
Keesokan harinya
"Thanks, udah bawain koper gue kesini"
"Lo beneran mau tinggal disini?" tanya Evan meyakinkan, kemarin setelah ia pulang ke Markas ternyata Shasa menelponnya untuk membawakan koper beserta isinya ke rumah Raihan.
Jadilah sekarang Evan menghantar sebuah koper sedang berisi pakaian, make up, beserta keperluan lainnya milik Shasa yang dikemas menjadi satu di dalam koper berwarna hitam.
Awalnya Raihan terkejut melihat Evan pagi-pagi bertamu kerumahnya sambil membawa sebuah koper. Tadinya ia pikir Evan akan tinggal dirumah juga namun dugaannya salah karena Evan hanya menghantarkan koper milik istrinya.
Apa jadinya jika Evan memang benar-benar akan tinggal dirumahnya?
"Iya Gue beneran, lagian ngapain Gue suruh Lo nganter ni koper kalo Gue gak tinggal disini" tutur Shasa menjelaskan, hadeuh otak Evan ketinggalan dimana coba? udah jelas malah nanya mulu.
"Lo beneran mau tinggal dirumah jelek ini?" tanya Evan sekali lagi, barangkali Shasa berubah pikiran untuk pulang ke markas dan tidak jadi tinggal dirumah Raihan yang menurutnya agak jelek bukan JELEK.
Rumah saya jelek? Bagusan rumah saya ketimbang muka dia
Sudah tidak dianggap dari tadi sekarang malah rumahnya dihina, tamu macam apa coba?
Raihan mendengus kesal sejak kedatangan Evan kerumahnya dirinya sama sekali tidak dianggap oleh Evan maupun Shasa. Padahal mereka bertiga duduk di ruangan yang sama.
Shasa dan Evan mirip orang pacaran gitu, sedangkan Raihan dijadikan sebagai Lalat pelengkap kencan.
"Mulut Lo pengen ditampol ya?"
Sarkas Shasa membuat Evan terdiam, lebih baik menutup mulutnya daripada harus menerima sebuah ciuman dari sepatu atau sandal milik Shasa.
"Eh, ada tamu ya?"
Mereka bertiga pun kompak menoleh kearah sumber suara, Evan menatap Nenek tidak suka, entahlah setiap kali melihat Nenek rasanya seperti melihat seorang musuh.
"Sssst, Van!" Cicit Shasa pelan sembari menyenggol kaki Evan, ia merasa tidak nyaman karena tatapan Evan tidak sopan kepada Nenek. Tatapan tajam dan menantang seperti saat Evan memandang para musuhnya.
"Gue balik yah"
Pamit Evan menatap Shasa seolah memberi jawaban atas tatapan tajamnya tadi kepada nenek. Saat Evan berdiri Shasa pun ikut berdiri memperhatikan wajah sahabatnya yang nampak khawatir.
"Be careful!" bisik Evan sembari memeluk Shasa sebentar sebagai salam perpisahan, kemudian pergi meninggalkan rumah Raihan dengan tergesa-gesa, entahlah perasaan Shasa menjadi tak enak melihat gelagat Evan.
__ADS_1
"Ah iya, mumpung kalian tidak punya kerjaan mending belanja bulanan gimana?" ucap Nenek masih di tempat yang sama, sedangkan Raihan dan Shasa masih sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Heiii? Cucu-cucu Nenek kalian mau atau tidak?"
Menyadari tak ada satupun yang menjawab Nenek mulai geram karena pasangan didepannya tampak seperti tubuh tanpa jiwanya, hanya diam saling memandang tanpa menggubris apa yang barusan ia katakan.
"Baiklah, kami ganti pakaian dulu" jawab Raihan sembari menyeret koper milik Shasa meninggalkan nenek dan Shasa yang masih diam ditempat.
"Nak, jangan buat Raihan kecewa yah?" tutur Nenek menepuk pundak Shasa lalu berjalan meninggalkan Shasa sendirian di ruang tamu.
***
"Kami berangkat dulu Nek, Assalamualaikum" ucap Raihan sebelum benar-benar melajukan mobilnya menjauhi pekarangan rumah.
"Waalaikumsalam" jawab nenek memperhatikan mobil cucunya mulai menjauh hingga tak terlihat lagi.
