
Arsyil bersiap untuk pergi ke kebun, Sabtu ini dia memang berangkat ke kebun untuk panen dan setelahnya akan di kirim ke restoran di mana menampung sayuran yang dia panen.
"Abang mau pergi pagi-pagi?" tanya Najwa menyediakan kopi untuk suaminya.
"Iya dek, hari ini abang mau petik sayuran. Dan siangnya langsung ke restoran, ngga usah masak aja. Nanti abang bawakan nasi padang pulangnya." kata Arsyil.
"Ya udah, ngga apa-apa. Tapi kalau lama sih, adek mending makan dulu bang. Kan asi adek cepat habis sama Alief, jadinya adek cepat lapar." kata Najwa.
"Iya, makan duluan juga ngga apa-apa." kata Arsyil.
Dia sudah menyiapkan semua alat-alatnya, di bantu dua orang tetangganya untuk panen. Jadi Arsyil bisa menghemat waktu.
"Oh ya bang, jadikan besok pergi?" tanya Najwa.
"Jadi sayang, besok sekalian pulang jalan-jalan. Abang belum pernah jalan sama adek dan Alief ke mall." kata Arsyil.
"Ya udah, besok sudah harus beres semua kerjaan di rumah."
"Iya, abang berangkat dulu dek. Alief lagi tidur kan?"
"Iya, biar aja. Sebelum subuh dia melek terus." kata Najwa.
Dia menyalami suaminya, Arsyil mencium kening istrinya lalu segera berangkat ke kebun untuk panen sayur.
Setelah suaminya pergi, Najwa pun masuk lagi ke dalam rumah. Seperti kebanyakan ibu rumah tangga, dia akan mengerjakan semua pekerjaan rumah saat anaknya tidur terlelap dengan tenang.
Mencuci baju, memasak dan juga menyeterika baju yang kemarin di cuci. Semuanya di kerjakan saat anaknya tidur, jadi jika anaknya bangun dan mengajaknya bermain dia akan tenang karena pekerjaannya selesai sebelum Alief bangun.
_
Najwa dan Arsyil bersiap untuk pergi berkunjung ke rumah Azam di hari Minggu ini. Arsyil sengaja tidak memberitahu dulu karena itu untuk kejutan buat sahabatnya, di samping Najwa juga tidak masalah jika harus datang lagi ke rumah Azam setelah hampir dua tahun itu.
"Abang ngga kasih tahu mas Azam kalau mau datang?" tanya Najwa.
"Ngga, biar aja. Biar dia kaget kita datang bertiga." jawab Arsyil.
Najwa diam, dia sedang memberikan makanan buah pada Alief. Dia sekarang sudah MPasi, jadi Najwa harus bawa makanan pendamping anaknya itu agar tidak kelaparan jika waktunya makan.
Mereka sedang menunggu mobil taksi online yang sengaja mereka pesan melalui aplikasi. Tak berapa lama, mobil pesanan mereka pun datang. Arsyil membuka pintu mobil untuk istrinya, membawa tas berisi perlengkapan milik Alief.
Mobil pun melaju menuju alamat yang di tuju, dengan suasana senang hati. Arsyil tersenyum, dia menggendong anaknya yang mulai menangis karena kaget menaiki mobil untuk pertama kalinya.
Biasanya Arsyil dan Najwa membawanya dengan sepeda motor, jadi bayi itu terkejut. Tapi tak berapa lama, bayi laki-laki berusia enam bulan setengah itu diam setelah di gendong oleh Arsyil.
"Hemm, kamu mau di gendong sama papa ya." ucap Arsyil mencium anaknya.
"Chachcha."
"Hahah, gemas banget deh papa jadinya. Kamu pintar ya. Cup." ucap Arsyil.
"Setelah dari rumah mas Azam, mau kemana lagi bang?" tanya Najwa menyiapkan susu dalam botol lalu di berikan pada Arsyil untuk di minumkan pada anaknya.
"Ya, kita jalan-jalan ke mall?" tanya Arsyil.
"Boleh, tapi apa ngga repot." kata Najwa.
__ADS_1
"Ngga, biar abang yang gendong Alief dan bawa tasnya juga. Kalau adek repot dan capek, abang yang bawa gantian." kata Arsyil.
"Ya udah, nanti sekalian beli baju-baju Alief ya. Soalnya bajunya sudah pada keekcilan, anaknya kan cepat besarnya. Tuh bajunya aja perutnya kelihatan." kata Najwa.
"Iya, sejak bayi belum beli baju lagi ya. Banyak dari umi dan abah yang di pakai."
"Iya, kita beli beberapa setel buat Alief." kata Najwa.
"Buat kamu juga dek, abang lihat baju-baju kamu sudah pada kusam deh warnanya. kamu juga beli beberapa baju ya." kata Arsyil.
"Ngga usah bang, kan adek di rumah aja sama Alief. Buat apa baju baru." kata Najwa.
"Ya ngga apa-apa, abang juga pengen beli baju buat adek. Abang ada untung dari jual sayur lebih besar, jadi adek mau beli baju atau kerudung baru juga tidak masalah." kata Arsyil lagi.
