Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
56. Hati Mala


__ADS_3

Azam keluar dari kafe, dia masih mengabaikan telepon dari istrinya Mala. Dia menaiki mobilnya entah mau kemana, sejak dia pergi ke yayasan pesantren di mana Arsyil dan Najwa mengadakan resepsi secara meriah. Pikiran Azam jadi kalut dan marah.


Kenapa Arsyil yang di perkenalkan abah Najwa di yayasan pesantren, sedangkan dulu dia tidak di lakukan seperti itu. Ada rasa kecewa dan marah Azam pada abah Najwa.


"Apa waktu itu abah tidak menerimaku dengan baik? Apa karena mama dan papaku yang kuranf suka pada mereka?" ucap Azam mengingat waktu pernikahannya di adakan bukan di pesantren, tapi memang di gelar di hotel.


"Aah, mungkin waktu itu papa dan mama yang memintanya di adakan di hotel. Tapi, tetap saja aku kecewa. Kenapa Arsyil yang mendapatkan semuanya." ucap Azam lagi.


Sepanjang jalan Azam mengingat semua kejadian dan membandingkan pernikahannya dengan Najwa dan Arsyil.


Ponsel Azam bergetar lagi, dia hanya membuat dering telepon yang di matikan. Dengan malas, Azam mengangkat telepon dari Mala itu.


"Halo?"


"Mas Azam, ini bi Darsih. Ibu di bawa ke rumah sakit, tadi bibi telepon mas Azam tidak di angkat juga." kata bi Darsih.


"Kenapa dengan Mala?" tanya Azam.


"Ibu hampir keguguran mas, pendarahan. Jadi bibi bawa ke rumah sakit, menunggu mas Azam lama banget angkat teleponnya. Jadi bibi bawa langsung ke rumah sakit." jawab bi Dasrih lagi.


"Terus sekarang masih ada di rumah sakit? Di rumah sakit mana?" tanya Azam lagi.


"Rumah sakit Bahagia Putra, mas."


"Bagaimana keadaan Mala?" tanya Azam.


"Sudah di tangani dokter, alhamdulillah janinnya selamat. Tapi ibu harus banyak istirahat dan tidak boleh lelah." kata bi Darsih.


"Ya sudah, aku kesana sekarang." kata Azam.


"Iya mas Azam."


Klik!


Azam memutar balik mobilnya menuju rumah sakit Bahagia Putra di mana Mala di rawat di sana. Dia berpikir apakah karena Mala banyak melakukan pekerjaan di rumah, sampai harus pendarahan.


_


Lima hari Mala di rawat di rumah sakit untuk memulihkan tenaga dan juga kandungannya. Selama di rumah sakit, pengawasan kandungan Mala di jaga ketat.

__ADS_1


Azam ingin bicara pada istrinya itu, tapi dia belum berani karena keadaan Mala belum membaik. Kini Mala bisa turun dari ranjang, meski kandungannya sudah kembali normal. Tapi Mala tidak boleh banyak pikiran.


"Apa kamu sudah mendingan?" tanya Azam.


"Iya mas, kandunganku sudah normal kembali. Alhamdulillah, kandunganku terselamatkan dan baik-baik saja." jawab Mala.


"Dokter bilang apa sama kamu?" tanya Azam.


"Tidak banyak, hanya tidak boleh banyak pikiran dan bekerja terlalu capek." jawab Mala.


"Kenapa kamu lakukan itu? Kata bi Darsih kamu selalu saja membersihkan rumah, kadang kamu juga mengepel lantai. Apa kamu tidak sayang dengan kandunganmu?" tanya Azam.


"Maaf, aku tidak akan ulangi lagi mas." jawab Mala sambil menunduk.


"Maaf-maaf. Kalau sudah begini saja kamu bilang maaf, jaga kandunganmu. Kalau dia sampai terjadi sesuatu lagi, aku tidak akan memaafkanmu." ucap Azam.


Mala diam, dia masih menunduk dalam. Hatinya sakit, dia bukannya dapat dukungan atau simpati dari Azam. Justru dapat teguran dan di marahi, matanya berkaca-kaca. Tapi kemudian di hapusnya agar tidak jatuh.


"Aku tidak memarahimu, tapi mengingatkanmu. Agar lebih berhati-hati, jangan melakukan hal sembarangan lagi." kata Azam lagi.


"Iya."


Keduanya diam, Mala masih memegangi perutnya yang mulai buncit. Usia kandungannya sudah memasuki trisemester dua, tapi karena terlalu banyak bergerak. Jadi Mala mengalami pendarahan, mungkin karena pikirannya juga jalan.


"Mas Azam makan dulu, bibi bawakan makanan banyak." kata bi Darsih.