Astaga, melihat kedua cucunya Nenek merasa sangat bahagia bisa membuat dua orang berlawanan sifat itu bersatu pada sebuah ikatan sakral.
Akan tetapi suatu hal membuat nenek sedikit gelisah, pertemanan Evan dan Shasa bisa menjadi ancaman pernikahan cucunya.
Mereka harus dipisahkan!!
***
"Lihatlah! yang satu terlihat alim tetapi yang satunya terlihat urakan!"
"Iya iya, apakah mereka sepasang suami istri?"
"Ya ampun kasihan si pria nya harus berjalan bersama wanita urakan itu"
Shasa meremas kaleng soda yang baru saja ia ambil dari pendingin, sekarang dirinya mengerti mengapa sejak memasuki mall banyak yang memandang dirinya aneh.
Apakah karena penampilannya?
Shasa memakai celana jeans hitam dengan model dibagian lutut robek, dipadukan dengan kaos hitam berbalut jaket denim warna hitam dengan motif tengkorak pada bagian belakangnya.
Sedangkan Raihan memakai baju koko dan sarung, pastinya yang pantas berada disisi Raihan adalah seorang muslimah bukan dirinya yang bahkan tak pernah memakai hijab.
Apalagi sekarang ia hanya mengurai rambut panjangnya ditambah kaca mata hitam bisa membuat orang disekitarnya menilai dirinya seorang wanita urakan.
__ADS_1
"Tidak usah didengarkan!" ucap Raihan sembari merebut kaleng soda dari tangan Shasa lalu memasukannya kembali kedalam pendingin.
"Kembalikan sodaku!" ucap Shasa datar sembari kembali membuka pendingin, namun ditahan oleh Raihan.
"Jangan terlalu banyak minum soda, tidak baik untuk kesehatanmu" tutur Raihan kemudian menggandeng paksa tangan Shasa lalu menjauh dari mesin pendingin dan juga meninggalkan orang sekitar yang bergerombol mengawasi tingkah laku Shasa yang urakan. Begitulah pikir orang-orang itu.
Disinilah mereka sekarang memilih apa saja sayuran yang akan dimasukan kedalam troli. Sebenarnya bukan Shasa yang memilih karena sejak tadi Raihan yang menentukan mana yang akan dibeli, sedangkan Shasa hanya mengekor dibelakang.
Bruk
"Awwhh"
Karena tidak memperhatikan jalan didepannya Shasa sampai menabrak pungung bidang milik Raihan, sedangkan Raihan hanya terkikik geli melihat Shasa salah tingkah diperhatikan beberapa orang yang juga sedang berbelanja sayur.
"Udah belum?" tanya Shasa memastikan kakinya lelah jika harus mengikuti Raihan terus.
"Bentar lagi, kamu capek?" tanya Raihan balik
"Ah tidak, Aku hanya bosan mengikutimu terus" jawab Shasa dengan tampangnya yang merajuk, bibirnya mengerucut menatap Raihan meminta untuk segera pulang.
"Lihat lah! betapa manisnya istriku" ucap Raihan mencubit kedua pipi Shasa.
Entahlah rasanya sangat menyenangkan melihat Raihan tersenyum seperti itu, sangat menyejukkan
"Permisi" ucap seorang wanita paruh baya menyadarkan Raihan untuk menyingkir dan memberikan wanita itu jalan.
Setelah mengantre di kasir Raihan menenteng dua kantong belanja sedangkan Shasa hanya membawa satu barang yaitu kunci mobil.
"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Raihan sembari memasukan dua kantong kedalam bagasi.
"Entahlah?" jawab Shasa seadanya, saat ini memang belum kepikiran untuk pergi kemana.
Raihan memutari mobil untuk duduk di kursi kemudi tetapi tiba-tiba Shasa melarang dan menyuruhnya untuk duduk di sebelah kemudi. Karena Raihan tipe pria yang menurut jadi ya ia berbalik lalu duduk di kursi sebelah kemudi dengan tenang berbeda dengan Shasa yang pecicilan.
BRAKK!!
Shasa menutup pintunya sangat keras lalu duduk mencari posisi yang nyaman, Raihan yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya. Untung pintu mobilnya tidak copot karena ulah Shasa.
"Oke siap?" ucap Shasa memasang seat belt untuk keamanan dirinya, bibirnya tersenyum memperlihatkan wajah sinisnya.
__ADS_1