Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
70. Makna Alief


__ADS_3

Najwa memegang pinggang suaminya dengan kencang, dia sudah merasa mulas sekali perutnya, di tambah jalannya terlalu pelan karena Arsyil sangat kasihan dengan Najwa yang kesakitan.


"Bang kok jalannya pelan banget sih, adek sudah sakit banget ini. Uuuh!" ucap Najwa.


"Abang takut kamu keaskitan, tapi ini sebentar lagi sampai di rumah bidan kok." jawab Arsyil dengan cemas.


Tak berapa lama, motor berhenti. Najwa langsung turun dan segera masuk ke dalam rumah tempat praktik bidan tersebut, Arsyil memanggil bidan untuk segera membantu istrinya melahirkan.


"Waah, mbaknya mau melahirkan ya." kata bidan itu dengan sigap membantu Najwa naik ke kasur persalinan..


"Iya bu bidan, saya sudah tidak tahan. Eeeuuh." kata Najwa menahan sakitnya itu.


"Sabar ya, mbak tiduran dulu. Saya mau periksa di dalam, sudah berapa pembukaannya." kata bidan itu lagi memakai sarung tangannya.


Dia masukkan tangannya di bagian bawah Najwa, memeriksa sudah sampai pembukaan berapa.


"Ini tadi keluar air ya bu?" tanya bidan.


"Iya bu bidan, apa itu ketubannya pecah?" tanya Najwa.


"Bukan, itu air kawah saja. Jangan takut. Pembukaan sih sudah bagus, sudah enam. Jadi tunggu empat lagi ya, mbak kalau mau jalan-jalan juga boleh. Di bantu mas, mbaknya ya." kata bidan.


Arsyil pun mengangguk, dengan sigap dia membantu Najwa turun dari kasur bangsal. Dia menuntun Najwa untuk jalan-jalan.


Rasa nyeri sekaligus perih di rasakan oleh Najwa, perempuan itu berkali-kali beristugfar dan meminta maaf pada suaminya. Jika terjadi sesuatu padanya, maka dia tidak akan menyesalinya.


"Bang, adek minta maaf ya. Kalau adek punya salah sama abang." kata Najwa.


"Ngga kok dek, adek ngga ada salah sama abang. Dan abang juga minta maaf, sudah ya. Istigfar aja yang banyak, jangan berpikiran macam-macam." kata Arsyil.


Dia takut apa yang di katakan Najwa itu seperti mau berpisah saja. Tapi dia ingat kalau abah dan umi belum di kasih tahu.


"Abah sama umi belum di masih tahu dek?" tanya Arsyil, Najwa kembali meringis dengan memegangi perutnya.


"Bang, kayaknya dia sudah mau lahir. Aaauw, sakit. Astagfirullah..."


Arsyil panik, dia pun memanggil bidan untuk segera membantunya bersalin. Bi Sri yang tadi membawa tas berisi perlengkapan persalinan pun ikut membantu menjaga Najwa dengan Arsyil.


Bidan pun masuk, dia kembali memeriksa keadaan Najwa.


"Sudah lengkap nih, ayo kita bersiap ya menyambut dedek bayinya." kata bidan itu.

__ADS_1


Bidan pun bersiap, dia berdiri dengan memakai sarung tangan dan juga masker. Dua pembantu bidan juga berada di sisi kanan bidan, sedangkan Arsyil di bagian kepala Najwa.


Dia terus merafalkan doa-doa dan menguatkan istrinya agar bersemangat membantu mendorong bayi keluar.


"Eeeuh!"


"Ya, sekali lagi mbak. Satu dua tiga!"


"Eeeuuuh!"


"Oek! Oek! Oek!"


"Alhamdulillah, sudah lahir. Bayinya laki-laki mbak, selamat ya." kata bidan.


"Alhamdulillah ya Allah." ucap Arsyil dengan syukur.


Dia menciumi wajah Najwa karena senang dan bahagia. Dia menangis, menatap istrinya yang masih kelelahan setelah mengejan beberapa kali.


"Bayi kita laki-laki dek, dia lahir sempurna dan sehat. Terima kasih sayang, kamu hebat sekali." kata Arsyil memeluk Najwa.


Najwa pun bahagia, dia sangat lemas. Bidan kembali membantu Najwa untuk mengeluarkan ari-ari bayi, dan tak berapa lama keluar juga. Setelah keluar, Najwa di bersihkan.


_


Alief Irsyadi Daud, nama itu yang di berikan oleh Arsyil pada anaknya. Umi dan abah Najwa juga sudah di beritahu setelah Najwa selesai persalinan, karena tadi tidak sempat untuk memberitahu umi dan abah.


Keduanya langsung meluncur ketika Arsyil memberitahu kalau Najwa sudah melahirkan. Mereka kini masih berada di rumah bidan, dan sore hari sudah bisa pulang.


