
Saat Aku sudah sampai di halaman depan rumah, Nenek segera menghampiriku lalu menempelkan punggung tangannya didahi ku.
"Apakah kepalamu pusing?"
"Berdenyut?"
"Mual?"
"Muntah?"
"Nenek sudah bilang, jangan kemana-mana! kesehatanmu harus dijaga!"
Aku diam saja mendengarkan pertanyaan Nenek yang tak ada jedanya sama sekali. Nenek terlihat sangat peduli padaku, walaupun kepeduliannya terlalu berlebihan.
"Ayolah Nek, Aku baik-baik saja" ucap ku tenang sembari menggandeng tangan Nenek untuk mengajaknya duduk di teras depan.
"Bagaimana Kau bisa baik-baik saja, kemarin demam mu sangat tinggi sampai membuat Nenek jantungan, ingat bukan?"
"Itu kemarin Nenek, sekarang Shasa sudah seratus persen sembuh" jawabku sembari tersenyum halus, Nenek hanya bisa memijit pelipisnya.
"Terserah, ingat! kesehatan mu lebih penting daripada pekerjaan mu yang tidak seberapa itu"
Tunggu-tunggu kenapa Nenek malah menyinggung tentang pekerjaanku. Tentu saja Aku tersinggung, dalam hal ini Aku memiliki dua pekerjaan sekaligus dan Nenek meremehkan pekerjaanku.
__ADS_1
Diam-diam Aku kesal, bukannya tidak menghargai nasehat dari Nenek. Tetapi perkataan Nenek seolah sedang menyindirku secara halus.
***
Normal POV
Ditengah gelapnya malam, seseorang dengan tangan besarnya memungut tangkai mawar yang kelopak bunganya masih terlihat segar.
Tangan itu memungutnya dengan hati-hati agar duri tajam dari sang mawar tidak melukai tangannya.
Orang itu terdiam dengan sejuta misteri didalamnya. Tak ada senyum ataupun perubahan lain pada wajahnya, orang itu benar-benar diam dengan wajah datar.
***
Sepuluh menit berlalu dan Shasa masih diam memandangi rumput aneh dibelakang rumahnya. Kedua tangannya ia silangkan didepan dada, dengan tubuh menyender disamping tembok.
Shasa berjongkok kemudian mencungkil tanah didepannya menggunakan batu kerikil yang berada tak jauh dari posisinya.
Tak!
Batu itu mengeluarkan suara aneh ketika diadu dengan tanah didepannya. Hanya orang bodoh yang tidak mencurigai ada suara aneh ketika batu kerikil mengenai tanah itu.
Sedikit demi sedikit, Shasa mulai mencongkel semua bagian tanah aneh yang tertutupi oleh rumput.
__ADS_1
Shasa tidak terkejut ketika menemukan kayu tebal dibawah tanah itu. Mengapa ada kayu yang dikubur secara rapi dibelakang rumah?
Kayu itu terlihat kokoh dengan ketebalan sekitar tujuh centimeter. Shasa mengorek seluruh permukaan tanah diatas kayu itu, sehingga terlihat sangat jelas bahwa kayu ini memang sengaja ditanam.
Diujung dan pinggiran kayu tersebut terlihat besi penyangga. Shasa melihatnya dengan teliti setiap centimeter dan setiap ujung ke ujung.
Shasa memegang ujung kayu kemudian mencoba untuk mengangkatnya. Tapi sayangnya, kayu itu terlalu berat jika diangkat dengan satu tangan.
Baru saja tangan kirinya ia letakkan pada ujung kayu tersebut, mata Shasa membulat. Jantungnya bekerja dua kali lipat setelah mendengar suara mobil masuk ke halaman depan rumah.
Itu pasti Nenek dan Raihan yang baru saja pulang dari acara yang mengharuskan Nenek untuk menghadirinya.
Shasa sudah panik tidak karuan, segera ditutupnya kembali kayu itu dengan tanah. Membuang batu kerikil yang digunakannya, kemudian beranjak untuk berdiri.
Saat Shasa membalikkan badannya, wanita itu terdiam dengan kedua tangan yang kotor. Pria itu berdiri tak jauh dari tempatnya.
Raihan tidak tersenyum ataupun menyapa Shasa, pria itu membisu dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
Jantung Shasa semakin berdetak kencang ketika Raihan perlahan mendekatinya. Pria itu diam namun terlihat semakin menakutkan.
"Rai.. han" sapa Shasa berusaha untuk bersikap seolah sedang tidak ada yang terjadi. Tetapi hal itu makin membuatnya menjadi aneh. Suaranya mengecil disertai peluh dan bibir bawahnya yang tidak bisa diam.
"Apa yang kau lakukan?"
__ADS_1
Raihan, pria itu bertanya dengan santai tapi terdengar dengan jelas suaranya agak berbeda dengan biasanya. Kedua tangannya masih dimasukkan kedalam kantung celananya.
"A-Aku__,"