
Arsyil dan Najwa bersiap untuk pergi ke rumah abah dan uminya. Mereka menaiki motor, meski Arsyil ragu Najwa naik motor dengannya. Tapi istrinya itu memaksa ingin naik motor dengannya, alasannya biar bermesraan berdua sepanjang jalan kenangan.
"Biar romantis bang." kata Najwa.
"Tapi abang takut sama kandungan adek." kata Arsyil.
"Asal abang jalannya pelan-pelan sih ngga apa-apa bang. Udah sih, naik motor aja ke rumah abahnya." kata Najwa sedikit merengek.
Arsyil tidak bisa menolak dengan rengekan istrinya. Entah kenapa dia jadi tidak bisa membantah ucapan Najwa. Dan akhirnya mereka menaiki motor menuju rumah abah dan umi Najwa.
Perempuan yang sedang bermanja pasa suaminya itu terus memeluknya dengan erat dari belakang. Arsyil melajukan motornya dengan pelan, dia juga merasa senang berboncengan dengan Najwa.
Sepanjang perjalanan, Najwa selalu bercerita ketika mereka berpisah. Najwa bercerita kalau dia sering menangis sendirian jika malam hari, membuat Arsyil semakin trenyuh. Mungkin itu rasa kerinduan istrinya dan juga hormon kehamilannya.
"Adek pengen banget datang ke rumah abang, tapi belum ketemu sama mas Azam untuk bicara masalah keputusan adek memilih abang." kata Najwa di belakang Arsyil.
"Padahal Azam baik banget lho dek." kata Arsyil mencoba memancing istrinya.
"Memang baik, tapi lebih baik abang bagi adek dari pada mas Azam. Dia sudah beristri juga dan istrinya juga sedang hamil." kata Najwa.
"Hamil?"
"Iya, malah hamilnya duluan istri mas Azam deh bang."
"Adek tahu dari mana istri Azam hamil?" tanya Arsyil heran.
"Mala, istri mas Azam itu datang ke rumah kita waktu di kontrakan itu bang. Dia datang dan kita ngobrol lama. Kasihan sebenarnya, dia mencintai mas Azam. Sama halnya adek mencintai abang, meski tahu pernikahannya hanya kontrak saja. Dia juga mengatakan kalau mas Azam tidak menceraikannya selama hamil itu. Lalu, jika adek mau sama mas Azam. Tentu adek jadi istri kedua bang, mana ada perempuan baik-baik jadi istri kedua dan akan di sebut pelakor meski dulu pernah punya hubungan." kata Najwa.
Arsyil diam saja, dia mendengarkan ucapan Najwa. Dia bersyukur Najwa meminta kembali padanya. Meski memang dia menerima karena sedang hamil anaknya.
Arsyil memegangi tangan Najwa di perutnya, rasanya dia akan menyesali jika terjadi Najwa menikah dengan Azam tapi jadi istri kedua. Tapi kenapa Azam membohonginya mengenai Najwa yang bersedia menikah jika dia mau menceraikan istrinya yang sedang hamil itu.
"Dek ...."
"Ya bang?"
"Terima kasih ya, adek memilih abang." kata Arsyil masih memegangi tangan Najwa erat.
"Karena adek cinta sama abang, dan Mala datang ke rumah waktu itu. Pikiran adek terbuka dan memutuskan memilih abang, adek kasihan sama Mala. Dia benar-benar berharap mas Azam membalas cintanya. Bisa adek bayangkan betapa tersiksanya hati ketika mengharapkan suaminya mencintainya, seperti adek berharap abang juga menerima adek sewaktu sebelum bercerai dulu." ucap Najwa.
Dia mengeratkan pelukannya pada Arsyil, tangannya mengait dengan tangan Arsyil. Satu tangan untuk menyetir. Satu tangan memegangi tangan Najwa, Arsyil benar-benar bahagia sekali.
_
"Assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Suara umi Dila dalam rumah, Najwa dan Arsyil pun masuk begitu pintu rumah di buka. Tampak umi Dila tersenyum senang dan memeluk anaknya, Najwa. Mereka menyalami perempuan berwajah keibuan itu.
__ADS_1
"Apa kabar nak Arsyil?" tanya umi Dila.
"Alhamdulillah baik umi." jawab Arsyil.
Mereka menuju di ruang tamu, Najwa mengantar suaminya duduk dan dia sendiri meninggalkan Arsyil di ruang tamu dengan uminya. Arsyil tersenyum melihat istrinya pergi.
"Umi senang kalian sudah rujuk kembali, Najwa itu sangat suka sama nak Arsyil. Terkadang umi sering dengar dia menangis di malam hari." ucap umi Dila.
Arsyil hanya tersenyum saja, dia merasakan hal yang sama ketika jauh dan memutuskan untuk bercerai dengan Najwa karena perjanjian itu. Setiap malam dia memikirkan Najwa, merindukannya dan kadang memimpikannya.
Tapi Arsyil bisa apa waktu itu, hanya sekilas saja dia merasakan itu. Selanjutnya dia berusaha melupakan Najwa, yang kadang Azam mengirim pesan atau meneleponnya menceritakan apa pun mengenai Najwa.
