Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
58. Di Pinggir Jalan


__ADS_3

Usia kandungan Najwa sudah memasuki empat bulan, jadi perutnya sudah terlihat, dia tampak senang sekali. Kemarin dia periksa ke bidan yang dulu pertama memeriksanya mengatakan janinnya sehat dan baik-baik saja.


"Saya pikir mbaknya itu saudara mas Arsyil, ternyata istrinya." kata bidan cantik itu.


"Iya bu bidan." jawab


"Tapi kok saya jarang melihat ya? Oh ya, waktu itu sudah menikah ya katanya sebelum pak Marwan meninggal." kata bidan lagi.


Najwa mengangguk, dia diam saja kini menanggapi pertanyaan bidan. Karena pastinya nanti akan panjang pertanyaan demi pertanyaan.


Setelah selesai, Najwa pun pulang. Karena Arsyil tidak mengantarnya periksa, Najwa jalan kaki menuju rumah Arsyil. Senyumnya selalu mengembang sepanjang jalan. Kandungannya sangat sehat, itu kerana hati Najwa selalu bahagia.


Saat ini dia akan memasak banyak, katanya abah dan uminya akan datang ke rumah untuk berkunjung. Sejak resepsi pernikahan itu, abah dan uminya belum menengoknya lagi.


Najwa senang kedua orang tuanya akan datang ke rumahnya. Makanya dia membeli banyak sayuran dan daging serta ikan untuk makan nanti menyambut abah dan uminya.


Banyak yang harus dia buat, tapi itu tidak membuat Najwa lelah. Karena dia melakukannya dengan senang hati.


Dia juga sudah memberitahu suaminya kalau siang ini abah dan uminya akan datang ke rumah. Tapi Arsyil tidak bisa pulang cepat, karena dia harus bertemu dengan penulis buku yang memang sengaja ingin datang ke tempat percetakannya.


"Ngga apa-apa bang, abah dan umi juga tidak masalah. Tapi sore pulang kan bang?" tanya Najwa ketika dia menelepon suaminya.


"Iya dek pasti, kan kalau tidak ada kerjaan abang langsung pulang. Kalau waktunya cepat sih abang juga langsung pulang." kata Arsyil.


"Ya udah, ngga apa-apa. Adek masak banyak soalnya, enaknya makan sama-sama di rumah bang."


"Iya, abang pasti pulang."


Begitulah percakapan kedua suami istri itu di telepon. Dan akhirnya sambungan telepon pun berakhir dengan ucapan manis dari Arsyil untuk Najwa. Tentu saja hati Najwa jadi tersipu malu dengan gombalan dan ucapan manis dari Arsyil.


"Duh, si abang. Adek jadi meleleh terus, gimana ngga tambah jatuh cinta. Sikap dan ucapannya benar-benar membuat hati meleleh." ucap Najwa dengan tersenyum bahagia.


_


"Pak Arsyil, kok sekarang jadi sering buru-buru pulang ya. Takut banget istrinya hilang." ucap Nadia meledek bosnya.


"Iyalah, sekarang kan ada yang di tuju kalau pulang. Pengennya cepat pulang karena kangen terus sama istri, heheh." kata Arsyil menjawab ledekan Nadia.

__ADS_1


"Waah, cinta istri banget nih pak Arsyil. Beruntung ya, bu Najwa." kata Nadia lagi.


"Semua orang akan merasa beruntung, Nadia. Kalau mendapat istri yang sholehah, cantik dan juga selalu menjaga iman dan penglihatannya terhadap laki-laki lain. Aku yang merasa beruntung, karena istriku perempuan yang sangat sempurna." kata Arsyil.


"Cinta banget ya pak sama istrinya?"


"Hahah, tentu saja. Lelaki sejati akan selalu mencintai dan bersyukur mendapatkan istri yang sempurna menurut pribadi masing-masing. Termasuk aku." kata Arsyil.


"Waah benar itu pak, sekarang banyak sekali sih berita perselingkuhan. Padahal itu ya, pasangannya terlihat sempurna. Tapi ya, tetap saja selingkuh." kata Nadia.


"Sudah jangan bicarakan itu, laki-laki yang seperti itu memang tidak pernah bersyukur atas apa yang dia dapatkan. Semoga kamu dapat suami yang baik, Nadia." kata Arsyil.


"Amiin pak."


Arsyil pun pamit pulang, karena istrinya sendirian bergulat di dapur. Maka dia harus cepat pulang untuk membantunya, dia tidak mau Najwa terlalu lelah melakukan kegiatan memasak untuk menyambut abah dan uminya.


