
Ridho kedatangan tamu dari jauh, dia adalah temannya yang sudah lama tinggal di Yordania. Shihab Abdillah, teman Ridho saat jadi santri di Jawa Timur. Mereka akrab ketika satu kamar berdua, hanya bedanya setelah selesai jadi santri itu Shihab kuliah di Yordania dengan beasiswa dari pesantren karena prestasinya yang cemerlang.
Kini dia pulang ke Indonesia, dulu dia sering sekali datang ke rumah Ridho. Hingga kenal akrab juga dengan adiknya Mala, dan kini sedang berkunjung ke rumah Ridho.
"Sekarang kamu kerja juga di negara Yordania juga? Di mana?" tanya Ridho.
"Aku kerja di kedutaan Indonesia di sana, sudah hampir dua tahun. Dan sekarang aku minta cuti satu bulan untuk pulang, karena aku rindu dengan ayah dan ibuku." kata Shihab.
"Waah, beruntung sekali kamu langsung kerja di sana ya." kata Ridho.
"Ya, rencananya sih kepulanganku saat ini bisa menemukan jodoh." kata Shihab.
"Jadi kamu belum menikah? Atau punya tunangan?" tanya Ridho.
"Belum, aku masih setia dengan hatiku." kata Shihab, dia menunduk lalu tersenyum pada Ridho.
Ridho diam, dia menarik napas panjang. Dulu memang Shihab sering datang ke rumahnya ketika waktu liburan para santri, dan itu hanya untuk bertemu dengan Nirmala adiknya. Shihab juga pernah mengatakan kalau dia suka dengan adiknya.
Ridho menatap Shihab, ada rasa bersalah dirinya menjodohkan Mala dengan Azam. Rekan bisnisnya dulu, karena waktu itu memang dia butuh penanam saham di perusahaannya. Azam menawarkan diri jadi investor dengan perjanjian menikahi Mala.
"Kamu kesini mau bertemu Mala?" tanya Ridho.
"Rencananya sih begitu." jawab Shihab.
"Sayang sekali, sekarang Mala tidak bisa di temui. Apa lagi di ajak bicara serius, Shihab." kata Ridho.
"Kenapa? Apa dia sedang sakit atau sedang ada urusan?" tanya Shihab.
Ridho menarik napas panjang, dia pun bercerita sebagian tentang Mala. Kalau Mala sekarang ini sudah menikah.
"Mala sudah menikah, dan sudah memiliki anak juga." kata Ridho.
Shihab menatap lama Ridho, dia pun menunduk dengan perasaan kecewa. Terlambat dia datang ke rumah Ridho, di usapnya wajahnya dengan tangannya.
"Aku terlambat datang kesini ya." ucap Shihab dengan nada kecewa.
"Maafkan aku, aku pikir kamu tidak akan pulang lagi. Kalau kamu bicara sebelumnya padaku, aku pasti akan menikahkan adikku denganmu Shihab. Tapi takdir berkata lain, ternyata Mala menerima perjodohannya dengan temanku juga." kata Ridho lagi.
"Temanmu ya, kamu dekat dengannya?"
"Rekan bisnis awalnya, tapi karena ada sesuatu akhirnya aku menikahkan Mala dengan rekan bisnisku. Dia hanya menurut saja apa yang aku minta, tapi sekarang dia sudah menikah dan punya anak." kata Ridho.
Tidak etis juga awal bagaimana menikah Mala dan Azam itu, lagi pula sudah cukup Shihab mengetahui kalau Mala sudah menikah dan punya anak.
"Aku yang salah tidak pernah menghubungimu, Ridho. Kalau tahu akan ada kejadian lain, seharusnya kuikat Mala dengan bertunangan dulu denganku." kata Shihab.
"Kupikir ucapanmu waktu itu hanya sebatas suka sebagain adik saja sama Mala, bukan dari hatimu. Jadi aku yang menjodohkan dia dengan rekan bisnisku." kata Ridho lagi.
"Ya, mungkin dia bukan jodohku Dho." kata Shihab lemah.
__ADS_1
"Semoga kamu mendapat jodoh yang lebih baik, Hab. Aku yakin Allah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu." kata Ridho memberi semangat pada temannya itu.
"Ya, aku tahu. Mungkin aku harus mencari lagi siapa jodohku." kata Shihab.
"Semoga segera ya."
"Amiin."
Keduanya diam saja, mereka melihat Selvi membawa minuman dan di suguhkan di meja. Perutnya yang sudah membesar membuat Selvi lambat bergerak karena gampang lelah.
"Istrimu sedang hamil?"
"Ya, setelah dua tahun menikah. Sekarang kami akan di karunia anak." kata Ridho.
Shihab tersenyum, Ridho menyuruh temannya untuk minum.
"Sudah berapa hari pulang?" tanya Ridho.
"Baru seminggu, aku di sini satu bulan. Jadi ada waktu tiga minggu untuk istirahat sebelum berangkat lagi." jawab Shihab.
