Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
34. Azam Menagih Lagi


__ADS_3

Tidak ada yang tahu kalau ayah Arsyil meninggal, Najwa yang mendampingi Arsyil di rumah ayahnya itu ikut sedih. Dia juga membantu para tetangga untuk menyiapkan makanan untuk para pelayat dan juga yang mengaji di rumah mertuanya.


Banyak yang penasaran pada Najwa, tapi mereka tidak berani bertanya pada Najwa langsung. Najwa hanya diam saja, dia menemani para pelayat dan juga remaja masjid yang sedang mengaji di depan jasad pak Marwan.


"Dek, kamu mengantuk?" tanya Arsyil.


"Ngga bang." jawab Najwa.


"Kalau mengantuk, tidur saja. Jangan memaksa untuk begadang. Biar abang yang temani mereka di sini." kata Arsyil lagi.


"Tapi bener bang aku ngga ngantuk kok." ucap Najwa lagi.


"Ya sudah, nanti kalau mengantuk langsung tidur ya."


"Iya."


Arsyil menemani para pelayat dan juga remaja masjid yang sedang mengaji dan juga ikut bergadang dengan Arsyil. Pikiran Arsyil kembali bersedih sekaligus khawatir.


Khawatir akan waktu yang sudah dekat dan juga dia benar-benar akan hidup sendirian setelah besok dia kembalikan Najwa ke Rumah abahnya.


Malam semakin larut, suasana terasa sepi. Sesepi hati Arsyil saat ini kehilangan orang yang dia hormati dan dia sayangi. Sesepi hatinya ketika ingat akan waktu yang sebentar lagi tiba.


Arsyil masih berdiam diri di depan keranda ayahnya, matanya sudah mengantuk. Tapi hatinya belum bisa di ajak kerja sama untuk tidur, hingga subuh menjelang Arsyil sudah bersiap untuk sholat subuh dan juga menyiapkan semua untuk acara penguburan ayahnya.


Pak Sanip juga sudah datang setelah selesai sholat berjamaah di masjid. Dia melihat Arsyil masih duduk di depan keranda pak Marwan, dengan duduk menunduk dengan kantuk yang luar biasa.


Pak Sanip ingin membangunkan Arsyil, tapi tidak tega rasanya. Dia tahu Arsyil baru beberapa menit atau jam tidur.


"Apa nak Arsyil baru saja tidur?" tanya pak Sanip pada remaja disebelah Arsyil.


"Iya pak, bang Arsyil baru terlelap. Tapi kasihan tidurnya sambil duduk begitu." kata remaja itu.


"Biarkan saja dulu, nanti setengah jam lagi kalau belum bangun. Ya bangunkan saja, ini sudah jam lima lebih." kata pak Sanip.


"Baik pak Sanip."


Pak Sanip pun ikut duduk di depan keranda berisi jenazah pak Marwan. Dia tidak menyangka kalau teman saat mengobrol sewaktu selesai sholat di masjid harus berpulang lebih dulu dari padanya. Padahal lebih tua lima tahun dirinya di banding pak Marwan itu.


Tiba-tiba Arsyil pun terbangun, dia seperti kaget dengan keadaan di sekitarnya. Dia menatap lama keranda di depannya, awalnya dia belum sadar. Tapi kemudian dia pun menarik napas panjang, menoleh ke arah pak Sanip.


"Pak Sanip, jam berapa di kuburnya?" tanya Arsyil.


"Terserah nak Arsyil saja, semuanya sudah siap kok. Tinggal menunggu kesiapan dan keikhlasan nak Arsyil saja." jawab pak Sanip.


"Jam tujuh saja ya pak, saya mau memberi kabar sama ...."


Ucapan Arsyil terhenti, dia lupa kalau tetangga ayahnya itu belum tahu kalau dirinya dan Najwa adalah suami istri.

__ADS_1


"Tapi belih cepat lebih baik kan pak Sanip?"


"Ya, jam tujuh itu sedang untuk menguburkan mayat. Jadi nanti bersiap-siap saja nak Arsyil dan siapa tadi di dalam itu?"


"Najwa pak."


"Oh ya."


Arsyil tersenyum tipis, dia pun pamit untuk sholat subuh lebih dulu sebelum banyak orang yang datang untuk mengiring kepergian pak Marwan yang terakhir kalinya.


_


Penguburan selesai di lakukan, Arsyil sudah kembali ke rumah ayahnya. Banyak juga yang tetangga yang memberinya ucapan bela sungkawa dan juga memberikan semangat pada Arsyil.


Najwa hanya diam saja, dia tidak berani keluar setelah apa yang tadi malam dia dengar tentang gunjingan dirinya siapanya Arsyil.


Najwa mendekati suaminya, pukul sepuluh pagi. Arsyil sudah memberitahu Nadia kalau saat ini dia tidak bisa pergi ke percetakan karena sedang berduka.


