
"Shasa ke depan dulu ya nek!" ucap Shasa meminta izin kepada nenek setelah mereka berdua selesai menonton televisi di ruang keluarga.
"Jangan terlalu lama, udara malam tidak baik untuk kesehatanmu!" jawab nenek penuh kasih sayang, Shasa hanya menganggukkan kepalanya lalu beranjak keluar rumah sedangkan nenek sudah bersiap ke kamar untuk tidur.
Selama ini tidak ada orang yang menasehatinya seperti itu, palingan juga hanya Evan yang selalu mengomel tetapi dalam rangka mengkhawatirkannya.
Ah sekarang aku malah merindukan Evan, sekarang pria itu sedang apa ya?
Shasa mendudukkan pantatnya di sebuah kursi kayu yang berada di bawah pohon depan rumah Raihan. Cahaya remang yang diakibatkan oleh dedaunan tebal membuat suasana semakin terasa mencekam tetapi Shasa malah merasa lebih nyaman dan damai.
Shasa menutup matanya lalu menghembuskan napasnya panjang, sudah tiga jam yang lalu Raihan pergi ke masjid dan sampai sekarang belum juga pulang.
Aneh rasanya jika dirinya saat ini berpikir bahwa Raihan sedang berselingkuh bersama wanita lain lalu berbohong kepadanya.
"Akh dasar otak bodoh!" Shasa menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran buruk tentang Raihan, mana mungkin seorang yang alim seperti Raihan bisa selingkuh?
Hap!
Shasa sontak membuka kedua matanya lalu terdiam ketika dua telapak tangan besar menangkup kepalanya, reaksi alami dirinya ketika dalam bahaya langsung muncul seketika.
"Aakh"
Shasa memelintir tangan besar yang tadi sempat menangkup kepalanya, disaat apapun dan dimana pun dirinya harus waspada karena musuh tidak bisa di tebak ada dimana dan juga siapa saja.
"Astaga!"
Shasa mundur kebelakang ketika mengetahui pemilik tangan yang ia pelintir, bukannya takut melainkan khawatir jika lengan Raihan copot karena ulahnya.
"Kamu ngapain sendirian di teras? nungguin Aku ya?" tanya Raihan polos sembari menaik-nurunkan alisnya, wajahnya tidak terlihat kesakitan padahal tadi sempat mengaduh.
Menurut pengalaman Shasa, siapapun orang yang telah terkena pelintiran darinya pasti orang itu akan menjerit kesakitan.
"Sudah ayo masuk"
Raihan menggandeng tangan Shasa untuk ia ajak masuk kedalam rumah, ia khawatir Shasa akan sakit jika menghirup udara malam yang dingin.
Ceklek
Pintu utama sudah Raihan kunci agar tidak ada orang yang tidak diharapkan masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Shasa hanya diam mengamati Raihan yang sibuk mengunci pintu. Tiba-tiba sebuah pertanyaan aneh melintas di kepalanya.
"Raihan Lo mau makan malam nggak?"
Shasa merutuki ucapannya barusan, sejak kapan dirinya mengambil peran sebagai istri yang baik saat suaminya baru pulang. Raihan tersenyum kecil mendengar perhatian yang Shasa berikan untuknya.
Sebenarnya Shasa itu baik hati hanya saja terlalu mementingkan ego dan gengsinya didepan orang lain termasuk kepada suaminya sendiri.
"Tidak usah, lebih baik kita beristirahat saja" jawab Raihan kemudian berjalan kearah kamar meninggalkan Shasa sendirian yang tengah berekspresi aneh.
"Harga diriku turun lagi" gumam Shasa pelan, ayolah apakah ada seorang mafia Queen seperti dirinya melunak didepan orang lain.
Shasa celingkungan ketika masuk kedalam kamar Raihan yang berarti juga kamarnya, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Lalu kemana perginya Raihan?
"Huuuuuuft"
Shasa menghembuskan napas kasarnya kembali, Raihan pasti sedang mandi!. Ah entahlah akhir-akhir ini dirinya merasa lelah, entah lelah hati ataupun lelah pikiran.
