
Arsyil dan Najwa menaiki mobil taksi yang kebetulan lewat di jalan depan rumah Azam. Keduanya duduk dengan tenang karena anak mereka juga sudah tidur lebih dulu.
"Kita ke mall apa bang?" tanya Najwa.
"Abang belum tahu dek, nanti abang tanya Azam dia mau pergi kemana." kata Arsyil.
Dia pun menelepon sahabatnya itu, beberapa menit menjawab dan akhirnya selesai. Arsyil memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku celananya.
"Kemana bang?" tanya Najwa.
" Ke mall di tengah kota katanya dek, ngga apa-apa ya." kata Arsyil.
"Ya udah, ngga apa-apa. Tapi kalau bawa Alief kelamaan di luar repot bang, jadi nanti cari baju aja dan langsung pulang ya." kata Najwa.
"Ngga ngobrol dulu sama Azam?" tanya Arsyil.
"Ya abang yang ngobrol, adek kan cari baju."
"Eh, tapi istrinya Azam juga ikut deh kayaknya dek. Adek bisa ngobrol juga sama istrinya Azam." kata Arsyil.
"Mala?"
"Ya, abang ngga tahu namanya siapa. Kan adek yang pernah ketemu dan ngobrol sama dia." ucap Arsyil lagi.
Najwa diam, memang seharusnya dia mengobrol dengan Mala di banding ikut mengobrol dengan suami dan mantan suaminya.
Mobil pun tak terasa sudah sampai di depan mall yang di tuju. Keduanya turun dan membayar ongkos sesuai tarif argo mobil taksi.
"Ini ongkosnya pak." kata Arsyil.
"Iya, terima kasih."
Arsyil dan Najwa pun melangkah menuju mall besar di tengah kota itu. Sangat ramai dari kunjungan orang-orang yang memang berniat jalan-jalan di hari Minggu ini.
Mereka memasuki mall, sangat sejuk di dalam mall. Arsyil menghubungi Azam, di mana keberadaannya.
"Kamu di mana Zam?" tanya Arsyil di telepon.
"Aku baru sampai, kamu sudah sampai lebih dulu?" tanya Azam di seberang sana.
"Iya, aku sama Najwa sudah di depan mall."
"Ya sudah, kamu tunggu saja. Aku baru keluar dari parkiran."
"Oke."
Klik!
__ADS_1
Arsyil menunggu Azam masuk ke dalam mall, Najwa mulai kerepotan anaknya sudah aktif lagi setelah bangun tidur nanti.
Tak lama, Azam dan Mala masuk ke dalam mall. Dia melihat sekeliling, dan ada lambaian tangan dari Arsyil. Dia pun tersenyum, dia menggandeng tangan Mala dan membawanya menemui Arsyil dan Najwa.
Mala menatap suaminya, dia tersenyum ketika tangannya di gandeng oleh Azam. Rasanya senang sekali Azam melakukan itu, tapi wajahnya berubah ketika dia melihat Najwa dengan menggendong anak juga.
Najwa memandang Azam sekilas lalu beralih pada Mala. Dia tersenyum dan menghampiri istri Azam tersebut.
"Hai, Mala. Apa kabar?" sapa Najwa pada Mala.
"Eh, mbak Najwa. Alhamdulillah baik, mbak." jawab Mala.
Mereka berpelukan, Azam terpaku melihat keakraban keduanya. Dia heran kenapa Mala bisa seakrab itu dengan mantan istrinya, tapi pundak Azam di tepuk oleh Arsyil.
"Bagaimana kabarmu, Zam?" tanya Arsyil.
"Aku baik, Alhamdulillah. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Azam.
"Aku juga baik, Alhamdulillah."
Keduanya menatap istri masing-masing yang sedang asyik mengobrol. Tatapan Azam beralih pada Najwa, ingin menyapanya tapi dia ragu. Najwa pun menatap Azam dan tersenyum.
"Apa kabar mas Azam." kata Najwa menyapa mantan suaminya.
"Baik dek, emm Najwa." kata Azam.
Dengan kehidupan masing-masing tentunya. Mala mengajak Najwa mengobrol lagi, dan Azam juga mengobrol lagi masalah pekerjaan baru Arsyil.
"Bagaimana dengan kebun sayuranmu, Syil?" tanya Azam.
"Alhamdulillah, sudah beberapa kali panen dan sudah ada pelanggan yang mau menampung sayuran segarku." jawab Arsyil.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya." kata Azam.
"Ya, ternyata banyak sekali hikmah dengan musibah yang aku alami."
