Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
20. Karena Petir


__ADS_3

Malam hari, hujan semakin malam semakin. Najwa sudah berada di kamarnya sendiri, begitu juga dengan Arsyil. Tapi Najwa masih belum bisa tidur, dia takut dengan hujan lebat begitu. Apa lagi tidur sendirian di tempat yang masih terasa asing bagi Najwa.


Duaarr!


"Astaghfirullah!"


Najwa terbangun, dia duduk di sisi ranjang. Jantungnya berdetak kencang. Dia terkejut karena suara petir dan geledek di luar sana sangat keras dan membuat Najwa ketakutan.


Tok tok tok.


"Dek, kamu sudah tidur?" teriak Arsyil di depan kamar Najwa.


Najwa pun segera turun dari ranjangnya, dia membuka pintu kamar. Tampak Arsyil merasa khawatir dengan dirinya, Najwa senang Arsyil datang ke kamarnya. Tapi wajahnya cemas sekali dengan istrinya yang berdiri di depannya.


"Kamu belum tidur dek?" tanya Arsyil masih tampak cemas.


"Belum bang, tadi ngga bisa tidur karena petir dan geledeknya keras banget. Jadi takut." kata Najwa.


"Terus, gimana? Apa masih takut atau mau tidur lalu abang jaga ya di luar." kata Arsyil.


"Emm, abang masuk saja. Tidur sama adek di dalam." kata Najwa.


Arsyil diam, dia menatap Najwa lekat. Tapi kemudian dia tersenyum.


"Tapi, adek ngga apa-apa abang tidur sekamar?" tanya Arsyil.


"Ngga apa-apa bang. Kan kita suami istri, bang. Dan aku takut sendirian kalau hujan lebat begini, belum terbiasa di rumah ini tidur ada hujan lebat." kata Najwa.


"Baiklah, ayo masuk. Abang temani kamu tidur." kata Arsyil.


Baru saja Arsyil melangkah masuk, Najwa pun terlonjak kaget. Dia memeluk suaminya karena takut. Sontak Arsyil juga kaget, tapi kemudian dia mendekap erat Najwa yang ketakutan karena suara geledek menggelegar di barengi petir menyambar.


Arsyil menuntun Najwa ke tanjangnya, duduk di sisi bersama. Masih memeluk Najwa, hingga beberapa menit akhirnya Najwa melepas pelukannya pada Arsyil.


"Maaf bang." kata Najwa melepas pelukannya pada suaminya.


"Iya, ngga apa-apa. Kamu takut ya sama petir dan geledek?" tanya Arsyil.


"Iya bang, dari kecil selalu ketakutan. Karena pernah trauma waktu main di lapangan pernah hampir di sambar petir saat main." kata Najwa.


"Kalau di rumah abah, gimana?"

__ADS_1


"Umi yang temeni aku tidur kalau malam hijan lebat begini." kata Najwa.


"Ya sudah, apa abang temani kamu tidur?"


"Ya."


"Sekarang tidur ya, biar abang jaga di sini." kata Arsyil.


"Abang ngga tidur?"


"Abang akan tidur kalau adek sudah tidur."


Najwa diam, dia inginnya Arsyil juga tidur. Tapi dia malu mengatakannya, akhirnya dia pun berbaring sendiri. Menatap suaminya lekat, lalu berusaha memejamkan matanya.


Beberapa menit kemudian, Najwa membuka matanya. Dia melihat suaminya masih duduk menatapnya, lalu Najwa pun kembali memejamkan matanya lagi.


Satu menit, dua menit, setengah jam Najwa belun juga bisa memejamkan matanya. Dia membuka mata dan melihat suaminya memejamkan mata sambil duduk. Rupanya Arsyil yang tertidur dalam duduknya.


Najwa bangkit dari tidurnya, perlahan dia duduk. Menatap suaminya yang terkantuk-kantuk memaksa untuk menjaganya. Lama dia memandang Arsyil, ada senyum di bibirnya. Merasa aneh karena Arsyil begitu perhatian dan menjaganya betul-betul.


Sekarang Najwa mengetahui seberapa baiknya Arsyil. Dia masih menatap Arsyil, hingga suara menggelegar kembali bergemuruh.


Duaaar!


Tentu saja Arsyil kaget, dia melihat istrinya memeluknya. Dia pun menarik tubuh Najwa, di dekap erat agar nyaman dalam pelukannya. Dia terus menguap, membuat Najwa pun merasa kasihan padanya.


"Bang, tiduran aja." kata Najwa.


"Ngga dek, abang begini aja ngga apa-apa."


"Tapi abang ngantuk."


"Kamu juga mengantuk tuh."


"Ya, kalau abang begini suara petir tadi. Mana bisa tidur bang." kata Najwa.


"Akhirnya Arsyil pun akhirnya menurut, dia berbaring di pinggir ranjang. Dan Najwa berbaring di sampingnya, mendekat pada Arsyil karena gelegar petir kembali berbunyi.


Tiba-tiba rasa nyaman Najwa rasakan dalam dirinya. Beberapa kali petir menggelegar dia tidak merasa kaget, bahkan kini dia bisa tidur dengan pulas.


Arsyil kini yang tidak bisa tidur, dia bernapas dengan hati-hati karena takut napasnya mengenai Najwa dan akhirnya dia terbangun. Tapi kemudian dia mengeratkan pelukannya lalu tertidur kembali.

__ADS_1


Mereka tidur pertama kalinya bersama dan saling memeluk. Layaknya suami istri sempurna yang tak pernah punya beban di hari selanjutnya.


_


Pagi mereka merasa canggung karena semalam hingga bangun tidur masih dalam keadaan berpelukan. Najwa membuat sarapan dan Arsyil bersiap untuk pergi ke percetakannya. Selesai membuat sarapan, Najwa langsung menyuruh Arsyil makan sarapan.


"Tadi abang dengar kompleks di bawah kebanjiran. Untung kontrakan ini ada di atas ya dek." kata Arsyil.


"Oh, iyakah bang?"


"Iya, tadi abang keluar dan lihat keadaan. Ternyata banyak yang berondong-bondong memindahkan barang-barang meraka ke atas."


"Oh jadi kompleks ini sering kena banjir bang?"


"Ngga tahu, tapi semalam itu kan hujannya lebat banget dan ngga berhenti-berhenti sampai mau subuh. Wajar saja kalau di bawah itu kebanjiran." kata Arsyil.


"Begitu ya, beruntung banget kita di atas ya bang."


"Oh ya, ayah kalau tidak ada halangan sore ini mau datang dan sekalian menginap dek di rumah ini." kata Arsyil.


"Oh ya bang? Lalu, ayah mau tidur di mana?"


"Di kamarku yang dulu aja, nanti abang bereskan biar ngga berantakan." kata Arsyil.


"Biar adek saja bang, nanti abang bolak balik lagi ke rumah dan percetakan."


"Ngga apa-apa."


"Ngga bang, biar adek yang bereskan ya. Kali ini abang yang menurut." kata Najwa dengan senyum manisnya.


"Ya baiklah, kali ini saja ya. Tapi nanti jangan larang abang bantu pekerjaan kamu di rumah." kata Arsyil.


"Iya bang, terima kasih bang." kata Najwa.


"Ya, kita sama-sama mengerjakan tugas rumah dek. Dan abang ngga mau kamu capek saja." kata Arsyil.


"Iya bang, ngga capek kok."


Setelah selesai sarapan, Arsyil pun pamit untuk kerja. Najwa menyalami tangan suaminya dan melambaikan tangan pada suaminya. Motor Arsyil melaju keluar dari halaman rumah kontrakannya.


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2