Ceklek
Seorang pria keluar dari kamar mandi, rambutnya agak basah sehingga menitikkan bulir-bulir air dari rambutnya yang saat ini sedang diacak menggunakan kedua tangannya.
Tubuh kekarnya terbalut kaos putih tipis yang sangat pas melekat pada kulitnya, celana pendek rumahan yang hanya sampai menutupi paha menyisakan bagian betis yang masih terlihat basah juga.
"Sha!"
Shasa tersentak mendengar namanya dipanggil Raihan, jantungnya terasa berdetak dua kali lebih kencang tidak seperti sebelum ia masuk kamar.
Kakinya masih betah berdiri diambang pintu sedangkan Raihan sudah duduk dipinggiran ranjang, tiba-tiba sekelebat pemikiran mesum muncul pada otak lelahnya.
Tidur seranjang bersama Raihan, pria yang sudah sah menjadi suamimu, pria yang saat ini sedang duduk dipinggiran ranjang sembari merapikan selimut.
"Harus seranjang yah?" gumam Shasa sangat pelan, ia menggigit bibir bawahnya karena merasa aduh entahlah. Jemarinya juga sudah berkeringat dingin karena memikirkan hal yang jarang terpikir olehnya.
"Kamu mau tidur disitu sambil berdiri?" tanya Raihan disertai kekehan nya yang membuat jantung Shasa serasa tergelitik. Shasa masih diam tak bergerak sedikitpun dari posisinya, otak dan tubuhnya saat ini sedang tidak sinkron.
"Sini?"
Raihan menepuk-nepuk bagian ranjang yang kosong disebelahnya. Karena tidak mendapat satupun respon dari Shasa, Raihan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya duluan diatas kasur empuk yang hangat.
Melihat Raihan yang sudah terpejam akhirnya Shasa bisa bernapas lega, ia melangkah pelan ke bagian ranjang yang tadinya di tepuk oleh Raihan untuknya.
Shasa kemudian ikut merebahkan dirinya disamping Raihan. Tetapi sebelum ia ikut berbaring ia menutup pintu kamar terlebih dahulu, takut jika Nenek kembali masuk tanpa ijin.
__ADS_1
SHASA POV
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, entahlah rasanya aneh ketika kebiasaan sehari-hari ku dulu kini berganti.
Aku sudah berusaha untuk membiasakan diri dengan kebiasaan baru yang sebelumnya tak pernah terlintas sama sekali dalam otak ku. Pernikahan dadakan ini menyebabkan seluruh alur hidupku bergeser dari alur yang sudah kutata rapi sebelumnya.
Huh! bagaimana bisa saat itu aku menerima pernikahan ini hanya karena melihat Nenek yang tengah sekarat, tapi sekarang malah sehat dan baik-baik saja.
Aku merasa seperti dipermainkan oleh Raihan dan juga Nenek, satu hal lagi yang membuatku merasa dipermainkan.
Mengapa kedua mertuaku tidak pernah menjenguk Raihan atapun Nenek? setidaknya mereka akan menemui diriku untuk mengetahui seperti apa menantunya ini.
Apakah Raihan juga tidak memiliki orang tua seperti ku?
Semakin lama kupikirkan semakin menambah beban pikiranku, belum lagi ditambah masalah ku sendiri. Masalah perusaahan dan juga masalah Geng Mafia yang aku jalankan beberapa tahun ini, walaupun Evan juga ikut andil membantu tetapi semua masih terasa berat untuk ku pikul sendiri.
Lihatlah pria manis disampingku kini, bulu mata hitam yang lentik, hidung mancung, bibir merah merekah dan rahang kerasnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
Sungguh ciptaan tuhan yang sangat sempurna untuk manusia biasa sepertinya, yah walaupun di dunia ini tidak ada yang sepenuhnya sempurna. Tapi Aku tetap menganggap pria disamping ku adalah pria yang sempurna dimataku.
