
Shasa menggeliat, sinar matahari yang masuk melalui jendela dan pintu kaca transparan membuat tidur nyenyaknya terganggu.
Hampir saja dirinya akan berteriak keras karena diperutnya ada sebuah lengan besar yang melingkar dengan posesif.
Raihan?
Kejadian tadi malam terlintas begitu saja ketika menyebut nama Raihan. Perlakuan kasar dan tak berperasaan Raihan tadi malam membuatnya menjadi agak resah dan takut kalau Raihan melakukannya lagi.
Apalagi saat ini dirinya masih memakai pakaian terbuka yang dipakai tadi malam. Sejahat, sekejam, dan sekuatnya seorang Shasa pasti juga memiliki kelemahan, karena sudah menjadi rahasia umum kalau wanita itu tidak sekuat seorang pria.
Sangat pelan dan perlahan Shasa mencoba untuk menyingkirkan lengan besar itu dari perutnya, rasanya tak nyaman berada diposisi seperti ini.
Apalagi kejadian tadi malam membuatnya menjadi bingung akan bersikap bagaimana dengan Raihan nantinya.
"Lima menit lagi, kumohon"
Racau Raihan mengeratkan pelukannya pada perut rata Shasa. Matanya masih terkatup rapat tapi bibirnya bisa tersenyum lebar, mau tidak mau Shasa kembali merebahkan dirinya disamping Raihan.
Jika diamati lebih detail lagi wajah Raihan bisa dikatakan tampan, sangat tampan malahan. Tangan Shasa terulur ingin menyentuh bibir merah yang semalam pernah ia cecap, Shasa mengurungkan niatnya tangannya kembali berangsur menjauh.
Tapi sebuah tangan besar tiba-tiba menggenggam tangannya lalu menempelkan diwajah yang matanya masih menutup itu.
"Aku tahu, Aku tampan!"
Terbukalah mata dengan manik hitam pekat itu, Shasa terdiam menikmati tatapan kasih sayang dari suaminya.
"A-aku, A-ku"
Sialan, kemana perginya Shasa yang kejam, dingin dan tak berperasaan itu? kenapa berubah menjadi Shasa yang gagap dengan wajah yang terlihat salah tingkah.
Raihan terkekeh pelan lalu mempererat pelukannya, wajahnya berubah menjadi sendu ketika ingat kejadian semalam.
"Maafkan Aku tadi malam, Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu" ucap Raihan tulus sembari mengusap kepala Shasa pelan namun penuh dengan kasih sayang.
Entah dapat dorongan dari mana, Shasa mengangguk pelan menandakan dirinya telah memaafkan kesalahan Raihan. Sebenarnya tadi malam itu bukan salah Raihan sendirian, karena dirinya juga ikut menjadi api yang menyebabkan asap.
"Terimakasih"
Shasa mendongak menatap wajah tampan Raihan, saat itu juga ia tersenyum simpul. Lihatlah berapa beruntungnya dirinya bisa menjadi istri dari seorang yang super duper sangat baik seperti Raihan.
"Apa Aku terlalu tampan?"
"Tidak kau ter__,"
"Shasaaaa! Raihaaaaaan! bangun Nak udah siang" Teriakan Nenek dari balik pintu membuyarkan suasana romantis pagi hari yang telah tercipta diantara pasangan pengantin baru itu.
Teriakan keras dari luar tentu saja membuat Shasa sadar diri kalau seharusnya yang mengurus rumah itu dirinya, bukan lagi nenek.
__ADS_1
Guyuran hangat dari air shower sungguh membuat pikiran Shasa sedikit tenang, tak lagi merasa ketakutan ataupun gelisah.
Kaca besar yang menggantung di kamar mandi memantulkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna. Seandainya tadi malam Raihan benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan nafsunya, entah apa yang akan terjadi pada tubuh mulusnya ini.
Shasa menggelengkan kepalanya mencoba untuk mengusir bayangan saat Raihan menindihnya, ada sesuatu yang mengganjal tadi malam!!
"Astaga, apa yang telah aku pikirkan!"
Kemeja putih press body dengan rok span hitam dibawah lutut dijadikan outfit Shasa hari ini. Make up natural dan rambutnya yang dicepol menjadikan penampilan Shasa lebih fresh daripada hari-hari biasanya.
Hampir saja Shasa lupa kalau tas dan handphonenya tertinggal di club malam.
"Semoga saja Evan membawanya pulang"
Aih, merepotkan saja gegara handphone miliknya yang tertinggal sekarang ia harus memesan taksi online lewat apa coba?
Meminta Raihan mengantarnya pergi ke kantor?
Mana mungkin hal itu terjadi, sekarang saja pria bernama Raihan itu sedang tidak berada di rumah. Katanya sih, tadi pergi ke masjid sebentar tapi nyatanya sampai satu jam berlalu pria itu belum juga kembali.
