
Ucapan Shasa terhenti ketika melihat orang itu berjalan mendekatinya. Ah lagi-lagi pasti pengelihatannya salah, mana mungkin si Raihan datang ke kantornya pada jam kerja.
Sepertinya Shasa harus sering beristirahat agar tidak mudah berhalusinasi seperti ini. Akan terlihat memalukan jika seseorang tahu dirinya sedang mengkhayal tentang Raihan.
Tapi kenapa terlihat sangat nyata?
Raihan semakin mendekat lalu duduk tepat bersebelahan dengan Shasa. Melihat dan mendengar suara dari orang yang dicintainya sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya yang membuncah sejak tadi pagi.
Apalagi saat Shasa memakaikan dasi dikerah bajunya, perasaan Raihan semakin berbunga-bunga ketika sedang memikirkannya.
"Shasaaa?"
Raihan melambaikan tangannya didepan wajah Shasa, aneh saja melihat Shasa cengo seperti itu. Kedatangannya membuat istri tercintanya itu menjadi aneh, tidak seperti biasanya.
"Emh, maaf Mr. Davindra ada keperluan apa dengan saya?" tanya Shasa saat sadar jika didepannya saat ini memang benar Raihan yang datang.
Untung ia bisa menguasai diri dan tidak membuat nama baiknya tercoreng, karena mengabaikan klien penting seperti Raihan. Saat berada di kantor, dirinya harus bisa bersikap seprofesional mungkin kepada siapapun, kecuali Evan tentunya.
Hati kecil Raihan mencelos mendengar Shasa begitu formal kepadanya, apakah peraturan kantor Shasa memang harus seperti itu kepada klien? memang benar dirinya klien Shasa, tetapi apakah tidak bisa bersikap biasa kepada suami sendiri?
"Bisakah kita berbicara informal, seperti biasanya?" pinta Raihan kepada Shasa, tidak nyaman berbicara formal kepada istrinya sendiri. Apa kata orang nanti, jika melihat betapa kakunya hubungan antara sepasang suami istri ini?
Oh astaga!
Bahkan Raihan baru sadar jika pernikahannya ini tersembunyi. Hanya orang tertentu yang tau, orang luar pasti mengira dirinya dan Shasa tidak memiliki hubungan apapun.
"Maaf tapi saat ini sa_,"
Shasa terdiam ketika jempol Raihan mengusap ujung bibirnya.
"Hm pedas!" Raihan menjilat jempol yang digunakannya mengusap ujung bibir Shasa tadi.
__ADS_1
Ya Raihan sengaja melakukannya, karena bibir Shasa belepotan akibat saus dari pizza yang dimakan istrinya itu.
"Gu-gue ke toilet bentar" ucap Shasa tergagap lalu meninggalkan Raihan sendirian di ruangannya.
Raihan terkekeh melihat Shasa salah tingkah didepannya.
Ah semakin imut saja
Sementara itu didalam kamar mandi, Shasa membasuh mukanya berkali-kali karena rasa gugupnya, sikap Raihan barusan membuat hati kecilnya terkejut bukan main.
"Huuh! sadar Sha, sadar!" uap Shasa memperingati dirinya sendiri, ia butuh waktu untuk bisa menerima semua sikap yang Raihan berikan untuknya.
"SHASA UDAH BELOM MAKANNYA?"
Perhatian Raihan teralihkan ketika suara teriakan yang berasal dari pintu masuk menggema diruangan Shasa.
Suara langkah kaki semakin mendekat membuat Raihan semakin penasaran, siapa orang yang begitu lancang masuk kedalam ruangan orang lain dengan tidak sopan.
"Eh, hai?" Sapa Raihan ramah kepada Evan yang masih berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Raihan bisa melihat dengan jelas ekspresi Evan mendadak berubah ketika melihat dirinya sedang berada diruangan Shasa.
Disaat itu juga Shasa juga baru saja keluar dari kamar mandi, Shasa tidak terkejut dengan kebiasaan Evan yang suka berteriak kepadanya. Tapi suatu hal membuat Shasa mengernyitkan dahinya. Aura bermusuhan dari Evan terlihat sangat kentara, sementara Raihan berusaha untuk bisa akrab dengan Evan.
"Iya udah, emang kenapa Van?" ucap Shasa berinisiatif untuk mencairkan suasana yang semakin lama semakin menggelap. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya tidak segera keluar dari kamar mandi, Shasa tidak bisa membayangkan nya.
