
Tujuh tahun kemudian
Seorang wanita berpakaian ketat serba hitam masuk kedalam sebuah rumah yang berada di area komplek perumahan sederhana. Setelah mengunci pintu depan rumahnya, wanita itu segera masuk kedalam kamarnya.
Tetesan darah segar berasal dari lengan kanan wanita itu bercecer di atas wastafel setelah wanita itu melepas bajunya.
Wanita itu membasuh lengan kirinya dengan air mengalir lalu membalutnya dengan perban.
Beberapa menit setelah membersihkan tubuhnya, wanita itu hendak mengambil baju ganti di lemarinya. Namun saat wanita itu mengangkat kedua tangannya keatas, handuk yang melilit pada tubuhnya terjatuh.
Tubuh polosnya itu memantul pada cermin besar yang menempel pada pintu lemari. Sekilas tubuhnya terlihat sempurna, akan tetapi sebuah bekas luka di perut kanannya mengganggu penampilannya.
Wanita itu sempat menyentuh bekas luka yang menyerupai bekas tembakan itu, sejenak terdiam namun kembali ke niat awalnya tadi.
Tepat disaat selesai memakai pakaiannya, pintu di kamarnya tiba-tiba terbuka. Tidak ada orang disana namun saat melihat kebawah, seorang gadis kecil memakai piyama berwarna hijau mendekati wanita itu dengan senyum sumringah.
"Mamaaa"
__ADS_1
Gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya lalu disambut pelukan hangat oleh sang Mama.
"Tumben Mama pulang cepat?" bocah cilik itu memainkan rambut pendek milik Mamanya.
"Memangnya Allin gak suka ya kalau Mama pulang lebih cepat?" wanita itu menggoda putri semata wayangnya. Hidungnya yang mancung ia gesekkan pada pipi putrinya membuat gadis itu tergelak.
"Mama gak cape?"
Sekali lagi bocah itu menanyakan keadaan Mamanya, mata bulat itu dipenuhi oleh kepedulian yang sangat besar pada wanita yang melahirkan dan merawatnya.
Namun pertanyaan putrinya tidak ia tanggapi. Wanita itu lekas menggendong putrinya dan membawanya kedalam kamar yang berada tepat disamping kamarnya. Setelah berhasil menidurkan putrinya wanita itu kembali ke kamarnya.
Wanita itu segera menghampiri handphone miliknya, mengambilnya lalu mengangkat telpon dari sebuah kontak yang sudah tersimpan lama di handphone miliknya.
"Halo"
Wanita itu berjalan kearah balkon kamarnya, udara malam yang sejuk berhembus kencang meniup rambut pendek miliknya.
__ADS_1
"Shasa, apakah tugas yang kuperintahkan sudah selesai?"
Shasa mengiyakannya lalu meminta uang yang dijanjikan untuk dibayar cash kepadanya.
Setelah terlibat dalam perbincangan serius dengan lawan bicaranya, Shasa segera menutup telponnya.
Wanita berambut pendek itu kemudian meneguk sebuah gelas berisi vodka yang diambilnya bersamaan dengan mengangkat telpon tadi. Wajahnya yang dulu terlihat masih muda, setelah tujuh tahun wajah itu tidak banyak berubah. Potongan rambutnya yang pendek memperkuat tampilan wajah dewasanya.
Saat tegukan yang ketiga, kilasan ingatan beberapa tahun yang lalu memenuhi seluruh isi kepalanya.
Disaat ia baru bangun dari komanya selama tiga bulan dan mendapati dirinya tengah hamil. Keadaannya yang masih lemah menjadi semakin menghawatirkan saat ia menolak untuk tetap bertahan hidup.
Dirinya tidak menginginkan anak yang berada diperutnya lahir kedunia. Hidupnya tidak akan tenang jika terdapat bayi mungil yang akan mengingatkannya kepada sosok pria brengs*k dimasa lalunya.
Pernah suatu saat ia mencoba mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai sepuluh. Namun percobaannya digagalkan oleh seorang pria yang menyelamatkan nyawanya tempo hari.
Sebuah petir tiba-tiba menggelegar, menyadarkan Shasa dari lamunannya. Wanita itu segera masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu balkon.
__ADS_1
Sebelum benar-benar melelapkan matanya, wanita itu sangat bersyukur karena tujuh tahun lalu ia mempertahankan kandungannya. Jika tidak, mungkin saat ini ia tidak akan bisa merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.