Mencintai Suami Selingan

Mencintai Suami Selingan
21. Kehujanan


__ADS_3

Satu bulan sudah pernikahan Arsyil dan Najwa, keduanya semakin akrab. Tapi belum melakukan hubungan suami istri. Arsyil masih menunggu Najwa mau melakukan dengan suka rela.


Karena dia tahu jika melakukan itu harus ada dasar rela dan ikhlas, apa lagi jika sudah melakukan itu artinya bisa di ceraikan kapan saja meski pun waktu yang di tentukan belum tiba.


Namun, keakraban mereka semakin lama semakin dekat saja. Terkadang keduanya saling melempar candaan ketika sedang kerja bakti membersihkan rumah.


Kini keduanya sedang beristirahat setelah sama-sama membersihkan rumah di hari libur Arsyil.


"Bang, mau es teh ngga?" tanya Najwa.


"Boleh."


"Ya udah, adek bikin dulu ya. Mau sekalian makan?" tanya Najwa lagi.


"Nanti aja dek, belum lapar. Cuma haus aja." ucap Arsyil.


"Ya udah, adek ke dapur dulu."


"Ya."


Najwa pergi meninggalkan Arsyil, dia akan membuatkan es teh manis untuk suaminya. Sementara itu, Arsyil duduk santai di kursi. Hingga dia pun akhirnya tertidur karena kelelahan.


Tak lama, Najwa pun membawa es teh manisnya ke depan. Dia melihat suaminya tertidur di sofa.


"Kasihan banget bang Arsyil, dia kelelahan karena bantu aku beres-beres rumah." ucap Najwa.


Dia menatap lama wajah Arsyil yang polos karena tidur, senyum Najwa mengembang. Tiba-tiba dia menunduk, malu sendiri karena memandangi wajah Arsyil yang tertidur tiba-tiba mengorok. Tangannya menahan tawa, tapi kemudian Arsyil membuka matanya.


Dia terkejut Najwa ada di depannya. Arsyil merubah posisinya jadi duduk tegak, merasa malu karena ketahuan di lihat oleh istrinya dan di tertawakan.


"Maaf dek, abang ketiduran." kata Arsyil mengusap wajahnya.


"Ngga apa-apa bang, maaf adek tadi tertawa. Lucu aja abang tidur sambil duduk." kata Najwa.


"Heheh, iya. Tadi ngantuk banget, jadi ketiduran. Es tehnya sudah jadi?" tanya Arsyil.


"Itu, udah di meja." jawab Najwa.


Arsyil mengambil se tehnya lalu meminumnya dengan cepat hingga habis setengahnya.


"Abang haus banget ya."


"Heheh, iya. Tapi kok bisa ketiduran ya."


"Ya, karena capek banget abang tuh." kata Najwa.


"Padahal ngga pernah begadang, kok ngantuk aja sih." kata Arsyil kembali meminum es tehnya.


Najwa diam, dia mengerti maksud begadang oleh suaminya itu. Sekarang sudah satu bulan, Najwa belum memberikan hak batin pada sauminya itu. Masih ragu apakah dia akan menyerahkannya sekarang, atau nanti ketika waktunya akan selesai dalam perjanjiannya.


"Dek, kenapa diam?" tanya Arsyil.

__ADS_1


"Ngga apa-apa bang. Es tehnya manis ngga bang?" tanya Najwa mengalihkan perhatiannya.


"Manis, semanis yang buatnya kalau senyum." kata Arsyil menggoda istrinya.


"Hahah, abang bisa aja. Adek malu nih." kata Najwa memerah pipinya.


"Oh ya, malu dia. Tuh kelihatan pipinya merah, hahah."


"Bang Arsyil!" ucap Najwa dengan manja.


"Hahah!"


Wajah Najwa kembali memerah karena benar-benar malu di goda oleh Arsyil. Tiba-tiba hatinya menghangat, dia merasa Arsyil sosok yang sangat menyenangkan baginya. Menatap wajah Arsyil yang tampan itu, Najwa menunduk malu.


Arsyil pun balik menatap wajah Najwa yang menunduk. Ingin dia mencium pipi istrinya itu, tapi rasanya segan karena Najwa sendiri masih belum mau menyerahkan dirinya. Mungkin dia masih menjaga jarak dengan dirinya.


Najwa menatap Arsyil balik, keduanya saling tatap. Lama. Tangan Arsyil di angkat, mendarat di pipi Najwa. Mengelusnya lembut, dan dorongan hatinya ingin mencium pipi Najwa pun semakin kuat.


Dengan cepat Arsyil pun mencium pipi Najwa lalu tersenyum.


"Maaf, abang ngga kuat nahan ngga cium kamu." kata Arsyil.


Najwa tertegun, dia kaget dengan ciuman mendadak Arsyil. Lalu dia pun tersenyum malu.


