
"Huuuuft"
Shasa menghembuskan nafas lega, pekerjaannya menjadi babu sementara telah selesai. Piring dan peralatan makan lainnya telah ia cuci, meja makan juga telah ia bersihkan.
Tidak begitu melelahkan sebenarnya tetapi karena ini kali pertama membersihkan setelah sekian lama tidak mengerjakan ya tetap saja terasa melelahkan.
"SHASAAAA!"
"Oh astaga!" pekik Shasa bergidik kaget, suara lantang Raihan mengejutkannya. Lagipula ruang keluarga berdekatan dengan ruang makan mengapa pria itu berteriak seenaknya.
Dengan rasa penasaran tinggi Shasa menghampiri Raihan yang tengah duduk menghadap ke televisi sembari memakan cemilan yang kelihatannya semacam kue kering.
"Apa?" tanya Shasa dengan wajah penasaran, Raihan yang mendengar Shasa bertanya malah balik bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Kau memanggilku kenapa!!" jawab Shasa lumayan berteriak, sangat mengesalkan dipermainkan seperti ini.
Ah Shasa malah ingat saat pelayan di markas nya juga pernah ia perlakukan sama seperti yang Raihan lakukan sekarang. Ternyata rasanya tidak enak dan tentu saja membuat orang menjadi kesal, tetapi pelayan nya saat itu masih saja menurut dan tidak membantah.
"Apa aku memanggilmu?" tanya Raihan wajahnya dibuat-buat seperti orang kebingungan.
"KAUU!!!"
"Hahaaa, maaf aku hanya bercanda, tolong buatkan aku salad buah!" titah Raihan mengibaskan tangannya, Shasa yang diperlakukan seperti babu sungguhan merasa tidak percaya dengan ucapan Raihan barusan.
Whaaat? Apa-apaan ini!
"Apa kau sedang memerintahku? akan ku ingatkan sekali lagi dan buka telingamu dengan lebar! AKU BUKAN PELAYANMU jadi buatlah sendiri! lagipula kau juga punya tangan dan kaki"
Shasa membantah Raihan, enak saja memerintah Mafia Queen seperti dirinya. Seharusnya ia yang dilayani dengan baik bukan malah melayani seperti seorang babu.
Konsentrasi Raihan pecah mendengar ocehan Shasa, ia bukan sedang menghayati apa yang istrinya katakan melainkan sedang menatap wajah Shasa sangat detail bahkan ia sampai bisa melihat peluh di dahi istrinya.
"Oh Astaga!"
Badan Shasa terhuyung kedepan lalu jatuh tepat diatas pangkuan Raihan.
Siapa lagi jika bukan Raihan yang menariknya?
Sepersekian detik mereka berada di posisi yang sangat begitu menyenangkan. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut masing-masing, tatapan mereka seolah sudah mewakili mulut mereka bicara.
Raihan menyeka peluh yang membasahi dahi istrinya, jemari panjangnya perlahan turun mengusap pipi mulus Shasa. Hmm Shasa menutup kedua matanya merasakan jemari Raihan menjelajahi wajahnya.
"Minggir!"
Tiba-tiba Shasa menepis tangan Raihan dari wajahnya, kesadarannya kembali utuh ketika jempol Raihan hampir menyentuh bibirnya.
__ADS_1
Bukannya minggir Raihan malah menarik Shasa lebih dekat kearahnya, bahkan jarak diantara mereka sudah hilang termakan suasana.
"Ssssssst! diamlah tubuhmu tidak berat, aku bisa memangku mu berjam-jam" bisik Raihan hampir tidak bersuara karena terlalu pelan.
Raihan meraih kepala Shasa untuk menyender pada bahunya. Entah kerasukan setan dari mana Shasa dengan patuhnya menyenderkan kepalanya pada bahu Raihan.
Belaian kecil yang Raihan lakukan pada rambut bagian belakangnya membuat Shasa semakin tenang dan rileks.
Amarahnya meluap entah pergi kemana. Suara detak jantung Raihan sudah seperti lagu tidur untuknya, kedua tangannya melingkar sempurna pada leher Raihan.
Begitu pula dengan Raihan, satu tangannya yang lain merengkuh pinggang Shasa erat sedangkan yang lainnya masih mengusap pelan rambut istrinya.
Tak terasa waktu terus berjalan tanpa memperdulikan siapapun yang mengejarnya, termasuk pasangan baru yang masih suka malu-malu kucing.
Shasa dan Raihan terlelap di ruang keluarga dengan tv yang masih menyala, bahkan posisi mereka sama sekali tidak berubah. Suasana mendung diluar rumah seakan memberi kode pada kedua pasangan itu untuk tetap saling memberi kehangatan satu sama lain.
"Astaugfirulah!"
Nenek bergidik kaget melihat pasangan yang tengah terlelap dengan televisi yang masih menyala.
Baru saja nenek terbangun dari tidurnya, semua rohnya masih belum terkumpul sempurna. Tapi malah sudah dikagetkan dengan pemandangan yang tidak pernah Nenek lihat selama cucunya itu menikah.
Sebelum membangunkan kedua insan tersebut Nenek memilih untuk mematikan televisi terlebih dahulu, baru menangkap basah kedua cucunya yang tidur dengan gaya mesum.
"TIDAAAAAK! KEBAKARAN! KEBAKARAN! TOLOOONG! AIR... AIR...."
separuh roh yang masih tertinggal di alam bawah sadar membuat Raihan mirip seperti orang gila, matanya masih tertutup rapat tetapi mulutnya berteriak tidak jelas. Jangan lupakan Shasa, wanita muda itu langsung berdiri menjauhi Raihan karena teriakan Raihan tepat berada di telinganya.