Anehnya Aku tidak pernah sadar jika Raihan, pria sempurna dimataku ini sudah sah menjadi suamiku yang artinya semua hal yang kulihat saat ini berarti juga milikku.
Waktu terus berputar tanpa menghiraukanku yang sudah hampir lima jam tanpa menutup mata sekejap pun. Aku lelah tapi tubuhku tidak bisa kuajak berkompromi mataku tetap terjaga padahal aku sudah bersikeras untuk tidur nyenyak seperti pria disampingku ini.
Baiklah aku memutuskan untuk bangun dan mengambil sesuatu dikoperku yang tergeletak disamping lemari.
Benda kecil berbentuk persegi dan sebuah korek api ku rogoh dari dalam koper yang ku selipkan di tumpukan pakaian dalamku yang belum kumasukan kedalam lemari.
Sudah lama benda berbentuk silinder panjang ini tak kusentuh, kini giliran korek api yang berfungsi untuk membakar ujung silinder panjang yang ku apit diantara jari telunjuk dan jari tengah.
Ctak!
Setelah berhasil terbakar, kumasukan kembali benda kecil berbentuk persegi dan temannya yaitu korek api kedalam koper bagian tumpukan pakaian dalam.
Sesaat kulihat lagi Raihan, tidurnya nyenyak sangat nyenyak malahan. Walaupun guratan lelah diwajahnya terlihat sangat kentara tetapi masih begitu terlihat tampan, ya Raihan ku akui dirinya mempang tampan.
Ck sejak kapan Aku mulai memperhatikan kadar ketampanan para pria.
Kaki ku melangkah ke arah sepasang pintu transparan yang terletak di sebelah kanan ranjang. Kubuka perlahan pintu itu lalu melangkah keluar, baru satu langkah kaki ku keluar namun sudah disambut oleh dinginnya angin malam.
Setelah diriku benar-benar berada di luar, ku tutup kembali pintu transparan tadi, sekelebat aku melihat jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul 01:07 dini hari.
Ku sedot dalam-dalam rokok yang menemaniku malam ini, tak berselang lama kepulan asap keluar dari mulut dan juga hidungku.
Malam ini bintang dan bulan bersinar sangat terang diatas sana, suara hembusan angin malam yang dingin seolah melengkapi malam yang menjelang pagi.
Sudah berulang kali kepulan asap keluar dari hidung dan mulutku, rokok yang ku apit di kedua jariku pun juga ikut pendek. Tetapi mata ini, mata yang tiap harinya melihat darah orang yang kubunuh tetap tidak bisa terpejam.
Aku lelah berpura-pura menjadi gadis kuat didepan orang lain selama bertahun-tahun, ah kapan semua ini akan berakhir?
Tubuhku merosot di atas lantai, Aku butuh seseorang untukku jadikan sebagai sandaran saat ini. Tapi yang ada saat ini hanya pagar kayu yang melingkari teras kamarku, lucu juga menganggap kamar ini sebagai kamarku.
Aku terkekeh pelan karena mengaggap rumah ini juga rumahku. Untung rumah ini sudah dipagari tembok yang memutari rumah ini, sehingga tidak akanada orang yang melihat Aku sedang terkekeh sendirian tanpa ada orang yang menemani.
Halaman samping rumah ini lumayan luas, hanya saja sudah digunakan untuk berbagai keperluan jadi terlihat sempit. Sepertiga halaman ini juga sudah ditanami berbagai macam jenis bunga dan sayur hidroponik.
Ah sepertinya Aku mulai mengantuk, Aku berdiri lalu membuka pintu transparan sebelumnya kulempar putung rokok sembarangan kearah luar, tidak akan ada orang yang mengetahuinya!
Tentu saja Aku mengantuk ternyata sudah jam 02:30 dini hari, Aku menggosok gigi terlebih dahulu sebelum ikut terlelap disamping Raihan.
