Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
10. Restu Ayahnya


__ADS_3

"Apa?! Menikah?!" kata pak Marwan terkejut dengan ucapan anaknya itu.


Dia kaget sekaligus senang, karena akhirnya Arsyil akan mendapatkan jodoh pula. Pak Marwan tersenyum, dia menepuk pundak anaknya dengan rasa kelegaan dan juga bangga.


"Ayah senang, hanya saja ini mendadak beritanya Syil. Apa kamu tidak sedang mengejek ayah, Syil?" tanya pak Marwan untuk memastikan apa yang di ucapkan anaknya itu benar.


"Apa ayah setuju? Maksudku apa ayah senang jika aku akan menikah?" tanya Arsyil.


"Masya Allah, Alhamdulillah. Tentu saja ayah senang, Arsyil. Kamu sudah dapat jodohmu? Siapa dia?" tanya pak Marwan dengan senang hati.


Arsyil menarik napas panjang, dia bingung untuk menjelaskannya pada ayahnya yang sudah kelewat senang itu.


"Sebenarnya aku mau kasih tahu ayah kalau pernikahanku nanti ini ada yang berbeda yah. Jadi aku menikah karena menolong seseorang." kata Arsyil mulai meraba kemana dulu dia menjelaskan.


"Maksudnya bagaimana Syil?" tanya pak Marwan bingung.


Arsyil pun menjelaskan dari awal agar ayahnya tidak bingung. Dan juga keputusannya itu menerima permintaan Azam. Wajah pak Marwan berubah jadi datar kembali, dia berpikir anaknya seolah di permainkan karena keegoisan Azam. Ada rasa tidak terima Arsyil melakukan itu.


"Syil, kalau jodohmu seperti itu, kenapa kamu terima? Ayah kurang setuju dengan keputusanmu itu, apa Azam tidak mempertimbangkan perasaanmu dan juga calon istrimu nantinya? Banyak lho sesuatu terjadi di luar kendali kita, semua Allah yang tentukan. Apakah kamu akan terus bersama istrimu nanti, atau tetap akan bercerai. Dan lagi pula, bercerai itu tidak baik Syil. Meski di bolehkan dalam agama." kata pak Marwan menjelaskan.


"Yah, aku sudah melakukan sholat istikharah. Dan jawabannya aku harus menerima permintaan Azam, yah. Aku yakin Allah tidak akan membiarkan hal buruk terjadi. Mungkin saja nantinya calon istriku itu adalah jodohku selamanya." kata Arsyil.


"Tapi nanti kamu akan di jauhi Azam, Arsyil. Dan bagaimana nantinya nasib percetakan kamu? Bukankah percetakan itu modalnya pinjam dari Azam?" tanya pak Marwan.


"Jangan berpikir jauh kesana yah, mudah-mudahan saja Azam tidak mengungkit masalah pribadi dan pekerjaan. Dan lagi, aku menolongnya untuk menikahi mantan istrinya. Kalau pun terjadi sesuatu, itu di luar kehendakku yah. Allah yang atur semuanya." kata Arsyil.


Pak Marwan diam, dia tetap kurang setuju dengan pikiran anaknya. Meski begitu, ada rasa bahagia ketika anaknya mengatakan akan menikah.


"Yah, hanya dua bulan saja."


"Ayah bingung Syil. Kok ada ya orang minta tolong untuk menikahi mantan istri, lalu menyuruh cerai lagi. Setelah itu dia kembali lagi." kata pak Marwan.


"Ya ada yah, kalau menurut ego sih sudah dari dulu Azam mungkin menikahi mantan istrinya lagi. Tapi kan menurut agama tidak begitu, harus di seling oleh laki-laki lain. Begitu juga dengan mantan suaminya, harus menikah lagi." kata Arsyil.

__ADS_1


"Kenapa Azam memilih kamu, Syil?"


"Karena dia peecaya sama aku yah, makanya dia meminta padaku."


"Apa dia seyakin itu?"


"Ya, padahal aku sudah menolaknya. Tapi dia bersikukuh aku membantunya, kupikir mungkin ini jalan jodoh yang tidak di sangka yah."


"Aneh kamu itu, kamu nanti jadi duda kalau bercerai dengan istrimu nanti." kata pak Marwan.


"Tidak masalah yah, tapi aku akan selalu berdoa yang terbaik untuk pernikahanku nanti."


