
Disebuah ruangan yang dipenuhi dengan koleksi senjata api, seorang pria menyodorkan amplop berwarna coklat berukuran sedang kepada wanita yang tengah duduk dihadapannya.
Wanita itu kemudian mengambil amplop coklat yang disodorkan diatas meja, mengecek amplop tebal itu sekilas lalu mengucapkan terimakasih kepada pria yang sedang menatapnya lekat.
"Seharusnya Saya yang berterimakasih kepada Anda"
Pria itu menandatangani berkas yang berada dihadapannya kemudian tersenyum sekilas kepada Shasa.
"Sok formal" cibir Shasa bergantian menandatangani berkas berisi surat perjanjian.
"Tentu_," Pria itu menjeda kalimatnya kemudian kembali dilanjutkan.
"Seorang pembunuh bayaran hebat seperti Anda harus sangat-sangat dihormati. Namun sayang sekali Anda hanya membunuh orang yang benar-benar menjadi sampah dan Anda patut diapresiasi karena bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Orang yang men__,"
"Tutup mulutmu sayang, jangan membuat Shasa menjadi tidak nyaman"
__ADS_1
Wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan itu memotong kalimat suaminya yang terlalu bertele-tele. Wanita yang membawa nampan itu segera menyajikan minuman yang dibawanya. Setelah itu bergabung disebelah Shasa duduk.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Wanita bernama Caroline itu menatap Shasa kasihan.
"Baik-baik saja, semua itu juga berkat Alan yang membantuku" jawab Shasa sembari melirik pria yang duduk dihadapannya.
"Syukurlah, oh iya dimana Allin, kau tidak mengajaknya kemari?" tanya Carol dengan kepalanya yang menoleh ke kanan dan kiri mencari keponakan imutnya.
"Hari ini hari Rabu Carol, Allin tentu saja sekolah!"
"Oh iya ya, hehe" Carol cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dasar bodoh!" ucap Alan mengatai istrinya sendiri.
__ADS_1
"Gue ga bodoh Alan! Gue cuma kangen sama ponakan Gue!"
Shasa hanya terkekeh melihat pasangan itu saling mengatai satu sama lain. Kilasan ingatan tujuh tahun yang lalu tiba-tiba kembali memenuhi kepalanya, dimana Raihan menghabisi nyawanya.
Hari itu disaat dirinya tidak sadarkan diri setelah terkena peluru dari Raihan. Seorang pria menggendong tubuhnya yang tergeletak di lantai lalu segera membawanya keluar dari rumah kosong itu.
Setelah masuk kedalam mobil yang dikendarai pria yang tak lain adalah Alan, sebuah peledak dinyalakan tepat saat Raihan hampir bunuh diri. Rumah kosong itu seketika hancur dan terbakar.
Keadaannya yang menghawatirkan saat itu dibawa Alan cepat ke rumah sakit terdekat setelah dua orang suruhan Alan masuk kedalam mobil yang sama.
Usai satu Minggu dirinya dirawat di rumah sakit, dokter yang menanganinya menyatakan bahwa dirinya koma. Hal itu membuat Alan semakin khawatir dan memutuskan untuk memindahkannya ke rumah sakit lain yang berada di Eropa.
Setelah dua bulan tidak sadarkan diri dokter spesialis yang menanganinya menyadari bahwa ada kehidupan lain didalam kandungannya. Selama itu pula Carol yang masih menjadi pacar Alan ikut merawatnya.
Bulan ketiga dirinya sadar dari komanya dan mengetahui sedang mengandung disaat itu juga dunianya terasa hancur. Berkali-kali ia mencoba menggugurkannya, namun pada akhirnya memilih untuk tetap melahirkannya karena bayi yang ia kandung juga darah daging sendiri.
__ADS_1
Saat Alan ditanya mengapa bisa berada di rumah kosong itu saat Raihan hampir membunuhnya. Alan menjawabnya dengan sedikit angkuh, mengatakan bahwa ia telah menyuruh seorang stalker untuk memata-matai nya.
Hal itu ia lakukan semata-mata untuk melindunginya dari bahaya yang sedang menanti. Apa yang dilakukannya memang benar-benar menyelamatkan nyawanya dan memberinya kesempatan untuk hidup. Walaupun harus meninggalkan perusahaan raksasa miliknya dan mengganti identitasnya.