
Shasa menutup pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan Allin yang masih terlelap. Jemarinya menyetuh dahi Allin sebentar kemudian mengecupnya sekilas. Perasaannya sekarang lebih tenang mengetahui suhu tubuh Allin mulai menurun. Shasa menarik kursi disampingnya kemudian duduk tanpa mengalihkan tatapanya dari Allin. Semakin lama tatapannya semakin tidak fokus pada satu hal saja, sehingga tanpa sadar Shasa larut dalam lamunannya.
Percakapan antara dua suster yang tidak sengaja didengarnya tadi membuat pikirannya berkecamuk. Apa yang membuat orang itu sampai melakukan hal gila yang dirinya dulu juga hampir melakukannya.
Rasa khawatir tak kentara itu perlahan menyusup kedalam hatinya. Entah mengapa perasaan itu bisa muncul tanpa seizin darinya. Dalam hidupnya ia tidak pernah memikirkan orang yang tak dikenalnya apalagi orang asing hingga membuat pikirannya kalut sampai seperti ini.
Lamunan Shasa buyar ketika Allin memanggilnya beberapa kali dengan mata berkaca-kaca. Belum sempat Shasa membuka suaranya, air mata Allin menetes begitu saja, membasahi bantal yang digunakannya.
"Loh Allin kenapa nangis nak, badannya Allin ada yang sakit ya sayang?" dengan cepat Allin menggelengkan kepalanya, satu isakan lolos dari bibir mungilnya. Shasa hendak berdiri umtuk memanggil suster namun Allin malah menggenggam tangannya.
"Allin p-pengen ketemu sama om Han... Allin kangen main bareng sama om Han, Allin pengen dijenguk sama om Han_,"
Tidak tega melihat Allin yang menangis tergugu, Shasa memeluk Allin lalu menepuk-nepuk punggung Allin agar tangisannya segera mereda. Ini bukan kali pertama putrinya menyebutkan nama yang terdengar tidak asing ditelinganya. Bagaimana bisa Allin mengenal orang asing tanpa sepengetahuannya dan mengapa orang itu bisa membuat Allin sampai menangis ingin bertemu dengannya.
***
"Seharusnya kita tidak bertindak sejauh ini tanpa sepengetahuan Shasa" Carol menjeda kalimatnya, tatapannya tajam melihat Alan yang tidak menggubrisnya sama sekali. Pria itu terlihat lebih mementingkan laptopnya daripada dengan dirinya. Saat ini ia tengah gusar memikirkan keadaan Shasa yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Sedangkan Alan terlihat santai seperti biasanya.
"Alan dengarkan aku sebentar, sebaiknya kita menghentikan permainan ini. Aku tak perduli apakah Allin akan bertemu dengan Raihan atau tidak. Biarkan saja gadis kecil itu tidak tahu siapa ayahnya selamanya. Aku tidak tega jika membiarkan mereka jauh tanpa pengawasan kita"
Rengekan Carol berhasil membuat konsentrasi Alan buyar seketika, pria itu menghembuskan napasnya jengkel.
Cerewet sekali Carol, pikirnya.
__ADS_1
"Sayang.. kau pikir membujuk Shasa semudah membalikkan telapak tangan?" Sahut Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya. "Lagipula Shasa bisa melindungi dirinya sendiri, tanpa pengawasan dari kita"
Alan menutup laptopnya kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Carol. Membiarkan Carol berbicara terlalu lama bisa membuatnya benar-benar melakukan yang diucapkan wanita itu, dan ia tidak mau jika harus memohon-mohon kepada Shasa seperti saat ia meminta wanita itu menerima tawarannya. Alan berjalan kearah Carol kemudian memegang kedua pundak wanita didepannya. Ditatapnya wanita yang dicintainya itu.
"Setelah aku harus memasang tampang semenyedihkan mungkin dihadapannya, dan kau menyuruhku untuk membuat Shasa kembali? itu mustahil, Carol" Alan mengehentikan kalimatnya sejenak, kemudian mengalihkan tatapannya kesembarang arah.
"Sekalipun aku mencoba untuk menyuruh Shasa kembali, wanita itu tak akan pernah menurut. Uang muka yang sudah kuberikan kepadanya cukup untuk membuatnya tetap pada misi awalnya"
"Ayolah sayang... kumohon, please!"
"Kenapa kau tidak mencobanya saja sendiri?" Carol mengerutkan dahinya, dirinya merasa tertantang dengan kaliamat yang Alan ucapkan barusan.
