Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Pelukan Perpisahan


__ADS_3

Mata Shasa terbuka secara perlahan, hal pertama yang dilihatnya adalah Raihan. Pria itu tampak sudah rapi, sedangkan dirinya sendiri masih bergulat dengan selimut dan bantal.


"Selamat pagi" sapa Shasa menampilkan senyum manisnya.


Raihan yang awalnya duduk di sofa tak jauh dari ranjang kini beranjak berdiri dan mendekati Shasa.


"Semalam kamu kemana?" tanya Raihan duduk di pinggiran ranjang, matanya menatap wajah Shasa yang lumayan terkejut.


Ah sial!


Ternyata dugaannya semalam salah, Shasa menutup matanya, mengumpat hal apapun yang bisa dijadikan umpatan.


"Apartemen Alan"


Ekspresi wajah Shasa berubah menjadi datar, entahlah disini Shasa seolah sedang kepergok berselingkuh.


"Ngapain?" tanya Raihan yang masih menatap wajah datar Shasa. Terselip nada amarah disetiap kalimat yang diucapkan oleh Raihan, namun Shasa masih tidak menyadarinya.


"Bukan urusan kamu!"


Shasa berdiri, menggulung tubuhnya dengan selimut kemudian meninggalkan Raihan sendirian. Shasa pergi kamar mandi, otaknya harus disegarkan, jangan sampai nanti ada korban karena amarahnya.


Diam-diam tangan Raihan mulai mengepal kuat menampilkan ruas jarinya yang memutih. Pria itu tersenyum, apa yang sebenarnya terjadi semalam Raihan tahu semuanya. Bahkan Raihan tahu Shasa kembali melepas bajunya seolah dirinya tidak kemana-mana.


***


Masih dengan apartemen yang sama, bernomor 92, seorang pria berdarah campuran duduk santai di balkon rumahnya.


Tak lama kemudian terdengar pintu yang terbuka. Alan tersenyum tapi masih berada di posisi yang sama.


"Selamat pagi, Tuan" sapa Alan kepada pria yang saat ini sedang berdiri disebelah kanannya.


"Jauhi istriku!"


Alan mengernyitkan dahinya lalu memutar tubuhnya kesamping. Dilihatnya pria yang sudah sah menjadi suami dari sahabatnya, kesalahan besar Shasa memilih pria bertopeng ini menjadi pendamping hidupnya.


"Mau teh atau kopi?" tanya Alan berdiri ingin mengambilkan tamunya minuman. Baru satu melangkah, kerah kemeja putihnya ditarik kuat oleh Raihan.


"Jauhi Shasa!"


Kerah baju Alan semakin ditarik kuat oleh Raihan. Sedangkan Alan hanya diam memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulut pria pembohong besar.


"Atas dasar apa?" ucap Alan disertai senyum mengejeknya.


BUGH!


Sebuah pukulan keras mendarat tepat di pipi kiri Alan. Setelah memberi bogem mentah diwajah Alan, Raihan melepas cengkeramannya lalu beranjak pergi dari tempat yang telah membuat emosinya naik.


"Heh, kedokmu tidak lama lagi pasti akan terbongkar" ucap Alan tersenyum sembari mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


***

__ADS_1


"Kamu darimana?"


Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari bibir Shasa. Setelah meninggalkan Raihan sendirian, ternyata saat kembali pria itu sudah tidak ada dikamar.


"Menemui orang yang kamu temui semalam" jawab Raihan jujur, Raihan melepaskan jaket yang dikenakannya kemudian memeluk Shasa dari belakang. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit menjadi objek pengelihatan dua orang itu.


"Jangan ulangi lagi, kalau kamu mau ketemu teman pria kamu, ajak Aku yah" bisik Raihan ditelinga Shasa, membuat wanita itu merasa geli.


"Maaf"


"Iya, Aku maafin kok"


Shasa tersenyum setelah Raihan mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya. Bagi Shasa punya suami sesabar dan sebaik Raihan itu sebuah berkat terindah dalam hidupnya. Berkat yang sepertinya tidak seimbang dengan perbuatannya selama ini.


Pernikahan yang awalnya hanya karena ketidaksengajaan kini lambat laun berubah menjadi pernikahan dalam arti yang sesungguhnya. Arti kebahagiaan yang selama ini diartikan sebagai sesuatu mustahil kini telah berubah. Hanya dengan melihat Raihan, Shasa bisa merasakan apa itu kebahagiaan.


***


Satu minggu berlalu, hari ini adalah hari terakhir Shasa berada di Italia tepatnya di Roma. Ada banyak perubahan yang terjadi pada hubungannya dengan Raihan dan Shasa bahagia akan hal itu. Tetapi Shasa juga merasa berat karena harus berpisah dengan Alan.


