Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Rumah Yang Sebenarnya


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, seorang wanita yang memakai pakaian rumah sedang duduk di kursi yang berada di taman yang sama sekali tidak pernah dikunjunginya.


Wanita itu terisak pelan, mata dan hidungnya memerah, disertai rambutnya yang acak-acakan. Tidak ada satupun orang yang berada di taman itu, hanya Shasa sendirian lah yang duduk ditempat sepi itu.


Entah sejak kapan tetapi Shasa tidak sadar jika matahari mulai terbenam. Taman yang sepi itu lama kelamaan menjadi semakin menakutkan.


"Sha"


Panggilan beserta tepukan dipundaknya membuat Shasa tersadar dan bersiap memberi bogem mentah kepada orang itu.


Plak!


Kepalan tangan Shasa mengenai telapak tangan orang yang saat ini berdiri tepat dibelakangnya.


Saat Shasa menoleh sempurna kebelakang, matanya yang tadinya sudah tidak mengeluarkan air mata kini kembali meleleh dan terisak.


Shasa langsung memeluk Evan, pria itu membalas pelukannya.


"Hey! Lo ngapain disini? kenapa?" tanya Evan dengan nada cemas yang luar biasa. Pria itu semakin tidak kuasa jika melihat wanita kesayangannya menangis terisak dipelukanya.


Dua menit berlalu dan Shasa masih tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hal itu semakin membuat Evan yakin bahwa Raihan lah yang membuat Shasa menjadi menyedihkan seperti ini.


"Lepas!"


Shasa yang awalnya mulai tenang kini kembali terkejut karena bentakan keras dari Evan. Shasa tak mengerti dengan apa yang Evan lakukan.


"Evan, Lo jah__,"


"Dimana Raihan? Gue bakal bunuh pria sialan itu sekarang!"


Mata Evan dipenuhi kabut kemarahan, kedua tangannya mengepal kuat. Shasa terdiam, ia mengusap air matanya pelan kemudian memeluk Evan sekali lagi.


"Van, Gue pengen pulang" pinta Shasa dengan suara yang terdengar letih dan menyedihkan.


"Ke rumah Raihan?" tanya Evan dengan seribu kekecewaan dihatinya. Shasa menggelengkan kepalanya, mana mungkin ia kembali ke rumah itu.


Didalam hati Evan ada sedikit perasaan bahagia, ketika Shasa memutuskan untuk tidak lagi pulang ke rumah yang sebenarnya bukan tempat Shasa pulang.

__ADS_1


"Lalu kamu mau kemana?" tanya Evan lembut sembari mengusap kepala Shasa yang tenggelam di dadanya.


"Ke rumah kita lah" jawab Shasa singkat yang membuat Evan mengernyitkan dahi.


"Kita?" ucap Evan tak percaya dengan apa yang Shasa ucapkan. Sejak kapan Shasa menggunakan kata 'kita' saat berdua dengannya.


"Ya iya lah, tol*l banget sih Lo!" ucap Shasa yang membuat Evan menjadi tersenyum. Ada-ada saja ulah Shasa yang membuatnya tersenyum padahal wanita kesayangannya itu sedang dalam keadaan kacau.


"Ya, dan Lo punya hutang penjelasan sama Gue"


***


Shasa terbaring lemah diatas ranjang dengan ditemani Evan yang sedang mengoceh apa saja yang terjadi pada urusan kantor.


"Shasa Lo dengerin Gue ngomong gak sih?"


"Ya?" jawab Shasa singkat kemudian menengadah ke atas melihat Evan yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang.


Pria itu masih sama seperti satu jam yang lalu, kemeja dan dasinya masih melekat pada tubuhnya.


"Enggak, emangnya kenapa?"


Shasa mengulas senyumnya, ia bangun dari posisinya kemudian ikut duduk bersandar di samping Evan.


"Van, Gue beruntung banget punya sahabat yang kayak Elo" Shasa terdiam sejenak, kepalanya ia sandarkan pada bahu Evan.


"Gue gak nyangka kalau sebenarnya tempat Gue pulang itu bukan Raihan, tapi Elo"


Seulas senyum manis muncul pada bibir Evan, tapi senyum itu tidak bertahan lama mengingat kata 'sahabat' yang Shasa gunakan padanya.


"Van, beruntung banget nanti cewek yang bakal jadi istri Lo?"


"kenapa?" tanya Evan sembari merangkul pundak Shasa.


"Karena ya," Shasa tidak melanjutkan ucapannya, benarkah nanti saat Evan menikah. Pria yang bernotabe sebagai sahabatnya ini akan menjadi milik orang lain.


Segurat rasa sedih bercampur takut bermunculan di dalam hatinya. Shasa tidak tahu akan bagaimana hidupnya jika Evan tak lagi perduli padanya.

__ADS_1


Shasa tak bisa membayangkan, pria yang sedang menatapnya ini akan meninggalkannya.


"Sha, Lo kenapa? kepala Lo pusing?"


Pusing? kepalanya saat ini bukan hanya pusing, tapi seolah terasa akan meletus.


Raihan, permasalahannya dengan pria itu membuat Shasa menjadi pening. Belum lagi dengan rahasia tentang kayu dibelakang rumah. Apalagi sekarang ditambah dengan Evan yang kemungkinan besar akan meninggalkannya setelah pria itu menikah.


"Sha?"


"Evan, Gue ngantuk tidur yuk!"


"Gue tidur disini?"


Plak!


Evan mengelus pahanya yang terkena gamparan dari Shasa. Astaga, dimana pun dan kapan pun Shasa masih tetap Shasa. Wanita itu tidak segan main tangan, padahal dirinya hanya mencoba untuk menghibur wanita itu.


"Gila Lo sana keluar!"


"Iiiih galak banget sih!" cibir Evan kemudian meninggalkan Shasa sendirian didalam kamar.


***


Ditempat lain, dimana seorang pria sedang duduk termenung didalam kegelapan. Pria itu masih memakai pakaian yang sama dengan yang dikenakannya saat pagi.


Raihan, ya pria itu sedang merenung. Apa saja yang sebenarnya ia katakan kepada Shasa?


Serentetan kalimat yang membuat Shasa kabur tadi sungguh bukan keinginannya. Tapi sekali lagi, jajaran kayu yang tertata rapi di halaman belakang rumah bukan hal yang sepele jika diperdebatkan.


Semua ini demi kebaikan bersama, ada hal yang pasti Raihan lakukan demi menghindari kejadian tak diinginkan terjadi.


Perihal kayu? Raihan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhkan Shasa dari halaman belakang rumah.


Untuk saat ini, Raihan membiarkan Shasa menyendiri dan menenangkan diri. Ia tak mau sampai membuat Shasa semakin tertekan.


Tapi apa yang sedang dilakukannya saat ini tanpa disadarinya, Raihan malah membuat Shasa semakin tertekan.

__ADS_1


__ADS_2