Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Seseorang yang berbeda


__ADS_3

"Sudahlah, jangan membuat masalah dengan Evan!"


Raihan menoleh ke belakang, Nenek sedang berkacak pinggang sembari menatapnya tajam seolah dirinya yang membuat masalah.


"Sudah Nenek bilang berulang kali, Evan itu__,"


"Cukup! Nenek selalu membela Evan!"


Kenyang sudah Raihan dengan semua nasehat Nenek yang melarang dirinya untuk mengganggu Evan.


Tapi jika hidupnya yang diganggu, tau apa reaksi Nenek? Nol besar.


Nenek selalu membela bocah tengil itu dengan berbagai alasan yang memuakkan. Jikalau Nenek yang ada dihadapannya ini bukan Neneknya, mungkin ia akan membangkang dan melakukan apapun sesuka hatinya. Bukan seperti ini, diatur dan diatur.


Raihan melengos mengambil kunci mobil lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Jika biasanya Raihan mengucap salam sebelum berangkat kemanapun, kali ini Raihan berangkat kerja tanpa mengucap salam ataupun mencium punggung tangan Nenek.


"Astaga! sulit sekali membuat anak itu akur dengan Evan"


***


Brak!!


Suara dentuman pintu mobil yang ditutup dengan keras itu menyebabkan beberapa orang yang lewat terkejut. Setelah mereka mengetahui pemilik mobil, pias di wajah mereka menjadi ketakutan seolah sedang berada didalam kondisi yang sangat berbahaya.


Pria dengan wajah dingin dan datar itu melangkah memasuki lobby kantor yang lumayan ramai. Baru satu langkah kaki panjang itu menginjak lantai, sapaan hangat yang terselip nada ketakutan menyambut dirinya.


"S-selamat pagi T-tuan"


Para karyawan menunduk takut tak berani melihat atasan mereka yang saat ini mood-nya terlihat sedang tidak baik.


Tidak ada respon sama sekali dari pria itu, kakinya terus melangkah menuju ke lift. Setelah pria itu masuk kedalam lift terdengar hembusan napas lega dari karyawan yang tadi menyapa atasan mereka.


"Astaga! itu muka si boss kenapa bisa nakutin banget yah?" tanya salah satu karyawan perempuan sembari bergidik ngeri. Untung gaji di perusahaan ini tinggi, jadi mereka rela melakukan apapun agar bisa bertahan di perusahaan yang terkenal akan attitude-nya.


Tak tak tak


Hentakan keras dari sepatu berwarna hitam mengkilat itu membuat suara khas di lorong kantor yang sepi. Pria itu berhenti tepat di depan pintu sebelum masuk kedalamnya. Setelah masuk kedalam ruangan yang lumayan luas, pria itu langsung duduk di kursi besar yang selama ini menjadi kebanggaannya.

__ADS_1


Tak berselang lama terdengar ketukan pintu membuat pria yang saat ini sedang membolak-balik dokumen langsung terhenti, mata pria itu menajam kearah pintu.


"Masuk!"


"Selamat pagi tuan"


Seorang pria yang umurnya hampir menginjak kepala lima itu menunduk, memberi hormat kepada atasannya yang saat ini sedang duduk santai di kursi kebesaran.


"Ya, pagi"


Pria yang semula duduk di kursi itu berdiri lalu berjalan menuju ke kaca transparan besar yang mengarah ke jalanan kota.


Pemandangan gedung-gedung pencakar langit sudah biasa ia saksikan, tetapi tidak pernah membuatnya merasa bosan untuk mengamati segala hiruk pikuk kehidupan manusia di bawah sana.


"Tuan Raihan, hari ini ada jadwal meeting pada pukul sembilan pagi"


Raihan sama sekali tidak menjawab, hari ini rasanya sangat malas untuk mengurusi semua pekerjaan kantornya. Pikirannya masih tertuju pada satu orang yaitu, Shasa.


Merasa tidak ada jawaban dari atasannya, sekertaris sekaligus asisten pribadi dari Raihan itu pamit undur diri lalu keluar dari ruangan disertai wajah jengah dan gelengan kepala.


"Huuh, dasar anak muda jaman sekarang!" pria paruh baya atau biasa dipanggil Pak Na itu menghela napasnya. Sudah bertahun-tahun dirinya mengabdi pada keluarga Raihan, bahkan semua seluk beluk tentang keluarga itu Pak Na tahu.


