
Shasa mengerjapkan matanya lalu memegangi kepalanya yang terasa pening dan berat, ia mengutuk minuman sialan yang membuatnya mabuk tadi malam.
Semua ini gara-gara vodka tidak berahlak tadi malam yang sangat menggoda, sehingga membuat dirinya menjadi hilang kendali dan mabuk.
Wait? apakah pandangan Shasa ini salah, seorang balita seperti berumur empat tahun sedang tertawa tidak jelas sembari menatapnya lekat.
Aduh, mungkin saja saat ini dirinya masih dalam pengaruh alkohol yang diminumnya semalam. Tapi balita ini terlihat sangat nyata, bahkan suara tawa balita ini terdengar jelas ditelinganya.
Atau? jangan-jangan, balita ini adalah anaknya dengan Raihan. Atau? selama ini dirinya sedang koma dan melahirkan anak Raihan, tapi balita ini tidak mirip dengannya ataupun Raihan.
Shasa menatap lekat balita laki-laki dihadapannya lalu menjawil pipi chubby balita itu, balita itu semakin tertawa lebar menampakan gigi putih dan bibir merah lucu.
Shasa semakin bingung dengan semua ini, sebenarnya saat ini dirinya sedang berada dijaman apa? sampai seorang balita laki-laki itu tiba-tiba muncul diatas ranjangnya.
Atau? jangan-jangan anak ini adalah anak Raihan bersama selingkuhannya.
Belum sampai berpikir buruk lainnya lagi, suara pintu terbuka menampakan seorang pria membawa cangkir entah berisi apa.
"Hai, kau sudah bangun?" tanya Raihan sembari tersenyum kearah Shasa, Shasa hanya mematung tanpa menghiraukan Raihan, otaknya masih bekerja keras.
Siapa balita disampingnya ini?
Raihan duduk ditepi ranjang dekat Shasa, lalu menyodorkan cangkir yang dibawanya tadi ke depan Shasa.
"Minumlah!" titah Raihan karena melihat ekspresi Shasa yang seolah bertanya 'apa ini'.
Tidak perduli dengan isi cangkir yang Raihan berikan untuknya. Shasa langsung meminum habis dalam satu tegukan, tidak ada rasanya.
Raihan menatap lekat Shasa yang saat ini tengah memandang balita laki-laki itu dengan dahi berkerut. Duh, Raihan sampai lupa menjelaskan siapa dan darimana bayi itu bisa sampai berada diatas ranjangnya.
"Namanya Norin, dia anak tetangga sebelah rumah, tadi ibunya minta tolong buat jagain Norin hari ini"
Shasa menganga tak percaya, sejak kapan Raihan beralih pekerjaan menjadi baby sitter. Apakah gaji kantorannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari sampai harus menjaga bayi tetangga seharian.
"Kenapa kamu mau jagain Norin, emangnya gak ada orang lain selain kamu?" ucap Shasa tak terima jika Raihan menjaga anak orang lain, mending menjaga anaknya sendiri, ups.
__ADS_1
Anak sendiri? berarti anak Gue dong?
Shasa memejamkan matanya lalu menggeleng pelan, ia ingin berkata 'tidak' tapi hanya tertahan diotaknya.
Raihan tersenyum simpul mendengar ucapan Shasa menjadi Aku-Kamu tidak lagi Gue-Elo. Perubahan yang semakin membaik, Raihan senang bisa akrab dengan Shasa seperti ini.
"Aku udah biasa jagain norin, itung-itung belajar buat nanti, kalau kita udah punya anak"
Shasa tertegun mendengar kalimat yang diucapkan Raihan barusan. Apa, punya anak? aduh duh semakin lama Raihan semakin berani mengatakan hal-hal yang membuat dirinya menjadi diam seribu bahasa seperti ini.
Sarapan pagi ini hanya mereka bertiga yang berada di ruang makan, nenek tidak ikut karena sedang ada urusan diluar katanya.
Hanya suara dentingan sendok beradu dengan piring dan tawa balita itu memenuhi ruang makan. Sesekali Shasa melihat Evan yang sangat telaten menyuapi Norin dengan kasih sayang.
Jika dirinya dan Raihan nanti punya momongan, apakah Raihan juga akan menyayangi dan menyuapi anaknya dengan kasih sayang seperti itu?
Membayangkan hal itu Shasa menggelengkan kepalanya lagi, sudah dua kali pagi ini dirinya menggelengkan kepala karena memikirkan hal yang entahlah.
Kenapa tiba-tiba hari ini dirinya selalu memikirkan tentang anak dan anak. Apakah dirinya menginginkan seorang anak dari Raihan?
"Shasa, kamu baik-baik saja?" tanya Raihan khawatir melihat Shasa menggelengkan kepalanya sembari memejamkan mata.
