
Tok tok tok!!
Shasa mengerjapkan matanya mendengar ketukan pintu yang menggangu tidurnya.
"Aaarghh"
Erangan Shasa tertahan karena kepalanya tidak bisa digerakkan, rasanya berat dan seperti sedang tertindih oleh sesuatu. Lalu apa ini, kenapa dirinya sedang tidur dengan duduk?
Astaga! Shasa sadar jika tadi malam ia ketiduran didepan televisi bersama Raihan. Shasa merebahkan Raihan kebelakang lalu berdiri merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena posisi tidur yang tidak tepat.
Oh iya Shasa ingat tadi ada seseorang yang mengetuk pintu di pagi buta seperti ini, bahkan matahari saja belum muncul.
Ceklek!
"Haii? apa kabar nyonya?"
Apalagi ini? siapa pula pria yang memanggilnya nyonya.
Evan tersenyum lumayan lebar melihat Shasa kebingungan, mungkin Shasa sulit untuk mengenalinya disaat baru bangun tidur seperti ini.
"Maaf apa yang bisa saya bantu?" tanya Shasa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, matanya masih sayu karena mengantuk, hawanya dingin pula.
"Shasa ayok pulang?"
Evan?
Shasa membuka matanya lebar lalu menganga, jadi manusia tak tahu jam bertamu ini Evan.
Dan apa katanya tadi, pulang? pulang kemana coba, aduh ia tak ingin marah di pagi buta seperti ini. Tapi ucapan Evan barusan membuat amarahnya sedikit tersumat.
"Ya ampun Van pulang kemana? ini tuh masih pagi, sana! Lo pulang aja deh, masih ngantuk gue"
Giliran Evan yang menganga tak percaya, Shasa begitu tega menyuruhnya pulang kembali tanpa dirinya. Padahal tujuan utamanya ingin menjemput Shasa seperti kesepakatan yang dibuat satu minggu lalu.
Ingatan Evan tidak salah bukan, hari ini hari senin dan tepat seminggu yang lalu pernikahan Evan dan Shasa terjadi. Bukankah saat itu Shasa sendiri yang memintanya untuk menjemput satu minggu setelah pernikahan berlangsung. Lalu kenapa sekarang malah menolak?
"Shasa Lo udah gila? Lo udah nyuruh Gue jemput Lo, dan sekarang Lo malah nyuruh Gue pulang sendirian?"
__ADS_1
Astaga! Shasa ingat, satu minggu yang lalu pernah mengatakan kalau dirinya hanya akan tinggal dirumah Raihan selama seminggu. Tapi mau bagaimana lagi, dirinya merasa tenang jika berada di rumah Raihan, berbeda jika dirinya tinggal di Markas.
Aduh, jadi serba salah, disatu sisi ingin tinggal bersama Raihan tapi satu sisi lainya kasihan karena menolak ajakan Evan.
"Lain kali aja deh Van, mendingan sekarang Lo pulang, kalau ada waktu Gue juga bakal pulang kok"
"Mending Gue tadi pergi ke Bar daripada kesini" gumam Evan sebal sembari menatap Shasa kesal.
"Eeeeeh, Shasa!!"
Shasa menjinjit lalu menarik kerah baju Evan sembari mengucapkan sesuatu tepat ditelinga kirinya.
"Sudah kubilang berulang kali, jangan pernah bermain dengan seorang jala*g!"
Ucap Shasa penuh penekanan tiap katanya. Entahlah, Shasa tak ingin jika sahabatnya itu bermain-main dengan jala*g murahan yang berkeliaran dimana-mana. Ada rasa tak ikhlas ketika ada wanita lain dekat dengan sahabatnya.
Tanpa Shasa ketahui saat ini Evan tersenyum senang karena ucapannya tadi, rasanya Shasa seperti cemburu jika dirinya berdekatan dengan wanita lain.
"Ada apa ini?"
Raihan menarik baju Shasa kebelakang lalu menatap Evan tak suka, saat matanya terbuka tadi Raihan tak menemukan Shasa disampingnya.
"Tidak ada!"
Tangan Shasa menepis tangan Raihan yang masih memegang kaos bagian belakangnya, bau-bau permusuhan langsung tercium ketika Raihan datang.
