Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Mr.Davindra


__ADS_3

"Astaugfirullah"


Seorang wanita lanjut usia mengelus dada berulang kali ketika melihat dua laki-laki dan satu perempuan tidur sekamar. Dua orang pria tidur seranjang, sedangkan sang perempuan tidur di sofa panjang berada tak jauh dari pintu kamar.


Wanita lanjut usia itu berjalan tergesa-gesa mendekati sang perempuan yang masih terlelap diatas sofa walaupun tanpa menggunakan bantal maupun selimut.


"Nak?"


Tangan keriput milik Nenek mengguncang pelan Shasa yang masih enggan untuk membuka mata, hingga tepukan kecil dipipinya berhasil mengembalikan jiwa Shasa kembali ke raganya.


Shasa mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha menyesuaikan cahaya masuk kedalam retina, hal pertama yang muncul di pengelihatannya adalah seorang Nenek.


Tunggu apakah ini masih mimpi?


Nenek tersenyum kala Shasa masih terlihat tidak percaya bahwa memang benar jika saat ini Nenek lah yang membangunkannya.


Shasa yang sepenuhnya telah sadar kemudian duduk dan memijat leher bagian belakangnya terasa pegal karena tidur tanpa menggunakan bantal.


"Nak, kamu kenapa tidur di sofa?"


Nenek ikut duduk di sebelah Shasa kemudian mengelus punggung Shasa dengan sayang.


"Astaga!"


Shasa terpekik lumayan keras ketika pengelihatannya terarah pada dua pria di atas ranjang.


Tatkala Shasa ingin beranjak dari sofa, Nenek menghentikan dengan sebuah tepukan dan tatapan mata seakan memberi tahu 'biar Aku saja yang membangunkannya', Shasa pun mengurungkan niatnya untuk membangunkan Evan dan Raihan.


Biarkan saja Nenek yang membangunkan dua bocah sialan itu!


"Aaaaaaakh"


Shasa tersenyum mendengar Raihan berteriak kesakitan karena Nenek mencubit pinggangnya.


Astaga! Mengapa Nenek bisa berada di sini dan Evan? kenapa Aku bisa seranjang bersamanya, bukankah semalam Aku tidur dengan Shasa, lalu Shasa tidur dimana?


"RAIHAN, KAMU GAY!"


"Nenek memang tau arti 'GAY' itu apa?" Tanya Raihan di sertai ringisannya.


"JAWAB PERTANYAAN NENEK, RAI!"


Nenek semakin memperkuat cubitannya di pinggang Raihan, Shasa yang semula tersenyum bahagia mulai merasa bersalah akibat dari perbuatannya semalam.


Sekarang Raihan lah yang merasakan betapa menyenangkannya dibangunkan dengan cubitan super dari nenek.


Semalam karena terganggu oleh pertengkaran Evan dan Raihan, akhirnya Shasa memutuskan untuk memberi mereka dua cangkir kopi disertai topping obat tidur dosis rendah.


"Maaf Nyonya saya bisa menjelaskan semua ini"


Evan yang mendengar suara ribut terpaksa membuka matanya, ia sangat terkejut ketika Raihan meringis di sampingnya karena cubitan dari seorang Nenek.


"Gawat! jangan sampai Evan mengadu perbuatan ku ke Nenek" gumam Shasa pelan degan raut wajah cemas.


Shasa segera memikirkan alasan sebelum semua mengetahui perbuatannya tadi malam yang keterlaluan terhadap Evan dan Raihan. Shasa berdiri lalu mendekati Nenek lalu berkata.


"Raihan tidak bersalah Nek, Raihan juga bukan seorang gay"


Setelah mendengarkan penuturan dari istri cucunya akhirnya Nenek melepas cubitan di pinggang Raihan.


"Minta maaf pada istrimu, SEKARANG!" titah nenek menunjuk Shasa disampingnya, Raihan mengangguk dan meraih kedua tangan Shasa.

__ADS_1


Raihan ngapain coba pegang tangan Gue? Pikir Shasa menatap wajah Raihan yang tampak benar-benar seperti seorang yang telah melakukan kesalahan.


"Sha, maaf" ucap Raihan tulus matanya menatap wajah teduh milik Shasa, wajah yang selalu menampilkan air muka datar kini bisa tersenyum juga di depan Raihan walaupun hanya sekilas.