"Waah, lucu sekali cucu kita ya bah. Kok umi gemas lihatnya." ucap umi Dila menoel pipi bayi merah itu.


"Jangan kencang-kencang umi, tuh jadi merah pipinya." kata abah.


Arsyil hanya menatap mertuanya yang berdebat kecil dengan cucunya itu, Najwa sendiri sudah bisa duduk setelah semuanya beres. Menatap kedua orang tuanya, lalu tersenyum.


"Nama anak kalian siapa?" tanya umi Dila.


"Abang yang tahu mi, aku ngga sempat diskusi sama abang masalah nama." kata Najwa.


"Alief Irsyadi Daud, umi. Panggil saja Alief, aku suka nama Alief." kata Arsyil.


"Wah iya, dalam huruf hijaiyah itu huruf yang pertama. Sama ya, ini anak pertama. Alief." kata umi Dila.

__ADS_1


"Dalam bahasa Arab itu artinya mengasihi, tapi kalau dalam ilmu akidahnya itu adalah maknanya dalam sekali kalau huruf alief itu. Apa yang kamu ambil dari makna tersebut, Arsyil?" tanya abah.


"Hanya merasa senang dengan nama Alief, bah. Dan maknanya juga, semoga dia jadi anak yang selalu mengasihi orang-orang terdekatnya." jawab Arsyil.


"Bagus itu, karena sesungguhnya nama itu mengandung makna dan harapan dari kedua orang tua pada anaknya kelak agar jadi anak yang sholeh dan sholeha. Membawa keberkahan dan keberuntungan bagi orang-orang sekitarnya." kata abah lagi.


"Iya bah." ucap Arsyil.


Najwa diam saja, dia tahu apa yang di maksud dengan abahnya tentang makna yang terdalam dari huruf Alief itu. Tetapi suaminya memang mengambil arti bahasa yang simpel, dan tetap memiliki makna yang baik.


Sama halnya harapannya dengan anak pertamanya itu, berharap anaknya menjadi kebahagiaannya dan suaminya serta abah dan uminya.


Lama mereka berada di rumah bidan, hingga Najwa pun mengajak pulang karena dia sudah merasa sehat dan bisa pulang ke rumah.


Arsyil menyewa becak untuk membawa istrinya pulang ke rumah. Karena tidak mungkin pulang menaiki motor, begitu juga abah dan umi.


Hanya butuh sepuluh menit perjalanan, mereka sampai juya. Dan kini sudah berada di rumah Arsyil kembali.


Bayi Najwa pun menangis, dia merasa lapar. Dan Najwa pun memberinya asi, sejak lahir itu bayinya memang hanya satu kali minum asi Najwa. Jadi ini kali keduanya dia menyusui anaknya.


"Kok baru pertama sakit ya umi menyusui itu, kayak di gigit semut." kata Najwa meringis kesakitan menyusui anaknya.


"Memang begitu, nanti juga lama-lama ngga kok. Tapi bagi umi dulu sewaktu menyusui kamu, hal yang paling menyenangkan itu menyusui. Setiap kamu meminum asi umi, rasanya bahagia sekali. Tatapan mata saling beradu, meski itu sangat sederhana. Tapi kedekatan antara bayi dan ibunya sangat terasa. Lagi pula, itu adalah bahasa cinta kasih ibu terhadap anaknya." kata umi Dila.


Najwa diam, dia mencerna ucapan uminya. Dia pun seperti mempraktekan apa yang di katakan umi Dila, menatap anaknya yang sedang minum asi dengan lahap. Tak lama mata bayi laki-laki itu membuka dan menatapnya, Najwa pun tersenyum.


Benar sekali apa yang di katakan umi Dila itu, rasanya menyenangkan sekali ketika tatapannya beradu dengan mata anak laki-lakinya.


"Sangat membahagiakan ya umi, memang sederhana. Tapi memberi asi adalah memberikan kehidupan pada anaknya." kata Najwa.


"Ya, dengan penuh cinta. Apa lagi ibu yang menyusui merasa bahagia, tidak dalam keadaan marah. Itu pasti anaknya juga akan merasa bahagia terus. Berbeda jika memberi asi dalam keadaan marah dan emosi, nanti asi yang di salurkannya akan berbeda. Dan anak akan merasakan hal yang beda pula. Makanya kalau kamu kesal sama suamimu, jangan dulu menyusui. Lepaskan rasa kesalmu dulu, baru kamu memberi asi padanya." kata umi Dila.


"Iya umi."


Pembicaraan ibu dan anak itu masih beelanjut hingga malam hari ketika Arsyil memanggil keduanya untuk makan malam yang di pesan melalui jasa antar paket makanan.


_


_


*************

__ADS_1


__ADS_2