Tapi Shasa menggeleng, lalu melanjutkan makannya yang sempat terhenti karena kepikiran tentang anak.
***
Hari ini Raihan mengajak Shasa bersama Norin untuk pergi ke taman bermain anak-anak, mumpung hari minggu. Jarang sekali dirinya bisa menghabiskan waktu santai bersama Shasa, jadi Raihan akan menghabiskan minggunya kali ini bersama sang istri dan sang balita anak tetangga.
Tak apalah, lagipula kehadiran Norin sangat menguntungkan baginya, karena Norin bisa dijadikan media untuk mendekati Shasa.
Suasana taman bermain anak-anak tidak terlalu ramai hanya beberapa keluarga kecil sedang bermain dengan buah hati masing-masing. Cuaca hari ini juga sangat mendukung, tidak panas dan juga tidak mendung. Shasa memilih untuk berteduh dibawah pohon dan menyaksikan Raihan yang sedang bermain ayunan dengan Norin.
"Om, Om, Tante kenapa itu om?" tanya Norin dengan suara cadelnya.
Raihan mengamati istrinya yang kini sedang duduk dibawah pohon tak jauh dari tempatnya berada. Benar juga, dirinya kan ingin menghabiskan waktu bersama Shasa lalu kenapa malah hanya mementingkan Norin saja?
__ADS_1
"Norin, kita ajak main Tante yuk" ajak Raihan kepada Norin lalu mengajak balita itu menemui Shasa.
"Tanteeee....ayuk main sama Norin yaa?" pinta Norin dengan suara cadelnya yang imut, tanpa memikirkan bahwa ini adalah rencana Raihan untuk semakin dekat dengannya, Shasa mengiyakan permintaan Norin. Lagipula siapa coba yang tega mengatakan 'tidak' pada bocah imut ini.
"Norin mau main apa Nak?" Shasa langsung menggendong Norin dan mencium gemas pipi chuby Norin.
Diam-diam Raihan tersenyum sangat lebar membayangkan jika Norin adalah buah hatinya bersama Shasa, pasti istrinya itu akan sangat memanjakan buah hatinya.
"Tante.... Norin pengen makan es krim" ucap Norin menunjukan puppy eyes nya yang membuat Shasa semakin gemas.
"Raihan! ayo cepat Norin pengen es krim" Shasa melambaikan tangannya kepada Raihan yang tertinggal lumayan jauh dibelakang.
"Iyaaaa" jawab Raihan tersenyum lebar lalu berlari kearah Shasa yang masih menggendong Norin.
Norin menjilati es krim cokelatnya yang dibelikan oleh Om Raihan tentunya, senyum balita itu tak kunjung pudar karena merasa sangat bahagia diajak Om Raihan dan tante Shasa ke taman bermain.
"Beneran kamu nggak mau es krim?"
Raihan menyodorkan es krim vanila miliknya yang tinggal setengah ke Shasa. Tidak, Shasa tidak mau memakan es krim yang sudah dimakan oleh Raihan, padahal ia juga sangat ingin memakannya.
Ini semua karena penjual es krim yang stoknya habis tinggal dua. Satu untuk Norin dan satunya untuk Raihan, tadi sudah ditawari Raihan untuk mengambil miliknya, tetapi gengsi Shasa lebih tinggi jadi ia menolak dengan alasan takut gendut.
"Ya ampun! keluarga kecil kalian bahagia sekali" ucap seorang wanita hamil yang tiba-tiba datang bersama pria yang Shasa yakini adalah suami wanita itu.
"Anak kalian umur berapa?" tanya wanita itu lagi, sedangkan suaminya menggeret lengan wanita itu tapi malah semakin mendekat kearah Norin.
"Lima tahun" jawab Raihan apa adanya, walaupun Norin anak tetangga sebelah rumahnya, Raihan sayang kepada Norin.
"Saya doakan kalian diberi momongan lagi ya, dadaaaah" ucap wanita itu langsung pergi tanpa tahu reaksi Raihan dan Shasa saat ini.
Didalam hati Raihan, ia mengaminkan doa wanita asing tadi. Semoga saja hal itu benar-benar terjadi.
Tanpa Raihan sadari es krim vanila miliknya tadi sekarang sudah tandas hilang entah pergi kemana.
Shasa sangat menginginkan es krim milik Raihan. Jadi saat Raihan sedang melamun entah apa, ia ambil saja es krim itu. Tidak peduli dengan gengsinya. Dan apa tadi doa wanita tadi? Shasa pura-pura menulikan telinganya.
__ADS_1
"Loh! es krim ku mana?" Raihan terkejut karena es krim nya tidak lagi berada digenggamannya.
"Mungkin kamu udah makan kali, jadi gak terasa kalau udah abis!" tutur Shasa menahan tawanya, yang benar saja. Padahal es krim vanila itu kini sudah tenang diperutnya.