"Raihan"


"Hmm"


"Aku pamitan sama Alan yah"


Shasa bergelayut manja pada bahu Raihan yang selama ini menjadi senderannya. Bertingkah sebaik mungkin agar pria yang berstatus sebagai suaminya itu mengijinkannya untuk berpamitan dengan Alan.


"Kenapa? lagian Aku juga nggak mungkin selingkuh sama dia"


Raihan menggelengkan kepalanya, siapa coba yang tidak cemburu ketika wanitanya ingin menemui pria lain. Bukan hanya itu, Raihan takut kalau Alan mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya kepada Shasa.


Muach


Kecupan mesra Raihan layangkan pada pipi wanitanya, perlahan Raihan memutar tubuh Shasa menghadap ke arahnya.


"Kamu nggak boleh deket-deket sama pria lain" ucap Raihan sembari menyelipkan rambut Shasa yang berantakan. Dilihatnya wajah cantik istrinya, wajah yang dulunya garang kini berubah menjadi manja.


"Tapi dia cuma temen Aku, Raihan" kekeh Shasa menyingkirkan tangan Raihan yang menyentuh pipinya.


"Baiklah, tapi Aku juga ikut"


Daripada tidak sama sekali, Shasa menyetujui permintaan Raihan. Padahal Shasa ingin sekali berbicara empat mata bersama Alan.


***


Tok tok tok


Pintu terbuka seorang pria tersenyum, lalu mempersilahkan tamunya masuk. Tapi saat tahu ada orang lain dibelakang Shasa, pria itu langsung menampilkan wajah datarnya.


Kenapa orang ini juga ikut?

__ADS_1


"Silahkan masuk, anggap seperti rumah sendiri"


Shasa duduk diujung sofa kemudian disusul Raihan yang duduk di sebelahnya, tapi semakin lama semakin mendesaknya hingga membuatnya benar-benar tersudut diujung sofa dan tidak bisa bergerak.


"Silahkan diminum" ucap Alan menyodorkan dua minuman segar diatas meja, Shasa mengangguk lalu melirik kearah Raihan yang mencegah tangannya mengambil minuman itu.


"Tenang saja minumannya tidak ada racunnya"


"Iya tahu kok, gak mungkin kan mau bunuh Aku"


"Akh!"


Suara pekikan itu membuat Alan tertawa, seolah tahu apa yang sedang terjadi. Ujung runcing high heels Shasa masih cantik menangkring diujung sepatu yang Raihan kenakan setelah menginjak kaki besar itu dengan kekuatan full.


Salah siapa membuatnya menjadi merasa tidak nyaman dan tidak enak kepada Alan. Langsung saja Shasa memberikan sedikit pelajaran kepada Raihan agar tahu kalau saat ini bukan saatnya untuk cemburu.


Sementara itu wajah Raihan nampak masam mendapat perlakuan mendadak dari istrinya. Tidak boleh ada pria lain yang membuat Shasa menjadi nyaman kecuali dirinya, itulah yang dipikirkannya saat ini. Tapi apa, Shasa malah menginjak kakinya menggunakan high heels 5 cm yang dikenakannya.


Lama sekali Shasa mengobrol dengan Alan, sampai lupa kalau disini itu ada dirinya juga. Ingin sekali Raihan menghentikan pembicaraan tanpa arah yang sedang dilakukan oleh istrinya ini.


"Selamat tinggal yah, semoga kita bisa ketemu lagi" ucap Shasa dengan raut wajah sedih.


"Tenang saja, kalau kamu pengen ketemu Aku, Aku masih disini dengan alamat rumah yang masih sama"


Semoga mereka tidak bisa bertemu lagi!


Shasa beranjak berdiri kemudian mendekat kearah Alan, tanpa diduga Alan malah ikut berdiri lalu memeluk Shasa.


"Sampai jumpa kembali" bisik Alan pelan agar Raihan tidak mendengarnya.


"Shasa ayo berangkat, maaf Tuan Alano kami tidak bisa berlama-lama" Raihan menarik tangan Shasa, membuat pelukan perpisahan itu harus berakhir.


"Baiklah, berhati-hati lah Sha"


"Iya" jawab Shasa singkat mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sedihnya.


Saat Shasa keluar duluan, Raihan berbalik lalu menatap Alan datar.


"Jaga diri mu sendiri, kawan" ucap Raihan menekankan setiap kalimat yang diucapkannya.


"Ya terimakasih, pembohong besar" sahut Alan mengecilkan suaranya saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


Setelah kepergian Shasa dan Raihan, tangan Alan mengepal kuat tapi sesaat kemudian Alan tersenyum.


"Jangan khawatir Shasa, tak lama lagi kamu pasti tahu siapa orang yang kamu nikahi" gumam Alan menatap bingkai foto, dimana difoto itu Shasa nampak sangat bahagia.


***


Thor boleh ngemis like sama fav nggak?


Hehe becanda kok, yang mau ya silahkan kalau nggak mau juga nggak apa-apa ༎ຶ‿༎ຶ

__ADS_1


__ADS_2