NORMAL POV
Matahari mulai memancarkan cahaya hangatnya. Tetapi sepasang suami dan istri itu masih terlelap dalam pelukan hangat yang entah sejak kapan mereka saling memeluk dalam tidur.
Jam dinding menunjukan pukul 05:15 pagi, bahkan suara merdu adzan subuh sudah berkumandang sejak dua jam yang lalu. Tetapi pria yang biasanya selalu terbangun saat adzan subuh kini malah masih mendekap hangat wanitanya.
"Eemmmmhh" Raihan mengerjapkan matanya berulang kali untuk membuka paksa kedua matanya yang masih terasa mengantuk.
"Apa ini?"
Bahkan Raihan masih tidak sadar jika saat ini dirinya tengah mendekap Shasa yang masih terlelap.
Seulas senyum manis muncul pada bibir Raihan, ia merasa wanita yang didekapnya terlihat sangat cantik saat masih menutup mata. Pipi tirus, bulu mata lentik, dan jangan lupakan bibir merah alaminya yang terlihat sangat menantang.
Mmmuaach!!
Raihan mengecup kening Shasa lumayan lama sebelum dirinya bangun dan bersiap mandi untuk sholat subuh. Meskipun ia sedikit terlambat bangun, Raihan masih menunaikan kewajibannya menjadi seorang umat muslim.
"Ya Allah, terimakasih atas segala yang engkau berikan pada hambamu ini. Terimakasih sudah mengirim seorang wanita yang sangat kucintai, wanita yang dulu hanya seorang gadis kecil imut ini. Gadis yang bahkan tidak mengigat hamba sama sekali tapi engkau malah mempertemukan kami kembali dalam sebuah ikatan suci yang sakral"
Raihan menutup doanya dengan serangkaian ayat suci yang ia baca setiap selesai mencurahkan isi hatinya kepada Sang Maha Kuasa.
__ADS_1
Raihan melepas peci yang ia pakai lalu melipat sajadah dan menaruhnya di gantungan baju seperti biasanya, ia kemudian membuka lemari lalu mengambil pakaian kerja dan memakainya di dalam kamar mandi.
Saat ia sudah lengkap dengan pakaiannya Raihan keluar dari kamar mandi dan menatap sayang pada Shasa yang masih terlelap diatas ranjang.
"Shaaa, Shasa"
Raihan menggoyangkan bahu Shasa agar segera bangun, ada rasa tak tega melihat wajah Shasa yang penuh dengan gurat kelelahan.
"Shaaa! kalau kamu nggak bangun aku cium nih!"
Ancam Raihan tepat di telinga kanan Shasa, Raihan sendiri terkikik geli karena ucapannya barusan.
Merasa tidurnya diganggu seseorang membuat Shasa mengerjap dan menggeliat. Hal pertama yang ia lihat setelah sempurna membuka mata adalah wajah Raihan yang sudah fresh dan terlihat tampan.
Hati kecil Shasa tersenyum sangat bahagia karena bisa melihat orang yang di kagumi muncul pertama kali setelah bangun tidur.
"Nah! akhirnya bangun juga, sana mandi!" titah Raihan sembari mengulurkan tangannya tepat didepan wajah Shasa, karena merasa seperti orang bodoh yang disuruh mandi oleh lawan jenis membuat Shasa malu bukan main.
Seharusnya kan tugas seorang istri membangunkan suaminya, lah ini mah kebalik malah Shasa yang dibangunkan. Shasa bangkit dari rebahannya lalu duduk di tepi ranjang tanpa menghiraukan uluran tangan Raihan.
Shasa kemudian mengambil handphone miliknya diatas nakas. Satu detik kemudian setelah melihat jam berapa ia bangun, perempuan itu panik lalu mengambil pakaian kerjanya dilemari dan tak lupa mengambil dalaman dikoper miliknya.
Setelah mengambil apa yang perlu diambil Shasa berlari kearah kamar mandi dan menutup nya sangat kencang.
Raihan terkekeh melihat Shasa panik karena terlambat bangun, Raihan kembali melakukan kebiasaan paginya yaitu menghirup udara pagi diteras kamarnya.