"Ya, aku pun sama Syil. Sekarang aku tidak terlalu fokus lagi di kantor dan mencari investor lagi, kalau pun memang itu rejekiku pasti ada saja yang mau kerja sama dengan perusahaanku. Dan lagi, aku juga sangat bahagia dengan hadirnya Ameer. Dia yang mengubahku segalanya." kata Azam lagi.
"Ya, semua memang butuh proses untuk lebih baik Zam. Terkadang harus ada cobaan lebih dulu untuk menyadarkan seseorang, kalau itu adalah salah dan harus di perbaiki." kata Arsyil.
"Ya, aku juga sudah mencintai istriku. Dan kamu jangan khawatir aku akan merebut kembali istrimu, hahah." ucap Azam dengan candaannya.
"Aku tidak takut Zam, istriku lebih mencintaiku dari pada kamu." kata Arsyil membalas candaan Azam.
Keduanya saling menatap, lalu tertawa senang. Mereka pun mengambil alih anak-anaknya yang tadi di gendong oleh istri masing-masing.
"Adek pergi saja belanja, ini ATMnya ya. Gunakan sesuka adek mau beli apa." kata Arsyil.
__ADS_1
"Bener bang? Abang ngga mau ikut?" tanya Najwa.
"Ngga, abang jaga Alief. Nanti abang bawa ke playground di sana sama Azam." jawab Arsyil.
Najwa tersenyum, dia mengacungkan jempol. Tak lama, Mala pun menghampiri Najwa dan mengajaknya pergi. Mereka sepakat untuk menjaga anaknya masing-masing dan membiarkan istri mereka berbelanja sepuas hati.
"Ternyata menyenangkan ya pergi ke mall tanpa ada gangguan." kata Mala ketika dia berjalan dengan Najwa menuju baju-baju anak-anak.
"Ya, biarkan saja para ayah menjaga anak-anak kita." ucap Najwa.
"Hahah, aku senang bisa akrab dengan mbak Najwa. Dan maaf ya mbak, waktu itu aku datang ke rumah kontrakan mbak Najwa dan menceritakan masalahku tentang mas Azam." kata Mala.
"Ngga apa-apa, saat itu juga aku sudah mencintai bang Arsyil. Jadi kupikir lebih baik meneruskan pernikahan dari pada menyakiti banyak hati jika di paksakan harus bercerai. Kamu, bang Arsyil dan juga aku." kata Najwa.
"Iya mbak, aku merasa ngga enak sama mbak Najwa karena mencintai mas Azam lebih dulu."
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kupikir itu adalah takdir. Takdir kita semua untuk menemukan jodoh masing-masing." kata Najwa.
"Iya mbak, aku yang mungkin tidak sabar. Sehingga menuntut mas Azam mencintaiku juga."
"Seorang istri harus mencintai suaminya, Mala. Jangan takut mencintai suami sendiri, kamu harus tunjukkan rasa cintamu sama mas Azam." kata Najwa.
"Apa ada rahasia agar mas Azam lebih mencintaiku mbak? Mungkin mbak Najwa tahu karena mbak pernah jadi istrinya." kata Mala.
"Meskipun aku pernah jadi istrinya, bukan berarti aku tahu segalanya tentang mas Azam. Aku bukannya tidak mau memberimu sebuah rahasia, tapi dulu mas Azam memang sangat perhatian. Tapi rasanya berbeda cintanya dengan suamiku sekarang. Jadi, maaf ya aku tidak bisa menceritakan apa pun masalah rahasia agar mas Azam mencintaimu." kata Najwa.
Mala diam, dia sedikit kecewa. Tapi kemudian dia tersenyum, mungkin memang beda mencintai Najwa dulu dengan dirinya, tidak perlu memgikuti gaya mencintai Najwa. Bisa jadi nantinya Azam akan kembali mengingat Najwa, begitu pikir Mala akhirnya.
"Oh ya, kurasa kamu harus sering memasak Mala. Karena mas Azam suka sekali masakan buatan rumah, bila perlu bawakan bekal untuknya." kata Najwa.
"Oh ya, mbak. Memang mas Azam suka sekali masakanku, dia selalu habis kalau makan masakanku." kata Mala dengan senyum senangnya.
"Gampangkan?"
"Heheh. Iya mbak, terima kasih ya. Kita bisa jadi saudara kan mbak?" tanya Mala.
"Bisa kok, asal kamu ngga curiga aku masih punya perasaan sama mas Azam." kata Najwa dengan senyumnya.
"Ngga kok mbak, aku yakin mbal Najwa itu sangat mencintai suami mbak. Aku lihat suami mbak Najwa sayang banget sama mbak Najwa." kata Mala.
"Itulah, makanya. Tidak akan ada CLBK ya."
"Hahah!"
_
_
__ADS_1
************