Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Sekilas Mirip


__ADS_3

Hari ini setelah menyelesaikan secuil pekerjaannya Shasa memilih untuk pulang ke rumah. Masih ada dua jam lagi sebelum menjemput Allin pulang sekolah.


Saat sampai dirumahnya, Shasa langsung menuju ke dapur mengambil botol berisi jus jeruk yang tadi pagi dibuatnya.


Misi dari Alan membuatnya menjadi kelelahan, kemarin ia merasa sudah cukup mendapatkan data-data dari targetnya. Namun pagi ini setelah menghantar Allin ke sekolah, data milik targetnya tiba-tiba berubah. Shasa curiga ada orang lain yang ikut campur tangan dengan misinya.


Setelah menutup pintu kulkasnya tiba-tiba getaran dari saku celananya membuatnya terkejut.


Siapa yang meneleponnya pada jam kerja seperti ini.


Shasa mengambil handphone miliknya lalu menggeser keatas tombol hijau pada layarnya.


"Hai Sha, bagaimana kabarmu dengan Allin?"


Terdengar suara Alan bercampur dengan suara Carol diseberang. Dua orang itu nampaknya sedang berebut untuk berbicara dengannya.


"Baik-baik saja" jawab Shasa singkat, terdengar dari seberang telpon suara Carol ingin merebut handphone milik Alan. Shasa menggelengkan kepalanya pelan mendengar Carol memaki Alan karena tidak membiarkannya berbicara dengannya.


"Ada apa?" tanya Shasa langsung pada intinya, tidak seperti biasanya Alan menelponnya saat sedang bertugas.


"Kau tidak merindukanku?" Suara cempreng itu menggantikan suara Alan, terdengar Alan yang mendengus kasar.


"Tentu saja tidak" jawab Shasa sembari terkekeh membuat Carol berdecak kesal.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, apakah ada masalah?" Suara telepon kembali direbut oleh Alan membuat Shasa sedikit kesal dengan pasangan itu.


"Berjalan dengan baik"


Shasa melangkahkan kakinya menuju ke lantai atas, sembari berbincang dengan Alan ditelpon tentu saja bersama Carol yang ikut menemaninya.


Saat sampai di kamarnya Shasa membuka koper miliknya, bermaksud untuk mengambil dokumen yang Alan tanyakan barusan. Shasa tiba-tiba terdiam setelah tidak sengaja menemukan sebuah benda bulat seberat tiga gram di sudut kopernya.


Shasa terdiam cukup lama memainkan benda yang barusan ditemukannya. Alan yang menyadari Shasa tidak mendengarkannya merasa sedikit cemas. Ada yang tidak beres dengan sahabatnya dan ia ikut merasakannya.


"Sha, kau tidak apa-apa?" tanya Alan khawatir.


"Tidak apa-apa, bisakah kita membahasnya nanti saja?" pinta Shasa yang langsung diiyakan oleh Alan. Pria itu tahu Shasa sedang berbohong kepadanya.


Setelah panggilan dengan Alan terputus, Shasa meletakkan handphone miliknya di atas nakas kemudian berjalan kearah jendela kamar yang berhadapan tepat dengan halaman depan rumah.


Benda kecil berwarna emas itu ia amati, entah bagaimana barang yang sudah lama dibuangnya tiba-tiba berada didalam kopernya. Shasa membuka kaca jendelanya, udara yang lumayan panas menyambutnya.


Cincin pernikahannya dengan pria brengs*k itu segera Shasa lemparkan tepat didepan halaman rumahnya. Barang murahan itu tidak layak untuk disimpan.


***

__ADS_1


Sama seperti hari sebelumnya, Shasa memarkirkan mobilnya didepan sekolah lalu ikut berbincang-bincang dengan ibu-ibu lain. Sebentar lagi jam pulang sekolah, anak-anak itu pasti akan segera keluar dari kelas.


Belum ada lima menit Shasa ikut berbincang, suara bel pulang sekolah berbunyi bersamaan dengan anak-anak yang berlarian keluar dari kelas.


Saat melihat Allin berjalan bersama temannya, Shasa segera pamit kemudian menghampiri putrinya.


"Halo putri kecil Mama"


Shasa berhenti beberapa langkah didepan Allin, namun bocah itu malah melewatinya begitu saja. Shasa menghembuskan nafasnya pelan, ia harus sabar menghadapi putrinya yang sedang merajuk kepadanya.


Sifat Allin yang tidak jauh berbeda dengannya membuatnya tahu bahwa Allin tidak akan berbaikan dengannya begitu saja tanpa memenuhi permintaannya terlebih dahulu.


Jika permintaannya sebatas makanan atau mainan ia bisa membelikannya, tapi jika putri semata wayangnya itu meminta Papanya dimana ia bisa membelinya.


***


Allin tersenyum senang ketika melihat bangunan besar didepannya, begitupula dengan Shasa yang ikut senang karena berhasil membujuk Allin untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar.


"Sayang kau yakin memilih itu?"


"Iya, bagus kan Mah?"


