
Arsyil memberitahu Azam kalau dia sudah memutuskan menyanggupi permintaannya. Azam senang mendengarnya, dia tak henti mengucapkan terima kasih pada Arsyil. Dan kini keduanya sedang duduk di ruang kantor Arsyil..
Sengaja Azam datang ke kantor percetakan Arsyil, dia senang akhirnya Arsyil mau menuruti permintaannya.
"Aku senang kamu mau menolongku, Syil. Aku akan berikan saham sepuluh persen di perusahaanku, sesuai janjiku." kata Azam.
"Ngga Zam, aku ikhlas bantu lo. Mungkin ini takdir gue juga, dan jodoh siapa yang tahu kan?" kata Arsyil.
"Iya sih, tapi aku tidak enak sama kamu. Masa menyuruh kamu menikah dengan mantan istriku hanya untuk di manfaatkan, tidak ada imbalan apa pun yang aku berikan sama kamu." kata Azam.
"Ngga apa- apa. Anggap saja ini sudah jalan takdirku dan juga sebagai buang sialku dalam menerima jodoh." kata Arsyil.
"Hahah, baiklah. Tapi ..., aku harap kamu tidak jatuh cinta sama Najwa." kata Azam.
"Apa dia cantik?"
"Ya, dan juga sholeha." jawab Azam.
"Kalau urusan cinta, cuma Allah yang atur. Jika itu terjadi, aku akan berusaha membuangnya. Tapi maaf jika suatu saat nanti aku harus jatuh cinta pada istriku nanti." kata Arsyil.
Azam diam, dia berpikir apakah benar yang dia lakukan itu?
Bukankah sesuatu yang tak terduga pasti akan terjadi jika bukan Arsyil, apakah nanti Najwa yang akan seperti itu.
Kini tiba-tiba Azam mulai takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan. Arsyil menatap Azam, dia melihat Azam seperti sedang bungung dan takut.
"Zam, kamu kenapa?" tanya Arsyil.
"Ngga apa-apa. Aku baik." jawab Azam.
Dia menatap Arsyil, memastikan kalau sahabatnya itu tidak akan berhianat padanya.
"Syil, kamu mau janji padaku?" tanya Azam.
"Janji apa?" tanya Arsyil.
"Kamu, jangan jatuh cinta sama Najwa." kata Azam.
Arsyil diam, ini yang tidak bisa dia terima. Apakah memang hanya membutuhkan dirinya karena benar-benar jadi suami selingan mantan istrinya?
Secantik apa Najwa itu? Kenapa Azam tega melepaskan Najwa hanya karena dia tidak kunjung hamil dan menuruti kemauan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Arsyil, kamu mau janji kan?" tanya Azam lagi.
"Temukan aku dulu dengan Najwa, aku tidak bisa janji tentang itu. Yang berhak menentukan itu adalah Najwa, aku hanya orang sewaanmu saja kan. Jika aku jatuh cinta, maka aku akan menahnannya. Karena cinta itu rahmat dari Allah, dan rahmat tidak bisa aku tolak, Zam." kata Arsyil.
Azam kembali diam, ini memang resikonya. Dia kembali berpikir, tapi dia tidak bisa mundur. Setidaknya dia harus berikhtiar lebih dulu.
"Apakah kamu sudah menemukan gadis yang akan kamu nikahi?" tany Arsyil mengalihkan pikiran Azam tentang Najwa dan dirinya.
"Sudah, dia lebih muda sih dari Najwa." jawab Azam.
"Orang mana?"
"Dia adik dari rekan bisnisku, cantik dan sholeha juga." kata Azam.
Arsyil diam, dia merasa Azam sangat beruntung sekali untuk mendapatkan jodoh. Mudah dan banyak yang mau dengannya, karena dia memang termasuk orang kaya mungkin. Sedangkan dirinya, hanya mempunyai sebuah usaha percetakan yang sedang berkembang.
"Oh ya, nanti aku temukan kamu dengan Najwa Syil." kata Azam.
"Oke, kapan waktunya?" tanya Arsyil.
"Nanti aku hubungi kamu. Sekarang aku pergi dulu ya, mau ketemu juga dengan calon istriku." kata Azam.
"Baiklah, aku tunggu kabar darimu." kata Arsyil.
Tok tok tok.
"Masuk!"
Pintu terbuka, tampak Nadia masuk membawa map dan dia menyerahkan map di tangannya pada Arsyil.
"Ini pak, dari pesantren. Dari pihak sana meminta desain undangan untuk acara harlah pondok pesantren Al Hikmah. Dan minta di buatkan dua ribu undangan, katanya harus selesai sepuluh hari. Apa bisa pak?" tanya Nadia.
"Bisalah, kan tinggal cetak aja. Itu acara dan serta tanggal acaranya sudah ada semua?" tanya Arsyil.
"Ada pak, di map itu sudah ada semua. Dan ada dua lagi yang minta di buatkan undangan juga. Ada si map itu semua." kata Nadia.
"Baik, nanti aku buat desainnya dan di cetak di bagian percetakan."
"Iya pak. Saya permisi."
"Ya, Nadia."
__ADS_1
Nadia pun keluar dari ruangan Arsyil, menutup pintunya dan kini Arsyil mengerjakan pekeraannya yang tadi tertunda lagi.
Tuuut.
Suara telepon berbunyi, Arsyil mengambil ponselnya. Tertera di sana nama Azam, Arsyil mengerutkan dahinya.
"Tadi dia baru saja datang kemari, kenapa menelepon?" ucap Arsyil heran.
Di tekan tombol hijau dan menjawab telepon sahabatnya itu.
"Assalamu alaikum, Azam."
"Wa alaikum salam, Syil."
"Kenapa Zam? Ada yang ketinggalan?" tanya Arsyil.
"Nanti sore kamu tidak sibuk kan?"
"Ngga sih, kenapa?"
"Kalau begitu, sore ini saja kita ke rumah Najwa. Aku akan kenalkan kamu sama dia dan kedua orang tuanya, bagaimana?"
"Terserah kamu saja, aku terima saja Zam."
"Oke, nanti aku jemput kamu ke kantor ya."
"Ya, boleh."
"Ya sudah, assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Klik!
Azam menutup sambungan teleponnya, Arsyil menatap ponselnya. Dia berpikir apa secepat itu untuk bertemu dengan calon istrinya?
"Ya sudahlah, mungkin memang harus cepat bertemu dan melangsungkan pernikahan. Mungkin itu yang Azam pikirkan." ucap Arsyil.
Arsyil pun melanjutkan pekerjaannya, jam tiga sore dia harus selesai dan jam empat sore Azam akan menjemputnya. Meski tadi tidak ada pembicaraan waktu datang ke rumah Najwa, Arsyil sudah memastikan akan berangkat ke rumah calon istrinya sekitar jam empat sore.
_
__ADS_1
_
********************