
Sepulang dari kantor polisi, Arsyil langsung menuju dapur. Dia mengambil air minum, Najwa keluar dan mencari suaminya. Mencari ke semua ruangan, ternyata ada di dapur. Najwa diam di tempatnya, melihat suaminya yang sedang menenggak air minum lalu meletakkan gelas di meja.
Berdiri termenung meratapi musibah yang menimpanya. Menarik napas panjang, Najwa pun mendekat. Tangannya memegang pundak suaminya itu.
Arsyil menoleh, dia tersenyum pada Najwa. Mengusir rasa sedihnya karena musibah kebakaran itu.
"Adek belum tidur lagi?" tanya Arsyil.
"Adek ngga bisa tidur bang, kepikiran abang terus." jawab Najwa.
"Abang ngga apa-apa dek, cuma memang abang sedih karena tempat mengais rejeki abang harus musnah di lalap api." kata Arsyil pelan.
"Jangan khawatir bang, ini memang ujian. Ujian untuk kita berdua, buka abang saja. Dan abang harus sabar ya, Allah pasti akan menggantinya suatu hari nanti." kata Najwa menenangkan suaminya itu.
"Iya dek, terima kasih ya. Abang lega mendengar adek juga sabar dengan musibah ini, abang akan cari pekerjaan yang layak biar bisa menafkahi adek dan anak kita nantinya." kata Arsyil.
"Jangan pikirkan itu dulu, adek juga ngga apa-apa kok bang. Abang harus bisa menghadapi semuanya." kata Najwa lagi.
"Iya dek."
Mereka pun kembali ke kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga tiga puluh. Arsyil sekalian mengambil air wudhu untuk sholat tahajud sekalian, begitu juga Najwa.
Mereka akan meminta ampun dan juga memohon semuanya di permudah. Baik rejeki dan juga menghadapi cobaan dengan sabar.
Lama mereka sholat dan berzikir, Najwa selesai lebih dulu. Dia mengantuk lagi, Arsyil menyuruhnya tidur dulu. Baru setelah subuh berkumandang, Arsyil akan membangunkan istrinya.
_
Arsyil duduk termenung di teras rumahnya, dia menatap langit gelap. Hanya bintang gemintang bercahaya kelap kelip di atas, tapi tidak mampu menerangi bumi meski sebanyak apa pun.
Hati Arsyil benar-benar sepi, sedih dan juga gelisah. Entah apa yang harus dia lakukan. Kemarin dia menyelesaikan percetakan milik penulis yang dia titipkan pada teman yang juga punya percetakan.
Untungnya belum semua uang yang di setorkan padanya, jadi kerugian tidak terlalu banyak. Dia juga belum menggaji lima karyawannya, sisa tabungannya cukup untuk kebutuhan melahirkan anaknya.
Najwa melihat suaminya sedang melamun sendiri di teras rumah. Dia pun mendekat, ikut duduk di sebelah suaminya. Arsyil tersenyum pada Najwa, mengambil kopi hitam di meja.
"Abang memikirkan apa?" tanya Najwa.
"Karyawan abang belum di gaji dek, niatnya uang dari hasil cetak buku yang tertinggal itu buat gaji karyawan. Tapi harus menggantinya mencetak ke percetakan lain." kata Arsyil.
"Terus, abang ngga punya tabungan?" tanya Najwa.
"Ada tabungan abang, tapi itu untuk persiapan persalinan kamu nanti. Mungkin lebih sedikit." jawab Arsyil.
"Bayarkan saja bang dengan uang tabungan itu, kalau untuk persalinan adek juga punya tabungan kok. Abang jangan khawatir, pakai dulu uang adek itu." kata Najwa.
"Tapi itu uang adek, jangan di pakai buat apa pun." kata Arsyil.
__ADS_1
"Ya kan abang lagi butuh uang, gunakan saja uang adek dulu. Kalau abang ada uang, boleh kok di ganti." kata Najwa.
Dia tahu suaminya tidak akan mau menggunakan uang miliknya. Tapi saat ini dia butuh uang, jadi tidak salah jika dirinya membantu meringankan beban suaminya.
"Nanti abang pikirkan. Maaf ya, kalau abang merepotkan adek." kata Arsyil merasa bersalah.
"Kok merepotkan sih bang, kita suami istri harus saling membantu." ucap Najwa lagi.
Arsyil tersenyum lagi, dia menarik tubuh Najwa dan mengecup keningnya. Menatap kembali langit yang gelap di atas sana.
pikiran Najwa dan Arsyil entah kemana, tapi mereka saling menguatkan. Beban pikiran Arsyil sedikit ringan ketika istrinya di dekatnya, bersyukur sekali dia bisa menikah lagi dengan Najwa.
"Abang sayang banget sama adek. Inginnya apa pun yang adek inginkan, abang bisa memenuhinya. Tapi keadaan memaksa abang harus berjuang lagi. Maafkan abang ya dek." kata Arsyil menatap istrinya.
