Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
22. Arsyil Sakit


__ADS_3

Najwa memasak air untuk mandi suaminya, dia terenyuh dan terharu mendengar alasan kenapa suaminya cepat pulang dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan di jalan.


Setelah mendidih, Najwa menuangkan air panas ke dalam ember besar. Dia masukkan ke dalam kamar mandi dan di beri air tambahan agar tidak terlalu panas. Setelah selesai, dia menuju suaminya di depan.


Masih dalam keadaan basah dan menggigil, ternyata jaket hujannya sobek di bagian punggungnya. Jadi Arsyil kehujanan dan dia tidak menyadarinya karena pikirannya fokus pada Najwa.


"Bang, air panasnya sudah siap." kata Najwa.


"Iya dek, makasih ya." kata Arsyil.


Dia bergegas ke kamar mandi, tak lupa Najwa mengambilkan handuk untuk suaminya. Menunggu di meja makan dengan pikiran tak menentu, berharap suaminya itu baik-baik saja setelah mandi air hangat.


Najwa bangkit dari duduknya, dia ingin membuatkan teh hangat untuk Arsyil agar tubuhnya juga kembali hangat. Tak lama, Arsyil keluar dari kamar mandi. Masih dengaj tubuh menggigil, dia melihat istrinya sedang menuangkan teh hangat.


Dia pergi menuju kamarnya, mengganti handuk dengan memakai baju kaos panjang. Karena saat ini dia merasa kedinginan sekali, Najwa datang membawa teh hangat dan di berikan pada Arsyil.


"Minum bang, biar hangat tubuhnya. Kamu masih menggigil gitu sih." kata Najwa.


"Ngga apa-apa. Adek udah makan?" tanya Arsyil.


"Belum bang, kan masih sore. Abang mau makan juga?"


"Ngga, tapi pengen yang hangat. Kayak teh ini, hangat." kata Arsyil kembali menyeruput teh hangatnya.


Sore ini di luar mending, dan akhirnya hujan juga. Arsyil mengambil laptopnya. Dia sempat membuat desain undangan dan juga sampul untuk sebuah buku.


Perutnya lapar belum di isi, dia malas untuk makan. Meski badannya terasa kurang vit, tapi Arsyil harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Bang, belum selesai?" tanya Najwa.


"Belum dek, ini ada deadline. Seorang penulis minta di buatkan cetak novelnya, lumayan dia cetak buku novel ada seratus buku. Jadi abang harus buat desain covernya biar menarik, besok harus di setorkan pada bagian percetakan." kata Arsyil.


"Mending abang makan dulu, biar nanti bisa di teruskan pekerjaannya." kata Arsyil.


"Iya dek sebentar lagi, tanggung soalnya." kata Arsyil lagi.


Najwa diam, dia menarik napas panjang. Sejak tadi kehujanan, Arsyil hanya minum teh hangat saja. Belum mau makan apa pun, dia sendiri sekarang juga lapar. Ingin makan dengan suaminya tapi rupanya sibuk.


Arsyil melirik istrinya yang gelisah juga, dia hentikan membuat cover sampul buku.


"Adek pengen makan?" tanya Arsyil.

__ADS_1


"Iya bang, makan sama abang. Tapi abang sibuk banyak kerjaan." kata Najwa.


Arsyil tersenyum, dia pun beranjak dari duduknya dan mengajak Najwa untuk makan malam. Meski perutnya tidak enak untuk makan malam ini, tapi dia menemani istrinya makan dengannya.


_


Esok harinya, Arsyil masih berada di peraduannya. Najwa heran kenapa suaminya tidak juga keluar dari kamarnya. Najwa mengetuk pintu kamar Arsyil beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.


Tok tok tok.


"Bang, abang belum bangun? Ini sudah jam enam lho, waktu sholat subuh mau habis. Bang Arsyil, bangun." teriak Najwa di depan pintu kamar Arsyil.