Dia menaiki motor dan langsung melajukannya dengan kecepatan sedang. Hatinya sedang senang karena akan pulang dan bertemu dengan istrinya.


Sepanjang jalan senyum Arsyil selalu mengembang, dia membayangkan senyuman Najwa menatapnya senang dia pulang lebih cepat dari yang dia janjikan.


Dia tidak tahu kalau di belakang ada mobil yang mengikutinya. Laki-laki dalam mobil itu mengikuti Arsyil kemana laju motor itu.


Arsyil pun kaget, dia menoleh ke arah mobil yang memepetnya itu. Dia tahu itu mobil milik Azam, motornya pun dia minggirkan yang kebetulan ada pohon rindang. Arsyil menghentikan motornya, di ikuti oleh Azam memarkirkan mobilnya.


Azam diam, dia menatap tajam pada Arsyil yang sedang melepas helmnya. Menarik napas panjang, lalu keluar dari mobilnya. Mendekat pada sahabatnya yang tersenyum padanya.


"Hai Zam." sapa Arsyil menyapa Azam.


Azam diam saja, menarik napas panjang kembali. Membuang wajahnya ke arah lain, ingin rasanya dia mengumpat Arsyil yang pura-pura ramah padanya. Dia menyangka Arsyil telah menghianatinya.


"Kamu mau bicara denganku, Zam?" tanya Arsyil yang tahu maksud Azam mencegahnya di jalan.


"Kamu itu ...." Azam tidak melanjutkannya, masih menatap Arsyil.


"Aku kenapa?" tanya Arsyil.


"Kamu mengingkati janji, Arsyil. Kenapa kamu malah menikah lagi dengan Najwa?" tanya Azam yang sudah tidak sabar ingin bicara begitu pada Arsyil.

__ADS_1


Arsyil menundukkan wajahnya, lama. Dia tidak mengerti dengan ucapan Azam itu, tapi kemudian dia menatap Azam lagi dengan tatapan datar saja.


"Aku mencintai Najwa." jawab Arsyil tegas.


Bug!


Satu pukulan mendarat dengan cepat di pipi Arsyil, tubuh laki-laki itu pun terhuyung ke belakang. Dia pun menoleh menatap dingin pada Azam, lalu tersenyum tipis.


"Kenapa kamu memukulku?" tanya Arsyil.


"Brengsek kamu!"


"Azam! Aku sudah menepati janjiku, menceraikan Najwa dan mengembalikannya pasa abah. Aku sudah melakukan semua apa yang kamu inginkan Zam. Lalu apa salahku? Apa karena aku mencintai Najwa?!"


"Seharusnya kamu memberi talak tiga sama halnya denganku dulu. Aku tidak bisa menikahi Najwa karena kamu membayang-bayangi dia, Arsyil!" ucap Azam.


"Kamu gila, aku tidak setega kamu yang memberi talak tiga pada seorang istri yang tidak bersalah apa pun. Kamu egois jika hanya karena obsesi cintamu pada Najwa, membuat orang-orang terdekat Najwa terluka karena tindakanmu yang terlalu terburu-buru." kata Arsyil kini mulai tidak terima Azam mengaturnya.


"Kamu sudah janji padaku, Arsyil. Kenapa kamu memikat dia? Apa kamu punya pesona yang lebih baik dariku?!"


"Astagfirullah, Zam. Sudahlah, kamu sudah punya istri yang sedang mengandung anakmu. Aku pun sama, Zam. Najwa mengandung anakku, mana mungkin aku akan menceraikan dia?" kata Arsyil.


Bug!.


Kembali Arsyil mendapat satu tinjuan dari Azam. Arsyil diam tidak bergerak, meski dia sakit. Dia membiarkan dirinya jadi pelampiasan kemarahan Azam. Mungkin dengan begitu, Azam akan lega telah melampiaskan kemarahannya padanya.


Sedangkan Azam masih memburu dadanya, dia menatap tajam pada Arsyil. Lalu kemudian, dia pun berbalik. Meraup wajahnya, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya.


Melajukan mobilnya dan meninggalkan Arsyil yang masih berdiri memegangi pipinya. Dia lalu menaiki motornya, memakai helm dan segera melajukan motornya untuk pulang ke rumah.


Sementara itu, satu mobil taksi yang tadi berhenti tepat ketika Azam dan Arsyil bicara. Sang supir bertanya pada penumpangnya, tapi langsung di jawab sebelum bertanya.


"Jalan pak."


_


_

__ADS_1


*********************


__ADS_2