"Tidak mencari jodoh yang lain?" tanya Ridho lagi.
"Sebenarnya ibuku mau mengenalkan anaknya pak ustad di Cirebon. Katanya ada kekerabatan jauh, jadi ibu mencoba mengenalkannya denganku. Kupikir aku ingin mencari jodoh sendiri dengan datang padamu, tapi ternyata aku terlambat. Heheh." ucap Shihab dengan tertawa kecil.
"Ooh, mau di jodohkan juga ya? Hahah, di jodohkan juga tidak buruk kok. Hanya saja butuh pengenalan lebih lama saja, dan menurutku jaman sekarang itu gampang dengan adanya teknologi."
"Kamu makan malam di sini ya, kebetulan adik ipar dan istrinya mau datang kesini. Mereka juga kuajak makan di sini malam ini." kata Ridho.
Dahi Shihab berkerut, adik ipar? Berarti suaminya Nirmala.
"Suaminya Nirmala?" tanya Shihab.
"Ya, kamu bisa berkenalan dengannya. Dan kamu juga bisa bertemu dengan Mala, hanya sebatas teman biasa saja ya." kata Ridho.
"Emm, apa tidak mengganggu acara keluargamu? Itu kan acara keluarga." kata Shihab.
"Ngga kok, aku senang malah kamu makan malam di sini. Kita bisa mengenang dulu ketika masih bujang, hahah." kata Ridho.
"Hahah, tapi sayangnya sudah berbeda Dho." kata Shihab ikut tertawa.
"Tidak masalah, kita bisa melakukannya seperti dulu. Istriku juga tidak melarangku, bahkan dia tahu kalau aku sama kamu sering begadang bermain gaple." kata Ridho.
"Boleh juga." kata Shihab tersenyum senang.
Dia akan mengenang keakrabannya dengan Ridho, dan juga ingin tahu kabar Mala. Apakah dia masih ingat dengannya atau tidak.
Tapi harusnya sih ingat, Shihab hanya ingin tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Mala setelah menikah. Dia ingat ucapan Ridho kalau Mala di jodohkan olehnya, jadi setidaknya dia bisa melihat seberapa bahagia Mala dengan suaminya. Itu yang di pikirkan Shihab.
Mereka mengobrol santai, waktu sudah pukul lima sore. Tak terasa memang, dan Ridho mengajak Shihab untuk sholat ashar meski tidak tepat waktu karena asyik mengobrol.
__ADS_1
"Yuk kita sholat ashar dulu, aku lupa sholat tepat waktu karena asyik ngobrol." kata Ridho.
"Ya, maklum saja. Kita baru bertemu kan."
"Istriku dan bi Ina sudah siap memasak. Kata Selvi, Mala sebentar lagi datang." kata Ridho.
"Dengan suaminya?" tanya Shihab.
"Kurang tahu, tapi sepertinya sendiri dengan anaknya saja." jawab Ridho.
Shihab tersenyum, setidaknya dia ingin mengobrol dengan Mala sebentar tanpa ada suaminya. Meski itu tidak baik, tapi dia pikir hanya kali ini saja.
Baru juga memikirkan itu, tiba-tiba suara salam dari seorang perempuan di depan membuat Ridho dan Shihab terkejut.
"Assalamu alaikum!"
"Wa alaikum salam." jawab Ridho dan Shihab berbarengan.
Mala, perempuan yang tadi di bicarakan oleh Ridho dan Shihab pun datang dengan senyum mengembanh. Dia menghampiri kakaknya dan menyalami tanpa tahu di dekatnya itu adalah Shihab.
"Kamu datang sendiri?" tanya Ridho.
"Iya bang, mas Azam nanti pulang dari kantor langsung kesini katanya." jawab Mala.
Ridho tersenyum tipis, dia menoleh ke atah Shihab yang sejak tadi menatap Mala tanpa berpaling. Tapi kemudian dia menunduk setelah Ridho menoleh ke arahnya.
"Mala, kamu ingat laki-laki di samping abang?" tanya Ridho.
Mala menoleh ke arah Shihab, dia menatap lama dan mengerutkan dahinya. Lalu tertawa kecil.
"Ya Allah, mas Shihab ya?" tanya Mala dengan terkejut, Shihab pun tersenyum tipis.
"Iya. Apa kabar Mala." sapa Shihab.
"Alhamdulillah baik, mas. Katanya ada di Yordania, kapan pulang mas?" tanya Mala.
"Seminggu yang lalu, dan kesini mau ketemu abang kamu." jawab Shihab.
"Waah, sudah jadi orang luar negeri ya ngga pulang-pulang." kata Mala dengan takjub.
Shihab hanya tersenyum saja, dia masih suka dengan keceriaan Mala. Dia tahu Mala itu dulu gadis yang pendiam, tapi jika bertemu dengannya akan bersikap ceria. Itu yang di sukai oleh Shihab dari adik teman satu pondoknya.
"Assalamu alaikum!"
_
_
************
__ADS_1