Tetap tidak ada jawaban, Najwa pun penasaran kenapa suaminya tidak keluar dari kamarnya. Dia pun menarik handle pintu, pintu terbuka. Tampak Najwa melihat suaminya sedang berselimut di atas kasurnya.


Najwa mendekati ke kasur Arsyil, dia melihat suaminya sedang menggigil. Tangannya di ulurkan di dahi Arsyil, Najwa terkejut. Ternyata panas sekali suhu badan Arsyil.


"Masya Allah, bang. Kamu sakit?" tanya Najwa.


"Dek, boleh minta tolong?"


"Apa bang?"


"Tolong ambilkan minum hangat dan juga ponsel abang di meja tamu." kata Arsyil.


Najwa memeriksa suhu badan Arsyil kembali, sangat panas tubuhnya. Dia segera mengambil air minum yang di minta suaminya, lalu mengambil ponselnya juga. Setelah itu dia pun masuk lagi ke dalam kamar Arsyil.


"Minum bang."


"Terima kasih dekn abang jadi merepotkan adek sajam." kata Arsyil.


"Ngga apa-apa bang, kan aku istrimu. Aku harus melayani suamiku, jadi jangan sungkan meminta sesuatu sama aku. Dan sekarang suhu badan kamu naik bang." kata Najwa.


"Iya dek, abang merasakannya. Ssshh." ucap Arsyil mendesis karena kedinginan.


"Panggil dokter ya." kata Najwa.


"Jangan dek."


"Abang sakit, harus di periksa ke dokter bang." kata Najwa memaksa suaminya.


"Tapi kan kamu ngga bisa bawa motor dek, mana bisa menyetir motor sambil bawa aku." kata Arsyil.

__ADS_1


"Ya ngga bawa motor bang, kan ada taksi online. Abang ke rumah sakit ya, atau periksan dulu." kata Najwa lagi.


"Panggilkan dokter saja dek, ada nomor kontaknya di ponsel abang." kata Arsyil lagi.


Najwa pun menurut, dia mengambil ponselnya, setelah ketemu dia menghubungi dokter yang di maksud Arsyil.


Sambil menunggu, Najwa memaksa Arsyil untuk makan meskipun sedikit ambilnya. Tak lama, suara ketukan pintu dari luar, Najwa bergeegas menuju ruang tamu dan mengajak dokter mantri itu ke dalam kamar mandi.


Dokter mantri memeriksa Arsyil secara keseluruhan. Dia pun menulis resep agar semua.


"Jadi kenapa pak Arsyil sakit?" tanya dokter mantri.


"Kemarin hujan-uujanan dokter."


"Kok sudah besar hujan- hujanan?" kata dokter mantri.


"Ngga sangka kehujanan di jalan dokter, jadi saya kehujanan di jalan." kata Arsyil.


"Nah, ini ibu beli obat di apotik, dekat kok apotiknya. Harus di habiskan ya obatnya." kata dokter mantri.


"Iya dokter." kata Najwa.


Setelah selesai memberi resep pada Najwa, dokter mantri pun segera pulang setelah di beri ongkos bayar pemeriksaan oleh Najwa.


Najwa pun melihat resep dokter itu, dia masuk ke dalam kamar Arsyil lagi. Menatap wajah yang pucat karena sakit.


"Bang, adek beli obat dulu ya di apotik." kata Najwa.


"Naik apa ke apotiknya?" tanya Arsyil.


"Nanti cari ojek aja, kan banyak yang lewat di depan." kata Najwa.


"Iya, maaf ya dek. Abang merepotkan kamu." kata Arsyil lagi.


"Ya ampun bang, kok merepotkan sih. Udah abang tidur aja dulu, adek mau beli obat ke apotik." kata Najwa.


Dia lalu pergi meninggalkan Arsyil yang sedang panas tinggi. Najwa keluar dari kamarnya, di semakin menggigil kedingina. Di tariknya selimut sampai ke lehernya, sangat kedinginan sekali, membuat bibirnya meracau tidak jelas.


"Ya Allah, sembuhkan sakitku ini. Ssshhh!"


_

__ADS_1


_


****************


__ADS_2