Sreeeeeek!!
Gorden yang menutupi sepasang pintu transparan itu terbuka lebar, membuat sinar matahari langsung masuk memenuhi kamarnya. Raihan membuka pintu itu lalu menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya, kaki panjangnya perlahan melangkah kearah pagar teras kamarnya yang terbuat dari kayu.
Satu kata untuk paginya kali ini, membahagiakan. Melihat orang yang dicintai terlelap dalam pelukan hangatnya, menciumnya lalu membangunkannya dengan kata yang lumayan menngelitik perut untuk Raihan.
Saat pandangan Raihan jatuh kearah rerumputan di sekitar teras kamarnya, sebuah benda kecil menarik perhatian Raihan.
Benda itu mirip seperti, Raihan membungkuk untuk melihat lebih jelas benda kecil itu. Hampir Raihan sempurna membungkuk tetapi suara teriakan dari dalam kamarnya membuat Raihan kembali berdiri tegak.
"RAIHAAAAN!" Teriakan Shasa membahana memenuhi kamar, Raihan yang namanya dipanggil pun segera menemui wanita cantik yang namanya sudah terukir di hatinya.
"Ada apa?" Raihan mengernyit melihat Shasa sedang membawa sebuah dasi hitam yang baru saja diambil dari dalam lemari.
"Kemari" titah Shasa tetapi malah dirinya sendiri yang mendekat kearah Raihan.
Disaat Shasa sudah berada tepat dihadapan Raihan, kakinya menjinjit lalu mengalungkan dasi hitam yang ia ambil tadi ke kerah baju Raihan. Shasa mengutak-atik dasi tersebut hingga membentuk simpul segi tiga yang rapi.
Jangan tanya ekspresi Raihan saat ini seperti apa, raut wajah kaget bercampur raut bahagia bercampur menjadi satu diwajah tampannya.
Apalagi saat melihat wajah Shasa tanpa make up sedikitpun membuat jantung Raihan seperti berhenti berdetak. Cukup sudah pagi ini dirinya olahraga jantung karena Shasa.
"Oke sudah rapi" ucap Shasa sembari memperhatikan simpul dasi buatannya.
"Udah kan? Gue berangkat kerja dulu, bye byee" teriak Shasa sembari menenteng high hels lima centi nya, sedangkan tangan satunya menenteng tas yang berisi dokumen-dokumen penting beserta teman-temannya.
"Ah sebegitu sibuknya, padahal baru pukul 06:23" gumam Raihan sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Astaga!!
Raihan berbalik arah lalu membuka pintu bening itu secepat kilat, tanpa basa-basi dan tanpa seseorang yang mengganggu. Raihan berjongkok lalu tangannya menggapai benda kecil tadi melalui sela-sela pagar kayu.
Hap!
Benda kecil yang sempat membuatnya mengernyit heran kini sudah berada di dalam genggaman nya.
"Putung rokok?" ucap Raihan mengamati putung rokok yang ia temukan di pinggir teras kamarnya.
"Sepertinya tidak mungkin orang luar bisa membuang putung rokok disini!" ucap Raihan pada dirinya sendiri.
Lagipula jarak antara teras kamar Raihan dengan pagar samping rumah lumayan jauh dan tidak masuk akal jika seseorang bisa melempar putung rokok dengan ketinggian pagar rumah hampir setinggi tubuh orang dewasa.
Di saat Raihan membalik kan badannya kebelakang, berdiri lah seorang wanita yang ikut terkejut melihat putung rokok yang saat ini Raihan pegang.
***
Eheheheee hayo tebak siapa wanita itu?
A. Shasa
B. Nenek
Makasih yah Readers yang udah dukung Author sampai ngasih vote ke novel ini segala, Author minta maaf kalau sering mengecewakan kalian, Author bakalan berusaha sekuat tenaga buat sering-sering update Novel ini.
Salam dari Vinaa
__ADS_1
MMUACH:)