
Bel pulang sekolah berbunyi bersamaan dengan anak-anak yang berlarian keluar dari kelas. Allin yang baru saja keluar dari ruang kelasnya celingkungan mencari keberadaan Mamanya diantara ibu-ibu lain yang menjemput anaknya.
Gadis kecil itu memutuskan untuk duduk sebentar dibawah pohon rindang untuk menunggu Mamanya menjemputnya.
Menit demi menit berlalu dan wanita yang Allin tunggu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Teman sekelasnya yang ikut duduk menemaninya tadi sudah dijemput sepuluh menit yang lalu sedangkan dirinya masih menunggu dan berharap Mamanya segera menjemputnya.
"Hai sayang, belum dijemput sama Mama ya?"
Allin menoleh ketika seorang wanita berpakaian rapi bertanya kepadanya.
"Iya Tante, Mama belum jemput"
"Mau Tante anterin pulang?" Allin segera menggelengkan kepalanya, menolak tawaran dari Ibu temannya. Jika ia pulang bersama Tante ini, bagaimana kalau Mamanya kebingungan mencarinya.
Mungkin Mama sedang sibuk, sebentar lagi pasti Aku dijemput. Pikir Allin dengan senyumnya yang manis.
Satu jam kemudian...
Allin mendengus kesal, tangannya dilipat didepan dada dengan raut wajah kesal. Bocah itu bergumam pelan, menyesal karena tadi menolak tumpangan dari Ibu temannya. Sinar matahari yang begitu terik membuat raut wajah Allin bertambah muram.
Allin menurunkan tas kecil yang berada di punggungnya lalu membuka resleting tasnya. Bocah itu menghembuskan nafasnya jengkel ketika air dibotol minumnya hanya tersisa beberapa tetes saja.
"Mama kenapa ga datang-datang sih!" gerutu Allin kembali melipat kedua tangannya didepan dada.
Tepat disaat Allin menoleh kearah luar sekolah, bocah itu melihat minimarket yang berada diseberang jalan. Allin segera meraih saku di rok yang dikenakannya. Sejumlah uang berada di tangannya, terdapat satu lembar uang berwarna biru dan satu lembar berwarna ungu.
Allin menyunggingkan senyumnya senang, ia berniat untuk menyeberang jalan dan membeli minuman disana. Allin segera memakai tasnya lalu berlari keluar dari area sekolah.
Langkah Allin berhenti ketika melihat kendaraan yang berlalu lalang didepannya, bocah itu terdiam sejenak di area pejalan kaki. Setelah menunggu jalanan tidak terlalu ramai Allin menengok kearah kanan lalu kearah kiri memastikan tidak ada kendaraan yang mendekat.
Setelah benar-benar yakin jika tidak ada kendaraan yang mendekat, Allin melangkahkan kakinya cepat menuju seberang jalan.
Tidak berselang lama, tiba-tiba sebuah mobil hitam melaju kencang kearahnya. Allin yang tidak menyadarinya masih berjalan ditengah-tengah jalan raya.
Decitan suara rem mendadak menyadarkan Allin adanya mobil dengan kecepatan tinggi melaju kencang kearahnya.
Tubuh bocah itu terjatuh ditepian jalan tepat didepan minimarket. Hampir saja, kurang sedikit lagi tubuh gadis kecil itu tertabrak mobil.
Orang-orang yang baru menyadari ada gadis kecil terjatuh di tepian jalan segera berdatangan. Membantu Allin duduk didepan minimarket, dan menenangkan gadis itu.
__ADS_1
Mobil berwarna hitam yang masih berada ditengah-tengah jalan itu segera menepikan mobilnya. Pemilik mobil tergesa-gesa turun dari mobilnya lalu menghampiri bocah cilik yang hampir saja ia tabrak.
"Hai Nak, kau tak apa?"
Pria itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan bocah yang saat ini masih terlihat terkejut. Ah sial bisa-bisanya ia membuat gadis kecil ini hampir terpental karena laju mobilnya yang begitu kencang.
"Lain kali kalau bawa mobil jangan ngebut-ngebut Pak!"
Pria yang hampir saja menabrak Allin itu mengangguk lalu meminta maaf kepada orang-orang yang membantu Allin dari tepian jalan raya. Beberapa dari mereka langsung meninggalkan tempat, tersisa dua orang yang membelikan Allin air minum.
Allin mendogak menatap pria yang hampir saja menabraknya. Pria itu tiba-tiba terdiam, perasaan aneh tiba-tiba muncul pada dirinya. Terdapat hal yang sulit untuk diungkapkan, perasaannya campur aduk. Mata cantik milik bocah itu mengingatkannya kepada seseorang dimasa lalunya.
Allin segera menggelengkan kepalanya, ibu-ibu yang baru saja keluar dari minimarket memberinya sebotol air mineral. Allin perlahan meminumnya kemudian mengucapkan terimakasih.
"Tidak ada yang sakit pada tubuhmu Nak?"
Pria itu kembali bertanya dengan tatapan yang aneh kepada Allin. Terlihat sorotan kasih sayang kepada bocah yang baru saja ditemuinya.