Itu membuat Arsyil semakin yakin untuk tidak berharap Najwa akan kembali padanya. Tapi sekarang dia tidak bisa melepas Najwa, karena perempuan itu mengandung anaknya.
Najwa datang membwa nampan berisi minuman dan juga cemilan. Dia melihat umi Dila mengobrol dengan suaminya.
"Bang, di minum dulu. Abang pasti haus." kata Najwa.
"Iya dek, terima kasih." kata Arsyil.
"Oh ya, Najwa. Kamu bilang mau kasih kejutan sama umi. Apa kejutannya?" tanya umi Dila.
"Emm, kejutannya pasti umi dan abah senang." kata Najwa.
"Apa itu? Umi kok jadi penasaran sih." ucap umi Dila.
"Waah, benarkah?! Alhamdulillah ya Allah." ucap umi Dila penuh syukur dan bahagia.
"Apanya yang Alhamdulillah umi? Apa umi dapat hadiah dari anakmu?" tanya abah tiba-tiba datang dan menanggapi ucapan istrinya.
"Iya bah, Najwa memberi hadiah yang sangat menggembirakan." kata umi Dila bersemangat.
Abah melirik ke arah anaknya yang tersenyum, begitu juga dengab Arsyil. Kedua suami istri yang baru rujuk itu berdiri dan menyalami abah.
"Iya bah, anak kita memberi hadiah tak terduga." kata umi Dila lagi.
"Apa itu, umi bikin penasaran saja." kata abah.
"Kita akan dapat cucu, bah. Najwa hamil." kata umi Dila.
"Lho, baru juga semalam kan rujuknya. Kenapa bisa sudah hamil?" tanya abah seperti kebingungan.
"Ya ampun abah, kok ngga mengerti sih masalah begitu? Berarti sebelum mereka pisah itu, Najwa sudah hamil duluan abah." kata umi Dila.
"Masya Allah, abah senang dengarnya. Jadi kalian rujuk karena itu?" tanya abah.
"Iya bah, dan bukan karena itu juga sih. Kami saling mencintai, awalnya abang menolak karena alasan mas Azam. Aku sudah bilang kalau sudah menolaknya, tapi abang ngga percaya." kata Najwa.
Arsyil menunduk, merasa tidak enak Najwa menceritakan semuanya pada abahnya. Abah menatap menantunya itu, dia menarik napas panjang.
__ADS_1
"Mungkin suamimu punya alasan sendiri, Najwa."
"Ya, katanya mas Azam datang pada abang. Dan menceritakan hal yang di luar pembicaraanku dengannya bah." kata Najwa.
"Ya sudah, yang terpenting kalian sudah rujuk dan hidup bersama lagi. Abah berharap kalian bisa memghadapi masalah ke depannya sama-sama ya dan saling menguatkan. Nak Arsyil juga harus memikirkan istrimu, dia kadang terlalu manja jika ada maunya." kata abah.
"Iya bah, tadi siang memaksa saya bikin masakan jengkol." kata Arsyil melirik istrinya.
"Ish, abang kok cerita sih." kata Najwa cemberut.
"Kamu suka jengkol? Kan kamu tidak suka jengkol, Najwa." kata umi Dila heran.
"Ngidam umi. Bagaimana sih umi ini." kata abah.
Najwa tersenyum saja, dia juga tidak mengerti kenapa dia ingin sekali makan jengkol. Apa lagi mendengar Arsyil bisa masak jengkol.
"Kalian menginap ya di sini, besok boleh pulang lagi." kata abah.
"Aah, bener bang. Menginap ya di rumah abah? Sekalian aku beresi baju-baju yang mau aku bawa ke rumah abang, kan sekarang rumahku bukan di sini lagi." kata Najwa.
"Iya, terserah adek aja." kata Arsyil.
Najwa tersenyum senang, Arsyil menatap istrinya. Ada rasa ingin mencium perempuan itu, tapi keadaannya sedang mengobrol dengan abah dan umi.
"Umi ke dalam dulu, mau masak untuk makan malam. Kalian istirahat saja dulu, Najwa kamu bawa suamimu ke dalam kamarmu." kata umi Dila.
"Iya umi. Yuk bang ke kamar, kamu pasti capek."
"Iya dek."
Mereka pun beranjak dari duduknya, Najwa membawa suaminya masuk ke dalam kamarnya. Mereka masuk, Najwa menarik tangan Arsyil yang ragu masuk ke dalam kamarnya.
"Ini kamarku bang." kata Najwa.
"Emm, pintu kamar sudah di tutup ya?"
"Iya. Kenapa?"
Arsyil tersenyum, dia menarik tangan Najwa lalu mendekatkannya tubuh istrinya padanya. Menatap wajah ayu milik perempuan berkerudung biru telor asin. Arsyil membuka kerudung Najwa pelan, melihat wajah sempurna tanpa penutup.
Wajah Arsyil mendekat lalu mencium kening Najwa. Beralih pada bibir dengan lembut, Najwa memejamkan matanya. Hal yang sangat dia rindukan sekarang dengan kemesraan itu. Keduanya larut dalam kebahagiaan hati dan merasakan hangatnya bibir masing-masing.
"Najwa, tolong umi ya!"
_
_
**************
__ADS_1