Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
53. Rencana Abah


__ADS_3

Najwa melepas pagutan bibirnya dengan Arsyil, dia terkejut uminya memanggil. Arsyil tersenyum, tangannya mengelap bibir Najwa yang masih tersisa salivanya.


"Pergilah, abang tunggu di sini." kata Arsyil.


"Iya bang. Umi nih, ganggu aja." ucap Najwa.


Arsyil tersenyum saja, Najwa melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya.


"Ada apa umi?" tanya Najwa.


"Oh, umi lupa. Tidak jadi, kamu istirahat saja sana. Lupa kamu lagi hamil, heheh." kata umi Dila.


Dia berlalu, Najwa hanya melongo saja. Tapi kemudian dia tersenyum dan masuk lagi ke kamarnya. Mendekat pada Arsyil yang sedang melepas baju kemejanya, menyisakan kaos di tubuhnya.


Najwa melihat itu, setelah lepas kemeja Arsyil. Najwa langsung memeluk lagi suaminya, langsung mengecup bibir Arsyil.


"Lho, kok balik lagi? Umi ngga jadi panggil adek?" tanya Arsyil mengaitkan kedua tangannya di pinggang Najwa.


"Ngga jadi bang, teruskan aja yuk yang tadi." kata Najwa.


"Hahah, jadi yang tadi kurang?" tanya Arsyil.


"Iya, adek kangen pelukan sama abang." kata Najwa malu-malu.


Tanpa menunggu lagi, Arsyil langsung menyambar bibir istrinya. Dia meluapkan semua rasa dalam hatinya pada Najwa, begitu pun Najwa. Dia benar-benar merindungan cumbuan mesra dan lembut suaminya itu.


Semakin lama keduanya semakin bergairah, Najwa seperti menginginkan lebih. Hormon kehamilan membuatnya semakin ingin di sentuh lebih lama dan dalam, apa lagi ini pertama bersentuhan setelah mereka berpisah.


Arsyil tahu Najwa ingin melakukan lebih, tapi dia tahan karena waktunya tidak memungkinkan. Dia menatap wajah istrinya dengan lembut, beberapa kali dia mengecup bibir Najwa, membuat perempuan itu sedikit kesal karena Arsyil hanya melakukan itu saja. Dia cemberut, dan Arsyil tertawa renyah.


"Sabar ya, waktunya tidak tepat. Abang ngga enak kalau harus melakukan sore begini." kata Arsyil membuat wajah Najwa memerah karena malu.


"Ih, abang. Adek kelihatan banget ya pengen begitu?" tanya Najwa menunduk.


"Iya. Tapi itu bagus kok, seorang istri meminta lebih dulu melakukan hubungan intim itu pahalanya besar sekali. Jadi, jangan malu dan merasa tidak enak. Minta saja jika adek ingin melakukannya." kata Arsyil dengan senyumnya.

__ADS_1


"Tapi abang tadi menahannya." kata Najwa masih merasa malu.


"Hahah, maaf. Nanti malam adek menyentuh abang sepuasnya, karena waktunya bebas dan panjang." kata Arsyil kembali mencium bibir istrinya.


Najwa pun menyambutnya, dia juga tersenyum lalu memeluk suaminya itu. Rasanya memang menyenangkan melakukan hal romantis dan mesra dengan pasangan sah, tidak ada kekhawatiran dalam hati akan fitnah karena semuanya melakukan atas dasar cinta dan ibadah pada Allah swt.


_


Arsyil, Najwa, umi Dila dan abah sedang duduk di meja makan. Mereka makan malam bersama dengan tenang dan penuh kebahagiaan, bercengkrama dan candaan ringan membuat suasana hangat di meja makan itu.


"Oh ya, abah punya rencana untuk kalian berdua." kata abah memulai pembicaraan serius.


"Rencana apa bah?" tanya Najwa.


"Abah berencana kalian menikah lagi, maksud abah kalian mengumumkan pernikahan kalian nanti di yayasan pesantren. Abah ingin mengenalkan menantu abah sekarang, dan biar tidak ada ucapan miring dari tetangga. Bila perlu tidak masalah sih bagi abah kalian mengucapkan ijab kabul lagi. Bukan apa-apa, hanya abah ingin kalian pernikahan di resmikan secara negara dan agama lagi. Karena dulu kalian hanya menikah siri saja, jadi abah berencana mengadakan syukuran juga. Menurut kalian bagaimana?" tanya abah.