***


Dua gelas jus stroberi terhidang di meja pesanan nomor sepuluh, sepasang pria dan wanita itu hanya mengangguk saat pesanan mereka diantar oleh seorang pelayan.


Shasa mengaduk jus nya sebelum diminum, jus rasa stroberi yang mengalir di kerongkongannya itu terasa dingin, menciptakan sensasi aneh sekaligus menyegarkan.


Hari ini Shasa memutuskan untuk tidak masuk kerja, otaknya cukup lelah. Dirinya butuh istirahat untuk merefresh kembali otaknya agar rileks. Cukup memikirkan sifat Raihan belakangan ini yang aneh, membuat dirinya tertekan dan merasa tidak nyaman.


Sebenarnya Shasa kurang suka berada di kafe yang saat ini ia kunjungi, kafe yang terletak ditengah keramaian kota membuat suasana menjadi agak gaduh dan tentunya bising akan suara kendaraan yang melintas.


Lain hal dengan Evan, tidak peduli tempatnya berada, asalkan bersama dengan Shasa semua tempat pasti akan terasa nyaman-nyaman saja.


"Van! gimana kalau gue tinggal di Markas aja?"


Apa? Evan tidak salah dengar kan? Shasa meminta pendapat untuk kembali tinggal di Markas.


"Lah kan, mending Lo balik lagi deh ke Markas, ngapain juga Lo tinggal serumah sama Raihan" Kali ini Evan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membujuk Shasa agar kembali tinggal di Markas.

__ADS_1


Tinggal menyalakan kompor untuk memanasi Shasa agar merasa tidak nyaman tinggal serumah dengan Raihan.


"Emang, Lo tau Raihan itu siapa? keluarganya dimana? sikap aslinya? tentang dirinya? Emang Lo tau?"


Shasa menggelengkan kepalanya pelan, benar juga Evan, dirinya sama sekali tak tau asal muasal Raihan.


"Lo gak takut, kalau sewaktu-waktu Raihan itu ternyata musuh Lo?"


Evan melirik kearah Shasa, dilihatnya raut wajah cantik itu.


"Gak mungkin, gak mungkin Raihan itu musuh Gue" ucap Shasa sembari menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Evan tersenyum sekilas lalu kembali menyedot jusnya yang tinggal setengah.


Ya tentu saja bukan seorang musuh, melainkan...


Hampir 15 menit Shasa dan Evan saling diam-diaman, hanya raga mereka yang saling berhadapan tetapi tidak dengan jiwanya yang satu sama lain sedang traveling entah kemana.


Bahkan gelas yang tadi berisi jus stroberi kini sudah tandas menyisakan sedotannya saja.


"Jadi gimana? Lo mau balik ke markas atau enggak?"


Kalimat pertama yang Evan ucapkan setelah sadar kalau mereka hanya saling diam setelah membahas tentang Raihan yang bisa saja ternyata musuh Shasa.


"Gue balik ke markas"


Evan diam-diam menahan senyumnya, ah rasanya sangat melegakan, sekarang dirinya tak perlu cemas ataupun khawatir lagi jika pria brengs*k itu melakukan kekerasan pada sahabatnya ini.


Ting!


Notifikasi yang berasal dari smartphone canggih diatas meja itu membuat pemiliknya terkejut.


Evan mengambil hpnya lalu membuka pesan yang baru saja masuk, sebuah nama yang tertera di layar itu membuat Evan mengernyitkan dahi. Hal itu tak luput dari pandangan Shasa yang merasakan perubahan raut wajah Evan.


"Siapa?" tanya Shasa penasaran ketika Evan sibuk mengetik, mungkin membalas pesan tadi.


"Bukan siapa-siapa" jawab Evan tersenyum lalu memasukkan hpnya kedalam saku celana, wajahnya terlihat aneh tidak seperti beberapa saat yang lalu.


"Gue ada urusan bentar, tunggu Gue disini dan jangan kemana-mana!" titah Evan gugup lalu berdiri beranjak dari kursi, meninggalkan Shasa yang sedang bertanya-tanya.


"Ada yang tidak beres" Shasa bergumam pelan sembari menatap punggung Evan yang semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2