"Ngga apa-apa bang." kata Najwa.


Arsyil tersenyum, dia lalu mengambil es tehnya lagi dan menenggaknya sampai habis. Hatinya gugup sekali karena tadi mendadak mencium pipi istrinya. Meskipun seharusnya bebas-bebas saja dia menyentuh Najwa di mana saja, tapi dia masih menahannya karena Najwa sendiri belum memberinya isyarat.


"Maaf kenapa?" tanya Arsyil.


"Belum memberi hak abang." kata Najwa pelan.


"Ngga apa-apa, abang ngerti kok. Adek masih bingung kan?" tanya Arsyil.


"Iya bang." jawab Najwa.


"Ya udah, ngga apa-apa. Meski menjelang selesai kontrak nikah, kamu baru kasih hak abang juga ngga apa-apa." kata Arsyil.


Najwa pun tersenyum, meski dia lega. Tapi dia merasa bersalah pada Arsyil, sudah satu bulan belum di beri haknya.


"Abang mau mandi dulu ya, lengket." kata Arsyil.


"Iya bang, adek mau siapkan makan siang dulu." kata Najwa.


"Iya. Emm, sore ini mau ngga jalan-jalan?" tanya Arsyil.


"Boleh bang, adek jenuh pengen keluar." kata Najwa.


"Oke. Selepas sholat ashar kita jalan, naik motor." kata Arsyil.


"Iya bang."

__ADS_1


Arsyil lalu pergi meninggalkan Najwa di ruang tengah itu. Segera mandi dan sholat dzuhur karena waktu sudah masuk sholat dzuhur. Apa lagi suara adzan berkumandang di mushola kompleks.


_


Arsyil bergegas pulang ke rumah, sewaktu di kantor tiba-tiba hujan lebat. Dia ingat akan istrinya di rumah sendirian, jika hijan lebat begitu pasti Najwa ketakutan akan adanya petir dan geledek yang menggelegar, dia harus menemani istrinya di rumah.


"Pak Arsyil mau pulang?" tanya Nadia.


"Iya Nad, aku harus menemani istriku." kata Arsyil.


"Istri?"


"Oh, maksud aku jemuranku belum di angkat. Lupa tadi pagi ngga di ambil dulu." kata Arsyil meralat ucapannya.


Karena di kantor belum ada yang tahu kalau dia sudah punya istri. Sengaja dia sembunyikan karena dia pikir pernikahannya hanya sebentar, jadi tidak perlu dia beritahu.


"Nadia, aku pulang duluan ya." kata Arsyil.


"Iya pak. Saya juga mau pulang kok sebentar lagi, tapi hujan besar pak." kata Nadia.


"Ngga apa-apa. Ada jaket hujan kok di jok motor."


Arsyil pun segera mengambil tas rabselnya, dia segera mengambil kunci dan helmnya. Takut sekali Najwa ketakutan di rumah sendirian. Setelah melajukan motornya dengan cepat, pikirannya masih saja pada Najwa.


"Sabar dek, abang lagi pulang." gumam Arsyil.


Dalam perjalanan Arsyil kehujanan meski dia memakai jas hujan, hujan semakin lebat. Hingga petir terus menyambar, dia tidak peduli itum yang penting cepat sampai di rumahnya.


Tak lama, motor Arsyil pun segera memasuki kompleks perumahan. Ternyata di kompleks perumahan itu hujannya kecil, Arsyil heran. Tapi kemudian dia dengan cepat melajukan motornya, sampai di depan rumah justru hanya mendung saja. Tidak ada hujan sama sekali.


"Ya ampun, ternyata di sini ngga hujan." kata Arsyil.


Najwa keluar, dia heran melihat suaminya basah kuyup.


"Bang, kok basah?"


"Iya dek, tadi di kantor sih hujan besar. Abang pikir di sini juga hujan besar, jadi abang lansgung pulang karena takut adek ketakutan karena hujan besar ngga ada yang temani. Akhirnta abang pulang cepat." kata Arsyil.


Najwa tertegun, dia menatap Arsyil bibirnya bergetar karena terkena hujan. Dia pun segera menarik lengan tangan Arsyil segera masuk ke dalam rumah.


"Adek siapkan air panas ya bang, abang mandi air panas. Bibir abang sudah biru dan bergetar gitu." kata Najwa.


"Iya dek, abang pikir hujan juga di sini. Kok cuma mendung aja, heheh." kata Arsyil masih sempat tersenyum.


Najwa jadi kasihan pada suaminya itu, kenapa pikiran suaminya begitu khawatir dengan dirinya yang ketakutan karena hujan lebat. Satu lagi membuat pikiran Najwa berubah pada Arsyil, kini perlahan dia semakin menyukai cara Arsyil melindunginya.


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2