"Ngga usah bi, aku harus ke kantor lagi." kata Azam.


"Tapi bibi masak banyak, barangkali mas Azam mau makan juga di sini sama ibu." kata bi Darsih lagi.


"Bi Darsih saja yang temani Mala, di kantor lagi banyak pekerjaan. Aku pergi dulu." kata Azam mengambil tasnya lalu dia meninggalkan bi Darsih dan Mala di kamar inap itu.


"Besok aku sudah bisa pulang mas." kata Mala memberitahu suaminya.


"Ya, besok aku jemput." kata Azam.


Dia lalu keluar dari kamarnya setelah mengatakan itu pada Mala. Mala diam saja, dia menarik napas panjang. Kemudian membaringkan tubuhnya di bangsal, matanya menatap langit-langit kamar inap itu.


Bi Darsih memperhatikan apa yang di lakukan oleh Mala, dia pun mendekat dan duduk di sampinginya.

__ADS_1


"Apa kata mas Azam, bu?" tanya bi Darsih.


"Dia hanya mengatakan harus menjaga kandunganku saja bi." jawab Mala.


"Apa mas Azam juga menemui dokter?" tanya bi Darsih lagi.


"Kemarin sih dokter bilang sama mas Azam. Tapi tidak tahu apa yang di katakan dokter sama mas Azam, dia ngga ngomong sama aku." kata Mala lagi.


Matanya di pejamkan, menarik napas berat. Ingat akan ucapan Azam tadi, dia merasa Azam bukan simpati padanya, atau merasa kasihan. Tapi malah memarahinya, benar-benar suaminya itu belum menerima dirinya hamil. Azam merasa kehamilannya itu adalah penghalang dirinya menikahi Najwa.


"Bi Darsih, apa mas Azam masih berharap menikahi mbak Najwa?" tanya Mala.


"Bibi ngga tahu bu, hanya mas Azam yang merasakannya. Kenapa ibu tanya begitu?" tanya bi Darsih heran.


"Kayaknya, jika aku ngga hamil. Mungkin mas Azam akan menikah dengan mbak Najwa kan?" tanya Mala.


"Ngga bisa bu, mbak Najwa kan sudah punya suami. Kemarin lusa itu di yayasan pesatren ada resepsi pernikahan mbak Najwa dan suaminya, jadi menurut bibi sih mas Azam ngga bisa menikah lagi sama mbak Najwa." kata bi Darsih.


"Tapi sikap mas Azam masih sama dengan yang dulu bi, masih dingin padaku." kata Mala lagi.


"Jangan putus asa bu, nanti setelah anaknya lahir. Mas Azam paati akan senang kok, yang di butuhkan mas Azam itu seorang anak yang akan mengalihkan perhatian hatinya dari mbak Najwa." kata bi Darsih.


"Bibi tahu banyak tentang hati mas Azam ya, aku bahkan mencoba memahami mas Azam sedikit pun tidak bisa. Bahkan aku mencoba mengalihkan rasa sedihku dengan mengerjakan pekerjaan rumah saja, mas Azam masih saja memarahiku." kata Mala.


"Tapi itu akan membahayakan kandungan ibu. Mas Azam pasti marah kalau ibu tidak menuruti kata-katanya."


"Benar bi, tadi saja mas mengancamku. Jika aku sampai kehilangan bayiku, aku tidak di maafkannya lagi." kata Mala.


"Makanya ibu harus menurut, jangan melakukan pekerjaan berat. Cobalah menyayangi nyawa bayi yang ada di dalam perut ibu, abaikan saja dulu mas Azam. Ibu harus fokus dengan kehamilannya. Bukankah masih menunggu empat bulan lebih, bayi ibu akan lahir. Pasti mas Azam akan berbalik menyayangi ibu dan anak ibu." kata bi Darsih lagi menasehati Mala.


"Iya bi, aku akan melakukan itu. Mencoba tidak berharap cinta mas Azam untukku, aku saja yang terlalu berlebihan mengharapkan cinta mas Azam. Bersyukur dengan kehamilan ini saja itu sudah bagus. Aku memang salah, bi." kata Mala menitikkan air mata.


"Sudah bu, ibu terus saja berdoa agar mas Azam juga akan mencintai ibu. Bibi yakin itu, hanya saja mungkin mas Azam masih terobsesi dengan mbak Najwa. Ibu yang sabar ya." kata bi Darsih.


"Iya bi. Aku tahu." ucap Mala menghalus air matanya.


Dia akan melakukan apa yang di katakan bi Darsih, meski seorang pembantu. Tapi hatinya peka akan dirinya dan juga Azam suaminya, layaknya seorang ibu terhadap anaknya yang sedang bersedih. Mala tersenyum pada bi Darsih. Begitu juga bi Darsih.


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2