Nenek tertawa terpingkal-pingkal melihat kedua cucunya kalang kabut, rupanya seru juga mengerjai kedua cucunya. Ah lain kali nenek akan membangunkan menggunakan speaker agar lebih seru dari yang ini.
"Ya ampun Nek!"
Napas Shasa masih tidak beraturan karena terkejut setengah mati. Selamat ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Mungkin jika ia punya penyakit jantung pastinya saat ini ia akan langsung menuju ke akhirat.
"HA HAHA AHA HAH" Nenek masih saja tertawa keras sembari memegang perutnya karena keram terlalu banyak tertawa.
"Astaga Nenek!"
Raihan menepuk dahinya keras melihat aksi Neneknya yang sudah berhasil membuatnya cemas dan panik. Ada-ada saja kelakuan Neneknya ini, bagaimana jika tetangga disebelah rumahnya ikut terganggu karena ulah jahil neneknya, pikir Raihan.
"Maaf Nenek tidak sengaja" ucap Nenek dengan wajah tanpa dosa, ingin sekali rasanya menyentil rambut Nenek tapi apalah daya.
Shasa hanya bisa diam menjadi bahan tertawa Nenek, sama dengan Raihan yang hanya bisa memutar bola mata jengah. Tingkah neneknya sudah seperti anak remaja labil saja.
"Sana kalian mandi! lihat sekarang sudah jam berapa?"
__ADS_1
Nenek menunjuk pada jam dinding yang tergantung di atas televisi. Serempak Shasa dan Raihan mengikuti telunjuk nenek yang mengarah pada jam dinding, pukul 16:39.
"Oh astaga, sudah sore dan aku belum mandi!" gumam Raihan pelan, tidurnya terlalu nyenyak sampai melupakan segala hal.
"Ya sudah, sana kalian mandi!" titah nenek sembari mengibaskan tangannya, padahal nenek sendiri juga belum mandi.
"Hmmmm" jawab Raihan setelah itu menggandeng tangan Shasa pergi meninggalkan nenek sendirian di ruang keluarga.
"Sana mandi! Gue pengen beresin baju bentar" titah Shasa sembari memulai memasukan bajunya kedalam lemari yang sudah Raihan siapkan sebelumnya.
"Iya" jawab Raihan singkat lalu masuk kedalam kamar mandi, tak lupa membawa baju ganti sekalian untuk mengganti pakaian nya didalam kamar mandi.
"Tidur dengan memeluknya?" gumam Shasa pelan lalu tersenyum simpul, udah gila Gue!
Tak lama kemudian Raihan keluar dari kamar mandi sudah memakai pakaian lengkap, baju koko berwarna cream dengan sarung motif kotak-kotak.
Disaat itu juga Shasa sudah selesai membereskan bajunya ke dalam lemari. Ditangannya juga sudah terdapat baju ganti untuk dipakai di dalam kamar mandi agar Raihan nanti tidak usah repot-repot keluar kamar.
Guyuran air dari atas kepala Shasa membuatnya semakin fresh seolah beban yang selama ini ditanggung ikut hanyut terbawa air. Setelah selesai ritual mandi Shasa bergegas untuk mengganti pakaian dan keluar dari kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar mandi tertutup sempurna setelah Shasa keluar dari dalam sana, dilihatnya sekitar kemana Raihan?
Hanya ada dirinya sendiri di kamar, mungkin Raihan sedang di ruang keluarga pikir Shasa.
Saat Shasa hampir memegang gagang pintu kamar disaat itu pula Raihan masuk ke kamar jadilah Shasa menubruk dada bidang Raihan.
"Awww"
Shasa merintih sembari memegang dahinya, itu bagian tubuh manusia bukan sih kek mirip beton.
"Eh maaf, maaf" ucap Raihan lalu merangkul Shasa dan membimbingnya untuk duduk di sofa. Dilihatnya penampilan Shasa saat ini, ress pendek berwarna hitam tanpa lengan.
"Kamu ganti baju dulu gih" titah Raihan membuat Shasa menatap Raihan tak percaya. Apakah mata Raihan itu rabun sehingga tidak bisa melihat dirinya sudah mengganti pakaian yang baru saja diambil dari koper.
"Tidak bukan seperti itu maksudku, Aku mau ajak kamu ke masjid, kita sholat berjamaah disana ya" ucap Raihan menjelaskan maksud ucapannya yang tadi, tidak mungkin kan Shasa pergi ke masjid mengenakan dress pendek tanpa lengan.
"Tapi Gue gak punya baju yang kek begituan" (elas Shasa jujur, lagipula tidak mungkin juga saat ia beradu kekuatan dengan musuh mengenakan busana muslim serta memakai jilbab, yang ada malah hanya akan menyulitkan pergerakannya.
"Gue ga usah ikut gimana?" tanya Shasa memohon lagipula dirinya hanya akan menjadi orang bodoh jika sudah masuk ke dalam masjid.
"Yaudah kamu di rumah aja, oh iya nanti Aku pulang agak lama karena harus mengajar anak didik ku dulu" jelas Raihan kemudian berdiri lalu berjalan keluar kamar meninggalkan Shasa sendirian.
"Seorang ustadz ya?"
__ADS_1
Shasa menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, matanya menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
"Bagaimana denganku yang penuh dosa ini?" gumam Shasa pelan lalu memejamkan matanya, bukan tubuhnya yang lelah melainkan hatinya. Sudah lama ia menjadi seorang pendosa akan jadi apa nanti kehidupannya kedepan.