Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
67. Azam Terkejut


__ADS_3

Abah Ubay menunggu di ruang tamu, dia sengaja datang ke rumah Azam di waktu laki-laki itu ada di rumah. Di hari Minggu tepatnya.


Azam pun menemui abah yang duduk di sofa ruang tengah. Dia masih tinggal sendiri, karena Mala belum pulang dari rumah sakit.


"Apa kabar abah, maaf lama. Saya baru bangun tidur, semalam menemani istriku di rumah sakit." kata Azam setelah menyalami abah.


"Tidak apa. Kenapa dengan istrimu?" tanya abah.


"Dua hari lalu dia melahirkan, alhamdulillah anakku laki-laki." jawab Azam dengan senangnya.


"Alhamdulillah kalau begitu, abah ikut senang. Itu kan yang kamu harapkan sejak dulu." kata abah.


Azam tersenyum tipis, entah apakah itu atau tidak. Dulu memang alasannya tidak juga kunjung hamil Najwa itu, tapi dia tidak sabar menceraikan Najwa. Apa lagi almarhum mamanya mendesaknya untuk segera menceraikannya, meski dia masih mencintai Najwa.


"Oh ya, ada apa abah datang kemari?" tanya Azam yang baru ingat kenapa mantan mertuanya itu datang menemuinya.


"Abah hanya silaturahmi, dan tadinya mau bicara serius. Abah pikir mungkin nak Azam harus tahu dan mengerti kenapa abah harus datang kemari menemui nak Azam." kata abah.


Azam bukannya tidak mengerti, dia tahu pasti itu masalah Arsyil. Tentang kebakaran itu tentunya.


"Apa abah datang menemui saya tentang masalah kebakaran itu?" tanya Azam.


"Tidak. Tapi mungkin iya, abah hanya mau mengatakan sama nak Azam. Berbahagialah hidup dengan istri nak Azam sendiri, sayangi istri nak Azam. Karena sesungguhnya mencintai dan menyayangi istri sendiri itu akan mendatangkan ketenangan dan kedamaian.


Abah awalnya sangat marah ketika nak Azam langsung menceraikan Najwa secara sepihak, tapi lambat laun abah menerimanya. Mungkin itu sudah takdir Najwa, tapi sekarang abah merasa tenang dan ikut bahagia karena anak abah Najwa itu sudah bahagia dengan laki-laki yang di pilihkan nak Azam.


Mereka saling mencintai, begitu juga abah berharap nak Azam dan istri nak Azam juga saling mencintai. Saling menyayangi, itu lebih baik dari pada mengejar sesuatu yang sudah di putuskan tidak akan kembali bersama. Nak Azam mengerti kan maksud abah?" tanya abah.


Azam diam, dia menundukkan kepalanya. Rasanya malu sekali jika dia harus di tegur secara halus oleh abah Najwa itu. Laki-laki yang sangat berwibawa dan juga bijaksana. Dia yakin abah datang itu keinginannya sendiri, bukan di suruh oleh siapa pun.


Karena abah tidak pernah ikut campur urusan apa pun dulu, meski anaknya di sakiti olehnya. Azam merasa malu sendiri.


"Iya bah, saya mengerti. Maaf kalau saya membuat abah merasa kesal dulu karena menceraikan dek Najwa secara sepihak dan terburu-buru. Itu memang kesalahan saya bah, dan saya akan menerimanya dengan ikhlas.


Memang mungkin itu semua sudah takdir, dan dek Najwa bahagia bukan dengan saya. Tapi dengan laki-laki yang pernah saya kenalkan dan di mintai tolong. Dia laki-laki yang baik bah, sungguh. Arsyil adalah laki-laki yang sangat baik." kata Azam jadi terharu sendiri mengingat akan kebaikan sahabatnya itu.


"Syukurlah kalau nak Azam menyadari semuanya. Semoga nak Azam juga bahagia dengan istri nak Azam sekarang, apa lagi sekarang sudah punya anak jagoan. Semoga bisa membawa kebahagiaan kedua orang tuanya." kata abah mendoakan keluarga Azam dengan tulus.

__ADS_1


"Iya bah, amiin. Terima kasih, abah mau mengingatkan saya. Saya memang khilaf akan obsesi saya untuk mendapatkan dek Najwa kembali. Sekali lagi, terima kasih abah. Dan saya juga minta maaf pada abah dan umi atas kesalahan saya di masa lalu itu." kata Azam.


Abah tersenyum, dia pun lega akhirnya Azam menyadari semuanya. Dia juga tidak perlu mengungkit masalah pemukulan Arsyil di jalan itu, semua sudah di sadari dan Azam akan berubah.


"Kalau begitu, abah pulang dulu. Abah di tunggu sama umi di rumah." kata abah.


"Iya bah, terima kasih abah mau datang ke rumah saya. Seharusnya saya yang datang ke rumah abah, tapi malah abah yang datang ke rumah." kata Azam lagi.