"Adek juga. Adek juga ngga mau merepotkan abang, tapi abang maksa. Ya udah, mau bagaimana lagi. Adek cinta sih." kata Najwa dengan sedikit candaannya.
"Hahah, abang senang adek repotkan. Malah abang inginnya adek diam aja, jangan banyak kegiatan."
"Ih, memangnya adek manekin. Diam terus tanpa melakukan apa pun, adek bukan pajangan bang."
"Hahah! Iya, adek istrinya abang yang cantik dan lembut. Siapa bilang adek manekin, adek itu permata hati abang. Mana bisa di sebut manekin." ucap Arsyil tersenyum, sejenak dia melupakan kegundahan hatinya.
"Kok kita main gombal-gombalan sih bang?" tanya Najwa.
"Emm, abang ngga menggombal kok. Itu keluar dari hati abang yang paling dalam." ucap Arsyil.
"Hahah!"
Senyuman Najwa melebar melihat suaminya tertawa lepas. Dia senang kini Arsyil melupakan kegelisahannya, dan tiba-tiba dia pun mengecup pipi Arsyil dengan cepat. Membuat laki-laki itu berhenti tertawa, menatapnya dalam.
"Ke dalam yuk?" ajak Arsyil.
"Mau apa?"
"Bersembunyi dari tatapan julid bintang-bintang di atas langit karena kita selalu tertawa dan bahagia." ucap Arsyil.
"Hahah, abang. Bilang aja mau sesuatu."
"Nah, itu adek tahu."
Najwa tersenyum, dia pun beranjak bangun. Di tuntun oleh suaminya, mereka masuk ke dalam rumah.
Menutup pintu dan menguncinya. Mereka lalu masuk ke dalam kamar, melakukan apa yang akan membuat hati damai dan bahagia.
Tapi kemudian, ponsel Arsyil berdering. Dia mengangkat dan menjawab teleponnya.
"Halo?"
__ADS_1
"Halo pak Arsyil, kami dari kepolisian sudah menyelidiki tentang kebakaran itu. Dan hasilnya juga sudah di temukan, apa pak Arsyil besok bisa datang ke kantor polisi?" tanya polisi di seberang sana.
"Oh, bisa pak."
"Baik, kami tunggu besok di kantor polisi."
"Iya pak, terima kasih sebelumnya."
"Ya, sama-sama."
Klik!
Arsyil menatap ponselnya, kini ada titik terang kenapa bisa percetakannya terbakar. Najwa menatap suaminya, dia penasaran apa yang di bicarakan suaminya dengan orang di telepon tadi.
"Tadi dari siapa bang?" tanya Najwa.
"Dari kantor polisi." jawab Arsyil.
"Kantor polisi? Apa lagi bang?"
"Kemarin itu, polisi mencurigai kalau percetakan abang ada yang sengaja membakarnya. Jadi polisi menyelidiki tentang kebakaran itu, karena yang terbakar percetakan abang saja. Sedangkan di samping sisi kanan kiri tidak ada rumah, bahkan ada tanah kosong di samping percetakan abang itu. Itu yang membuat janggal kepolisian." kata Arsyil lagi.
"Terus, polisi memanggil abang lagi mau memberi keterangan?"
"Bukan, katanya sudah dapat hasil penyelidikannya. Abang ngga mau suudzon sama siapa pun, karena abang sudah menganggap itu musibah dan ujian buat abang." kata Arsyil.
"Tapi tetap saja bang, jika memang ada yang sengaja membakarnya. Itu sangat tidak manusiawi karena menutup rejeki orang." kata Najwa mulai emosi juga.
"Sudahlah dek, jangan emosi begitu. Besok abang tahu siapa yang membakar percetakan itu, dan abang juga mengikhlaskannya. Mungkin nanti rejeki abang bukan dari percetakan lagi." kata Arsyil.
Najwa diam, dia menarik napas panjang. Betapa sabarnya hati suaminya itu, beruntung sekali dia mempertahankan perasaan cintanya. Tidak sia-sia dia mengorbankan perasaan menjadi janda lagi. Dan mencoba untuk rujuk kembali, tangan Najwa memegangi perutnya.
"Terus, kita mau lanjut apa ngga nih?" tanya Arsyil senyumnya mengembang.
"Lanjut ngga ya bang?" tanya Najwa kini dia yang menggoda suaminya.
"Kalau ngga lanjut, abang mau tidur." kata Arsyil sambil melangkah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
Arsyil berbalik, dia pun bersiap untuk menggendong istrinya. Tidak peduli posisinya sedang hamil dan berat. Najwa tersenyum tipis, tapi kemudian dia kaget dengan apa yang di lakukan oleh Arsyil.
"Abaaang!"
_
_
*******************
__ADS_1
"Ih, abang merajuk. Ngga pantas abang merajuk." ucap Najwa.