Lagi-lagi Allin menggelengkan kepalanya, tidak ada yang sakit dari tubuhnya hanya saja masih sedikit syok dan sepertinya pria itu mengetahui bahwa bocah manis didepannya saat ini masih syok.
Tanpa aba-aba pria itu langsung memeluk Allin, menepuk-nepuk punggungnya hingga gadis kecil itu merasa tenang.
"Engga, tadi Aku yang salah ngga fokus pas mau nyeberang"
Allin melepaskan pelukannya lalu menatap pria yang hampir menabraknya dengan tatapan bersalah.
"Allin minta maaf ya Om"
Pria itu merasa ada suatu hal yang membuatnya merasa begitu senang tetapi pria itu tidak mengerti mengapa dirinya merasa senang. Pria itu juga merasa sangat begitu mengenal gadis kecil ini, entahlah perasaannya menjadi campur aduk.
***
Gadis kecil itu melambaikan tangannya saat mobil hitam keluar dari halaman rumahnya. Hati kecilnya berbunga-bunga mengingat Om baik itu mengajaknya makan siang sekaligus mengantarkannya pulang.
Allin meletakan tasnya diatas kursi yang berada didepan rumahnya. Senyumnya tidak kunjung hilang walaupun Om baik itu sudah hilang dari pandangannya. Bocah itu sampai melupakan rasa jengkelnya pada Mamanya karena tidak juga menjemputnya.
Dua puluh menit kemudian sebuah mobil masuk kedalam halaman rumahnya. Seorang wanita yang pakaiannya sudah sedikit amburadul turun dari mobilnya lalu berjalan cepat kearah Allin yang sedang duduk dikursi teras.
"Allin nggak kenapa-kenapa kan? atau Allin ke rumah sakit saja"
__ADS_1
Shasa memeriksa tubuh Allin dari atas sampai bawah dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas. Perempuan itu menatap wajah Allin sedih ketika kedua telapak tangan putrinya terbalut kain kasa.
Mata Shasa berkaca-kaca lalu memeluk tubuh kecil putrinya. Perasaan bersalah yang begitu besar muncul pada hatinya, merasa tidak becus mengurus Allin. Pekerjaannya yang terlalu sibuk membuatnya lupa untuk menjemput Allin. Saat sampai disekolah Allin, beberapa orang memberitahunya ada gadis kecil yang hampir saja tertabrak.
Shasa yang sangat panik langsung menemui satpam yang berjaga di sekolah Allin. Rasa paniknya sedikit berkurang saat sang satpam mengatakan gadis kecil yang hampir tertabrak itu dihantarkan pulang ke rumah.
"Maafin Mama ya"
Suara Shasa sedikit tercekat, wanita tangguh itu hampir menangis. Allin yang mendengarnya langsung melepaskan pelukan hangat dari Mamanya.
"Allin ngga apa-apa kok Mah"
Shasa menatap lekat wajah Allin yang berada tepat dihadapannya lalu kembali mendekap tubuh Allin.
"Mama ih, orang Allin ngga kenapa-kenapa kok. Tadi Om baik nolongin Allin sekalian diajak makan siang Mah"
"Om baik?"
Shasa mengeryitkan dahinya tak percaya dengan omongan Allin barusan. Baru kali ini Allin menyebut orang yang baru dikenalnya dengan sebutan yang terdengar berlebihan.
"Tapikan tangan Allin dibuat lecet sama orang itu kenapa Allin manggilnya Om baik?"
Gadis itu tiba-tiba terdiam, Shasa tidak luput memperhatikan wajah putrinya. Bocah itu terdiam dengan bibir yang sedikit tertarik.
"Karena Om nya emang baik Mah!"
"Berarti Mama nggak baik dong, Allin kan manggilnya cuma Mama doang nggak Mama baik gitu"
Allin tertawa lepas kemudian mencium kedua pipi Shasa. Pelukan hangat dari Mamanya membuat Allin merasa sangat terlindungi, akan tetapi pelukan dari Om baik juga tidak kalah nyaman dengan pelukan Mamanya.
***
Sementara itu di tempat lain, seorang pria sedang tenggelam dalam pikirannya. Pria itu terlalu memikirkan banyak hal, barang kecil yang baru saja ditemukannya bahkan ikut dipikirkannya.
Pria itu mengambil benda bulat dari saku celananya kemudian membandingkan benda bulat itu dengan cincin yang berada di jari manisnya.
Sekali lagi pria itu mengusap wajahnya kasar, hati dan otaknya saat ini tidak bisa diajak untuk bekerjasama. Disatu sisi hatinya mengatakan bahwa cincin yang ditemukannya itu milik mendiang wanita yang dicintainya. Sedangkan disisi lain, otaknya mengatakan hal itu mustahil terjadi.
Akan tetapi kata hatinya lebih kuat dari apa yang otaknya pikirkan. Tertampar oleh kenyataan memang menyakitkan, tetapi pria itu masih saja berharap bahwa cincin ini benar-benar milik mendiang wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Jika benar ini milik orang lain bagaimana bisa sama persis dengan cincin kawinnya. Sedangkan cincin kawinnya merupakan pemberian dari Ibunya dan Ibunya sendirilah yang memesan desain custom sewaktu ia masih remaja dulu. Desain yang kata Nenek memiliki penuh dengan makna didalamnya.