Setelah sepi, baru Najwa mendekati suaminya yang sedang duduk membereskan sisa-sisa makanan yang ada di ruangan itu.


"Bang, makan dulu yuk?" ajak Najwa.


"Sebentar dek, Abang bereskan ini dulu." kata Arsyil.


Najwa membantu suaminya membereskan bekas sisa makanan yang tidak di makan. Dia lalu membawanya ke belakang di susul Arsyil membawa piring juga.


"Nanti sore kita pulang dek." kata Arsyil.


"Apa Abang ngga mau di sini dulu?" tanya Najwa.


"Nanti setelah semuanya beres." jawab Arsyil.


Najwa mengerutkan dahinya, dia belum paham apa yang di katakan suaminya. Tapi dia diam saja, ingin cari tahu sendiri apa maksud ucapan Arsyil itu.


Mereka makan dalam diam, Arsyil makan hanya beberapa suap saja. Lalu dia menyudahi makanannya, Najwa mengerti suaminya sedang tidak baik hatinya.


"Abang pergi ke rumah pak Sanip dulu dek." kata Arsyil.


"Iya bang."


Arsyil pun pergi keluar, dia mengambil ponselnya yang sejak tadi berbunyi tapi dia buat silent agar tidak mengganggu dirinya yang sedang berduka.


Dia melihat ada beberapa panggilan dari Azam. Arsyil menarik napas panjang, lagi-lagi dia sedih. Tapi kemudian dia pun pergi mepangkah menuju rumah pak Sanip yang tidak jauh jaraknya dengan rumah ayahnya.


Ponsel kembali bergetar, Arsyil mengambilnya dan menjawab telepon dari Azam itu.


"Assalamualaikum, Zam?"

__ADS_1


"Halo Syil, Wa Alaikum salam. Gimana kabarmu?" tanya Azam.


"Aku baik. Najwa juga baik." jawab Arsyil yang tahu maksud Azam meneleponnya.


"Oh ya, Syil. Syukurlah, kamu baik dan Najwa juga. Kamu masih ingat semua kan?"


"Ya, besok aku akan kembalikan Najwa ke rumah Abah. Jangan khawatir, Zam." kata Arsyil dengan nada berat.


"Maafkan aku Syil, aku harus menanyakannya terus. Terus terang aku masih sangat mencintai Najwa, dia yang paling aku cintai. Kamu harus tahu itu Syil." kata Azam.


"Aku tahu, Zam. Aku tahu." kata Arsyil menahan rasa sesak di dadanya.


Obrolan mereka terhenti, diam menyelami hatinya masing-masing. Azam dengan rasa rindunya pada Najwa, sedangkan Arsyil rasa berat dan sedih serta rasa cinta yang dalam pada Najwa tiba-tiba harus berpisah.


"Zam, sudah dulu ya. Aku mau pergi ke rumah tetangga sebentar." kata Arsyil.


"Iya Syil, maafkan aku ya."


"Ya, tidak masalah Zam."


"Assalamualaikum."


"Wa Alaikum salam."


Klik!


Arsyil menutup sambungan teleponnya, dia lalu berbelok bukan ke rumah pak Sanip. Tapi dia pergi entah kemana, hatinya benar-benar perih. Dia ingin sendiri saat ini, kemudian dia pun pergi ke pemakaman. Ingin dia menangis di depan makam ayahnya.


Rasanya Arsyil harus mengalami hal yang sangat pahit, sepahit saat ini. Harus di tinggalkan ayahnya, lalu besok dia harus berpisah dengan Najwa.


Sampai pada makam ayahnya, Arsyil langsung bersimpuh. Pusara yang masih basah itu, kini kembali di tetesi air matanya.


"Ayah, maafkan aku. Aku bukan anaknya baik, meninggalkan ayah tanpa menjenguk, tanpa bertanya kabar ayah bagaimana. Hik hik hik."


Arsyil menangis di depan pusara ayahnya, yang sejak tadi semalam dia tahan. Kini dia tumpahkan di depan pusara ayahnya.


"Aku harus kehilangan ayah, sekaligus istri yang kini aku cintai. Bagaimana bisa aku mendapatkan cobaan seperti ini, ayah. Ya Allah, mohon ampun padaMu karena aku mengeluh, aku hanya seorang hamba yang lemah. Hik hik hik."


Arsyil menangis sejadi-jadinya di depan pusara ayahnya. Keheningan membuat suasana sekitar menjadi ikut dalam kesedihan Arsyil.


Lama dia meratapi hati dan nasibnya, setelah dia puas. Arsyil pun bangkit dari berjongkok, berdiri dan menghapus air matanya. mengucapkan doa, lalu dia pun pergi lagi. Pergi menuju tujuan semua ke rumah pak Sanip. Dia sadar kalau memang Allah sedang menguji kesabarannya dalam menghadapi semuanya. Menerima nasibnya harus berpisah dengan orang-orang yang sangat dia cintai.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2