Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Mawar


__ADS_3

Empat hari kemudian


Empat hari berlalu tetapi masih saja pria itu menutupi kebohongannya. Saat ditanya 'Kamu kemarin kemana?' pria itu dengan santainya menjawab 'Memangnya Aku kemana?'


Seseorang yang berbohong pasti akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan pertamanya, begitu seterusnya.


"Kenapa paspor kamu ada diatas meja rias Aku?"


"Ya, mungkin paspornya punya kaki"


"Kamu kemarin kemana?"


"Memangnya Aku kemana?"


Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan. Mungkin hanya orang bodoh saja yang tidak tahu bahwa pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan adalah ciri dari kebohongan.


Shasa mengurut keningnya pelan sembari memejamkan matanya. Sudah dua hari yang lalu dirinya tidak masuk bekerja, tentu saja banyak pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya sekarang.


Tapi mau bagaimana lagi, sepulangnya dari Italia wanita itu jatuh sakit dan diharuskan untuk istirahat total. Sepanjang hari hanya tiduran sembari memikirkan bagaimana cara menemukan keberadaan pembunuh kedua orangtuanya.


Jawaban yang didapatkannya dari Carrie belum cukup untuk mendapatkan petunjuk selanjutnya.


Belum selesai dengan masalah pembunuh kedua orangtuanya, kali ini Shasa harus dipusingkan dengan Raihan yang berbohong dan diam-diam mengikutinya ke Italia.


Bagaimana Shasa bisa tahu?


Tentu saja dengan menyuap petugas keamanan untuk memperlihatkan malam kejadian dimana dirinya merasa ada yang sedang bertengkar diluar kamarnya.


Tidak salah lagi dua orang pria yang bertengkar di depan pintu kamarnya adalah Raihan dan Evan.


Parahnya saat Evan ditanya, 'Lo semalam sama siapa?' pria itu menggeleng dan menjawab sedang tidak bersama siapa-siapa.


Karena hal itu lah Shasa melarang Evan menjenguknya, Shasa kesal dengan Evan karena tidak berbicara jujur saja. Sama halnya dengan Raihan yang juga memilih untuk berbohong.


Dua orang pria yang sama-sama pengecutnya, pikir Shasa mengumpat Evan dan Raihan.


"Sayang, sarapan yuk"


Shasa menoleh mendapati Raihan yang berdiri diambang pintu kamar. Hanya anggukan kepala yang ia berikan untuk mengiyakan ajakan pria itu.


Ia masih kesal sangat kesal malahan, Raihan bertingkah seolah pria itu tidak melakukan apa-apa. Padahal sudah sangat jelas pria itu berbohong dan Shasa mengetahui kebohongannya.


Shasa POV


Membosankan, itulah satu-satunya kalimat yang sangat tepat untuk menjelaskan bagaimana keadaanku sekarang. Hanya berbaring telentang, miring ke kanan, lalu ke kiri.


Setelah sarapan tadi pagi sudah tidak ada aktivitas lain yang Aku kerjakan. Sebenarnya demamku sudah menurun sejak tadi malam, malahan sekarang Aku sudah merasa baikan dan bisa dikatakan sembuh.

__ADS_1


Tapi apalah dayaku ketika Nenek dan Raihan memaksaku untuk tetap beristirahat.


Makan dan minum disuapi bahkan hanya ingin pergi ke kamar mandi saja mereka berdua memaksaku untuk memanggil mereka untuk membantuku berjalan.


Lucu sekali, mereka pikir Aku balita?


Tok tok tok


Suara pintu itu membuyarkan lamunanku, tak perlu menunggu lama Aku menyuruh masuk saja. Palingan juga Nenek, tidak mungkin Raihan karena pria itu sudah berangkat bekerja dua jam yang lalu.


"Loh, Lo ngapain kesini!"


Mulutku spontan terbuka ketika melihat orang yang masuk itu adalah Evan. Orang yang wajahnya tak ingin kulihat saat ini.


"Mau berenang, Lo mau ikut?" jawab Evan sembari meletakkan buah tangan yang dibawanya diatas ranjang disamping tubuhku yang tergeletak tak berdaya. Bukan sih hanya saja sedang berakting agar Evan kasihan pada ku.


"Tubuh Gue sakit Van" ucapku mengeluh sembari mengusap ekor mataku yang sebenarnya tidak ada air matanya sama sekali.


"Yaudah sini Gue pijat, pake layanan plus-plus yah"


"Wah gila Lo!!"


BUGH!


Pria itu meringis sembari memegang lengannya yang baru saja ku beri bogem mentah. Rasakan saja, siapa suruh melawak ditengah mood ku yang tidak stabil ini.


"Ya ampun Sha, sia-sia Gue datang kesini kalau akhirannya dapat tinju dari Elo" ucap Evan mendengus kesal lalu berbalik badan, mungkin Evan sedang marah. Mungkin.


