
"Apa?!"
"Iya, saya di suruh oleh seorang perempuan. Dan bukan saya saja yang membakar pak, ada satu teman saya lagi. Tapi dia pergi entah kemana setelah kejadian pembakaran itu." kata laki-laki itu.
"Sebentar, pak Azam siapa ya?" tanya Arsyil.
"Saya tidak tahu pak. Saya hanya ikutan saja, dan yang di kasih uangnya itu teman saya yang kabur itu."
"Berarti mas cuma orang kedua? Tapi katanya mas bertemu dengan perempuan yang menyuruhnya, apa mas tahu siapa namanya?" tanya Arsyil mendesak laki-laki itu menjawab dengan benar.
"Iya, saya di suruh oleh perempuan itu. Dan katanya perempuan itu di suruh bilang oleh pak Azam. Itu sih, saya tidak tahu. Saya butuh uang saat itu, maafkan saya pak. Maaf." kata laki-laki itu menunduk merasa bersalah.
"Ya sudah, tidak apa. Terima kasih atas jawabannya." kata Arsyil.
Polisi masih mencecar laki-laki yang tadi. Beberapa kali mendapat petunjuk di mana temannya itu berada. Dan siapa perempuan yang menyuruhnya yang mengatakan Azam juga.
Arsyil bingung, apakah Azam yang di maksud adalah Azam sahabatnya?
Apa dia tega melakukan itu? Meskipun mereka sedang berselisih masalah Najwa, tapi rasanya tidak mungkin Azam melakukan pembakaran itu hanya karena dia dendam padanya.
"Aku harus ke kantor Azam." ucap Arsyil.
Dia berpamitan untuk pergi ke kantor Azam. Hanya memastikan kalau bukan dia pelakunya, atau seorang perempuan itu yang memanfaatkan dirinya.
Entahlah, Arsyil tidak mau berprasangka buruk pada Azam. Yang dia harapkan memang bukan Azam melakukan itu hanya untuk balas dendam padanya. Tapi jika itu di lakukan karena balas dendam padanya, sungguh Arsyil telah salah menilai Azam sahabat yang sangat baik.
Motor melaju dengan kecepatan sedang, suara dering telepon dia abaikan. Dia mengira itu adalah telepon dari istrinya, dia belum bisa menjawab siapa yang membakar percetakannya. Karena sudah pasti Najwa akan terus bertanya padanya.
_
Sementara itu, Azam benar-benar marah pada sekretarisnya Maya. Dia baru mengetahui kalau percetakan Arsyil sudah terbakar, sebenarnya dia senang. Azam bisa bernegosiasi dengan Arsyil untuk menjual tanah itu padanya.
Tapi Azam tidak setega itu, dia pu. Menatap tajam pada Maya yang sedang menunduk karena di marahi.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?" tanya Azam.
"Bukankah bapak sedang mencari tanah untuk di investasikan pada mr. Roby. Saya mempermudah itu pak, saya sudah mencari tanah yang stratsegis dan dekat dengan kota dan keramaian penduduk. Tapi tidak ada, maka saya berinisiatif untuk melakukan kemudahan agar bapak bisa menawarnya." kata Maya.
"Ya ampun, kalau begini aku akan terus di benci oleh sahabat dan istrinya. Kenapa kamu bertindak seperti itu hah?!"
"Maafkan saya pak."
Maya diam, Azam benar-benar marah pada Maya. Dia tidak habis pikir kenapa sekretarisnya itu berpikiran seperti itu. Meski dia juga kepepet waktu akan terus di tagih janjinya oleh mr. Roby.
"Kamu tahu, itu sudah memasuki ranah hukum. Sengaja membakar tempat percetakan itu. Dan kamu, tidak memberitahu saya kalau kamu tidak menemukan tempat lain selain di percetakan itu. Bertindak sendiri, menyuruh orang membakarnya. Ya ampun, Maya." ucap Azam pusing dengan tindakan sekretarisnya yang gegabah.
Maya diam saja, dia masih menunduk karena salah tidak mengatakan sebelumnya pada Azam. Azam mondar mandir di ruangannya, belum menyuruh sekretarisnya keluar. Dia bingung harus bagaimana, sudah pasti polisi sedang mencari siapa dalang pembakaran percetakan milik Arsyil.
Sedangkan Arsyil, baru sampai di kantor Azam. Dia tidak melihat sekretaris Azam di tempatnya, kemudian dia ingin langsung mengetuk pintu ruangan Azam. Tapi ternyata pintu itu tidak rapat menutup.
Arsyil ingin mengetuk pintu, tapi dia urungkan karena sepertinya Azam sedang memarahi seseorang di dalam. Arsyil tidak mau asal masuk saja, membuat orang yang di marahi akan malu jika tahu di marahi di depan orang. Begitu pikir Arsyil, jadi dia berdiri di depan ruangan Arsyil.