"Yah Van, kumohon" pinta Shasa memelas kepada Evan, Evan harus cepat-cepat pergi dari sini atau akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Raihan sekali lagi, rasa penasarannya terlalu tinggi untuk mengetahui alasan dari Shasa yang memelas kepada Evan.
Brak!!
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Raihan menutup pintunya dengan cepat membuat Shasa dan Evan terkejut bukan main.
"Raihan! Lo apa-apaan sih, buka pintunya!" ucap Shasa disertai amarah, apa maksudnya Raihan menutup pintu seperti itu padahal masih ada Evan yang berdiri diluar pintu.
Sedangkan diluar sana Evan sedang menggeram menahan amarah karena perbuatan Raihan yang semena-mena. Ingin sekali saat ini dirinya membakar rumah Raihan karena telah mengangapnya remeh.
__ADS_1
"Tunggu pembalasanku, akan kubuka kedokmu agar Shasa tau semua kebusukanmu!"
"Wah, busuknya sampai tercium disini" celetuk nenek membuat Evan langsung menengok kearah belakang, satu lagi yang membuat Evan muak untuk datang kesini.
"Termasuk kau!" ucap Evan menampilkan senyum smirk nya yang terlihat menakutkan.
Sial sekali paginya ini, sudah ditolak Shasa, bertemu Raihan si brengs*k, dan sekarang malah bertemu dengan Nenek sihir pula.
Memang wajahnya sudah terlihat tua, tapi ingat jangan memandang buku dari covernya. Rencana jahat selalu terselubung dalam setiap detik napas Nenek Raihan, dan sialnya lagi Shasa malah tinggal dengan dua orang jahat yang berbahaya.
Tak ingin berlama-lama melihat nenek sihir, Evan melenggang pergi dari teras rumah Raihan lalu pergi naik mobil yang dibawanya tadi.
"Selalu saja begitu" Keluh Nenek menggelengkan kepalanya pelan.
***
Shasa menatap Raihan sinis, bukannya membukakan pintu untuk Evan malah mengajak dirinya untuk menunaikan sholat subuh. Tetapi tetap saja Shasa mengiyakan ajakan Raihan untuk Sholat subuh.
Lihat saja saat ini dirinya sedang wudhu dengan asal, bodo amat! yang penting wajah, kaki, dan tanganya terlihat basah. Lagipula Raihan juga tidak akan tahu bukan?
"Robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar"
Doa terakhir Raihan setelah sholat dan berdoa yang lainnya.
Raihan membalik tubuhnya berhadapan dengan Shasa, ia menyodorkan tangan kanannya dan disaat itu juga Shasa mencium telapak tangannya. Gantian saat dirinya ingin mengecup dahi Shasa, wanita itu mundur seolah tak ingin hal itu terjadi.
Tapi bukan Raihan namanya kalau tidak bisa membuat Shasa tunduk padanya, dengan cepat tangan Raihan meraih pinggang Shasa lalu mengecup dahinya dengan pelan dan lembut.
Debaran jantung Shasa tidak bisa terkendali, berdetak begitu cepat dan terasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan disana. Ini bukan kali pertama Raihan mencium dahinya, tapi sensasi itu lho membuat Shasa sulit bernapas saat Raihan berdekatan dengannya, apalagi jaraknya sedekat ini.
Cahaya matahari mulai menyembul naik, menyinari bumi beserta isinya. Rasa hangat dari matahari itu mengusir hawa dingin yang dibawa oleh malam.
Shasa tidak melanjutkan tidurnya walaupun rasa kantuk masih menyerang, Shasa duduk di teras depan rumah menikmati hawa hangat dari matahari yang mulai naik.
Hari ini akan ia awali dengan senyuman lebar agar beban dipundaknya setidaknya sedikit berkurang.
Mulai hari ini juga Shasa meyakinkan dirinya sendiri untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi. Menjadi wanita baik bukan berarti harus melepaskan pekerjaannya di dunia mafia yang selama ini digandrunginya.
__ADS_1
Ingat! Shasa masih punya banyak misi untuk membongkar semua hal ganjil yang terjadi pada hidupnya.