"Maksudnya membuat resepsi bah?" tanya Najwa.


"Iya, ya. Sebagai rasa syukur kamu sudah kembali lagi sebagai seorang istri dari Arsyil dan juga para tetangga tahu kalau Arsyil ini suami kamu." kata abah.


"Abang setuju saja dek, memang lebih baik begitu. Biar nanti adek tenang dalam bersosialisasi dengan masyarakat terdekat, seperti tetangga. Abang juga akan undang tetangga abang di rumah ayah." kata Arsyil setuju dengan rencana mertuanya itu.


"Ya sudah, nanti abah bicarakan dengan kyai Sholeh di yayasan. Dan sekaligus nanti mengundang para guru dan santri di yayasan." kata abah.


"Waah, berarti umi mau mantu kedua kali ya bah." kata umi Dila.


"Sudah punya mantu umi, cuma meresmikan saja." kata abah meralat ucapan istrinya.


"Iya itu, umi senang dengarnya. Umi pikir rencana abah itu apa." kata umi Dila.


"Memang umi ngga tahu rencana abah?" tanya Najwa.


"Abah tidak mau kasih tahu umi, Najwa. Katanya tidak afdol kalau di bicarakan tapi nantinya gagal." kata umi Dila.


"Kapan akan di laksanakan resepsi bah?" tanya Arsyil.

__ADS_1


"Dalam minggu ini, apa kamu siap?" tanya abah.


"Insya Allah bah, saya siap. Nanti karyawan di percetakan akan di undang juga." kata Arsyil antusias dengan rencana abah itu.


"Kalau begitu, kalian tinggal saja dulu di rumah umi dan abah. Kan mau persiapan resepsi dan acara syukuran kalian kembali rujuk. Lagi pula, jika kalian sering bolak balik rumah ke sini. Akan mengganggu kandungan Najwa juga." kata umi Dila.


Najwa menatap pada suaminya, terlihat Arsyil diam saja. Tapi kemudian dia menyetujui saran umi Dila.


"Ya umi, tidak masalah. Nanti kan dek Najwa akan sering saya tinggal untuk mengurus keperluan resepsi. Besok saya saja yang pulang ke rumah untuk memberitahu tetangga masalah resepsi itu." kata Arsyil.


"Emm, lusa saja umi menginap di rumah ininya. Besok aku ikut abang pulang, nanti kesini lagi." kata Najwa.


"Lho, dek. Kan kamu nanti harus bolak balik dari rumah ke rumah abah, kamu pasti capek." kata Arsyil.


"Sudah, tidak apa lusa saja dia menginap lagi. Mungkin dia lagi ingin lebih dekat dengan suaminya." kata abah menengahi.


Najwa tersenyum malu, umi Dila hanya menggeleng saja dengan ucapan Najwa tadi. Dia tahu memang Najwa pengen selalu dekat dengan suaminya.


Sedangkan Arsyil, tentu saja merasa lucu dengan tingkah istrinya itu. Tapi dia yang harus mengalah, lagi pula dia juga ingin mempunyai waktu lebih untuk berduaan dengan Najwa.


"Jadi, semuanya sudah setuju ya. Dalam minggu ini akan di adakan resepsi di yayasan pesantren?" tanya abah memastikan rencananya itu semua di setujui.


"Iya bah, kami setuju." jawab Arsyil.


"Alhamdulillah, mulai besok abah akan beritahu kyai Sholeh dan umi akan beritahu kerabat yang lain. Abah juga akan cari perlengkapan resepsi yang bisa di lakukan secara cepat." kata abah.


"Ya, kalian jangan khawatir masalah biaya. Abah dan umi sudah menyiapkannya." kata umi menyambungi ucapan abah.


"Iya umi, nanti saya akan mengambil tabungan saya untuk menambahi kekurangannya." kata Arsyil.


Pembicaraan itu masih terus berlanjut, lama mereka membicarakan rencana resepsi itu. Najwa sangat senang, artinya dia akan menikah secara resmi dan di saksikan banyak orang. Dia tidak perlu lagi merasa tidak enak pada tetangga karena nantinya akan di adakan resepsi dengan mengundang banyak tamu.


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2