"Oke, siapa takut!" jawab Carol dengan nada yang sangat yakin Shasa akan luluh dengan bujuk rayunya.
***
"Baik Dok terimakasih, permisi"
Shasa berjalan dengan langkah pelan setelah keluar dari ruangan dokter yang menangani Allin. Setidaknya dua atau tiga hari lagi Allin baru diijinkan pulang, perasaannya saat ini sedang campur aduk. Khawatir dengan kondisi Allin sekaligus dengan pekerjaannya yang ia tertunda. Ia tidak bisa menunda pekerjaannya lebih lama lagi, semakin lama ia menunda pekerjaannya maka akan semakin lama juga ia harus tinggal disini.
Meskipun kemungkinan besar kekhawatirannya selama ini tidak akan terjadi, tapi tetap saja ia bisa bertemu dengan orang-orang dari masalalunya. Shasa khawatir jika orang-orang itu masih mengenali dirinya. Getaran yang berasal dari saku celananya membuat Shasa tersadar dari lamunannya. Dengan cepat Shasa mengeluarkan benda berbentuk persegi itu dan mengangkat panggilan yang ternyata dari rekan kerjanya.
Terlalu fokus dengan pembicaraannya, Shasa sampai tidak sadar telah melewati kamar tempat Allin dirawat. Oh astaga, hampir saja aku salah kamar. Ucap Shasa dalam hati ketika tangannya hampir memutar gagang pintu didepannya. Akhir-akhir ini pikirannya menjadi bercabang kemana-mana, sehingga fokusnya menjadi berkurang dan melakukan beberapa kecerobohan.
__ADS_1
Disaat Shasa mendongakkan kepalanya, terdapat nomor kamar bernomorkan 210. Ingatannya langsung berputar pada kejadian tadi pagi saat tak sengaja menguping pembicaraan suster. Dikamar inikah orang yang gagal bunuh diri itu dirawat? tanya Shasa pada dirinya sendiri. Baru saja Shasa ingin beranjak meninggalkan tempatnya berdiri, seorang suster datang menyapanya dengan ramah.
Shasa menanggapi dengan alakadarnya, ia hendak mengundurkan diri namun ucapan suster berhasil menghentikan niatnya.
"Mau menjenguk keluarganya ya bu?"
Shasa mengangguk ragu, rasa penasarannya yang begitu besar membuatnya melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Akal sehatnya sudah berupaya keras untuk menghentikannya, namun tubuhnya enggan beranjak dari situ.
"Keadaanya bagaimana sus?" Shasa terdiam sejenak, memikirkan kalimat pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan, dan bukannya menjawab pertanyannya suster malah mengajaknya masuk untuk melihatnya sendiri. Shasa semakin merasa apa yang dilakukannya salah, namun rasa penasarannya masih belum selesai, ia ingin tahu lebih jauh lagi.
Suster yang melihat Shasa tidak beranjak sedikitpun merasa curiga, biasanya orang yang ingin menjenguk teman atau keluarganya pasti tidak sabar untuk masuk. Berbeda dengan wanita didepannya ini, dari tatapan matanya wanita didepannya terlihat seperti ragu.
"Maaf, ibu ini siapanya pasien ya?"
Pertanyaan singkat dari suster membuat Shasa menjadi semakin gugup luar biasa. Lalu, entah mendapatkan bisikan darimana, sebuah kalimat terucap begitu saja dari bibirnya. Tanpa rasa ragu dan tanpa rasa bersalah.
"Saya istrinya sus" ucap Shasa diakhiri dengan senyum tipis yang berhasil membuat suster didepannya percaya begitu saja.
Namun pada detik berikutnya, senyum Shasa lenyap begitu saja, disaat suster memaksanya untuk ikut masuk kedalam. Mati sudah dirinya sekarang. Bagaimana jika pria didalam sedang terjaga dan mengetahui sandiwaranya yang memalukan ini. Atau kemungkinan paling besar adalah, bagaimana jika ada keluarga pria itu didalam. Mau ditaruh mana nanti mukanya.
Kini ia sadar dengan sepenuhnya, terlalu ikut campur urusan orang lain sama saja dengan mempermalukan diri sendiri dan memasukkannya kedalam masalah yang seharusnya tidak terjadi jika dirinya bisa menahan rasa penasarannya.
Jantungnya berdebar kencang saat suster membuka pintu ruangan didepannya, keringat dingin membasahi dahinya. Haruskah ia kabur sekarang, atau tetap melanjutkan sandiwaranya.
__ADS_1