"Terserah kamu Syil, ayah tidak bisa mencegahnya. Lagi pula, ayah mengenalkan jodoh untukmu malah dia lari dengan laki-laki lain. Ada teman ayah juga begitu, jadi jika itu keputusanmu ayah hanya berharap pernikahanmu nanti jadi pernikahan yang terakhir dan nasibmu tentang jodoh akan lebih baik."


"Amiin, terima kasih ayah. Anggap saja aku menikah untuk buang sial yah, karena selalu gagal untuk menikah dan mendapatkan jodoh. Kupikir juga begitu yah, mungkin jodohku yang ini. Meski pun nanti ke depannya aku tidak tahu." kata Arsyil.


Pak Marwan pun akhirnya setuju dengan pendapat anaknya. Karena bagaimana pun, sudah beberapa kali di kenalkan dan hampir menikah, selalu saja gagal. Ya, anggap saja untuk buang sial menerima permintaan Azam.


Karena Arsyil tidak tahu rumah tangganya nanti seperti apa, apakah akan langgeng atau sesuai harapan Azam.


"Ayah terserah kamu saja, semoga saja pernikahanmu dengan mantan istri Azam itu langgeng." kata pak Marwan.


Arsyil diam saja, berharap lebih juga baginya sangat tidak etis karena itu akan merusak persahabatan meski Azam sendiri tidak tahu dirinya berharap lebih pada pernikahannya nanti. Dia hanya ingin memenuhi permintaan Azam saja, selebihnya tergantung takdir yang menentukannya bagaimana selanjutnya.


_


Arsyil pun pulang ke rumah kostnya yang dekat dengan percetakannya, lebih dekat dengan tempat kerjanya. Percetakannya memang tidak besar, tapi banyak yang tahu tentang percetakan miliknya. Pegawainya juga lumayan ada tujuh orang, jadi cukup besar juga.


Tapi entah kenapa Arsyil tidak mau membeli rumah sendiri, mungkin dia ingin melunasi hutang modal sebagian yang dia pinjam dari Azam.


Arsyil masuk ke dalam kostnya, dia melihat banyak anak gadis berlalu lalang dengan berpakaian sopan dan berjilbab. Sambil membawa buku mengaji, karena memang kost Arsyil ada sebuah pesantren dan anak-anak santri banyak yang berlalu lalang jika sudah sore untuk mengaji.


Percetakan milik Arsyil juga sebagian ada yang mencetak surat alqur'an dari pesantren. Terutama surat yasin atau doa-doa pendek untuk pengajian di pesatren.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering, Arsyil melihat siapa yang menelepon. Ternyata Nadia, bagian penerimaan pesanan cetak buku atau undangan.


"Assalamu alaikum Nadia."


"Wa alaikum salam pak Arsyil, maaf mengganggu." kata Nadia di seberang sana.


"Tidak apa Nadia, aku juga baru pulang dari rumah ayahku. Ada apa memangnya?" tanya Arsyil.


"Ada ustad yang ingin membuat cetak buku kitab, apa bapak bisa datang ke percetakan?"


"Ustad dari pesantren Al Hikmah?" tanya Arsyil.


"Sepertinya bukan, pak. Karena ustadnya minta pak Arsyil yang menerimanya, saya tidak mengerti yang beliau mau pak."


"Ya baiklah, nanti aku ke percetakan."


"Terima kasih pak Arsyil, maaf kalau harus menyuruh bapak ke percetakan."


"Tidak masalah, sekarang aku kesana." kata Arsyil.


"Iya pak, terima kasih. Assalamu alaikum." ucap Nadia di seberang sana.


"Wa alaikum salam." mengakhiri sambungan telepon.


Klik!


Arsyil menutup sambungan teleponnya, dia melirik jam di tangannya. Masih jam tiga tiga puluh, masih cukup untuk ketemu pelanggan di percetakan. Karena tidak jauh percetakannya, Arsyil langsung ke tempat kerjanya, menemui sang ustad yang ingin bertemu dengannya dan di layani olehnya.


Dia menutup kembali pintu kostnya lalu menuju mobilnya. Menjalankan mesinnya lalu melajukan mobilnya menuju percetakan yang hanya berjarak lima ratus meter dari kostnya.


_


_

__ADS_1


********************


__ADS_2