"Tidak apa, abah mengerti kamu itu sibuk sekali." kata abah.


Azam hanya tersenyum, abah pun berpamitan. Azam mengantar abah sampai di depan, abah di antar oleh seorang santri yang menunggu di depan sampai urusannya selesai.


"Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


_


Lima hari di rumah sakit, kini Mala sudah berada di rumahnya kembali. Dia sangat senang sekarang sudah menjadi ibu seutuhnya, melahirkan dan juga mempunyai anak.


"Kenapa dulu aku sama Najwa tidak juga punya anak? Apakah memang Najwa di takdirkan bukan untukku? Bahkan dia bahagia dengan Arsyil dan akan mempunyai anak." gumam Azam.


Dia terus memperhatikan anaknya yang sedang tidur, terasa kaku dia ingin menggendongnya. Dari jauh Mala melihat suaminya masih belum juga berangkat kerja. Dia pun mendekat ingin memandikan anaknya dengan bi Darsih.


"Kamu tidak juga berangkat kerja, mas?" tanya Mala.


"Iya sebentar lagi." jawab Azam.


"Oh ya mas, setelah empat puluh hari aku mau tinggal di rumah abangku." kata Mala.


"Lho, kenapa harus tinggal di sana?" tanya Azam kaget.


"Ngga apa-apa. Aku ingin tinggal di sana sama abangku." kata Mala lagi.


Azam tertegun, kenapa semuanya jadi seperti itu? Dia belum menyelesaikan urusan pembakaran, masih memberi keterangan pada polisi. Rencananya dia akan mengganti rugi atas kerugian yang di alami Arsyil.


Dia sudah membayangkan akan ada rasa marah dari Najwa atau pun mantan mertuanya. Itu saja membuat dia pusing, apa lagi sekarang Mala ingin pergi darinya.

__ADS_1


Mala melirik suaminya, dia sibuk menggantikan popoknya. Azam memperhatikan apa yang di lakukan oleh istrinya itu, sangat cekatan meski baru melakukannya.


"Apa kamu mau meninggalkan aku?" tanya Azam.


Mala menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu meneruskannya kembali, dia berbalik dan menghadap suaminya.


"Aku pikir aku tidak ada artinya di rumah ini mas, mungkin kamu masih mengharapkan mbak Najwa. Silakan saja, aku ngga mau jadi penghalang dirimu untuk menunggu mbak Najwa mau kembali sama kamu mas. Jadi, buat apa aku di sini." kata Mala.


Azam kembali diam, dia memejamkan matanya. Inilah hasil dari keegoisannya, semuanya menjadi pergi.


"Mala, maafkan aku. Aku tidak akan mengejar Najwa lagi, dia sudah bahagia dengan Arsyil. Mereka juga akan mempunyai anak sebentar lagi. Aku janji tidak akan mengabaikanmu lagi." kata Azam.


Mala terdiam, dia menundukkan kepalanya. Azam mendekat, dia memegangi kedua lengan Mala dan menatapnya.


"Jangan pergi. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan kepolisian. Sepulang dari polisi aku akan pulang lagi, aku ingin menggendong anakku. Tapi aku tidak bisa, nanti ajari aku menggendong Ameer." kata Azam.


Mala menatap Azam, dia tampak ragu namun senang mendengar ucapan suaminya itu.


"Ada apa dengan kepolisian mas?" tanya Mala.


"Percetakan milik suami Najwa terbakar, itu di lakukan oleh sekretarisku. Makanya aku ingin menyelesaikannya, dan akan menemui Arsyil untuk mengganti rugi semua yang sudah terbakar itu." kata Azam.


Mala kembali diam, ada rasa khawatir juga jika dia ke rumah Najwa. Akan timbul lagi rasa itu, dan pulang dari rumah Najwa akan berubah lagi bersikap dingin padanya.


"Najwa juga sebentar lagi memiliki anak, kamu jangan khawatirkan masalah perasaanku. Aku akan mencoba untuk menghilangkannya, dan berjanji padamu untuk menjadi suami yang baik dan papa yang baik buat anakku." kata Azam.


Mala tersenyum segaris, lalu mengangguk. Azam tahu Mala masih ragu padanya, tapi yang jelas dia sungguh-sungguh akan berubah. Mungkin itu dampak dari anaknya yang sejak mengadzani di rumah sakit waktu itu, hatinya bergetar. Rasa bahagia tiba-tiba muncul seketika. Hanya saja dia masih bingung saat itu.


"Aku pergi dulu, siang ini aku pulang. Siapkan makan siang untukku seperti dulu lagi." kata Azam.


Mala mengangguk, dia menyamali tangan suaminya. Berdoa semoga benar apa yang di katakan oleh Azam itu menjadi sebuah kebahagiaannya yang selama ini dia tunggu.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2