Beg*! kenapa Gue malah ikut senyum, rutuk Shasa dalam hatinya.


"Lalu siapa dia?" tanya nenek garang menunjuk Evan yang masih duduk di tepi ranjang.


"Saya Evan, sahabat Shasa" jawab Evan datar namun masih terlihat sopan, sekejam-kejamnya seorang Evan masih mempunyai tata krama kepada orang yang lebih tua darinya.


"Bukankah Nenek masih dirawat dirumah sakit?" tanya Shasa penasaran menyadari kepulangan nenek yang terlalu cepat dan menurutnya terdapat kejanggalan.


Nenek bilang pernikahan Raihan bersamaku adalah permintaan terakhirnya lalu kenapa Nenek masih bisa menghirup oksigen sampai sekarang?


"Nenek ha-nya cidera ringan ja-di diperbolehkan pu-lang" jawab Nenek tergagap tetapi masih tetap berusaha untuk meyakinkan Shasa dan juga Raihan.


Jangan sampai Raihan dan Nak Shasa tau!


"Lalu bagaimana Nenek bisa pulang kerumah?" Kali ini Raihan yang meminta penjelasan dari Neneknya


"Itu....."


"Maaf semuanya kami akan pulang terlebih dahulu"


Evan menyela kalimat Nenek yang sepenuhnya belum diucapkan, Raihan ikut mengernyitkan dahi ketika Shasa juga diam saja saat digandeng Evan untuk keluar rumah.


"Bukankah sekarang rumah ini juga rumahnya?" Nenek bertanya kepada Raihan setelah Evan dan Shasa setelah keluar dari kamar


"Entahlah?"


"Jadilah seorang imam yang baik untuk Shasa"


Nenek menepuk bahu Raihan pelan bermaksud untuk memberi semangat pada cucunya.


***


Shasa mengomel tidak jelas, matanya masih ingin terlelap bukan kedinginan seperti ini, Evan tersenyum tipis melihat kelakuan sahabat satu-satunya ini.


"Van! Gue curiga sama Neneknya Raihan!" ucap Shasa menatap Evan yang masih fokus menyetir melewati pepohonan rimbun menuju ke Markasnya di tengah-tengah hutan


"Nenek Raihan berarti nenek Lo juga! beg*!!"


Evan terkekeh pelan melihat raut wajah Shasa menjadi datar setelah mendengar nama Raihan. Bukan hanya Shasa yang merasa aneh dengan perilaku Nenek, Evan pun merasa jawaban Nenek tadi lumayan tidak masuk akal.


Setelah sampai di markas Shasa langsung menuju ke kamarnya dilantai atas, sedangkan Evan masih harus mengurus beberapa pekerjaannya yang tertunda karena menginap di rumah Raihan.


"Setelah ini Lo mau kemana?"


Evan tiba-tiba masuk kamar Shasa tanpa meminta izin pada pemiliknya. Shasa tidak terkejut dengan kebiasaan Evan satu ini, langsung menyerobot ke kamarnya tanpa mengetuk pintu ataupun permisi. Parahnya Evan juga pernah melihat Shasa hanya melilit tubuhnya dengan handuk ketika baru selesai mandi.


"Gue mau ke neraka! Lo mau ikut?" jawab Shasa santai tangannya masih sibuk membenarkan baju kerja yang ia pakai saat ini


Dasar Evan beg*!


"Tentu, dimanapun Lo berada Gue pasti ikut!" tutur Evan dramatis, ia duduk di tepi ranjang milik Shasa lalu menatap intens Shasa yang sedang memakai anting didepan sebuah cermin besar dimeja rias.


Andai Raihan tidak menikahimu


Evan tersenyum miris menertawakan dirinya, sekarang suasananya semakin menjadi rumit. Shasa menikah dengan pria yang menurut Evan adalah sebuah kesalahan besar.


EVAN POV

__ADS_1


Queensha Zeline adalah perempuan hebat yang pernah Gue kenal, disaat kedua orang tuanya tewas karena pembunuhan Shasa masih bisa menopang kehidupannya sendiri walaupun usianya masih 16 tahun.


Bayangkan diusianya yang masih tergolong muda harus bergelut di dunia Mafia, memiliki banyak musuh serta menjadi incaran oleh pelaku pembunuh orangtuanya.


