Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Ruang Rawat Inap 210


__ADS_3

Donna menghentikan langkah kakinya tepat didepan pintu bernomor 210. Kali ini bukan berada didalam club malam. Melainkan disebuah rumah sakit besar tempat dirawatnya Raihan setelah pria itu mencoba untuk bunuh diri.


Jika dipikir-pikir kembali, kejadian semalam rasanya masih tidak dapat dipercaya. Raihan yang selalu tangguh terhadap berbagai macam ujian dalam hidupnya tiba-tiba melakukan aksi untuk mempercepat bertemu dengan Tuhan.


"Huh ada-ada saja. Untung masih bisa diselamatkan"


Sekelebat kejadian tadi malam tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Donna segera menggelengkan kepalanya kemudian membuka pintu didepannya. Disaat pintu itu terbuka indera penglihatannya langsung disambut oleh ruangan yang keseluruhannya didominasi oleh warna putih. Hanya gorden disebelah brankar saja yang berwarna hijau pupus.


"Selamat pagi tuan" Donna memelankan suaranya ketika melihat Raihan terbaring dibrankar dengan mata yang masih tertutup.


Setelah menutup pintu dan mengucapkan sapaan yang sopan pada bosnya Donna langung duduk disofa yang tak jauh dari pintu. Sebelumnya ia terlebih dahulu meletakan buah tangan yang dibawanya.


Sebenarnya bukan kemauannya untuk menjaga Raihan disini. Evan lah yang menyuruhnya karena pria itu tengah disibukkan oleh masalah-masalah yang sedang terjadi dikantornya. Bukannya ia tidak setia pada bosnya tetapi pekerjaan yang Raihan tinggalkan untuknya juga begitu banyak. Hatinya menangis tersedu-sedu saat tahu dirinya harus menghandle sebagian pekerjaan Raihan.

__ADS_1


Astaga melelahkan sekali menjadi tangan kanan Raihan.


Diliriknya sebentar pria yang masih terlelap diatas brankar itu. Meskipun dalam keadaan sakit pria itu masih saja terlihat tampan. Ujung bibir Donna tertarik mengakui bahwa Raihan memang memiliki daya pikat yang menawan.


Banyak wanita diluaran sana yang jatuh cinta pada bosnya itu. Ada yang diam-diam menyembunyikan perasaannya, ada pula yang terus terang menunjukkan kekagumannya. Namun Raihan tidak pernah membukakan hatinya. Hanya ada satu nama wanita yang telah lama menempati hati pria itu dan wanita beruntung itu adalah Queensha Zeline.


Donna mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bibirnya yang semula hanya tersenyum tipis berubah menjadi terkekeh geli.


Astaga.


***


"Kruuuuk kruuukk"

__ADS_1


Shasa tersadar dari lamunannya seiring dengan perutnya yang berbunyi meminta untuk diisi. Sungguh saat ini perutnya kelaparan, jam didinding pun sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


Dilihatnya Allin yang masih tidur, setelah sarapan dan meminum obatnya gadis kecil itu langsung merasa mengantuk dan terlelap begitu saja. Mungkin karena efek dari obat yang diminumnya.


Shasa berdiri dari duduknya, tangannya membelai wajah cantik Allin yang terlelap begitu damai. Suhu tubuhnya sudah kembali normal namun masih belum bisa dikatakan sembuh.


"Mama tinggal sarapan sebentar ya nak,"


Sungguh Shasa tidak tega membiarkan Allin sendirian namun ia juga tidak bisa menahan rasa laparnya lagi. Inilah yang ditakutkannya ketika jauh dari Alan dan Carol, jika saja mereka ada disini ia bisa meminta tolong untuk menjaga Allin.


Shasa membulatkan matanya ketika mengingat Alan dan Carol.


Pekerjaannya!

__ADS_1


Lagi-lagi tugasnya disini akan terhambat karena Allin yang tiba-tiba jatuh sakit. Mengingat pekerjaannya yang harus dilakukan extra hati-hati dan penuh kesabaran. Dirinya pasti akan terjebak lebih lama lagi tinggal disini.


Shasa menghela nafasnya lelah, ia harus segera mengabari Alan dan Carol tentang Allin yang masuk rumah sakit. Juga meminta maaf karena misinya disini akan terhambat sementara waktu.


__ADS_2