan ke yayasan panti asuhan dan orang-orang yang tidak mampu.


Berulangkali ia memperingatkan Misha untuk tidak menggunakan uang yang bukan miliknya. Wanita itu malah membelanjakan semua uangnya untuk hal-hal tidak berguna seperti pakaian yang harganya tidak murah.


***


Tepat pukul sebelas siang mobil Shasa sampai didepan sekolah Allin. Shasa keluar dari mobilnya lalu menghampiri ibu-ibu yang juga sedang menunggu anaknya pulang sekolah.


Beberapa menit kemudian saat bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak berlarian keluar dari kelas masing-masing, wajah mereka sangat bahagia karena kelas hari ini telah berakhir.


Kecuali seorang gadis kecil yang tengah berjalan lambat menuju Mamanya yang duduk diantara ibu-ibu lainnya. Wajah gadis itu terlihat murung dengan bibir mengerucut.


"Mama!"

__ADS_1


Shasa menoleh kearah Allin yang memanggilnya, Shasa pamit pulang kepada ibu-ibu yang duduk bersamanya kemudian menghampiri Allin.


"Bagaimana hari pertamamu disekolah sayang?" tanya Shasa menggandeng tangan putrinya menuju mobil yang terparkir di luar sekolah.


Shasa menghentikan langkahnya ketika Allin tidak juga menjawab pertanyaannya. Saat menunduk Shasa baru melihat wajah putrinya ternyata sedang cemberut.


Setelah masuk kedalam mobil dan memakai sealtbelt, Allin mulai menatapnya sendu. Bocah itu memainkan jari-jari kecilnya.


"Mah"


Allin memanggil Mamanya dengan nada yang rendah, Shasa menoleh sebentar lalu mulai melajukan mobilnya pulang ke rumah.


"Temen-temennya Allin semuanya punya Papa Mah, tadi mereka cerita kalau mereka setiap Minggu diajak jalan-jalan sama Papanya" Bocah itu menjeda kalimatnya, lalu menatap lekat wajah Mamanya yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa Papa Allin gak dateng-dateng buat nemuin Allin ya Mah?"


Shasa tersenyum getir, bagaimana bisa teman-teman baru anaknya membahas hal yang sudah lama tidak ingin ia bahas. Pembahasan yang mungkin sudah tidak dibahas semenjak Allin berumur empat tahun.


Shasa menepikan mobilnya dipinggir jalan lalu mengusap kepala Allin penuh dengan kasih sayang. Shasa sedikit merasa bersalah karena menjauhkan anaknya dari Papanya, tapi kembali lagi pada alasan utama. Semua ini dilakukannya juga demi kebaikan Allin sendiri dan pria itu juga tidak pantas bertemu dengan putrinya.


Barangkali pria pecunda*g itu menikah lagi dan mempunyai anak. Jika hal itu benar-benar terjadi mungkin Allin akan tahu jika kehadirannya memang tidak diinginkan oleh Papanya.


"Nanti Papa juga datang nemenin Allin main, tapi seperti yang udah Mama bilang dulu, papa Allin gak suka sama Mama_,"


"Allin aja sampai gak tau muka Papa kaya gimana"


Shasa sedikit terkejut karena Allin tiba-tiba berani memotong kalimatnya. Bocah yang selalu diam ketika ia sedang menjelaskan sesuatu kini berani memotong kalimatnya hanya karena pria pecund*ng dari masa lalunya.


Saat Shasa ingin memegang tangan Aliin, bocah itu tiba-tiba membuang mukanya kearah luar jendela mobil.


Shasa menghembuskan nafasnya lelah, ia kembali melajukan mobilnya pelan. Membiarkan putri semata wayangnya memikirkan hal yang tidak pernah ia inginkan, yaitu bertemu dengan Papa kandungnya.

__ADS_1


Sementara itu, Allin sebenarnya tidak ingin membuat Mamanya menjadi murung, ada sedikit rasa bersalah pada hatinya. Namun keingintahuannya tentang keberadaan Papanya membuatnya nekat untuk sedikit memaksa Mamanya menjawab pertanyaannya.


__ADS_2