Shasa menganggukkan kepalanya, membawa mainan yang Allin pilih kemudian membayarnya di kasir.


Satu jam berlalu dan Allin telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Bukan, bukan bertemu dengan Papanya. Namun Allin mendapatkan beberapa mainan dan pakaian yang menurut Shasa selera Allin hampir mirip dengannya.


Disaat Allin ingin menyamakan langkahnya dengan Shasa didepan, tiba-tiba tubuh kecilnya menyenggol seorang wanita yang berdiri di depan pintu toko.


Shasa lantas menoleh kebelakang mendengar suara Allin mengaduh, bocah enam tahun itu ternyata jatuh terduduk. Shasa yang panik segera membantu Allin berdiri.


Setelah Allin berada digendongnya, Shasa berniat meminta maaf kepada wanita yang tidak sengaja disenggol oleh anaknya. Namun saat melihat wajah wanita itu Shasa mengurungkan niatnya untuk meminta maaf.


"Kau lagi!"


Wanita berpakaian mewah itu menyipitkan matanya setelah tahu ibu dari anak kecil yang menyenggolnya.


"Kemarin ibunya yang menabrakku, sekarang anaknya pun ikut menabrakku!"


Misha menunjuk-nunjuk wajah Allin yang sedang berada digendongan Shasa. Bocah itu memegang lengan Mamanya sembari menatap Misha dengan tatapan bersalah.


"Tante maaf tadi Aku tidak sengaja menubruk__,"


"Dasar bocah kurang ajar!"


Allin terdiam begitu saja saat wanita didepannya mengangkat tangan kanannya bersiap menamparnya.

__ADS_1


Shasa yang melihat tangan Misha hampir mengenai wajah putrinya langsung mencengkeram lengan Misha kuat. Menyeret wanita itu menuju ke tempat yang lebih sepi dan tidak terdapat kamera cctv.


Shasa menurunkan Allin dari gendongannya lalu menyuruh bocah itu berdiri dibelakangnya.


"Lepaskan tanganmu jala*g!"


Misha mengaduh kesakitan ketika Shasa tidak kunjung melepaskan cengkeraman pada lengannya. Wanita itu semakin kesakitan setelah Shasa memelintir tangannya kebelakang.


"Aaakh, apa yang kau lakukan! lepaskan!"


"Camkan baik-baik!"


Shasa menjeda kalimatnya membuat Misha menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Sekali lagi kau berani menyentuh putriku, nyawamu yang akan menjadi gantinya!"


"Aaakh!"


Setelah mengancam wanita asing itu Shasa melepaskan cengkraman tangannya lalu menggendong Allin yang berdiri dibelakangnya.


Shasa melangkahkan kakinya cepat, membawa putrinya pergi menjauh dari wanita gila yang berani-beraninya ingin menampar pipi putrinya.


Tanpa sepengetahuan tiga perempuan itu, seorang pria memperhatikan mereka dari kejauhan. Pria itu merasa tidak asing dengan wanita yang mencengkeram erat lengan istrinya. Wanita itu sekilas mirip dengan mendiang sahabatnya.


Pria itu segera mendekat ketika wanita yang menyudutkan istrinya pergi meninggalkan istrinya begitu saja. Rasa keingintahuannya melihat wajah wanita itu gagal saat wanita itu berjalan cepat dengan seorang gadis kecil digendongannya.


"Kau membuat kerusuhan lagi?"


Evan memutar bola matanya jengah melihat kelakuan Misha yang selalu membuat keonaran.


"Kau membela wanita rendahan itu lagi, kau bahkan tidak mengenalnya, mengapa kau membelanya?"


Misha menunjuk kearah Shasa yang telah menghilang dari pandangannya. Wanita itu hampir menangis karena merasa sangat kesakitan.


"Aku tahu semuanya, bocah itu tidak sengaja menubrukmu, seharusnya kau tidak berlebihan seperti itu. Wajar kalau ibunya marah karena kelakuan burukmu!"


Misha hampir menyangkal kalimat yang Evan berikan kepadanya, namun Evan segera menarik istrinya ke parkiran.


Setelah masuk kedalam mobil dan memakai sealtbelt, dua orang itu sama-sama terdiam. Evan dengan rasa penasarannya yang tinggi terhadap perempuan yang menggendong anak tadi dan Misha yang melamunkan tentang kehidupannya.


Selama perjalanan pulang Misha menatap kearah luar jendela mobil. Ingatannya kembali ke dua tahun lalu, tepat saat ia menikah dengan pria dingin disampingnya.


Pria yang sampai saat ini masih mencintai wanita yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Wanita yang ia ketahui adalah pemilik perusahan yang saat ini dipegang oleh Evan.


Dua tahun sudah dilewatinya bersama dengan Evan, namun pria itu tak kunjung mencintainya. Pria dingin disampingnya ini seolah sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap wanita lain. Sedangkan ia sendiri sudah lama menjatuhkan hatinya.

__ADS_1


Terdapat perasaan cemburu yang begitu besar ketika Evan membandingkan dirinya dengan wanita yang telah meninggal beberapa tahun lalu itu.


__ADS_2