Gue yang bernotabe sebagai sahabatnya sejak kecil akhirnya memutuskan untuk menemani Shasa menjadi seorang mafia, menjadi pelindungnya, pelindung dalam segala hal termasuk menjaga hatinya agar tidak jatuh cinta kepada pria yang salah.


Ketika mendengar Shasa menikah? Oh Damn it! bertahun-tahun tumbuh bersamanya Shasa menikah tanpa sepengetahuan Gue.


Raihan, nama pria brengs*k yang berani rebut Shasa dari genggaman Gue dan Gue juga berjanji untuk memisahkan mereka karena ini adalah sebuah kesalahan besar.


Shasa tidak bisa menikah dengan pria seperti Raihan, pria yang bahkan latar belakangnya tidak jelas.


NORMAL POV


"Van! Lo sakit?"


Shasa melambaikan tangannya tepat diwajah tampan milik Evan. Semenjak turun dari mobil sampai masuk kedalam ruang kerjanya, Evan hanya diam tidak mengoceh seperti sebelumnya.


"Hah"


Evan kembali sadar dari lamunan panjangnya, pikirannya masih dipenuhi berbagai cara untuk memisahkan Shasa dan Raihan


"Lo habis kesambet?" tanya Shasa sembari kembali membuka lembaran demi lembaran tumpukan kertas diatas mejanya.


"Jadwal anda hari ini ada pertemuan dengan Mr. Davindra dilanjutkan makan siang di restoran xx" ucap Evan seperti asisten lainnya pada atasan mereka.


Setelah kepergian kedua orang tuanya bukan hanya dunia Mafia yang digelutinya, namun perusahan Papanya juga harus dikelola oleh Shasa karena ia seorang anak tunggal.


"Ayolah Van! kita cuma berdua, nggak usah kek asisten beneran gitu napa!"


Tidak mendapat respon apapun dari Evan, Shasa memajukan bibirnya tak suka dengan Evan yang berlagak seperti orang asing padanya.


***


Tiga jam kemudian


"10 menit lagi Mr.Davindra sampai disini"


Ucap Evan santai layaknya seorang teman, kejadian tiga jam lalu sudah cukup membuatnya tersiksa.


Hanya karena berbicara sopan kepada seorang CEO seperti Shasa, dirinya diabaikan selama tiga jam tanpa diajak bicara padahal berada di dalam satu ruangan yang sama.


Semuanya berakhir ketika Evan mengetuk kepala Shasa, kemudian meminta penjelasan kenapa dirinya diabaikan oleh Shasa selama itu.


Pada detik itu juga Shasa langsung tersenyum sikap pemarah sahabatnya muncul juga. Shasa lebih suka bersikap seperti seorang sahabat daripada berlagak seperti CEO pada asistennya walaupun itu terlihat agak aneh.


Tok Tok Tok


"Masuk" ucap Shasa lumayan keras karena jarak antara pintu dan meja kerjanya lumayan jauh.


Evan masih setia berdiri tepat berhadapan dengan shasa kedua tangannya berada disisi kanan dan kiri kepala Shasa. Evan ingin memberi pelajaran pada CEO wanita didepannya saat ini karena telah mengabaikannya hanya karena sebuah alasan konyol.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menyaksikan keakraban dihadapannya. Kedua tangan pemilik mata itu mulai mengepal sangat kuat tetapi masih dia tahan karena baginya amarah hanya akan mengakibatkan sesuatu yang tidak baik.


"Ekhem"


Mendengar deheman berasal dari balik punggungnya Evan menoleh kebelakang tetapi masih dalam posisi yang sama pada sebelumnya.


Tamu yang tadi dipersilahkan masuk oleh Shasa sekarang duduk di kursi berseberangan dengan Shasa tanpa mengucapkan sepatah kata.


Shasapun masih tidak mengerti siapa yang masuk kedalam ruangannya karena terhalangi tubuh besar milik Evan didepannya.

__ADS_1


Disaat Evan menyingkir dari hadapan Shasa lalu beralih kesamping Shasa. Betapa terkejutnya Shasa melihat tamu yang telah duduk di hadapannya yang hanya dibatasi oleh sebuah meja kerja.


Gue halusinasi atau memang beneran dia yang datang?


__ADS_2