"Kantor, Lo pikir Gue gak punya kerjaan?" jawabnya ketus kemudian tubuhnya benar-benar hilang dibalik pintu. Kini tinggallah Aku sendirian di kamar yang membosankan ini.


Ah iya daripada hanya berbaring saja, lebih baik aku jalan-jalan ke belakang rumah. Kata Nenek disana sudah ditanami berbagai bunga, lumayan lah untuk menjernihkan pikiran.


Terdengar aneh karena sebenarnya Aku jarang bahkan dapat dikatakan tidak pernah menginjak tanah belakang rumah yang ku tempati ini.


Ceklek


Pintu kamar Aku tutup sepelan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi yang bisa mendatangkan Nenek ke kamarku.


Fyuuuh,


Nenek sama sekali tidak mendengar suara decitan pintu kamarku yang tertutup. Aku lihat sekali lagi wanita tua itu, duduk berselonjor didepan TV dengan toples keripik kentang ditangannya.


Udara segar menyeruak setelah pintu depan kubuka, seakan baru saja keluar dari ruangan pengap yang mengurungku selama dua hari.


Aku memilih untuk telanjang kaki agar bisa merasakan rerumputan hijau yang segar ketika ku injak. Benar-benar menyenangkan, pucuk rumput yang lancip seolah menusuk telapak kakiku.


Hanya perlu beberapa langkah saja Aku sudah sampai di belakang rumah. Benar adanya apa yang diucapkan Nenek tempo hari. Berbagai macam bunga tumbuh subur dengan serangga yang berlalu-lalang di atasnya.

__ADS_1


Aku hampiri bunga itu, aromanya langsung tercium walaupun Aku masih berada jauh dari bunga-bunga itu ditanam.


Satu bunga mawar ku petik lalu hirup wanginya. Ah, rasanya sudah lama tidak memegang bunga mawar beserta tangkainya seperti ini.


Lucunya, Aku tidak sadar duri ditangkai yang sekarang kupegang telah menyebabkan jari telunjukku berdarah. Warnanya merah sama dengan warna mawar yang kupegang.


Mawar ini memiliki seribu keindahan yang menyejukkan, tetapi diam-diam telah melukaiku tanpa sepengetahuan ku. Aku bahkan baru sadar bahwa mawar ini memiliki banyak duri ditangkainya, tapi lagi-lagi duri itu tertutupi dengan kelopak bunganya yang cantik.


"Shaaaaa!"


Terdengar suara Nenek yang memanggilku dengan keras. Wanita tua itu sekarang sudah sadar bahwa Aku tidak lagi ada di kamar.


"Shasa dibelakang rumah Nek" jawabku tak kalah keras dengan suara Nenek tadi.


"Cepat masuk! nanti kamu sakit lagi gimana_______,"


Ah lagi-lagi Nenek terdengar menggerutu dengan kondisiku yang sebenarnya sudah membaik.


Dari pada mendengar ocehan Nenek lebih lama lagi, Aku memilih untuk segera masuk dan menenangkan Nenek yang mungkin sedang khawatir padaku.


Pelan sekali aku melangkah dipinggiran luar tembok rumah, langkahku berat seolah tak ingin pergi dari sini.


Bunga mawar yang Aku petik tadi masih setia berada di tangan kiri ku. Walaupun durinya sesekali membuatku meringis tetapi kelopaknya yang berwarna merah menyihirku untuk tetap memegangnya.


Aku tahu Aku seperti orang bodoh karena membiarkan tanganku terluka hanya karena setangkai mawar yang terlihat cantik dan mengagumkan.


Dak!


Tunggu dulu! Aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika tanah yang kupijak mengeluarkan suara aneh. Hellow, apakah iya tanah yang dipijak bisa mengeluarkan suara seperti kayu.


Mataku terbelalak, bodoh sekali diriku saat ini.


Kuinjak sekali lagi untuk memastikan apakah pendengaranku yang sedang bermasalah atau memang suaranya memang benar-benar real.


Dak! dak!


Dua kali kakiku menginjak tanah yang langsung gepeng karena Aku menggunakan tenaga penuh.


Ternyata dibalik tanah yang gepeng itu, terdapat sesuatu yang menyerupai kayu namun berwarna cokelat karena tanah gepeng diatasnya.


Aku membungkuk untuk melihat lebih jelas lagi, tanganku terulur untuk mencongkel tanah gepeng tadi.


Baru saja tanganku menyentuh tanah gepeng itu, tapi duri tangkai mawar yang kupegang menusuk daging telapak tangan kiri ku.


"Shaaaaa!"


Spontan saja aku berdiri, suara Nenek berhasil mengejutkanku.

__ADS_1


"Iyaa Nek!" sahutku lalu membuang mawar sialan itu ke sembarang arah. Aku sudah tidak tahan dengan durinya yang selalu menusuk telapak tanganku.


"Mengagumkan tetapi juga menakutkan" gumam ku pelan sembari melangkah pergi dari halaman belakang rumah.


__ADS_2