"Bener bang?" tanya Najwa sumringah.
"Iya sayang, sudah nanti setelah dari rumah Azam kita pergi jalan-jalan ke mall."
"Oke." jawab Najwa dengan senangnya.
Dia tersenyum, suaminya juga senang dengan istrinya yang begitu senang mau jalan-jalan ke mall dan membeli baju.
Supir taksi itu melihat keduanya dari kaca spion di depan pun ikut tersenyum. Dia senang melihat keharmonisan kedua suami istri itu, terasa sederhana tapi terlihat hangat.
Tak berapa lama, mobil berhenti di depan rumah Azam. Tampak sepi dari luar, tapi seperti biasanya ada satpam di depan pintu gerbang. Arsyil dan Najwa keluar dari mobil taksi, suami Najwa itu membayar ongkos taksi sesuai tarif.
Lalu keduanya pun menuju pintu gerbang kecil dan melihat apakah ada satpam di dalam. Arsyil mengetuk pintu gerbang beberapa kali, tapi tidak ada satpam yang muncul.
"Kok ngga ada satpam, kemana ya?" ucap Arsyil heran.
Dia melongok ke dalam melalui celah pintu, di bukanya pengait pintu dan mendorongnya. Dia lalu masuk, dan memang tidak terlihat ada satpam di posnya.
"Ngga apa-apa, mungkin Azam ada di dalam. Satpam lagi ke belakang mungkin." kata Arsyil.
Mereka pun melangkah terus ke depan pintu, Najwa mengingat rumah itu banyak kenangan. Dia melihat kebun bunga di depan, masih rapi dan terurus. Mungkin istri Azam mengurusnya dengan baik, begitu pikir Najwa.
Arsyil dan Najwa berada di depan pintu, memencet bel dan mengucapkan salam. Najwa melihat garasi mobil Azam, tidak ada mobil terparkir di sana.
"Bang, kayaknya mas Azam ngga ada di rumah deh. Mobilnya juga ngga ada tuh " kata Najwa.
Arsyil menoleh ke arah garasi mobil, dan memang tidak ada mobil Azam. Pintu terbuka, tampak bi Darsih keluar. Dia terkejut melihat Najwa dan Arsyil berdiri.
"Waah, mbak Najwa apa kabar?" tanya bi Darsih menyalami Najwa.
"Alhamdulillah baik bi Darsih." jawab Najwa dengan tersenyum senang.
"Bibi kaget mbak Najwa ada di sini." kata bi Darsih lagi.
"Iya, ini bang Arsyil ingin ketemu mas Azam. Ada orangnya bi?" tanya Najwa.
"Tadi sih keluar setengah jam lalu, tidak tahu mau kemana. Ibu biasanya cerita, tapi kayaknya mas Azam ngga bilang mau kemana." kata bi Darsih.
"Ooh, begitu ya."
"Iya, masuk yuk bu. Sudah lama mbak Najwa ngga kesini."
__ADS_1
"Kan bukan rumahku lagi bi." kata Najwa.
"Oh ya, maaf mbak. Bibi lupa, heheh. Saking senangnya bibi ketemu mbak Najwa lagi." kata bi Darsih.
Najwa pun tersenyum, dia menatap suaminya yang sejak tadi diam saja. Tiba-tiba ponsel Arsyil pun berbunyi, dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon.
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam, Syil kamu sedang keluar?" tanya seseorang yang tak lain adalah Azam.
"Iya, aku ada di rumah kamu nih." kata Arsyil.
"Masya Allah, aku juga ada di depan rumahmu."
"Apa?! Ya Allah, hahah!"
"Hahah! Kita sepemikiran ternyata. Lalu bagaimana? Apa kita ketemu saja di mana?"
"Hemm, rencananya aku dan Najwa mau jalan-jalan ke mall. Mau membeli sesuatu setelah pulang dari rumahmu, eh kamu ada di rumahku juga."
"Lalu, apa kita ketemu di mall saja?"
"Boleh, aku sama Najwa langsung kesana aja."
"Oke, kita ketemu di mall. Jalan sama-sama juga, tidak masalah. Hahah!".
"Ya ya, baiklah. Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam"
Klik!
Arsyil menutup sambungan teleponnya, dia tersenyum lucu kenapa kejadiannya sama seperti itu. Najwa melihat suaminya tersenyum sendiri jadi heran.
"Siapa bang?" tanya Najwa.
"Azam, dia tadi ada di rumah kita dek. Mau silaturahmi juga, hahah." kata Arsyil.
"Ya ampun, terus bagaimana rencananya?" tanya Najwa.
"Kita ketemu di mall, katanya dia juga sekalian jalan-jalan juga. Ngga apa-apa kan?" tanya Arsyil.
"Ya udah, ngga apa-apa. Kita langsung kesana aja."
"Iya."
"Bi Darsih, kita pergi saja. Kita ketamu dengan mas Azam di mall katanya." kata Najwa.
"Oh ya mbak, bu Mala juga kayaknya senang bisa ketemu dengan mbak Najwa." kata bi Darsih.
"Iya bi, kami pamit dulu. Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
_
__ADS_1
_
**************