Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Perasaan Was-Was


__ADS_3

Seorang pria yang tengah sibuk bergelung dengan pekerjaannya tiba-tiba terdiam, konsentrasinya hilang saat tangan besarnya menyentuh sebuah pigura berukuran kecil diatas meja kerjanya.


Pria itu mengusap foto seorang wanita cantik yang membuatnya gila setengah mati. Wanita yang berhasil membangkitkan sifat kejam yang sudah lama ia pendam. Wanita pertama yang membuatnya menjadi gila akan obsesi cinta.


Pria yang tidak lain adalah Raihan menatap nanar foto Shasa yang kini hanya menjadi bayangan dalam hidupnya. Kebodohannya dimasa lalu membuatnya kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


Ketika ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, tidak ada satupun orang yang menemani melaluinya. Evan semakin membencinya, bahkan ia membenci dirinya sendiri.


Semua yang terjadi memang karena salahnya sendiri. Sekeras apapun dirinya mencoba menepis kesalahan itu dari pikirannya, maka akan semakin besar pula rasa bersalah yang mendekam dalam hatinya.


Sholat lima waktu yang menjadi kewajibannya kini jarang ia kerjakan. Ada rasa malu yang begitu besar ketika tubuhnya bersujud diatas sajadah.


Kehidupan lamanya perlahan mulai kembali ke dirinya, alkohol yang sudah tak disentuhnya selama bertahun-tahun kini menjadi salah satu penenang hatinya saat rasa bersalah muncul menghantuinya.


Apalagi ketika mengingat Nenek meninggal karena sakit-sakitan setelah tahu cucu mantu kesayangannya tewas ditangannya, rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi.


Sekarang tinggal dirinya sendirian yang hidup tanpa rasa, keinginan bunuh diri sudah beberapa kali melintas pada kepalanya. Tapi ia juga sadar bunuh diri tidak akan membuat masalahnya selesai begitu saja.


Andai waktu bisa berputar kembali ke tujuh tahun yang lalu.


***


"Woah"


Gadis kecil itu berdecak kagum melihat pemandangan kota yang baru pertama kali dilihatnya. Gadis itu bahkan tidak henti-hentinya menegok kearah luar kaca mobil yang dinaikinya.

__ADS_1


Sementara itu Shasa yang duduk disamping Allin terlihat berbanding terbalik dengan putrinya. Raut wajahnya sedikit cemas dengan peluh sebesar biji jagung di dahinya.


Negara yang tujuh tahun ditinggalkannya kini kembali ia kunjungi dan sementara lagi akan ia tempati. Demi misi yang Alan tawarkan padanya ia sampai rela harus melawan rasa traumanya.


Jantungnya berdetak kencang semenjak turun dari pesawat, muncul perasaan was-was yang membuatnya ingin segera kembali ke Eropa. Namun pekerjaanya menghalanginya untuk segera pulang, apalagi melihat wajah ceria Allin yang membuatnya tak tega jika harus mengecewakan putrinya.


Taksi yang dinaiki oleh ibu dan anak itu tiba didepan pagar sebuah rumah minimalis modern dengan dua lantai. Shasa membayar biaya taksi yang dinaikinya kemudian menurunkan dua koper besar dari bagasi.


Dari luar gerbang besar yang mengelilingi rumah modren itu bisa dilihat dengan jelas, halaman rumah yang lumayan luas dipenuhi oleh bunga dan sebuah pohon besar didepannya.


Sesaat kemudian tiba-tiba seorang pria paruh baya bersama seorang wanita muda dibelakangnya menghampiri Shasa dan Allin yang bersiap menyeret koper besar yang dibawanya.


"Selamat siang, apakah ini dengan Nona Reline?"


Allin yang menyadari ada paruh baya memanggil nama lain Mamanya, gadis itu menarik baju yang dipakai oleh Shasa hingga wanita itu tersadar ada orang lain didekatnya.


"Maaf dengan Nona Reline?" Pria paruh baya itu mengulangi pertanyaannya dengan senyum hangat yang membuat Shasa merasa sedikit sungkan.


"Iya, saya sendiri"


Haha lucu bukan? namanya sendiri saja ia melupakannya. Bukan apa-apa tapi panggilan Shasa sudah melekat padanya.


Sekarang tidak ada lagi wanita bernama Queensha Zeline, wanita malang itu telah tewas tujuh tahun lalu dan sekarang hanya ada Shakia Reline. Dengan orang yang sama namun memiliki identitas berbeda.


Pria paruh baya itu mengajak Shasa berbincang sebentar lalu membuka pintu pagar dengan kunci yang dibawanya.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam rumah yang disewanya, pria paruh baya pemilik rumah itu membawa Shasa untuk berkeliling sebentar. Menunjukan ruangan-ruangan yang berada didalamnya dan memberikan sedikit penjelasan kepada Shasa.


"Terimakasih"


Shasa mengembalikan surat yang sudah ditandatanganinya kepada wanita yang tadi ikut dengan pria paruh baya pemilik rumah.


"Semoga betah ya tinggal disini" ucap pria paruh baya itu sebelum meninggalkan rumah yang sudah disewakan kepada Shasa.


Saat kembali masuk kedalam rumah Shasa tersenyum hangat melihat wajah putrinya yang tengah tertidur disofa karena kelelahan. Shasa mencium kening Allin singkat sebelum mengangkat tubuh kecil putrinya kedalam gendongannya.


Shasa membuka pintu kamar yang berada dilantai atas, meletakkan tubuh Allin diatas tempat tidur kemudian menyelimutinya. Ada rasa sedikit kasihan melihat anak semata wayangnya tumbuh tanpa adanya sosok seorang Ayah.


Tetapi bukankah lebih baik tidak ada sosok seorang Ayah daripada harus membiarkan putri semata wayangnya tahu betapa kejinya Ayah kandungnya.


Beberapa pria pernah melamarnya untuk menggantikan sosok Ayah kandung Allin, bahkan dulu Alan juga pernah menawarkan dirinya sebagai pengganti Ayah Allin. Namun Shasa memilih untuk membesarkan Allin seorang diri, menjadi seorang Ibu sekaligus sebagai seorang Ayah.


Shasa ikut merebahkan tubuhnya disamping Allin, wanita itu berencana akan tinggal di kota ini selama kurang lebih empat bulan, atau setelah ia menyelesaikan pekerjaannya ia akan segera kembali ke Eropa.


Saat Shasa hampir terlelap perasaan cemas kembali menyerangnya. Matanya kembali terbuka, rasa lelahnya berganti dengan rasa was-was.


Bagaimana jika ia bertemu dengan pria dimasa lalunya?


Shasa mengembuskan napasnya perlahan sembari menutup matanya. Mau tidak mau ia harus menepis rasa takutnya. Pekerjaannya saja belum ia mulai, rasa traumanya sudah memenuhi seluruh isi kepalanya.


Negara ini sangatlah luas, lagipula sekarang dirinya berada di kota yang jauh dari kota yang dulu ia tinggali. Mana mungkin dirinya bisa bertemu dengan pria keji itu.

__ADS_1


__ADS_2