"Kamu membuat urusanku dengan Arsyil jadi tambah runyam, aku tidak pernah memaksamu untuk mencarikan lahan itu. Tapi kenapa kamu malah bertindak sendiri, Maya." ucap Azam lagi.
"Maafkan saya pak."
"Hanya maaf saja yang kamu katakan, sekarang apa? Citraku sebagai pengusaha akan jadi tercemar dandi cap melakukan hal yang kotor untuk mendapatkan sesuatu, apa lagi itu milik sahabatku." kata Azam lagi.
"Anda bisa menyewa pengacara pak, bisa membantah itu. Saya akan mencari dua orang yang saya suruh untuk membakar tempat itu agar pergi dan jangan bicara pada polisi." kata Maya.
"Kamu pikir polisi itu bodoh?! Polisi punya pelacak dan intel untuk menyelidiki semuanya, bisa jadi besok polisi akan datang ke kantorku Maya. Apa kamu mau aku menunjukmu sebagai dalangnya?" tanya Azam.
Maya diam, dia tidak mau itu. Tentu saja perusahaan yang bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, setidaknya jika Azam membantahnya tentu akan di beri bantuan hukum dengan di dampingi pengacaranya.
Tiba-tiba Arsyil masuk tanpa mereka tahu, dia melangkah mendekat pada Azam. Raut wajah Maya atau pun Azam sama pucatnya ketika Arsyil masuk.
Azam kaget karena Arsyil tiba-tiba masuk, Maya memundurkan langkahnya kemudian dia keluar dari ruangan Azam. Azam menatap tajam kepergian Maya itu, dan kini dia harus berhadapan dengan Arsyil langsung.
__ADS_1
"Jadi ini karena bisnis, Zam?" tanya Arsyil.
"Arsyil."
"Ternyata kamu menyuruh sekretarismu untuk melakukan pembakaran percetakanku?" tanya Arsyil masih tenang.
"Arsyil, bukan begitu." kata Azam membantah.
"Apa untungnya kamu membakar tempat percetakanku? Tempatku kecil, tidak ada yang menguntungkan. Apa karena kamu sudah menanam modal di percetakan itu dan mempermudah mengambil tempat itu?" tanya Arsyil penuh penekanan pada Azam.
"Arsyil, maafkan aku sebelumnya. Tapi aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk membakar percetakanmu" kata Azam,.dia takut Arsyil marah padanya.
Tatapan dingin Arsyil pada Azam itu sudah menandakan kalau laki-laki itu memang marah padanya. Arsyil tidak bisa berkata, dia menunduk lalu menarik napas panjang.
"Awalnya aku tidak percaya dengan tuduhan laki-laki yang telah membakar percetakanku. Kupikir ada nama Azam lain yanv telah berbuat dzolim padaku, entah karena apa. Tapi setelah aku mendengar pembicaraanmu dengan sekretarismu, aku rasa memang kamu terlalu memikirkan dirimu sendiri Zam." kata Arsyil.
"Arsyil, bukan aku yang menyuruh sekretarisku untuk mendapatkan tempat percetakan itu. Apa lagi harus membakarnya, sungguh Demi Allah aku tidak menyuruhnya. Dan aku tidak berminat dengan tempat itu, aku menyuruh sekretarisku mencari tempat lain." kata Azam menjelaskan semuanya.
"Jika kamu butuh, sebaiknya kamu bertanya padaku. Tapi sudahlah, semuanya sudah terjadi. Aku marah sama kamu juga sudah tidak berguna, biar polisi yang mengurus semuanya." kata Arsyil.
"Arsyil, aku tidak ada niat untuk menghancurkan bisnis percetakan kamu. Meski aku marah sama kamu, tapi sungguh Syil, aku tidak berniat untuk menjatuhkan usahamu juga." kata Azam meyakinkan sahabatnya itu.
"Aku tidak tahu, Zam. Sulit juga aku percaya, tapi jika memang bukan kamu yang menyuruh sekretarismu. Katakan saja sama polisi nanti, biar kamu sendiri yang memberi keterangan pada polisi. Kamu tinggal pikirkan, mengorbankan dirimu demi menyelamatkan sekretarismu atau kamu memberi keterangan sesuai apa yang kamu katakan tadi padaku." kata Arsyil.
Dia pun pergi setelah berkata seperti itu dan meninggalkan Azam yang kalut karena dia sudah tidak di percaya oleh sahabatnya. Arsyil sendiri kenapa tidak bisa marah pada Azam, apa lagi Azam dulu pernah memukulnya.
Entahlah, Arsyil tidak mau memperpanjang urusannya. Dia hanya berpikir itu memang sudah takdirnya, musibah itu adalah ujian untuknya. Yang terpenting dia harus bangkit, begitu pikir Arsyil.
_
_
******************
__ADS_1