Tunggu dulu! Bukankah Raihan juga punya smartphone?
Terpaksa Shasa mengambil benda persegi milik Raihan yang terletak di samping bantal, kenapa tidak dari tadi saja idenya ini ia lakukan. Wajah Shasa sumringah mengetahui hp milik Raihan tidak dipassword.
Dahi Shasa berkerut ketika melihat nama Evan adalah nomor terakhir yang Raihan hubungi.
Dahi Shasa semakin berkerut ketika jam panggilan yang tertera menunjukan waktu yang sama dengan tadi malam saat Evan menerima telepon.
Apakah tadi malam Raihan yang menelpon Evan?
Ah sudahlah, Shasa tak ingin banyak berpikir lagi. Ditekannya nomor Evan kemudian menempelkan smartphone canggih itu di telinganya.
"Ha_,"
"Apa? sekarang Lo udah tau kan kal_,"
"Evan! Gue belum selesai ngomongnya!"
Shasa mendelik kesal, Evan dengan seenaknya memotong ucapannya yang belum terselesaikan. Huh! membuat moodnya semakin hancur saja.
Sementara di sisi lain, Evan menutup mulutnya dengan cepat ketika tau orang yang menelponnya itu bukan Raihan melainkan Shasa.
Hampir saja ia akan mengucapkan kalimat yang bisa saja membuat Shasa terkejut, namun selamat karena Shasa menyela kalimatnya.
"Lo kok pake n-nomornya Raihan?"
Jantung Evan semakin berdetak tak karuan, jangan sampai Shasa tau akan sesuatu hal yang ia sembunyikan.
__ADS_1
"Eh! Lo amnesia tas Gue__,!"
"Iya, iya, ntar Gue bawa ke kantor kok!!
Evan menghela napasnya lega, untung Shasa tidak bertanya hal-hal yang menyangkut tentang ucapannya tadi.
"Sekali_,"
Sreeeet!!
Raihan??
Shasa mengernyit tak paham dengan apa yang Raihan lakukan barusan, tiba-tiba merebut hp yang digenggamnya dengan secara paksa. Ia tahu kalau memakai tanpa ijin itu salah, tapi ia itu istrinya sendiri masa tidak boleh.
Raihan terkejut bukan main ketika melihat Shasa sedang berbicara dengan seseorang menggunakan handphone miliknya, jantungnya berdegup lebih kencang.
Jangan sampai Shasa tau isi didalamnya.
"Bukannya kamu hari ini bekerja, kok belum berangkat ke kantor?" tanya Raihan sedikit gugup, telpon yang tadinya masih tersambung langsung ia matikan.
"Iya"
Shasa melenggang pergi meninggalkan Raihan sendirian di kamar, biarlah ia akan naik angkutan umum saja. Semakin lama harga dirinya semakin tercoreng karena melakukan hal-hal yang tak pernah ia lakukan, contohnya naik angkutan umum.
"Shasa, tunggu!"
Teriakan Raihan berhasil membuat langkahnya terhenti lalu berbalik badan, tatapan bertanya ia layangkan pada pria jakung yang juga menatapnya dengan dalam.
"Ganti bajumu, sekarang!" titah Raihan menunjuk pakaian yang Shasa kenakan dari atas sampai bawah.
Mood Shasa semakin hancur berantakan, apa-apaan ini? tadi seenaknya merebut hp dan sekarang menyuruhnya untuk mengganti baju yang ia kenakan. Ia rasa tak ada yang salah dengan penampilannya, mengapa harus ganti baju lagi?.
"Atau, kau tidak usah pergi ke kantor!"
Raihan menarik tangan Shasa yang saat ini berada dia ambang pintu depan rumah menuju ke dalam kamar. Shasa semakin tak paham dengan semua perlakuan Raihan sejak tadi malam.
"Lo apa-apaan sih!"
Teriak Shasa sembari menghentakkan tangan Raihan yang memegang tangannya, sudah berulangkali ia menahan emosinya agar tidak menyentak ataupun menggertak Raihan.
Tapi kali ini, cukup sudah! perset*n dengan semuanya!
Napas Shasa naik turun, emosinya semakin tak terkendali ketika reaksi Raihan hanya diam dengan wajah super datar. Ingin sekali ia menonjok wajah itu dengan keras, tapi sungguh ia masih menghargai Raihan sebagai suaminya.
Beberapa saat tak ada jawaban dari pria dihadapannya, Shasa berbalik untuk segera pergi dari hadapan Raihan agar emosinya tidak lagi tersulut. Tetapi hentakan keras yang menarik lengannya membuat Shasa berbalik hingga menubruk dada bidang nan keras itu.
"Sha_,"
__ADS_1