"Lima menit lagi meeting dimulai" ucap Evan datar kepada Shasa, saat masuk tadi perasaannya begitu bahagia. Tapi setelah melihat kedatangan Raihan di kantor Shasa, tiba-tiba moodnya menjadi down.
"Hmm, baiklah" Shasa mengiyakan peringatan Evan barusan, lebih baik mereka segera dipisahkan atau kantornya akan dijadikan sebagai ring tinju dadakan.
Evan langsung pergi tanpa mengucapkan pamit atau apapun itu, semakin lama berdekatan dengan Raihan berarti sama dengan menyumat amarah yang ada didalam dirinya.
__ADS_1
"Maaf Raihan Gue sibuk, lagian Lo ngapain sih kesini?" tanya Shasa dengan wajah yang agak khawatir, karena memikirkan Evan yang sikapnya tidak seperti biasanya. Lagipula, untuk apa coba Raihan datang ke kantornya jika tidak ada keperluan apa pun.
Shasa tidak tahu bagaimana Raihan begitu merindukannya saat berjauhan dengan dirinya. Sedangkan Shasa sendiri malah membuat hati kecil Raihan tergores karena ucapan yang dilontarkannya barusan.
"Tidak tidak Aku hanya mampir, kebetulan tadi lewat" jawab Raihan berbohong. Mana mungkin ia akan jujur jika alasan kedatangannya hanya karena rasa rindu yang membuatnya tidak bisa berhenti memikirkan istrinya.
"Oh iya, ini nomor telepon ku simpan yah?" Raihan memberikan kartu namanya yang tempo hari juga pernah ia berikan kepada Shasa. Rasanya aneh jika sepasang suami istri tidak punya nomor telepon satu sama lain.
"Hmm yaudah, sana pulang!" titah Shasa kepada Raihan, tidak mungkin kan jika Raihan berada di kantornya sepanjang hari. Shasa juga tidak nyaman kalau Raihan memperhatikannya selama bekerja, bisa-bisa ia semakin pusing ketika Raihan benar-benar menemaninya bekerja seharian.
Seolah ucapan Shasa barusan seperti angin lalu, Raihan masih duduk santai tanpa bergeser sedikitpun. Jauh-jauh ia datang kesini, dan baru beberapa menit bertemu Shasa malah sudah diusir dengan alasan sibuk. Jika hanya sibuk, pekerjaannya lebih sibuk dari Shasa, tetapi rasa rindunya lebih besar dari masalah pekerjaannya.
"Raihan, sana keluar!" ulang Shasa sekali lagi karena tidak mendapat respon apapun dari orang didepannya saat ini.
Sebenarnya jika ia bisa memilih antara meeting atau berduaan dengan Raihan, tentu saja ia lebih memilih berduaan dengan Raihan. Tapi sayang, Shasa harus bersikap profesional agar kliennya tidak kecewa.
Entahlah bagaimana sifat Shasa yang asli, disatu sisi Shasa sangat mengagumi Raihan. Tetapi sisi lainnya selalu meyakinkan agar tidak mempercayai orang yang baru dikenal, ataupun orang yang bersikap terlalu baik kepadanya.
Bahkan Shasa tidak tau seluk beluk tentang Raihan ataupun tentang keluarga Raihan. Ia hanya tahu sebatas pekerjaan Raihan sebagai manager di sebuah perusaan industri, dan seorang ustadz yang mengajar anak-anak mengaji.
"Bye! Gue aja yang keluar!" ketus Shasa lalu keluar dari ruangannya sendiri, meninggalkan Raihan yang melongo tak percaya dengan perbuatannya barusan.
"Huuuuft" Raihan membuang napasnya kasar lalu beranjak untuk ikut keluar dari ruangan istrinya. Lagipula untuk apa dirinya berlama-lama disini jika orang yang ingin ia temui tidak ada, dengan kata lain Shasa mengusirnya dari sini.
Saat Raihan membuka pintu untuk keluar, perhatiannya teralihkan oleh pemandangan seorang pria yang tengah diseret oleh seorang wanita.
Mereka terlihat sangat tergesa-gesa, sekali lagi hati Raihan mencelos melihat pemandangan tak mengenakan itu. Tapi ia bisa apa?
Raihan mencoba untuk menghiraukannya dan secepat mungkin untuk pergi dari kantor ini.
"Kenapa Shasa menyeret Evan?"
__ADS_1